
(Si Kucing Pusat Perhatian)
'Aka..., apa tidak bisa dibatalkan itu misi?' Kamori mulai lelah, sudah satu hari terlewat tapi kata Mika masih jauh lagi dan ditambah itu bukanlah tempat tujuannya.
[Tidak bisa, bisanya anda mengundur waktu pengerjaan misi dengan 10 koin bertambah satu hari]
'Mahal sekali! apa kau mau ngerampok? dikurangi dikit lah...,' mau bagaimana pun 1 koin emas sama dengan 1.000 koin perak dan 1.000 koin perak sudah bisa membeli 330 daging panggang dengan harga 3 koin perak satu daging.
[Apa sih susahnya ngebayar harga segitu, lagi pula uang yang kau miliki sebagian dari uang hadiah, jangan pelit-pelit]
'Kalau begitu kamu pasti punya banyak koin emas dong, kan yang memberikan koin emas itu kamu.'
[Terserah]
Tidak berlangsung lama Kamori melihat kota, dia sangat gembira akhirnya bisa melihat yang namanya kota setalah satu hari lebih berada di gurun pasir.
Kamori secara perlahan mambangunkan Mika yang dari tadi tidur didadanya.
"Hei..., bangun, apa benar ini kotanya?" tanya Kamori sambil mengguncang tubuh kecil Mika pelan.
[Buang saja itu anak kalau nyusahin, dia juga sudah nyesatin kita ke kota lain]
"Diam, tidak usah banyak bicara, kau itu cuma sistem jadi jangan banyak komen," bentak Kamori sambil terus mengguncang tubuh si anak kecil tersebut.
[Kau ngeremehin Aka si pandai dan cerdas ini!]
Kamori tidak peduli dengan tulisan didepannya fokus pada Mika, Aka pun diam tidak ada kata-kata yang dikeluarkan lagi olehnya.
"Dek..., apa ada yang bisa saya bantu?" tidak ada angin maupun topan, tiba-tiba saja seorang laki-laki bertubuh tinggi dengan baju serba coklat sudah ada disamping kudanya, membuat Kamori terkejut.
"Ah... emm..., tidak ada tuan, saya hanya membangunkan adik saya yang tengah tertidur," remaja laki-laki tadi mengangguk serta memperhatikan anak kecil perempuan yang bersama gadis muda tersebut.
"Apa kamu mau saya bantu membuangnya?" senyum mengembang diwajah laki-laki itu, saking lebarnya senyuman yang diberikan membuat kedua matanya tertutup.
"Bo...., eh?" Kamori berhenti membangunkan Mika dan menatap tajam ke arah laki-laki misterius itu, bagaimana dia bisa mengatakan itu? padahal baru ketemuan.
Laki-laki itu berhenti tersenyum dan membuka matanya, dia berganti ke ekspresi meremehkan, "Bagaimana hah..., kau masih ingin mengolok-olokku Kamori?" kedua tangan laki-laki itu dilipat ke dada.
Kamori masih berpikir, beberapa detik kemudian dia membelalakkan matanya tidak percaya akan yang dia dengar, tidak mungkin Aka bisa berubah wujud.
"Oh," acuh Kamori menahan rasa penasarannya dan memilih untuk tidak bertanya, kalau saja dia bertanya Aka akan besar kepala.
"Apa-apaan kau ini! kalau begitu lihat," Laki-laki misterius yang rupanya Aka si sistem itu mulai mundur satu langkah, dia mulai memejamkan matanya serta menyatukan keduatangan di depan.
Hanya dalam satu menit Aka bisa berubah wujud dari perempuan, hewan, ras elf, peri, serangga dan masih banyak lagi, membuat Kamori tambah terkejut.
__ADS_1
Melihat reaksi Kamori, Aka semakin puas dan kembali ke bentuk awal yaitu laki-laki berbadan tinggi dengan baju coklat.
"Bagaimana? apa kau masih ingin mengejekku hah?" Kamori diam menatap ke depan dan perlahan menjalankan kudanya meninggalkan Aka yang masih tertawa seperti orang gila.
"OI..., MAU KEMANA KAU DASAR TANTE-TANTE TUA...!!!" teriak Aka, Kamori tidak peduli dan masih terus maju sambil memasang wajah datarnya.
"Berhenti, mau apa anda kesini dan dari mana anda? " tanya salah satu penjaga gerbang disana, Kamori turun dengan menggendong Mika di punggungnya serta memegang tali yang mengikat si kuda agar tidak kabur.
"Saya dari kota Fitto, saya kesini hanya ingin mampir," jawab Kamori tenang, melihat wajah Kamori yang begitu tenang, para penjaga gerbang tersebut percaya padanya.
"Kalau begitu anda harus membayar 100 koin perak per orang untuk pajak masuk kota ini," minta seorang penjaga paling tua mungkin dia adalah seniornya.
Kamori sedikit senang, betul yang dikatan Aka, semua pajak masuk akan tergantung dengan penjagaannya serta jumlah pendatang, setidaknya dia tidak mengeluarkan koin emas untuk hari ini.
Kamori mengeluarkan 200 koin perak yang dia miliki dan menyerahkannya ke para penjaga tersebut, diam-diam Kamori menambahkan 100 koin perak untuk para penjaga itu.
"Maaf, koin anda kelebihan 100," penjaga senior itu memberikan koin yang sengaja Kamori lebihkan.
Kamori tersenyum dan mendorong tangan penjaga pelan, "Anggap saja sebagai pajak kuda saya," ucapnya, Kamori kembali berjalan dengan menuntun kudanya.
"Terima kasih nona," penjaga tersebut membungkukkan badannya sambil tersenyum bahagia melihat masih ada orang yang sebaik Kamori.
"Dia baik, tapi kenapa memakai kostum kucing ya?" heran penjaga senior yang baru saja menyadari pakaian yang dikenakan oleh Kamori.
"hm..., apa kita sudah sampai?" Mika bangun dan melihat sekelilingnya.
"Kenapa mereka memperhatikan kita?" tanya polos Mika, dia melihat Kamori dengan pipi yang memerah membuat dia semakin kebingungan.
Mika merasakan sesuatu yang lembut di tangan dan kakinya, "Apa ini bulu?" Mika memperhatikan pakaian Kamori meski tidak bisa melihat keseluruhannya.
"Kakak masih belum juga melepas kostum ini?" bisik Mika yang dibalas dengan gelengan kepala dari Kamori.
"Hei lihat..., ada kucing!"
"Kucing dengan kuda?"
"Kucing..."
Mika terus mendengar kata-kata yang keluar dari mulut warga disana, "Mika..., pegangan yang erat," perintah Kamori, Mika hanya menurut dan mulai memeluk punggung penuh bulu itu dengan erat.
'Aka, hilangkan kudanya.'
[Apa kau sudah tidak waras? ditengah keramaian seperti ini?]
'Sudah turutin saja,' terpaksa Aka mengambil kuda tersebut setelah menghilangnya kuda yang bersama Kamori, para warga heran kemana kudanya pergi? semua membicarakan itu.
__ADS_1
Kesempatan ini digunakan Kamori untuk kabur, dia berlari bagaikan kilat menyambar, Mika semakin mempererat pegangannya yang hampir membuat Kamori tercekik.
'Yang terpenting sekarang adalah mencari tempat tertutup.'
Setelah berlarian kesana kemari akhirnya mereka menemukan sebuah gang kecil di pasar, Kamori menurunkan Mika yang mabuk karena dirinya.
"Maaf," ucap Kamori, Mika hanya melambaikan tangannya sambil terus memuntahkan isi dalam perutnya, Kamori merasa bersalah atas kejadian tersebut.
Setengah jam sudah berlalu kini matahari sudah diatas kepala Kamori dan Mika masih bersembunyi di gang tersebut.
"Apa benar ini tempatnya?" tanya Kamori ke Mika yang tidur dipangkuannya.
"Bukan, disebelah kota ini ada sebuah desa kecil, kita masih harus melewati hutan untuk menuju desa tersebut," jawab Mika bangun dari tidurnya dan mengubah ke posisi duduk.
"Desa? bukannya kota tujuan kita?" Kamori mengangkat sebelah alisnya berpura-pura curiga pada Mika.
"Eh... itu..., ohya... mungkin orang disana tau apa yang terjadi dengan desa kakak itu," Kamori menyipitkan matanya dan menatap Mika cerugi membuat Mika salah tingkah.
'Ya, dari kemarin aku sudah putuskan mengikuti ini anak, meski dia penjahat aku tidak peduli, mottoku adalah percaya pada orang yang menarik,' ucap Kamori dalam hati, di dunia nyata dia juga begitu, percaya pada orang yang menarik baginya tidak peduli itu siapa.
"baiklah," Mika bernafas lega mendengar itu.
"Kalau begitu mari kita mencari penginapan dulu buat mandi sama beristirahat," ucap Kamori dijawab anggukan oleh Mika, mereka berdua berdiri.
Saat akan keluar dari gang, Kamori berhenti dan diikuti oleh Mika, "Ada apa kak?" tanya Mika mendekati Kamori yang memegang perutnya sambil menunduk.
Kamori mengangkat kepalanya dan ditunjukkan juga mata putih yang bersinar, "Yosh..., sebelum beristirahat mari kita, mencari makan dulu," semangatnya sambil mengepalkan tangan kanannya ke udara.
"Kukira ada apa," Mika menggeleng pelan dan melihat Kamori dengan mata berkaca-kaca persis seperti kucing yang ingin diajak majikannya untuk jalan-jalan.
Mika mengangguk, "Oke, lagi pula aku juga lapar, tapi yang bayarin Kak Kamori, aku tidak punya uang," Kamori langsung menjawab "oke" ke Mika, mereka pun keluar dari gang sempit tersebut.
Kamori tidak peduli lagi dengan dirinya yang menjadi pusat perhatian orang-orang disekitarnya yang sekarang dipikiran Kamori adalah sup di dunia ini sangat enak dari pada buatannya.
[Huh..., ini bocah makanan... terus, awas saja sampai kau membuat repot para pelayan disana, akan ku kurangi poin baikmu dan kau akan jadi penjahat di dunia ini.]
'Memang apa nama penjahatku? kalau saja aku dapat poin jahat banyak?'
[Kau akan dipanggil sebagai penjahat makanan dan tidak akan diperbolehkan masuk ke restoran atau warung makan...]
'Kalau aku jadi penjahat makanan kerana kau, aku akan membuangmu dikutub utara bersama beruang!'
[Kalau kau bisa]
(Tujuan Selanjutnya, Menjual Item Langka!!!)
__ADS_1