
(Menjual item langka)
"Bosannya..., dan juga lapar...," keluh Kamori sambil tiduran di kasur penginapan.
"Baru saja kita makan, kenapa kau lapar lagi?" tanya Mika yang sedang membaca buku entah apa itu, tapi saat akan menyewa penginapan, Mika meminta Kamori untuk mendatangi sebuah toko buku.
Pada akhirnya Kamori mengeluarkan 850 koin perak hanya untuk membeli 50 buku yang diinginkan Mika, mau bagaimana lagi, Kamori tidak tegaan kalau masalah anak kecil, jadi dia belikan saja apa yang dia mau.
"Kan itu tadi, aku laparnya sekarang," Kamori melemas menatap atap kayu yang tampak awet meski sudah bertahun-tahun tidak direnovasi.
Mika hanya menghela nafas pelan sambil mengingat kejadian tadi, disaat makan di restoran dekat pasar.
Karena Kamori, semua pelanggan terpaksa putar balik karena bahan makanan di restoran tersebut habis, hanya satu orang pelaku penghabisan bahan makanan.
Tumpukkan piring yang mulai meninggi terjadi di meja yang Kamori tempati, semua makanan yang ada di restoran tersebut hanya Kamori lah yang bisa menghabiskan semua makanan.
Pada akhirnya restoran dekat pasar tutup lebih awal, total tagihan yang diberikan ke Kamori adalah 1 koin emas 550 koin perak, semua itu sudah termasuk pajak.
Kamori memberikan 3 koin emas kalau tidak, Aka akan memberikan poin jahat ke padanya, 'Apa-apaan ini? cuma makan saja sudah diberikan poin jahat,' keluhnya pada saat keluar restoran.
Begitulah kisah Kamori merepotkan para pelayan direstoran, jadi jika dia datang ke warung makan, mereka harus bersiap-siap akan habisnya bahan makanan.
"Kalau begitu aku akan tidur, kau jangan lupa matikan lampu," perintah Kamori sambil membetulkan posisi tidurnya, Mika hanya mengacungkan jempolnya masih fokus membaca buku tebalnya.
Kamori menarik selimut dan menyelimuti dirinya, akhir-akhir ini Kamori bingung, kenapa dia suka makan banyak sampai membuat para pegawai warung kewalahan.
Meski dia makan sebanyak apapun tetap saja perutnya ingin lagi, tapi sebelum dia ke dunia lain, dia sangat malas makan bahkan karena jarangnya dia makan membuat badannya kurus.
'Aka, kenapa aku mudah lapar?'
[Karena kau rakus.]
'Aku serius...'
[Tenagamu terkuras setiap kau bergerak, karena ini bukan dunia aslimu maka tenaga yang dibutuhkan bagi pendatang sepertimu besar.]
[Karena sistem kasian denganmu, maka sudah disepakati bahwa yang berkurang itu bukan tenagamu namun isi perutmu, membuat kau mudah lapar.]
'Berarti aku bisa kembali ke dunia asliku?' tanya Kamori sedikit ada rasa sedih dan senang, sedih meninggalkan dunia lain dan senang bisa merasakan ketenangannya kembali.
[Bisa! namun setelah kamu menyelesaikan misi di dunia ini.]
'Misi apa itu? apa yang mencari warga desa sama ayah Kamori?' tanya Kamori sambil terus bertelepati ke Aka.
[Bukan, misi yang asli sangatlah sulit, bahkan meski kau seorang yang kuat, cerdas dan pandai pun, kau tidak akan bisa menyelesaikannya.]
'Terus bagaimana cara agar aku menyelesaikan misi utamanya?' tanya Kamori sambil menguap, ini sudah dibilang tengah malam dan dia masih belum tidur, yang paling parah Mika masih membaca buku di tengah malam begini.
[Kau akan tau nanti saat waktunya tiba.]
Tepat pada saat Aka menunjukkan kata-kata tersebut, Kamori sudah tidur terlelap dengan mulut sedikit terbuka.
__ADS_1
[Kenapa "dia" memilih ini anak?]
ʕ•ﻌ•ʔ
Matahari mulai terbit dari timur, Kamori masih bertahan dengan mimpinya sementara Mika menghilang tanpa jejak, apa dia merencanakan sesuatu yang jahat? ya itu tidak akan di pedulikan oleh Kamori sih.
Matahari mulai naik, Kamori baru bangun dari tidurnya dan mulai merenggangkan otot-ototnya, saat membuka mata, Kamori melihat makanan porsi besar sekitar untuk lima orang.
"Kakak sudah bangun? aku sudah memasakkan makanan untukmu," Mika menyambut Kamori dengan senyumnya sambil memegang buku tebal, ternyata Mika pergi hanya untuk memasak buat Kamori sarapan.
"Wah..., kanapa kau tiba-tiba memasak buatku? apa kau bisa memasak?" Kamori menghampiri meja dan langsung melahap makanan yang sudah di sediakan.
"Tentu aku bisa masak, aku memasakkan untuk mu karena aku tidak mau melihat pekerja disini kerepotan hanya karena porsi makanmu," jawab Mika sambil terus membaca.
Perkataan tersebut tidak di dengarkan oleh Kamori, dia fokus pada makanannya saja.
Setelah selesai makan, Kamori memutuskan untuk mengelilingi kota meski harus jadi pusat perhatian sekitar karena kostumnya, sedangkan Mika memilih membaca buku, dia sempat membujuk Kamori untuk segera ke desa yang katanya ada petunjuk.
'Aka, apa aku bisa menjual barangku?' tanya Kamori sambil terus memperhatikan toko-toko yang dia lewati.
[Bisa.]
Kamori tersenyum lebar dan dia langsung berlari mencari tempat jual beli armor dan senjata disekitar.
Cukup lama Kamori berlari mencari toko jual beli armor dan senjata akhirnya dia menemukan sebuah toko yang berada di tengah kota.
Kamori masuk ke toko tersebut, disana dia disambut berbagai senjata serta armor yang dipajang, bisa dibilang berbagai jenis senjata serta armor ada disini.
"Kalau ada yang menjual senjata, terus dimana para petualang ya?" tanya Kamori sambil terus melihat lihat isi toko.
"Huh..., buat kaget saja," Kamori mengusap dadanya sambil menggeleng.
"Maaf..., tapi semua para petualang akan pergi ke ibu kota untuk menjalani suatu ujian untuk pemilihan gelar," ucap wanita tersebut dengan senyum ramahnya, wajah Kamori mulai bersinar, dia sangat ingin wanita itu bercerita tentang petualang.
Wanita penjaga toko yang bernama Seli tersebut tersenyum canggung, dia tau kalau Kamori ingin mendengar lebih banyak.
"Ada beberapa gelar yang terkenal yaitu petualang, ksatria, penyihir, pelindung, penembak jarak jauh dan support, kita bisa mendapatkan salah satu gelar dengan cara mengikuti ujian di ibu kota."
"Petualang biasanya mereka hanya pergi ke kota-kota besar, makannya jarang sekali kita melihat petualang di kota kecil seperti ini, apa nona kucing ini juga petualang?" tanya Seli sambil memperhatikan penampilan Kamori yang tampak imut.
'Nona kucing?'
"Ah bukan, saya hanya penduduk biasa, saya kesini untuk menjual armor, apa bisa?" tanya Kamori.
"Bisa, nona mau menjual armor apa?" Seli mulai meremehkan Kamori karena pakaian yang dikenakan, dia berpikir kalau apa yang akan dijual olehnya hanya armor level bawah.
"Kalau ini boleh?" Kamori mengeluarkan armor, sarung tangan dan sepatu naga yang dia miliki, pikir Kamori, benda yang dia pegang sekarang sudah tidak berguna lagi.
Semuanya karena kostum yang dia pakai, percuma kalau dia ingin menggantinya pasti secara otomatis akan berganti.
"Ini...," Kamori menaruh tiga benda tersebut diatas meja kasir dan menatanya, 'Dari pada tidak berguna, mending dijual saja.'
__ADS_1
Seli si penjaga toko mebelalak melihat barang yang akan dijual oleh Kamori, 'Siapa dia? bagaimana bisa dia mempunyai armor lengkap dengan sarung tangan langka, asli lagi, ini bahkan hanya ada dua di benua ini.'
Seli tidak berhenti melihat ketiga benda tersebut, "Jadi, berapa harganya?" tanya Kamori menopang dagunya di atas meja kasir.
"Eh... itu..., bagaimana ya, armor dan sarung tangan ini sangat lah langka, bahkan meski saya bayar dengan semua kekayaan saya pun belum cukup."
"Terus..."
"Jadi saya tidak bisa membelinya, kalau yang sepatu juga termasuk barang langka, namun harga sapatu ini adalah 5.000.000.000.000 koin emas, saya juga tidak bisa membelinya."
'Apa selangka itu?'
"Berapa jumlah semua uang yang kau miliki?" tanya Kamori, sebelumnya dia sudah diberitahu oleh Aka kalau mau menjual benda langka seperti ini harus dijual ke istana, tapi Kamori malas sebab untuk ke istana butuh waktu tiga minggu.
"Sekitar 1 triliun koin emas," jawab Seli, dia sangat ingin memiliki tiga benda yang ada diatas mejanya sekarang, Seli adalah maniak armor.
"Kalau begitu, aku akan mengambil semua uangmu dan kau akan mendapatkan tiga benda itu, tapi sisakan satu juta untukmu," mata Seli berbinar cerah dengan senyum lebar, dia tidak menyangka akan mendapatkan armor super langka hanya dengan memberikan semua uangnya.
Bahkan kalau dihitung harga tiga benda tersebut bisa menjual sebuah pulau kecil, armor dan sarung tangan naga biru level SSS+ dan sepatu naga level SSS+, dia dapatkan dengan mudah.
Bagi Kamori itu hanyalah benda tidak berguna karena dia terjebak oleh kostum menyebalkan ini, kalau saja tidak, dia akan mengenakannya dan tidak menjualnya.
"Baiklah, saya setuju, kalau begitu saya akan menyiapkan uangnya," Seli mengambil tiga benda itu dengan gembira dan mengajak Kamori menuju ruang bawah tanah yang dimana semua uangnya tersimpan disana.
"Bagaimana caranya kau membawa semua uang ini?" tanya Seli membuat wajah kebingungan dibalik wajah gembiranya itu.
"Mudah," Kamori mendekat ke tumpukkan koin emas dan menyentuhnya, seketika semua koin tersebut menghilang, Seli sangat terkejut melihat Kamori yang dapat menghilangkan koin emas yang begitu banyak.
[Anda mendapatkan koin emas sejumlah 1.568.000.000.000 koin emas]
'Apa ini tabungannya?'
"Apa anda yakin akan menjual tiga benda langka ini dengan harga murah?" Seli merasa tidak enak kalau saja koin yang dia berikan tidak sesuai dengan harganya.
"Iya, ini," Kamori memberikan 1juta koin emas ke Seli.
"Kenapa? tidak perlu, bahkan koin saya belum cukup untuk membayarnya, ambil saja," Seli menolak uang yang diberikan Kamori, namun Kamori masih keras kepala, pada akhirnya Seli terima.
"Karena anda sangat baik, saya pasti akan membalas anda, kalau saja anda butuh sesuatu atau yang lainnya, hubungi saya," Seli memberikan sebuah batu berwarna biru terang ke Kamori.
"Batu ini bisa membuat seseorang melakukan telepati kepada orang yang dia inginkan, jadi anda bisa menghubungi saya lewat batu itu.
Kamori mengangguk paham, karena tidak ada hal lain lagi yang dia lakukan, Kamori memutuskan pergi dan kembali ke penginapan.
"Terima kasih, silahkan datang kembali kesini," teriak Seli yang dijawab lambaian tangan oleh Kamori.
"Lumayan dapat receh," ucap Kamori sambil tersenyum gembira.
[Apa kau serius? bagaimana bisa barang langka seperti itu kau jual murah!]
'Biarin, dari pada jadi beban, mending dijual meski itu murah, aku tidak mau ke istana, pasti mereka akan bertanya panjang lebar tentang bagaimana aku mendapatkannya.'
__ADS_1
[Bagaimana bisa ini cerita dapat tokoh utama yang polosnya minta ampun]
(Tujuan Selanjutnya, Pergi ke Desa!!!)