Berharap Jadi Cinderella

Berharap Jadi Cinderella
Aku Mulai lelah


__ADS_3

Setelah selesai ngampus hari itu, aku langsung kembali ke rumah. Sebelumnya mencoba membenarkan hijabku yang kini tidak terlihat rapi seperti waktu saat pergi tadi. Iya, aku memang berhijab sejak 2 tahun kebelakang. Aku gak mau nanti ayah, kakek bahkan bisa saja semua keluarga laki-laki ku akan di tarik ke neraka karena aku yang tak mau berhijab. Tapi jika ada sifatku yang melampaui batas, jangan pernah salahkan hijabnya. Meski berhijab, aku tetaplah seorang manusia yang memiliki dosa. Itu pun karena bayangan seseorang yang terus terngiang-ngiang dalam otakku.


Tak tahu lagi harus kucari kemana uang sebesar 20 juta rupiah itu. Atau biarkan saja semua SIM dan KTP ku di sana. Siapa juga yang mau menjadi pembantu di rumah om-om tadi? Mana tahu dia adalah orang baik atau bukan, bisa saja dia menjual atau merenggut keperawananku hanya demi uang 20 juta rupiah.


"Assalamualaikum," teriakku ketika memasuki rumah dalam keadaan yang benar-benar kusut.


Lelah, sampai rasanya ingin kuhabiskan sebakul nasi jika tersedia. Sayang, jika tidak ada Mbok Inah, jangankan nasi bahkan penanak nasipun jadi begitu terasa begitu dingin ketika bertemu mantan. Gak ada yang masak bre.


Seperti biasa, tidak ada jawaban dari Momy atau pun Sila. Aku langsung terduduk di sofa depan, sambil mencari akal untuk mendapatkan dokumen penting tersebut kembali.


"Enak aja lo pulang langsung duduk, sedang gue dipaksa Momy untuk membersihkan rumah ini gara-gara lo," hardik Sila membuat rasa lapar menghilang, ia pun menjambak hijab yang kupakai.


Beginilah mengapa aku lebih suka diluar ketimbang harus berada di rumah ini seharian. Kadang mereka suka menyiksa tanpa alasan, dulu aku diam bak Cinderella, teapi sekarang tidak. Aku akan lawan siapapun orang yang berusaha menindas. Tangan Sila kutarik dan kuputar kebelakang.


"Aduduh... MOMY...!!!" Sila berteriak memberontak.


Aku terus bertahan dengn posisiku, tidak perduli jika Momy melihat anak semata wayangnya teraniaya. Momy pun tidak akan berani mengusir, karena Om Haris pengacara keluarga kami selalu berusaha memastikan bahwa aku harus baik-baik saja. Atau warisan Papa yang menjadi hakku, akan jatuh kepada panti sosial.


"Laila lepaskan tangan Sila. Momy bilang LEPASKAN!!" teriak Momy sambil menarik dan menggoncangkan tubuhku.


Latihan fisik yang kulakukan ketika membersihkan rumah tak sia-sia, hanya sebuah guncangan dari seorang wanita tua tidak akan membuatku gentar.


"PLAK!!" Tamparan keras hinggap di pipiku. Panas rasanya pipi ini akibat tamparan Momy padaku. Tenang saudara-saudara, ini bukan hal yang pertama yang mereka lakukan padaku. Jadi curiga, jangan-jangan sebelum menikah sama Papa, Momy adalah seorang tukang gendang. Tamparannya mantep bo.


Aku terpaksa melepaskan tangan Sila yang dari tadi berusaha lepas, karena harus mengusap pipi untuk menghilangkan rasa panasnya. Kalah panas gosokan sama tamparan Momy mah.


"Kamu ini tidak pernah dengar apa kata Momy, mulai saat ini kamu harus membersihkan rumah ini sendirian, atau kamu mau semua aset Papamu Momy jual?" Hardik Momy dengan suara yang kencang mirip orang kesurupan. Mungkin kalau dikasih beling pun akan dikunyah sekalian buat cemilan.

__ADS_1


Tidak, itu tidak boleh terjadi. Semua peninggalan Papa, tidak boleh ada satu pun kalian jual. Baiklah aku mengalah, bukan karena takut pada kalian, tetapi karena aku tidak mau kehilangan apa-apa yang pernah Papa perjuangkan dari nol layaknya pom bensin. Dimulai dari nol ya.


Ku tatap sinis mereka berdua. Jika ada nasi tersisa mungkin akan aku ajak Sumanto untuk makan bersama. Menikmati daging kedua wanita, yang lebih buruk dari sebuah bangkai. Intinya gue lapar campur kesel.


Sila masih mengurut pelan ke dua tangannya sambil meringis ketakutan, dan Momy membantu memijat anaknya. Setelah itu aku pergi menuju kamar yang tidak sebesar kamar keduanya. Mereka tidak mengizinkanku untuk tinggal dikamar yang dulu, meski sebuah kamar tamu setidaknya bukan kamar pembantu.


Apa hanya aku di dunia ini yang tidak kenal dengan saudara-saudara yang lain? Mama ku meninggal ketika melahirkan ku, dan Papa meninggal kan ku disaat umurku 13 tahun. Yang ada hanya Ibu dan Kakak tiriku yang berbeda usia hanya 3 tahun denganku.


Tanpa orang tua bukan berarti aku adalah anak yang haus kasih sayang, ya. Tapi... Itu benar juga sih, aku memang haus kasih sayang, namun bukan berarti harus berbuat sesuatu yang nakal atau sebuah tindak kriminal untuk menarik perhatian dari orang lain. Tidak, aku anak yang mandiri dan harus bisa menjaga diri sendiri. Setidaknya jangan sampai nama Papa dan Mama tercoreng karenaku.


Air mata jatuh setelah aku di kamar, bukan karena tamparan di pipi yang membuat lemah. Namun kesendirian membuat luka semakin parah. Aku butuh seseorang untuk tempat bersandar, selama ini aku berjuang sendirian. Mengapa Allah tidak mengambil nyawaku juga seperti Papa dan Mama?


Aku buka hijab dan membiarkan rambut ku yang tebal jatuh begitu saja. Aku rebahkan tubuh ini diatas kasur yang hanya cukup untuk diriku saja. Ingin rasanya pergi dan menjauh dari sini, setidaknya sampai aku bisa lulus kuliah, agar tetap bisa berfikir jernih dan waras karenanya. Tapi kemana? Aku tidak memiliki orang yang bisa ditumpangi.


Oh iya, aku ingat Om yang tetap ganteng saat mobilnya tertabrak, iyalah... Dia tetep ganteng kan bukan mukanya juga yang kena bamper motorku.


Aku mencari kartu nama yang dia berikan tadi "Althaf Rifqie Abrisam". Nama yang begitu islami apa mungkin dia bersifat jahat!? Setidaknya aku coba dulu.


***


Waktu menunjukan pukul 02.00, aku telah bersiap dengan beberapa pakaian, dan keperluan kuliah. Aku tidak akan meninggalkan tahun terakhir, aku harus lulus tepat waktu agar bisa mengusir Momy dan Sila dari rumah ini.


Dari tadi siang belum makan, kalian pasti tahu kan bagaimana rasanya jika cacing di perut terus memanggil untuk minta dikasih makan? Meski begitu lapar, aku tidak mau kesempatan untuk keluar dari rumah ini gagal, hanya karena ingin makan.


Ketika keluar kamar, semua dalam keadaan gelap. Lampu di seluruh ruangan dimatikan. Baiklah aku pergi, kalian nikmati saja fasilitas ini selagi bisa, karena nanti aku akan mengambilnya kembali.


Kunyalakan motor kesayangan, dan pergi dari rumah yang seharusnya menjadi milikku. Untuk sementara ini aku harus pergi untuk membeli makanan, karena perut lapar yang sudah tidak bisa ku bendung lagi.

__ADS_1


Di sebuah tukang nasi goreng aku berhenti, memesan seporsi nasi goreng untuk sendiri, mau pesan dua piring takut dikira suketi pagi buta udah kelaparan.


Sambil makan aku buka handphone, dan menekan nomor yang ada pada kartu nama si Om.


"Halo, Om. Assalamualaikum." Ku memulai pembicaraan ketika mendengar suara tersambung.


"Wa'alaikum salam, ini siapa dan untuk apa malam-malam mengganggu saya?" Tanya si Om dengan suaranya yang berat dan terkesan sombong.


Om suaranya aja udah sexy.


"Maaf kalau ganggu, saya Laila yang SIM dan KTP nya Om tahan. Saya siap untuk bekerja tanpa dibayar, tapi Saya minta di jemput malam ini juga," jelasku tak perduli lagi jika sudah mengganggu tidurnya malam itu, aku juga tidak perduli jika dia sudah punya istri. Setidaknya aku punya tempat untuk menginap.


"Memang gak ada waktu besok apa??!!" Hardik dia dari sebrang sana.


Jangan-jangan besok, masa aku harus tidur di jalanan malam ini. Sepertinya aku harus berfikir keras, agar dia mau menjemput ku. Tapi apa ya??


"Om tolongin aku, ada dua orang preman mendekat ke arahku. Aku di tempat sepi dekat tikungan kemarin aku tabrak Om. Tolong....," teriakku langsung mematikan ponsel. Berharap si Om khawatir.


Semoga saja dia pria baik yang mau menolong, dan dari sana bisa kunilai dia orang baik atau bukan. Kalau dia bukan orang baik mana mungkin mau menolongku malam-malam seperti ini.


Baik Laila, mari kita lanjutkan makan. Dan biarkan Om di sana merasa panik. Kalau dia panik, kalau enggak? Setidaknya aku harus cepat makan, agar bisa sampai ke sana sebelum dia datang.


Tak perlu memakan waktu lama, aku telah menghabiskan sepiring nasi goreng tanpa piringnya. Tenang aku masih punya uang di dalam tabungan di bank, uang yang kutabung itu adalag sisa ongkos ku atau uang sengaja minta kepada Momy dengan cara berbohong. Habis kalau tidak seperti itu dia hanya memberi uang pas untuk beli bensin motorku saja.


Hei, lagi pula uang yang aku pinta adalah uangku. Jadi aku punya hak untuk memakainya, meski kadang merasa menjadi pencuri di rumahku sendiri. Maafkan aku ya Allah, jadi terpaksa melakukannya.


Kini aku sudah sampai di TKP, belum ada tanda-tanda kehadiran Om tersebut. Sampai berapa lama lagi harus menunggu? Hari semakin pagi, jalan pun jadi benar-benar sepi. Bagaimana jika ada orang jahat betulan yang mendekat?! Laila kamu bodoh, kenapa gak kabur besok aja sih??? Aku terus menyalahkan diriku.

__ADS_1


Om kaya datang dong, tolong aku...


__ADS_2