
Jika kalian berfikir akan ada malam pertama antara aku dan Al kalian salah. Karena dari awal kami menikah bukan karena cinta, meski kini ada sedikit rasa juga untuk mulai mencintainya. Iya kami tidur sekamar, bahkan satu ranjang. Hanya saja aku menumpuk bantal guling kami menjadi pembatas, untuk menghalangi tubuh kami bersentuhan. Bukannya munafik atau apa, masa harus aku duluan gitu yang merayu Al untuk menyentuhku. Maaf ya, mungkin diri ini memang mencintai mu. Tetapi aku tidak akan memulainya lebih dahulu.
Pagi itu, di hari pertama aku menjadi istri Al. Ciye.. Jadi nyonya akhirnya, aku sudah bangun dari subuh, sedangkan dia masih tertidur memeluk gulingnya. Tidak kah Al ingin menjadi imam yang baik untukku? Dengan menjadi imam salat dan rumah tanggaku. Masa subuh aja dia masih pulas begitu, jadi gemas rasanya ingin menarik selimut terus menyeret dia untuk pergi ke kamar mandi.
Sabar Laila, jika Al memang bukan jodohmu sampai selamanya, kamu akan bisa mudah melepas. Meski sekarang aku ingin sekali membangunkannya dengan sebuah kecupan di pipinya. Eh,, khayalan apa ini? Tapi aku urungkan, nanti dia jadi ke ge eran lagi.
Hijabku tidak pernah terlepas dari kepala, meski tertidur aku masih memakai hijab. Maklum masih ada rasa tak percaya jika aku sudah menikah, malah kadang jadi takut sendiri seandainya pernikahan ku ini tidak lah sah karena memiliki niat tertentu. Ampunilah aku ya Allah.
Aku pergi ke dapur, bersama Mbok Sum aku siapkan sarapan untuk semua orang di sini. Termasuk Vani, satu-satunya orang yang tidak menyukaiku di rumah ini. Baiklah dia memang mengacuhkanku, maka akan kuusahakan untuk tidak akan menghiraukannya pula. Anggap aja patung pancoran atau patung selamat datang yang gak bisa ngomong apa-apa ya kan?
Yasmin dan Vina sudah ada di meja makan dengan seragamnya. Al datang dengan stelan jas yang sudah rapi dan tidak memakai piyamanya lagi. Dia datang menghampiri ku, meremas kedua pundakku dan mencium kepalaku. Kaget dengan sikapnya seperti itu, hai Al kamu sudah bangun kan? Sedang tidak mengigau kan? Atau kepalanya baru saja kejedot pintu kamar mandi tadi?
"Aku muak lihat kalian berdua," ketus Vina lantas bangun, dan pergi dari tempat duduknya.
"Vina tunggu, aku mau bicara...," panggilku.
Al menahanku dengan memegang tanganku kali ini. Tidak dia tidak hanya memegang tapi membelainya. Ya ampun, jadi kayak kucing di belai-belai.
Aku lantas menarik tanganku dari belaiannya, di sana ada Yasmin tak etis rasanya jika dia menunjukan hal tersebut di depan Yasmin yang baru menginjak usia 13 tahun. Lagian habis ngapain si nih orang sampai bisa seperti ini? Apa semalam dia sudah diracuni orang? Pikiran buruk ini...
"Aku gak lihat, lanjutkan aja kakak ku sayang. Aku pamit ya," ucap Yasmin meminta izin, kini dia lebih hormat dengan mencium tangan aku dan Al.
Setelah kepergian Yasmin, aku protes dengan perlakuan Al yang sok mesra di depan kedua adiknya. Enak saja dia, giliran ramai begitu giliran sepi aku dicuekin. Eh, memangnya aku berharap mau diapain ya?
"Al untuk apa kamu melakukan itu semua?"
"Agar adikku tahu bahwa aku menikah denganmu bukan sebuah sandiwara atau drama," Al melahap makanannya.
"Jadi menurut kamu pernikahan kita itu apa?" Aku jadi semakin bungung dibuat Al, bukankah memang ini pernikahan dengan sebuah tujuan.
"Aku bilang semua ada padamu, Aku hanya ikuti semua kemaunmu seperti apa nantinya," jawab Al cuek.
Aku menatap mata coklatnya dengan tajam, biasanya Al akan membuang wajahnya ketika aku menatapnya. Loh, sekarang kok dia malah membalas tatapan ku? Semakin berani dan malah jadi takut dibuatnya. Mata itu menatap dengan penuh godaan.
"Laila bagaimana kalau kita melakukannya?" tanya Al langsung menggenggam tanganku.
"Melakukan apa? Aku mau siap-siap, mau pergi ke kampus. Sudah banyak waktu terbuang karena kejadian kemarin. Oh iya nanti pulang dari kampus aku mau ke kantor Om Haris pengacara Papa. Semalam dia menelpon ku," jawabku tiba-tiba bangun dari tempat dudukku dan pergi meninggalkan Al.
__ADS_1
Aku tidak mengerti maksud Al, melakukan apa? Memangnya ada yang belum di lakukan hari ini. Aku sudah buat sarapan, sudah shalat subuh, terus sudah mandi juga, terua apa yang belum aku lakukan?? Pagi-pagi sudah buat teka teki, aku jadi bingung dibuatnya.
*****
Siang pulang dari kampus, aku bertemu dengan Om Haris. Sebelumnya, kemarin dia telah bertemu Momy dan Sila yang telah memberi tahu pernikahan ku dengan Al. Om Haris tidak percaya dengan ucapan mereka berdua, sampai akhirnya aku membenarkannya.
"Kamu tahu La? Pernikahan itu adalah sebuah ibadah, kamu jangan pernah main-main. Apakah benar kamu menikah bukan demi harta Papamu?" tanya Om Haris.
Skak matt memang itu tujuanku. Tapi Om aku juga mencintai suami ku kok, meski dia belum mencintai aku.
"Aku menikah dengan niat ku sendiri," jelasku meyakinkan Om Haris.
"Om paham, tapi kalau tujuan hanya menikah karena harta kamu akan dosa besar nak. Makanya Papa mu akan memberi harta ini kepadamu jika kamu sudah menikah dan memiliki seorang anak dari pernikahanmu. Jadi tidak hanya menikah," jelas Om Haris lagi bagai sebuah tikaman yang begitu tajam.
"Om bercanda kan?!" Aku tetap tidak percaya dengan ucapannya.
"Justru Papa mu sayang padamu nak, dia tidak mau kamu mempermainkan pernikahanmu hanya demi harta Papamu," jawab Om Haris dengan gayanya yang khas, dia berbicara dengan tangan yang ikut bergerak sesuai ucapannya.
"Lalu apa yang harus aku lakukan Om?" Tanyaku lesu dan dia malah tertawa.
Halo, bagaimana caranya aku bisa dapat anak dengan cepat? Siapa yang bisa menolongku saat ini. Oh iya Al, aku harus mengabari Al.
Ku telpon Al dengan ponselku. Tanpa menunggu lama dia langsung mengangkatnya.
"Assalamualaikum, Al. Aku sudah bertemu Om Haris." Aku berkata dengan lesu.
"Wa'alaikum salam. Lalu apa yang dia katakan?"
"Dia berkata aku harus memiliki anak dulu, baru bisa mendapatkan harta itu. Bagaimana ya? Aku jadi bingung,"
"Kamu itu polos atau bodoh sih, begitu saja pakai nanya bagaimana caranya," ucap Al mulai naik darah dengan ucapanku
"Hai, aku ini selalu juara kelas ya. Aku tahu kalau mau punya anak itu harus hamil. Tapi bagaimana aku bisa hamil kalau..." Loh aku jadi malu sendiri dengan ucapanku, langsung saja aku matikan handphone ku.
Bagaimana aku bisa hamil, kalau kamu tidak pernah menyentuh seperti istri yang lainnya. Bagitu Al, kamu mengerti gak sih isi hatiku? Kesal rasanya dengan ucapan Al kali itu.
Hari ini begitu menyebalkan, aku kira setelah menikah, aku bisa langsung menjadi orang kaya. Habiskan uang untuk liburan ke luar negri, atau belanja di Mall yang terbesar negri ini. Ternyata tidak sama saja, loh suami ku kan sudah kaya ya. Kenapa masih berharap yang lain? Memang aku bodoh.
__ADS_1
Hari ini aku mandi lebih awal, kamu tahu. Aku tidak mau ketika sedang memakai baju nanti Al datang begitu saja dan masuk ke kamar tanpa rasa bersalah. Bikin jantung mau copot.
Baru saja aku bicara seperti itu, benar kan dia sudah pulang kerja? Sekarang aku masih memakai baju handuk, dan betul saja dia kini langsung masuk tanpa mengetuk pintu atau bilang apa pun padaku.
"Al aku mau pakai bajuku, bisa kah kamu keluar?" pintaku pada Al yang sedang melepas Jas dan dasinya.
"Aku ingin dengar apa yang pengacara keluargamu katakan," pinta Al sambil menggantung jasnya di hanger yang memang disediakan untuk menggantung jas.
"Om Haris bilang kalau mau semua kembali padaku, aku harus memiliki anak dulu. Bagaimana aku bisa punya a...," Belum selesai bicara Al sudah menubrukku dan akhirnya aku terjatuh dengan Al yang berada diatas.
"Aku akan memberimu anak, kamu mau? Kamu selalu membuat aku tergila-gila, Laila." Al berkata dengan jarak yang begitu dekat, aku bisa menatap mata kesukaanku.
"Maksud mu Al, bukan kah ini hanya pura-pura?" tanyaku meyakinkan, aku takut dia hanya memanfaatkan diriku untuk keadaan ini.
"Aku selalu suka padamu, terlebih pada mata sinismu itu," ucap Al mendekatkan bibirnya padaku, perlahan dia mencium bibirku. Dan kalian tahu aku tidak menolaknya.
Al aku juga suka matamu, berarti selera kita sama ya? Apakah ini pernyataan cinta Al? Saat itu aku tidak bisa berfikir apa-apa. Aku adalah seorang istri, jadi wajar saja jika aku harus melayani suamiku. Bukan kah begitu?
Sore itu aku dan Al melepaskan semua penghalang yang ada antara kami berdua. Dan satu hal lagi, semakin dibuat jatuh cinta diri ini rasanya. Aku bahkan tergila-gila padanya, meski saat ini dia belum bisa menjadi imam yang baik.
"Al, apakah kamu pernah melaksanakan salat?" Aku memberanikan diri bertanya pada Al setelahnya.
"Pernah lah sesekali," jawabnya sambil memelukku dari belakang.
"Aku ingin kamu melakukannya terus, kamu bersedia? Aku ingin kamu menjadi imamku seutuhnya terlepas dari semua tujuan kita menikah."
"Baiklah, akan aku lakukan apapun pintamu," ucap Al dengan segera.
"Bagaimana kalau dimulai dari sekarang?" pintaku lagi.
"Apa? Kamu mau lagi?" Al menggodaku.
"Bukan, bangun mandi sana dan kita salat magrib berjamaah. Cepat bangun!!" Aku menarik tangan Al.
Al bangkit dengan senyuman yang begitu aku sukai. Akhirnya telah kutemukan dia pangeranku. Rasanya untuk saat ini sudah tidak perduli lagi dengan warisan Papa, aku hanya ingin hidup damai bersama Al. Tapi enak sekali jika mereka memakan semua hakku.
Magrib pertama aku melaksanakan salat di imami suamiku, ada perasaan damai di hati. Ternyata Al pandai dan fasih membaca ayat Alqur'an ketika mengimamiku. Papa lihat lah, ini menantu untukmu Papa. Doakan dia bisa mencintai anakmu selamanya.
__ADS_1