
Aku tidak tahu sudah berapa lama berada di sini, karena posisi gudang yang memang tidak memiliki akses jendela terbuka untuk melihat keluar. Bahkan kadang mereka tidak menyalakan lampu di tempat ini. Takut sudah jadi makanan sehari-hariku, hanya seberkad cahaya dari langit-langit kaca yang sengaja dibuat Papa di atap gudang ini. Setidaknya aku masih bisa menikmati indahnya langit yang tertembus dari sana.
Saat ini setahuku sudah melewati dua kali adzan Subuh, ya begitulah cara untuk mengenal waktu selain dari pantulan bayangan dari atap kaca. Firasat berkata mungkin sudah dua hari ini aku dikurung mereka.
Hijabku sengaja tak kucuci, meski di dalam sini ada kamar mandi. Ku biarkan darah itu mengering di sana. Seandainya harus mati di sini, setidaknya mereka tahu penyebab kematiaku kenapa. Perut terasa begitu sakit dan lapar, biasanya Momy tidak mengurungku selama ini. Kenapa ini lama sekali? Apa jangan-jangan dia memang sengaja berniat untuk membunuhku?
Untung saja air di kamar mandi sana selalu ada, sehingga aku masih bisa bertahan hidup sampai sekarang. Iya, aku meminum air keran untuk menghilangkan dahaga. Setidaknya aku juga tetap harus berusaha untuk bisa hidup, dan tidak berputus asa karenanya.
Meski terkurung, aku tetap membersihkan diri dengan mandi, hanya saja baju yang aku pakai tidak pernah diganti. Ya kalian bisa kan bayangin gimana harumnya??
Berkali-kali aku berteriak memanggil Momy dan Sila agar mau membukakan pintu ini, namun mereka tidak memberi jawaban. Begitu juga Bi Inah, kok dia bisa ikut sejahat itu? Dengan membiarkan aku terkurung di dalam sini tanpa makan dan minum sedikitpun?? Padahal dia digaji dari uang milikku, Momy hanyalah seorang perantara.
Memang sudah nasib sepertinya harus begini. Mengapa kisah Cinderellaku tak berujung manis seperti dia? Cinderella saja tidak pernah sampai berdarah-darah di siksa oleh ibu tirinya.
"Laila... Laila di mana kamu?" Sayup-sayup kudengar suara Al memanggil namaku.
__ADS_1
Sudah mulai berhalusinasi rupanya karena perut yang lapar atau aku akan mati hari ini jadi mulai meracau. Suara itu kudengar kembali, kini dia tidak sendiri ada suara Momy dan Sila yang saling bergantian.
Mungkin itu bukan Al, tetapi hanya tukang gas atau listrik yang biasa ke rumah untuk memperbaiki jika terjadi kerusakan. Mana mungkin Al datang untuk menolong, sedang aku tidak berarti apa-apa untuknya. Kami hanya berhubungan sebagai majikan dan pembantu, atau terhubung karena hutang piutang.
"Laila... Laila... Kamu di mana?" teriak Al semakin jelas dan mendekat, di tambah suara Momy dan Sila yang marah kepadanya.
Ya itu betul suara Al, apakaj dia sengaja datang untuk menolongku? Aku bangkit dari tempat dudukku, dengan tubuh yang lemas berusaha pergi beranjak ke arah pintu begitu susah payah.
"Al... Al.... Aku di sini...!!!" teriakku.
"Laila itu kamu...?" Al menegaskan kembali agar tidak salah, suaranya terdengar begitu panik.
"Gak ada yang namanya Laila di sini, ini rumah saya. Kamu gak boleh bertindak sembarangan!" Hardik Momy begitu jelas ku dengar.
"Iya, Al ini aku. Keluarkan aku dari sini Al...," ucapku lemah dan tidak mau Al pergi dan meninggalkanku sendiri.
__ADS_1
"Buka pintunya, atau saya dobrak!!" ancam Al begitu lantang dari bekakang pintu sana.
"Enggak, kami tidak akan buka," jawab Momy bersikeras menolak permintaan Al.
"Laila kamu mundur, aku akan berusaha mengeluarkan kamu dari sana!!" teriak Al lagi.
Aku mengikuti apa kata Al untuk menjauh dari sana. Tubuh ini terasa lemas, perut begitu terasa sakit karena tak ada apa pun yang masuk ke dalam sana sejak di rumah Al waktu itu.
"Brak.. Brak..." Al terus mencoba untuk membuka pintu ini dengan paksa. Hingga akhirnya dia berhasil, pintu terbuka. Ku lihat wajahnya begitu khawatir, dan dia sangat kaget melihat kondisiku. Dengan baju dan hijab yang penuh darah.
"Laila, kamu gak papa? Apa yang telah kalian lakukan padanya?!!" hardik Al pada Momy dan Sila yang terlihat begitu ke takutan.
"Sudah Al, bawa aku pergi dari sini. Aku sudah...," Aku tak sanggup lagi bicara, setidaknya aku senang bahwa Al yang menolongku. Berarti dia mengkhawatirkan keberadaanku. saking bahagianya aku tak sadarkan diri saat itu.
Apapun yang terjadi kupasrahkan semua, meski harus kembali kepadaNya. Meski sedikit ada yang membuat tenang, ternyata masih ada orang yang perduli tentangku
__ADS_1