
Aku masih tertidur dalam kamar ketika Al sudah pulang kerja. Setengah sadar, kurasakan kecupan Al di kening. Hanya saja, mata ini tetap tak mau terbuka. Rasanya ingin tertidur terus, ada perasaan begitu berat membuat diri terlalu lelah untuk tetap tersadar. Pada akhirnya aku menyerah dan membiarkan mata ini tertutup kembali.
Meski begitu aku masih merasakan sesosk tubuh yang cukup besar tengah berbaring di sampingku. Bahkan, sebelumnya dia mengganti semua pakaiannya dengan kaus berwarna hijau dan celana pendek selutut pun aku tahu. Mata ini terbuka sedikit lalu menutup kembali, rasanya seluruh badan berasa lemas. Ih ada apa sih dengan diriku ini?
Al tidak berani membangunkan ku, dia terus membelai rambut ini sambil menonton Tv. Dengan sekuat tenaga aku paksakan diri untuk membuka mata dan menemani Al saat itu.
"Al, kok kepalaku pusing terus ya?" keluhku sambil memegang kepala agar terasa hilang pusingnya.
"Kita berobat ya?" respon pertama Al padaku, sambil membenarkan posisi dudukku dan menyadarkan tubuh ini di dadanya yang bidang.
"Enggak ah, aku gak mau Al. Kalau makan jagung bakar enak kali ya?" Kok tiba-tiba malah jadi ingin sekali makan itu?
"Kamu ini aneh sekali, masa sore gini minta jagung bakar," jawab Al terus membelai kepalaku tanpa henti.
"Aku gak mau tahu, pokoknya aku mau jagung bakar itu," rengekku terus meminta jagung bakar, malah sengaja aku peluk dia agar mau menuruti kemauan istrinya yang cantik ini.
Ya, gak papa lah narsis sedikit. Aku memang cantik menurut suamiku sendiri.
"Kalau di puncak banyak sayang, kalau dipusat kota seperti ini mau cari kemana?" Akhirnya Al mau angkat bicara lokasi tentang jagung bakar itu.
"Ya udah kita ke puncak aja," usulku kemudian, sambil merengek terus kepadanya.
"Hah, yang bener saja. Itu kan jauh sayang," jawab Al masih berusaha sabar dan tidak mau menuruti pintaku.
"Ya sudah aku saja yang ke sana sendirian, naek motor," lanjutku lagi, sambil bersiap mengambil jilbab dan kunci motor.
"Laila sayang, jangan ngambek dong. Ayo kita jalan ke sana, beli jagung bakar aja harus ke puncak ya." Al terlihat gemas, dia bangun dan mengambil kunci mobilnya.
Aku tau dia lelah karena baru pulang kerja, habis mau gimana lagi tak ada yang bisa menahan keinginan diri ini untuk menikmati jagung bakar tersebut.
"Asyik, ayo kita jalan," jawabku senang, meraih tangan Al dan menggandengnya.
"Kalau ada maunya aja, begini nih," oceh Al terlihat pasrah.
Kami keluar kamar bersama, ada Vina dan Yasmin yang sedang menonton Tv di ruang keluarga.
"Hai Kalian, ada yang mau ikut Kita gak?" tanya ku pada mereka yang tengah asyik menonton.
__ADS_1
"Mau kemana kak?" tanya Yasmin bersemangat.
"Cari jagung bakar," jawabku sumringah.
Vina dan Yasmin saling memandang satu sama lain, mungkin mereka berfikir aneh tentangku. Setelah itu mereka malah tertawa bersama, memang ada yang salah ya? Apa dan dimana salahku hingga membuat mereka tertawa?? Gak lucu tau.
"Kak, aneh bangat sih udah kayak orang ngidam aja," ceplos Vina masih tertawa.
Aku dan Al saling memandang, apa? Ngidam? Gak terpikirkan oleh ku, Apakah benar aku hamil? Kok aku gak merasakan apa-apa ya? Mungkin aku memang pusing dan mual, tapi selain itu tidak ada sesuatu yang aneh dalam perutku, setidaknya membesar atau apa gitu? Semua biasa aja.
"Kamu udah datang bulan belum?" Al berbisik membuat muka ku merah padam.
Apa sih dia? Tiba-tiba saja bertanya hal itu di depan kedua adiknya. Membuat mukaku jadi panas aja saking malu dengan tatapan mereka.
"Gak tau ah, aku mau jalan duluan," jawabku asal meninggalkan mereka semua.
Malu rasanya diri ini dibuatnya, apa iya memang benar hamil? Aku melihat ke perutku, kok masih sama bentuknya? Gak mungkin secepat itu jadinya.
Jadi ibu anaknya Al? Ya ampun... Senangnya, serasa mimpi jadi nyata dan begitu sempurna.
Al keluar dari rumah dan pergi menyusulku, terlihat senyum kecil dari bibirnya setiap dia melihatmu. Dia kenapa sih, kok jadi mirip kayak orang stress gitu.
"Sejak menikah aku tidak pernah melihatmu memakai pembalut," ucap Al memulai pembicaraan yang kubilang dia sok tahu.
Ternyata selama ini dia sampai sedetail itu memperhatikan diriku. Ya ampun, normal gak sih suami yang modelnya seperti ini++
"Memangnya harus di depan kamu, dan harus laporan dulu. Hai Al aku sedang haid nih, mau pakai pembalut, kamu mau lihat? Begitu?" ketusku kesal.
"Kok kamu marah sih? Jadi gampang tersinggung, biasanya kamu yang lebih bisa berfikir tenang daripada aku."
Al benar, kenapa aku jadi mudah naik darah seperti ini ya? Aku diam dan membenarkan ucapannya.
"Aku juga tidak pernah melihatmu absen salat," jelas Al kembali, terus memberikan fakta bahwa aku memang sedang hamil.
Ya itu benar semua Al, yang kamu katakan memang benar, semenjak menikah denganmu aku memang belum pernah mendapatkan haid sedikit pun. Apa iya aku hamil? Wajahku terasa menghangat kembali. Ya ampun, reaksi apa ini??
"Bagaimana kalau kita memeriksanya?" tanya Al padaku, sepertinya dia berharap sekali jika aku benar hamil.
__ADS_1
"Aku mau jagung bakar Al, aku belum siap untuk periksa ke dokter," jawabku dengan malu.
"Ya sudah kita tespack saja," ucap Al segera berhenti di sebuah apotik tak jauh dari rumah.
"Aku yang beli kamu tunggu di sini." Al terlihat bersemangat sekali membelikan ku tespack, loh dia kok gak malu ya dia kan laki-laki?
Memikirkan ku hamil berarti setelah kelahiran anak ini, harta Papa akan pindah ke tanganku. Ini anak Al kan ya? Loh memang aku berbuat dengan siapa lagi selain dia? Pokoknya dia harus bertanggung jawab kalau sampai aku hamil. Dia harus menikahiku, loh bukannya memang sudah yaa? Ya ampun Laila otak mu tidak bekerja ya?? Karena Khayalan itu terlalu indah.
Tak lama kemudian, Al kembali dengan membawa tespack tidak hanya satu, tetapi dia membawa 5 buah sekaligus dengan merk yang berbeda. Dia sudah gila rupanya, untuk apa dia membeli semua ini?
"Kata mbaknya, ini adalah merek yang paling bagus. Jadi kamu coba semua nantinya," Pesan Al dengan wajah yang begitu sumringah.
Kalau nanti hasilnya negatif gimana? Kamu pasti kecewa Al, aku saja ragu karenanya.
"Semua? Kalau hasilnya negatif gimana?" Aku bertanya dengan penuh keraguan.
"Apapun hasilnya, aku akan tetap terima kamu."
Al mengendarai mobilnya menuju puncak, kami berhenti sekali ketika waktu magrib untuk melaksanakan salat magrib di sebuah masjid. Tak beberapa lama setelahnya kami melihat sudah banyak berjejer tukang jagung bakar. Alhamdulillah, rezeki bagiku bisa menemukan mereka.
Al membelikan aku cukup banyak, memang dia pikir aku kelaparan harus dibelikan sebanyak ini? Padahal satu saja sudah cukup.
"Satu? Kamu hanya makan satu saja?" Reaksi Al terlihat lebay dan berlebihan.
Ahahhaa.... Wajar sih, jauh dari kota hanya untuk sebuah jagung bakar. Tapi ya mau gimana lagi, perut ini sudah tidak mau menampung lebih banyak.
"Memang kenapa gak boleh?!" tanyaku kesal.
Al tak berani menjawab, dia hanya menepuk jidatnya saja. Terimakasih Al, aku sudah merasa enakan dan gak kepingin lagi jagung bakar.
"Sayang terlanjur di puncak, kita honey moon di sini yuk," bisik Al genit.
"Mau tidur di mana? Jangan bilang di mobil ya?"
"Enggak lah, mana enak. Aku kasih tau ya, aku punya hotel bintang 4 di sini, tempatnya juga lumayan enak. Bukan enak si, tapi luar biasa. Masa aku jelekin hotel sendiri," jelas Al
"Terserah yang penting cepet, aku mau muntah."
__ADS_1
"Yah jangan di muntahin dong, sayang jagung bakarnya baru masuk itu. Nyarinya susah masa ngeluarinnya gampang bangat," keluh Al.
Terserah apa katamu Al yang pasti sekarang aku mau ke kamar mandi, untuk mengeluarkan semuanya.