
(Melawan Organisasi Hitam)
Rumah kepala desa memiliki dua lantai serta terdapat jalan ke ruang bawah tanah desa, lantai paling atas ditempati oleh pemimpin mereka.
"Jadi kita harus menyelamatkan warga desa?" tanya Kamori sambil mengawasi sekitar tepatnya didekat pintu masuk ruang bawah tanah yang dimana dijaga ketat.
"iya, kita harus menyelamatkan mereka terlebih dahulu," jawab Mika mengikuti Kamori yang terus melihat sekitar. Kamori menghadap Mika sambil berlutut menyamakan tinggi.
"Kalau begitu, kamu tunggu saja diluar, biar aku saja yang masuk ke dalam," Kamori menepuk pundak kecil Mika, dia tersenyum yang bisa diartikan 'percayakan semua padaku.'
"Tapi..."
"Hei..., kau itu masih dibawah umur, tidak boleh melihat adegan pembunuhan bahkan lebih parah lagi adegan asmara," Kamori merinding saat mengatakan kata asmara.
"Tenang saja aku pasti akan menyelamat warga desa dan ibumu, jangan khawatir pahlawan bertopeng, eh... salah..., maksudnya pahlawan berkostum akan menyelamatkan ibu tuan putri," Kamori mengusap kepala Mika pelan.
"Hm..., aku serahkan padamu kak, aku akan menunggu kalian diluar desa," jawab Mika, Mika mulai meninggalkan Kamori.
"Oke, waktunya kita beraksi," ucap Kamori, dia memakai sarung tangan kucingnya yang tadi sempat dia lepas saat makan serta mengambil dua pedangnya.
"Aku ikut."
"Tidak perlu, kau nanti jadi beban!" Kamori terdiam, 'Siapa?' dalam pikiran Kamori, dia segera berbalik badan dan segera masuk ke mode bertempur.
"Yo," seorang laki-laki yang pernah dia temui muncul dibelakangnya dengan membawa sebuah pisau kecil yang terus dia mainkan.
"Kanapa kau jadi manusia?" tanya Kamori menurunkan senjatanya.
"Ingin menolong, sebagai sistem yang baik hati, penyayang dan peduli sesama, aku harus membantu majikanku pada saat dia kesusahan," ucap Aka menunjukkan sifat sombongnya.
"Terserah kau yang penting jangan jadi beban!" ucap Kamori, Aka menjawab dengan ancungan jempol.
"Biar aku saja yang menangani orang-orang disini, kau masuk saja," Kamori menatap Aka tajam lalu dia mengangguk, Aka tersenyum saat melihat reaksi dari Kamori.
"Kita mulai," tiba-tiba Aka maju, satu persatu penjaga disana dia lumpuhkan hanya dengan menggunakan pisau yang dia bawa.
"CEPAT!!!" perintah Aka, Kamori segara berlari masuk ke ruang bawah tanah, sementara pasukan lainnya mulai berdatangan ke arah Aka, "Mari kita berburu."
Kamori berlari di lorong gelap dengan beberapa lampu yang menerangi jalan, entah dimana tujuannya, Kamori hanya terus berlari mengikuti jalan.
Kamori terdiam saat melihat tiga pintu berbeda warna, "Ini yang mana jalannya woy!" dari pada membuang-buang waktu, Kamori memilih untuk mengecek satu persatu pintu.
(Pintu1)
"Grrr... "
"APA-APAAN INI..., KENAPA ADA MONSTER DISINI!!!"
__ADS_1
(Pintu2)
"ueekk..., apa ini septic tank? baunya seperti kentutnya Mika."
(Pintu3)
"Hasyuhh..., a...apa ini kutub utara?"
ʕ•ﻌ•ʔ
"Kenapa tidak ada pintu yang benar?" Kamori mengumpat terus menurus mengingat dia saat berada di pintu-pintu itu, di dalam pintu-pintu itu ada monster, selokan dan tempat kosong yang sangat dingin.
"Dimana pintu yang benar...," tepat pada Kamori mau menyerah, dia melihat sebuah pintu lain yang di atasnya tertulis 'Gudang Pangan.'
'Mereka semua dikurung digudang penyimpanan!'
Kamori mengumpat untuk dirinya, "Kenapa dunia selalu membuatku pintar...," Kamori berdiri dan mulai membuka pintu tadi.
Terkunci, Kamori mulai kesal, dia menghunuskan dua pedangnya ke pintu membuat pintu yang awalnya kokoh menjadi serpihan kecil-kecil.
"Kau mau membodohiku hah..., kali ini aku tidak akan terpengaruh lagi," omel Kamori terus menginjak-injak serpihan pintu tersebut.
Kamori tidak sadar kalau dia dilihat oleh satu desa sedang marah-marah tidak jelas, semua warga desa ketakutan melihatnya.
Amarah Kamori mulai memudar dan menatap sekumpulan orang yang ketakutan dengan tajam, "Apa kalian asli warga desa?" tanya Kamori yang langsung dianggukkan oleh semua orang.
"Kau mau apa dengan nona Lily?" Seorang anak kecil membelakangi seorang wanita paruh baya yang tampak depresi.
"Jadi dia yang bernama Lily?" Kamori berjalan mendekat ke wanita yang dilindungi oleh anak kecil itu.
"Minggir...," Kamori sedikit mendorong anak kecil itu, dia berdiri tepat didepan wanita paruh baya sedangkan Lily cuek.
"Aaaa..., akhirnya ketemu, kau tau Mika berusaha menolongmu sampai-sampai dia berbohong ke orang lain!" Kamori tiba-tiba memeluk Lily yang ternyata ibunya Mika.
Saat mendengar nama Mika, Lily menjadi segar, dia menatap Kamori dengan wajah berbinar seperti anak kecil yang akan diberi hadiah.
"Apa..., apa kau tadi menyebut Mika? Mika masih hidup?" tanya Lily menggoyangkan tubuh Kamori, Kamori menggangguk semangat.
"Dia masih hidup ya..., syukurlah...," ibu Mika mulai menangis sementara penduduk yang lain masih terdiam.
"SEMUANYA..., MARI KITA KELUAR DARI SINI...," teriak Kamori sambil mengusap punggung Lily.
"Apa kita bebas?"
"Kita bebas?"
"Kita bebas..."
__ADS_1
Penduduk desa mulai riuh membuat Kamori tertawa, sebelum nontifikasi dari Aka muncul.
[Kau harus segera keluar, sebentar lagi pemimpin mereka turun, CEPATLAH!!!]
Kamori membaca itu segera menyuruh warga desa keluar, "Tapi Lily tidak bisa berjalan," ucap salah satu warga desa.
Kamori melihat Lily yang dari tadi hanya duduk sambil terus menangis bahagia, "Biar kugendong," Kamori berlutut membelakangi Lily.
Lily naik ke punggung Kamori sambil melingkarkan tangannya ke leher Kamori, "AYO KITA KELUAR!!!"
"YA...," ucap seluruh penduduk desa dibarengi berlari keluar gudang.
'Aku sudah keluar!' ucap Kamori ke Aka, pada saat itu pula Aka melihat Kamori sudah berada diluar rumah sedang melambaikan tangan lalu pergi.
[KAU TIDAK MEMBANTUKU!]
'Kau kan sistem, pasti kuat lah, semangat ya...,' dalam pertarungan yang hanya ditemani dua bilah pisau Aka mengutuk Kamori.
Kamori keluar desa sesuai rencana yang dia buat dengan Mika, "MIKA...," Kamori melambaikan tangannya ke arah anak lecil yang sedang gelisah.
Segera setelah dipanggil Mika langsung melihat ke asal suara, Mika senang saat melihat orang yang sedang digendong oleh Kamori, "ibu," Mika berlari menghampiri Kamori serta penduduk desa.
Di depan gerbang desa, Kamori menurunkan Lily, dia merapalkan sebuah mantra dan mengarahkan tangannya ke kaki sang ibu itu.
"Coba ibu berdiri," Lily yang bingung akan perintah Kamori mencoba berdiri, ajaib dia bisa berdiri semula walau masih sempoyongan akibat lama tidak berdiri, semua penduduk desa terkejut.
"Woah..., dia seorang penyihir..., tapi kenapa dia juga memakai pedang?" semua warga desa terkejut akan hal itu.
Mengetahui bahwa dia bisa berdiri, Lily segera memeluk Mika, "Maaf kan ibu, maaf kan ibu," ucap Lily sambil menangis, Mika yang mendengar itu hanya bisa memeluk ibunya erat.
Kamori tersenyum ibu anak yang bertemu setelah dua tahun berpisah, "Seperti sinetron saja," ucap Kamori menghapus butiran air mata yang berhasil keluar dari matanya.
'Duarrr...'
Suara ledakan disertai asap tebal muncul dari dalam rumah kepala desa membuat semua perhatian tertuju pada rumah tersebut.
'Aka..., apa yang terjadi disana? apa kau baik-baik saja?' tanya Kamori, tidak ada jawaban dari Aka, dua menit berlalu, akhirnya Aka memberi kabar.
[To...long aku..., Kamori!]
'Deg...'
Kamori mulai khawatir melihat rumah kepala desa mulai terbakar dan Aka masih di dalam, 'Hei..., apa yang terjadi...! Aka!' tidak ada jawaban.
Kamori berlari menuju rumah yang mulai terbakar tersebut tanpa peduli teriakan dari penduduk serta Mika, sekarang yang ada dalam pikiran Kamori adalah Aka.
(Tujuan Selanjutnya, Aka Manusia???)
__ADS_1