
"Sayang, bagaimana kalau kita week end malam ini? Kamu dandan yang cantik, tapi gak dandan juga aku tetap cantik sih. Pokoknya malam ini aku akan membuat kamu senang terus." Al berkata sambil menyediakan sarapan untukku.
Ya, kami memang masih berada di apartemen milik Al, sejak kedatangannya kemarin dia tidak mau untuk diajak kembali ke rumah. Kata dia lebih enak di sini, berasa tenang dan damai tanpa ada gangguan suara Yasmin dan Vina adiknya yang kadang suka meledek kami berdua.
"Ga ah, males," jawabku yang memang saat ini aku tidak terlalu suka dengan keramaian.
"Ok deh kalau begitu, kalau begitu nanti kita makan malam di sini saja. Kamu gak perlu masak, nanti aku delivery untuk dikirim ke sini," ucap Al selesai membuat sarapan.
Ternyata Al pintar memasak juga rupanya, nasi goreng buatannya tidak kalah enak dengan buatan Mbok Sum. Meski pernah jadi pembantunya Momy, tapi jujur saja untuk memasak dia tidak pernah menyuruhku. Mungkin Momy dan Sila takut jika aku akan meracuni masakan mereka nantinya. Jadi kalian paham kan kekuranganku dimana?
Beda dengan Al yang sudah dilatih mandiri, ketika kuliah katanya dia pernah kost. Bahkan Al termasuk anak Pecinta Alam saat itu, saking seringnya dia naik gunung, urusan masak Al masih lebih baik daripada Aku.
Selesai makan Al menghampiriku yang masih terduduk, dia berjongkok di hadapan ku, dengan lembut dia mengusap perutku yang belum juga terlihat gendut. Sampai saat ini aku tidak tahu sudah berapa lama waktu kehamilanku.
"Dedek, Papa mau ke kantor dulu. Dedek makan yang banyak, ya. Nanti kalau Papa pulang, kita main lagi," Al mencium perutku dengan begitu lama, sampai aku juga terlena dan membelai rambutnya.
Apa maksudnya Al dengan kata main lagi? Memang anaknya sudah bisa diajak main apa? Kadang Al membuat aku selalu tertawa, aku memang ingin bahagia. Aku ingin terus bahagia bersama suamiku.
Pamit dengan calon anak sudah, kini dia pamit pada Ibu anaknya yaitu aku. Al mencium kepalaku, dan memberikan tangannya untuk aku cium juga. Harusnya sih selesai ya, tetapi baru dua langkah dia kembali lagi dan melakukan hal yang sama kembali. Begitu terus sampai yang ke tiga kalinya aku mulai kesal.
"Al, sudah jalan sana! Bercanda mulu, nih!" Aku mendorong Al yang kulihat sedang tertawa dengan ciri khasnya kalau bersama ku.
Bingung rasanya dengan suamiku ini, ketika di luar dan berhadapan orang lain sikapnya begitu dingin. Dia tidak pernah bicara sesuatu hal yang tidak penting, makanya aku suka heran jika dia bersamaku justru jadi orang yang paling lucu dan menyenangkan di dunia. Al selalu membuat nyaman, dia selalu bisa menempatkan dirinya di manapun.
Aku mengantar Al sampai depan pintu apartemen, dia pergi kekantor dengan memakai pakaian ganti yang selalu tersedia di mobilnya. Jadi gak harus repot untuk pulang terlebih dahulu. Di depan pintu, Al mencium pipiku.
"Masih aja ya, gak jadi kerja deh kalau begini terus," kataku mulai kesal dengan tingkahnya.
"Maunya sih gitu, tapi aku ada meeting dengan klien dari luar," ujar Al bermalas-malasan.
"Ya udah pergi sana, aku tutup nih pintunya," ancamku menggodanya.
"Iya aku pergi, Assalamualaikum."
__ADS_1
Akhirnya Al melangkahkan kakinya menjauh.
****
Sebenarnya masih ada perasaan takut jika Momy masih saja terus ingin menghancurkan hidupku. Bagaimana Momy bisa setega itu ingin memisahkan aku dan Al kemarin.
Bukankah aku telah membiarkan mereka memakai semua fasilitas yang seharusnya menjadi milikku selama ini, tetapi mengapa mereka masih terus ingin membuatku terluka?
Akhir-akhir ini aku sudah bisa merasakan sesuatu dalam perutku, entah hanya perasaanku atau memang dia sudah ada di sana? Calon anakku, aku menyayangimu.
Sampai siang ini tidak ada yang bisa ku lakukan, sampai Al berkali-kali melakukan video call menanyakan aktivitas ku sedang apa. Dan jawabannya sama hanya menonton Tv, dan tidak bergerak dari sana. Memang aku harus bagaimana lagi?
Ketukan pintu dari luar terdengar jelas, perlahan aku bangun dari tempat dudukku. Dan hei, ternyata aku merasakan tubuhku tidak seringan dulu.
"Ada apa ya?" Tanyaku pada seorang petugas yang ku kenal dari seragamnya adalah seorang kurir makanan.
"Pesanan dari Pak Althaf, untuk Ibu Laila di kamar bernomor 215, ini dengan Ibu Lailanya sendiri?" Tanya Kurir tersebut mencoba meyakinkan.
"Ini makanan untuk Ibu, silakan di tanda tangani nota terimanya, dan semua sudah dibayar oleh Pak Al," Pria tersebut menyerahkan sebuah kantung plastik besar berisi banyak kotak makanan.
"Oh baik, terimakasih ya pak," Aku mengucapkan terimakasih lalu menutup kembali pintunya.
Kubawa bungkusan itu, dan benar saja ada 3 buah kotak makanan kecil yang berisi berbagai macam makanan berbeda. Al, yang benar saja? Siapa yang mau menghabiskan semua ini?
Aku harus menelpon Al, fikirku. Aku tekan nomor Al dan mulai melakukan panggilan dengannya.
"Video call, aku gak mau cuma dengar suara!" Jawab Al di sana sebelum aku bicara, dan langsung mematikan telponnya.
Ribet bangat si nih orang, mau protes aja gak boleh cuma nelpon! Tak lama kemudian dia langsung melakukan video call denganku.
"Assalamualaikum mama cantik, ada apa ya? Papa lagi fokus loh, ganggu terus," jawaban Al membuat aku sedikit kesal.
Padahal yang dari tadi mengganggu ku dengan panggilan video call itu dia, kok jadi aku yang salah?
__ADS_1
"Aku mau protes, kamu kira aku ini orang kelaparan apa dipesanin makanan sebanyak ini?" Aku menarik kantong plastik besar yang ada di meja untuk diperlihatkan kepadanya.
"Hahahaha.... " Al tertawa dengan ekspresi wajahku.
"Loh kamu kan makan berdua sama si dedek, jadi harus banyak makan dong sayang," lanjutnya lagi.
Tapi gak begini juga kali, kan jadi mubazir kalau sampai gak kemakan.
"Sayang tau," keluhku kesal.
"Aku juga sayang kamu." Jawaban Al dengan senyum genitnya malah membuat aku semakin kesal.
"Aku bukan sayang kamu, tapi sayang makanannya," ketusku langsung memutuskan panggilan dengannya.
Al selalu saja bercanda jika aku sedang serius. Terpaksa aku makan semua, meski harus berkali-kali makan. Daripada mubazir nantinya. Al terus menghubungi, mungkin dia gak mau kalau aku sampai marah. Sengaja, untuk membuatnya gundah tak ku hiraukan panggilannya.
Dua jam setelah kurir makanan datang, aku kedatangan tamu lagi. Sekarang dua orang kurir membawakan kiriman puluhan buket bunga mawar merah. Dan kalian tahu pelakunya adalah suamiku sendiri. Mungkin dia masih merasa menyesal karena soal tadi.
Pemborosan kataku, untuk apa dia membelikan banyak bunga ini? Bukannya senang kok aku malah menjadi bertambah lagi kekesalan ini karenanya.
Sejam berlalu, datang lagi seorang kurir dengan kiriman buket mawar kembali. Ya ampun Al sudah berapa banyak uang yang kamu keluarkan hari ini? Semua bunga ini untuk apa? Ditanampun tidak akan bisa, kan sayang.
Pintu diketuk kembali, sepertinya yang ini akan aku suruh kembalikam ke tokonya. Kalau bisa aku suruh kembalikan juga uang yang sudah Al bayar kepada mereka.
"Mas tolong bilang sama yang kirim, tempat saya sudah tidak muat lagi dengan bunga yang dikirim," kataku mulai emosi.
"Selamat ulang tahun sayang, semoga selalu diberi keberkahan dan umur panjang, jangan marah-marah terus. Dan semoga sayang terus sama aku selamanya." Ternyata Al yang membawa buket bunga terakhir bunga mawar yang dicampur dengan tulip.
Dan aku berdiri terpaku merasa bodoh, tidak tahu jika hari ini adalah ulang tahunku. Karena tidak ada yang pernah mengingatkan ku selama ini. Al memeluk erat.
Ada guncangan di mataku, rasanya aku ingin meledak dan menangis haru karena kejutan yang Al berikan padaku. Dan benar kan aku menangis betulan.
"Huuaaaa.... Al, kamu jahat! Ngasih surprise gak bilang-bilang...." Aku sesenggukan historis. Terus memukul dadanya
__ADS_1