Berpetualang Di Dunia Game

Berpetualang Di Dunia Game
Raja Langit Bergerak


__ADS_3

(Kamori Menjadi Target)


Satu Hari Sebelumnya...


"Tidak ada aura naga selama aku mengawasi Seli beserta temannya yang bernama Hilde dan Clara itu. Hanya satu orang yang baru bagiku yaitu gadis yang bersama Clara."


"Aku memiliki ide yang bagus, karena hanya satu orang yang kemungkinan besar wadah dari dewa naga, itu akan mudah aku bunuh karena dia terlihat lemah."


"Bagaimana kalau aku akan membunuh tiga buron itu sekaligus! Pasti raja langit akan bangga padaku lalu gajiku akan dinaikkan. Kalau masalah ini aku akan minta bantuan ke 'orang itu'."


Bola cahaya yang dari tadi berbicara sendiri kini berubah menjadi seorang laki - laki bertubuh kekar, mata merah menyala, warna kulitnya putih dengan rambut pirangnya.


Dia mengeluarkan batu komunikasi berwarna biru. "Halo... Steve, persiapkan anak buahmu! Kita akan melawan mantan bosmu."


...................ʕ•ﻌ•ʔ...................


"GAWAT! SELAMA INI AKU DIAWASI!"


Tidak ada orang di kamar yang Seli masuki. "Oi, kami di sini," sahut Clara dari pintu kamar sebelah.


Seli segera ke kamar sebelah, dia menarik Clara untuk masuk kamar lalu dia kunci pintunya. "Apa maksudmu kamu diawasi?" Tanya Clara.


Di kamar yang memiliki dua kasur bertingkat terdapat Kamori yang baru bangun dan Hilde yang masih nyaman dengan tidurnya.


Seli duduk di sebelah Kamori disusul oleh Clara. "Salah satu temanku mengatakan kalau selama satu tahun ini aku diikuti sama benda yang tidak diketahui!"


"Walaupun benda tersebut tidak terlihat, hawanya masih bisa dirasakan oleh temanku itu! Pantas saja akhir - akhir ini aku merasa merinding ternyata ada makhluk halus yang suka denganku...," bisik Seli seakan - akan pembicaraan mereka menyimpan rahasia dunia.


"Halu teruusss, mana mungkin ada hantu di dunia buatan ini? Beda lagi kalau di dunia nyata, mungkin aku akan percaya dengan perkataanmu itu," kata Clara sambil berangsur pergi mengambil satu set baju bersih di lemari.


"Yakan bisa saja. Apa kamu percaya dengan ceritaku Kamori?" Tanya Seli ke Kamori, sementara yang di tanyai tidur di bahu sang penanya.


"Huuhh, lebih baik kamu segera mencari obat - obatan, aku akan membutuhkannya setelah selesai latihan nanti," Clara pergi dari kamar dengan membawa pakaian tadi.


Seli kesal melihat respon yang diberikan oleh Clara, dia mendorong Kamori dari bahunya sehingga membuat kepala Kamori terbentur dinding pembatas kasur lalu pergi dari kamar.


Mendapat benturan di kepala membuat Kamori bangun, tangannya mengusap kepala yang sakit. Kedua bola mata Kamori pun menyusuri sekitar mencari Clara. Tidak mendapati keberadaan Clara, Kamori pergi keluar kamar.


"Sebelum memulai latihan hari ini, alangkah baiknya kita pemanasan lebih dulu! urutannya adalah kepala - tangan - pinggul lalu kaki. Pemanasan dilakukan 10 menit."

__ADS_1


Clara memimpin latihan, Kamori mengikuti instrumen dari Clara. Seorang wanita dengan baju lusuh serta wajah yang lesu, tiba - tiba ikut pemanasan.


Clara memasang ekspresi heran setelah itu menyeringai. "Wah.. wah.. wah.., putri tidur ternyata peduli dengan olahraga."


Hilde si wanita lusuh itu tidak mendengarkan apa yang dikatakan oleh Clara, dia melanjutkan pemanasannya bersama Kamori.


"Kamori, kau tau. Manusia di depanmu itu selalu kalah denganku dalam berlari, sebelum mencapai garis final dia selalu menyerah," bisik Hilde sambari melirik Clara, walaupun Hilde berbisik suaranya tetap keras.


"Yang benar? Tapi menurutku Clara bukan orang seperti itu," jawaban Kamori membuat Hilde tersenyum miring ke arah Clara yang dari tadi mendengarkan.


"Kau meremehkanku! Baiklah. Mari kita perlihatkan siapa yang tercepat memutari kota Charol!" Tantang Clara.


Hilde menerima tantangan yang diberikan. Setelah pemanasan selama 10 menit, mereka bertiga keluar kota.


Jalan yang berpasir menambah level tantangan dan jalan tersebut bisa juga digunakan sebagai latihan walaupun tidak dianjurkan untuk pemula seperti Kamori.


"Aturannya hanya satu, tidak boleh menggunakan senjata maupun sihir. Siapa yang lebih dulu mencapai final dia lah pemenangnya."


Aturan yang diberikan Clara disetujui. Sementara Kamori juga diwajibkan ikut berlari karena ini adalah latihannya.


"Apa tidak ada pengawasan untuk ku?"


"Kalau kamu tidak kuat berlari, di 13 km dari sini ada sebuah pintu masuk," kata Clara.


'Apa mereka sudah gila? 63 km itu jauh woy!'


Mendengarnya saja sudah membuat Kamori lelah, 63 km? berjalan 1 km saja Kamori sudah terengah - engah, bagaimana dengan mereka yang akan berlari sejauh 63 km.


Tanpa menunggu keluhan dari Kamori, mereka berdua sudah memulai lombanya, baru saja lombanya dimulai mereka sudah menghilang dari pandangan Kamori dan hanya meninggalkan debu pasir yang berterbangan.


"Apa - apaan mereka itu! Bagaimana bisa secepat itu?" Kamori pun mulai berlari kecil, dia tau kalau dia tidak secepat mereka berdua.


'mereka itu berlatih dengan keras, tidak seperti kamu yang hanya makaannn saja,' ejek Tori.


"Diam kau!"


Pada jarak 5 km, dada Kamori mulai sesak, kakinya juga berat. Baginya itu suatu prestasi karena jalan yang berpasir membuat kakinya sulit digerakkan dan belum lagi debu yang dihasilkan dari pasir membuat dia sedikit sesak nafas.


Kamori memutuskan berhenti sejenak, dia duduk dan bersandar di dinding benteng kota.

__ADS_1


Di waktu yang sama, jauh dari tempat Kamori.


"Hei, apa itu orang yang kamu maksud? Wanita bermata putih berambut coklat?" Tanya seorang laki - laki bertubuh jangkung berkulit putih sedikit kecoklatan.


"Ya, dia orang yang menampung naga. Kamu pasti bisa membunuhnya dengan mudah," ucap bola cahaya yang kini berubah menjadi manusia.


"Hm, hanya anak kecil saja kau ingin dikawal dengan anak buahku. Aku saja sudah cukup! Bahkan aku yang sekarang sudah bisa membunuh Clara wanita tidak tau diri itu."


Steve laki - laki bertubuh jangkung kini merapal sebuah mantra, dia mengangkat telunjuknya ke arah Kamori yang tengah duduk bersandar di dinding.


"BANG," Sebuah cahaya jarum keluar dari jari telunjuk Steve, cahaya tersebut melesat cepat ke arah Kamori.


Kamori menghindar tanpa dia sadari, tembakan tadi menimbulkan sebuah lubang kecil menembus dinding yang tebalnya seperti kerak bumi.


Seketika Kamori merinding melihat bekas tembakan itu. 'UNTUNG ADA AKU! KALAU TIDAK KEPALA KOSONGMU ITU SUDAH BOLONG!' Ucap Tori yang ikutan terkejut.


'Cepat lari dari sini! Aku merasakan ada hawa membunuh 120 meter dari sini!' Peringat Tori membuat Kamori panik dan segera berlari ke arah pintu gerbang.


"Cih, tidak kena," Steve yang sedikit kesal mulai menembak secara brutal ke arah Kamori.


"SIAPA YANG NEMBAK WOY!! BRUTAL KALI MANUSIA SATU INI!!!" Teriak Kamori saat tubuhnya sebagian dikendalikan oleh Tori untuk menghindari tembakan - tembakan secara beruntun tersebut.


'KAU JANGAN TERIAK BODOH! KALAU DIA KESINI, MAMPUS KITA!'


"Arrghhh, kenapa tidak kena terus...," Keluh Steve yang masih terus menembak ke arah Kamori.


Bola cahaya yang menjadi manusia tersebut merasakan hawa naga samar - samar. "Dia dibantu sama naga itu!"


Steve berhenti menembak dan tersenyum lebar. Steve menggunakan teleportasi lalu muncul tepat di hadapan Kamori.


Bola cahaya kembali ke bentuk semula lalu mengejar Steve.


Kamori terkejut dengan adanya laki - laki bertubuh tinggi muncul tepat di hadapannya, Kamori tidak bisa berhenti, dia pun menabrak tubuh pria tersebut lalu jatuh tepat di depan pria itu.


"Halo anak manis... tidurlah yang nyenyak..."


DOORRR...


(Tujuan Selanjutnya, Pertarungan!!!)

__ADS_1


__ADS_2