Berharap Jadi Cinderella

Berharap Jadi Cinderella
Jangan panggil Om


__ADS_3

"Aku tidak yakin kamu adalah seorang pembantu dungguha. Siapa kamu sebenarnya?" Tanya Al mencoba menginterogasiku.


Aku menundukkan wajah, takut terjadi kontak mata yang akan membongkar semua kebohonganku.


Iya kamu betul Al, aku memang bukan pembantu. Kita sederajat kok, hanya saja aku tidak seberuntung dirimu. Tapi kalau pun harus cerita akan percuma nantinya. Jadi lebih baik memilih untuk diam.


"Aku memang pembantu kok, kemarin aku bekerja di rumah seorang Ibu dan anaknya," Jawabku santai. Maksudnya adalah Momy dan Sila yang aku anggap sebagai majikan.


Aku tidak berbohong, mereka memang memperlakukanku seperti pembantu. Namun kadang, mereka juga sering kena kejahilanku sebagai balasannya.


"Kamu terlalu... Cantik untuk menjadi pembantu, pakaianmu bagus, kulit mu putih, wajahmu terawat," ucap Al membacakan apa yang dilihatnya.


Sejenak wajahku terasa memanas, ingin sekali aku bernyanyi sambil menari india karena saking senangnya.


Kamu tidak sedang menggombal padaku kan Al? Mendengar dia bicara seperti itu aku kam jadi berasa pengen ngaca. Masa sih penglihatannya seperti itu?


Wajahku kembali menghangat, ingin kututup wajah ini dengan jilbab yang kupakai, lalu tertawa dengan kerasnya. Tapi sepertinya tidak mungkin, karena Al pasti akan menganggap ku gila. Kalian tahu bahwa aku mewarisi bibir kecil dan hidung mancung mama, dan mata yang terlihat tajam adalah milik Papa. Makanya Sila selalu ketakutan jika mata ini sedang melotot ke arahnya, mungkin dia berasa Papa yang melakukannya.


"Kamu sok tahu Om," jawabku refleks.


"Om? Memang aku setua itu ya?"

__ADS_1


"Lalu apa dong? Aku bingung manggilnya, baiklah Kak."


"Kamu bukan Adikku, aneh rasanya mendengar itu dari mulutmu."


"Baiklah, Bang."


"Makin aneh lagi, memangnya aku tukang bubur dipanggil Bang? Terserahlah kamu panggil aku apa, asal jangan Om," ucap Al menyerah dengan ucapannya sendiri.


Apa dong, masa harus aku panggil yang? Hahahaha... Apa sih khayalanku ini kok nakal bangat.


"Aku memang pembantu kok, mungkin karena faktor keturunan kali ya aku jadi cantik," jawabku sedikit narsis dan penuh percaya diri.


Al tertawa mendengar ucapanku, dan tawanya begitu renyah, serenyah keripik singkong yang baru saja dibuka bungkusnya. Dia terlihat begitu manis saat itu. Mungkin pikirnya ada manusia se pe de aku kali ya.


Al pergi ke kantor, sementara aku harus membantu Mbok Sum merapikan semua yang ada di meja makan.


Aku bawa satu persatu kebelakang, terlihat Mbok Sum sedang menyalakan Tv di sana. Sepertinya memang saat yang santai untuk asisten rumah tangga seperti dia adalah ketika majikan tidak ada di rumah. Mungkin begitu juga yang dilakukan Bi Inah ketika aku, Momy dan Sila tidak ada di rumah.


Tapi itu sebuah hal yang wajar, karena harus kita sadari mereka adalah manusia yang butuh istirahat dan melepaskan hal-hal penat dalam diri mereka.


"Taro aja di situ, Neng. Nanti Mbok Sum cucikan piringnya. Mbok mau nonton gosip dulu," kata Mbok Sum bicara dengan diakhiri tawanya yang khas.

__ADS_1


"Sudah Mbok, biar aku saja. Mbok istirahat sambil nonton, aku gak apa-apa," jawabku sambil menyalakan air untuk mulai mencuci piring.


"Makasih ya Neng, si Mbok emang butuh istirahat sebentar," lanjutnya kembali.


Selesai mencuci piring aku pamit untuk pergi ke kampus. Momy dan Sila yang sadar dengan ketidak beradaanku di rumah kini terus mengganggu dengan panggilan dari nomor mereka. Gak mau pusing akhirnyaku blokir nomor keduanya.


Bukankah seharusnya mereka bahagia dengan ketidak beradaanku di sana? Kok ini seperti merasa kehilangan? Atau mereka takut jika harta Papa akan ke dialihkan ke Panti sosial jika aku kenapa-kenapa? Gak tahu lah, aku tidak mau lagi perduli dengan urusan mereka.


Pendidikan selalu aku prioritaskan yang utama, jangan sampai menjadi anak yang bodoh hanya karena tidak memiliki orangtua. Asal kalian tahu, aku pun pandai mengaji, guru ngajiku adalah kakak kelasku sendiri.


Namanya Wildan, ya dia laki-laki. Dia mengajarkanku secara diam-diam setelah pulang sekolah, belajarnya juga di sekolah. Momy tidak pernah mengizinkan aku untuk bergaul dengan siapapun. Namun lepas dia lulus SMA aku tidak pernah lagi berjumpa dengannya.


Entahlah, tiba-tiba saja dia menghilang tanpa kabar bagai di telan bumi. Kadang aku merindukannya, karena dialah aku bisa seperti ini. Satu lagi nilai plusnya, Wildan tahu semua masalahku dan kadang dia memberi solusi yang tepat dalam setiap masalah.


Sepertinya aku merasa Wildan lah cinta pertamaku, niatnya jika dia tidak menghilang aku akan minta dinikahinya sedini mungkin. Agar harta Papa kembali, tak perduli dia baru lulus, dia bisa saja langsung menjadi seorang CEO di perusahaan milik Papa jika dia menikah denganku. Tapi ternyata dia menghilang saat itu.


Akhirnya, motorku berhenti di sebuah kampus yang amat aku cintai. Untungnya aku tidak perlu sekampus dengan Sila kakak tiriku. Jadi aku anggap kampus adalah tempat teraman dari kontaminasi racun Momy dan Sila.


Sejak dulu aku memang tidak suka bergaul, tujuanku hanya ingin kuliah dan segera lulus. Agar bisa mengeluarkan Momy dan Sila dari rumah. Setelah lulus kuliah nanti, 80% dari harta milik Papa akan menjadi milikku. Sedang Momy dan Sila hanya mendapatkan 20%.


Harusnya mereka tetap bersyukur Papa menyisakan sedikit untuk mereka, mungkin kalau dia tahu aku tidak diperlakukan baik oleh mereka. Pasti akan membatalkan jatah warisannya.

__ADS_1


Tak ada yang spesial dari diriku di kampus ini, aku hanya gadis biasa yang tidak terlalu banyak bicara. Yup, aku memang lebih banyak memilih diam di rumah. Dan diamku mungkin terbawa sampai keluar, habis bingung siapa yang bisa diajak bicara di rumah? Masa cicak di dinding? Atau tikus got? Bi Inah? Haduh, dia itu ular bermuka dua. Gak bisa diajak kerja sama, sering sekali dia ngadu ke Momy kalau ada sesuatu yang membahagiakan untukku. Lalu Momy datang menghancurkannya. Jadi lebih baik aku memilih untuk diam, toh perjalanan ini akan segera berakhir. Setahun lagi Laila jadi bersabarlah.


Terbiasa semangat, kali ini aku menyerah. Rasa kantuk karena tidak tidur semalam, membuat gagal fokus. Biarlah aku coba tidur sejenak sampai pada akhirnya ketika semua pulang tidak ada yang membangunkanku.


__ADS_2