
Vina masih terlihat shock, wajahnya terlihat begitu pucat dan tetap diam meski sudah sampai di rumah. Aku menemaninya masuk ke kamar. Ini adalah langkah pertamaku masuk ke kamar Vina. Kamarnya begitu rapi dengan tembok dan barang serba berwarna pink. Al menyusul kami ke dalam.
"Sudah berapa kali kamu pergi ke sana?" tanya Al dengan sorot mata yang tajam.
"Kamu istirahat dulu ya Vina." Aku beranikan diri mengusap tangannya.
Sepertinya, tidak tepat jika Al bertanya itu pada Vina sekarang, maka aku tarik tangan Al untuk bicara berdua dan membiarkan Vina menenangkan dirinya terlebih dahulu.
"Loh kenapa aku di tarik keluar?" Al tidak terima aku menariknya keluar dari kamar Vina.
Aku menarik nafas panjang, masa dia tidak mengerti kalau jiwa psikologis adiknya sedang terguncang karena kejadian tadi. Kesal dan enggan menjawab pertanyaan Al, aku terus menarik sampai akhirnya kami kembali ke kamar.
"Kok kamu jadi agresif gini si sayang, kamu narik aku supaya kita bermesraan lagi ya?" Al yang menurut saja ketika kutarik ke kamar.
Aku menepuk jidat, apa hanya itu yang ada di fikiran Al jika dekat denganku?
"Al, jiwa Vina sedang tidak stabil. Jadi jangan ganggu dia dulu, ok? Sekarang aku mau tidur, sini tanganmu gara-gara kamu aku jadi lebih suka tidur ditanganmu dari pada memakai bantal ku sendiri." Aku menarik tangan Al dan menjadikannya bantal.
Sebenarnya sedikit modus sih, nekat berbuat seperti ini agar dia tidak berkeinginan kembali untuk ke kamar Vina setidaknya sampai malam ini saja.
Benerkan, dia malah senang bisa memelukku terus. Tapi kok jadi kepikiran Al yang bisa tau klub malam itu ya? Jangan-jangan dia pernah kesana dan kencan dengan beberapa wanita di sana. Oh tidak, aku malah tidak bisa tidur memikirkannya.
"Al, kamu kok tahu klub malam itu?" tanyaku penasaran.
"Aku kan pernah ke sana beberapa kali," jawab Al dengan dengan mulutnya yang dekat sekali dengan telingaku.
"Kamu ngapain ke sana? Terus sama siapa? Kamu pernah kencan dengan pelayan di sana ya?" Pertanyaanku terus beruntun menembaknya.
"Apa sih udah kayak polisi aja nanyanya, dikit kok gak banyak itu pun dulu sekali," jawab Al santai.
Aku memukul kesal tangannya, jangan-jangan dia sudah tidur juga dengan salah satu atau banyak wanita di sana. Aku terbakar cemburu mendengarnya.
"Kamu juga sudah gak perjaka ya waktu kita melakukan hal itu denganku kemarin?" tanyaku curiga bercampur kesal.
"Hai, maksud kamu apa? Aku sudah pernah tidur dengan wanita lain gitu?" Al tak terima aku tuduh seperti itu, dengan sedikit kesal berusaha menatap dia karena ingin melihat ekspresinya.
__ADS_1
"Sayang, kamu polos bangat bikin aku gemas. Mungkin aku pernah jalan dengan beberapa dari mereka, tapi aku tidak pernah berbuat hal yang kamu bilang tadi. You're the first," Al mencium pipiku kembali.
Semoga saja dia benar, jika dia berbohong awas aja kamu Al. Jangan sampai ada kasus mutilasi diantara kita nantinya.
Aku merasa tenang dengan jawaban Al, hingga akhirnya bisa tertidur pulas malam itu. Ternyata begitu rasanya cemburu ya, maklum selama ini tidak ada cowok yang berani mendekatiku. Mungkin karena mereka takut Momy yang memang gak boleh bangat kalau aku dekat dengan cowok. Mungkin dia takut jika akan menikah muda untuk mendapatkan harta Papa kembali.
******
Aku tak lihat Vina di meja makan, meski ini minggu dan libur dari sekolah, seharusnya Vina sudah terlihat meski sekedar bolak balik di dalam rumah. Kemana ya? Kok rasanya jadi khawatir. Apa dia baik-baik saja?
Sudah sejam lewat jam makan, aku tidak juga melihat Vina. Mencoba siapkan sarapan untuknya, dan ku beranikan diri untuk membawa sarapan itu ke kamar Vina. Ketika aku pergi menuju kamar, Al yang melihat menghentikan ku ditengah jalan, dan kami berdiskusi sambil berbisik agar Vina tidak merasa tersinggung karenanya.
"Kamu mau kemana?" Tanya Al dengan ekspresi nampak khawatir.
"Ke kamar Vina, aku khawatir dia tidak mau makan hari ini," Kataku memang mencemaskannya.
"Biar aku saja, aku tidak mau dengar Vina membentakmu," Ternyata Al mengkhawatirkan aku yang akan kena marah oleh Vina.
"Al, Vina itu adikku juga. Aku ingin baik dengannya, tolong biarkan aku berusaha untuk mengambil hatinya." Aku memelas dan memohon padanya.
Aku mengetuk pintu kamar Vina, dan Al membantu membukakan pintu. Vina sedang duduk bersandar diatas ranjangnya, dia melihat ke arahku lalu membuang mukanya. Ada perasaan takut di tolak dalam hati, tapi aku tidak mau hubungan antara aku dan Vina seperti ini terus nantinya.
Kuletakkan makanan yang kubawa di meja samping ranjangnya. Dia masih tidak mau menatap. Aku mengerti, mungkin dia masih dalam keadaan yang tidak stabil.
"Kamu kenapa gak keluar makan Vin? Kami tadi sempat menunggumu di sana," kataku mencoba bicara.
"Kamu gak usah sok baik sama aku," ketus Vina mulai berbicara, setidaknya kebiasaan Lo dan Gue ketika bicara denganku telah berubah
"Aku gak sok baik. Tapi memang sifatku yang seperti ini, mungkin jika kamu bukan adiknya Al, atau orang lain yang seperti itu pasti akan tetap aku tolong," tegasku.
Mumpung Vina tidak kabur-kaburan sekalian saja aku luapkan isi hati kepadanya. Meski pun pada akhirnya dia tidak akan pernah mendengar ku.
"Aku juga yatim piatu, bahkan aku seorang diri di dunia ini. Kamu beruntung punya Al dan Yasmin, sedangkan aku hanya punya Ibu dan kakak tiri yang selalu menyiksaku. Aku iri dengan kehidupanmu yang serba kecukupan, tidak denganku yang harus mengemis terlebih dahulu pada ibu tiriku agar dia mau memberikan uang jajan. Dia sih pasti memberiku, hanya saja sebelum itu aku harus mengerjakan tugas dari pembantuku. Dan pembantuku sendiri malah asyik bersantai di depan TV. Aku iri padamu Vina, seandainya aku menjadi dirimu..." Belum aku teruskan Vina menangis sejadinya.
Menangislah Vina jika dengan cara menangis akan membuat bebanmu menjadi ringan.
__ADS_1
"Aku benci Kamu, karena kamu telah mengambil perhatian Kak Al yang selama ini tidak perduli kepada kami. Aku benci kamu karena kak Al selalu mementingkan kepentinganmu dari pada kami. Aku benci kamu yang telah mengubah isi rumah ini, apa kamu masih mau menerima ku sebagai adik iparmu?" Vina terus mengeluarkan isi hatinya, aku tidak sakit hati sama sekali dengan ucapannya.
"Aku akan terima, aku akan terima kamu apa adanya, meskipun kamu membenciku. Aku ingin punya keluarga, aku ingin punya orang yang menyayangi ku. Dan kamu tau jika Al juga sayang kepadamu, karena untuk kamu dan Yasmin, kakakmu berjuang siang dan malam meneruskan setiap usaha dari keluargamu. Aku tak mengapa jika kamu membenci ku, tapi yang pasti aku akan tetap menyayangimu sebagai adikku," Tanpa kusadari aku pun ikut menangis, aku ikut merasakan yang Vina rasakan.
Vina memelukku erat, kini dia menangis dalam pelukanku. Tanpa bicara aku membalas pelukannya. Tenang rasanya diri ini jika dipeluk seseorang. Saat yang kutunggu, ketika semua adik iparku mau menerimaku.
"Maafkan aku ya, Kak. Aku begitu bodoh, aku tidak bisa melihat kebaikan Kakak yang tulus," Ucap Vina dalam pelukanku.
"Terimakasih Vina, kamu mau memelukku. Aku juga butuh pelukan sama seperti kamu," Aku melepaskan Vina dan menempelkan kening ku di keningnya sebentar lalu memeluknya lagi.
"Kak, mau tolong aku gak?" Tanya Vina sudah lebih tenang dari sebelumnya.
"Apa, aku pasti tolong jika kubisa."
"Aku DO dari sekolah, bisakah Kakak mengatakannya pada Kak Al nantinya?" Tanya Vina merasa takut.
"Kok bisa?" Tanyaku pelan takut Al menguping dari luar.
"Sudah sebulan ini aku tidak sekolah, surat panggilan orang tua selalu di kasih dari sekolah, tapi aku tidak memberikannya pada Kak Al. Aku takut, kak."
"Ya sudah kamu tidak perlu memberi tahu Kakakmu, biar urusan Al menjadi urusanku. Yang penting kamu makan ya sayang, Kakak tinggal keluar,"
Aku bangun dari tempat tidur Vina dan pergi keluar kamarnya, baru saja membuka gagang pintu kepala Al nyaris jatuh ketika aku membuka pintunya. Ternyata benar firasatku dia nguping di sana.
Aku mendorong nya keluar dan menutup pintu kamar Vina. Aku rasa Vina butuh privasi setidaknya sampai dia selesai makan nanti.
"Gemes liat istri aku yang pandai bicara," kata Al mencubit hidungku kemudian menekan kedua pipi dan mencium paksa bibirku.
Aku cubit saja pinggangnya, ini kan di luar kamar. Bagaimana jika ada yang melihat seperti Mbok Sum atau Yasmin gitu.
"Awww.... Sakit!" Teriak Al, sambil memegang pinggang bekas cubitanku.
"Lagian gak kenal tempat, nyosor terus kayak bebek," jawabku kesal sambil pergi meninggalkannya.
Ternyata keluarga ini memang hanya butuh perhatian. Hanya saja semua begitu sombong, sampai seolah-olah mereka bisa hidup sendiri tanpa adanya rasa kasih sayang satu dengan yang lain. Padahal di dalam mereka rapuh, untung saja dulu ada kak Wildan yang menguatkan dan selalu menasehati aku. Astagfirullah... Kenapa Kak Wildan lagi??!
__ADS_1