
(Naga Pemangsa)
"Terdapat sedikit keretakan pada segel karena pemberontakan oleh naga, kita harus segera menutupnya sebelum terlambat!" kata kakek Riga sambil terus memperhatikan naga tidur tersebut, sebelum Kamori menjawab, kakek Riga melanjutkan perkataannya.
"Untuk membetulkan segel hewan kuno, kita membutuhkan tubuh yang bisa menampung sang naga, kalau tubuhmu tidak bisa menampung kekuatannya, tubuhmu akan hancur berkeping keping dan naga akan bangkit kembali."
"Kenapa kita perlu menyegelnya kek? bukannya dulu hewan kuno membantu para ksatria?" tanya Kamori yang bingung akan sejarah dunia game ini, seharusnya hewan-hewan kuno itu bersahabat dengan manusia.
"Itu dulu, semenjak naga pemengsa bangkit, semua hewan kuno dibuat tidak berdaya oleh-nya," tubuh kakek Riga tiba-tiba lemas membuatnya terduduk tak berdaya.
"Kek...,apa kamu baik-baik saja...? apa yang terjadi?" tanya Kamori panik,dia bingung harus melakukan apa,tidak ada seorang pun disana percuma saja kalau dia berteriak.
"ma...maafkan aku, Kamori..., aku tidak kuat lagi... semua energiku telah diserap oleh naga itu, sa...satu pesan buatmu, tolong... kum...pulkan inti dari monster lantai 7,hanya itu harapan kita agar dapat menutup kembali segel."
kakek Riga tidak sadarkan diri setelah mengatankan hal tersebut, "KAKEEKKK...," Kamori berusaha membangunkannya meski begitu tetap tidak ada respon dari kakek Riga.
"Mengumpulkan inti monster lantai 7? itu sangat mustahil bagiku, kalau saja levelku tidak turun mungkin masih ada harapan untuk mengumpulkannya...," Kamori mondar-mandir dengan pikiran kosong, untuk sekarang dia sama sekali tidak memiliki ide apapun.
"Aarrrggg..., aku ingin kembali ke duniaku..."
'Hm! hanya begitu saja kamu menyerah? aku tidak menyangka bahwa manusia sekarang lemah-lemah!' sebuah suara muncul di ruangan luas tersebut, Kamori terkejut, sekelilingnya menjadi hitam setelah mendengar suara tersebut.
"SIAPA...?" suara Kamori meluas diruangan hampa tersebut.
'Aku? aku adalah dewa para naga..., naga yang ada dihadapanmu itu adalah aku,' ucap suara misterius, tak lama suara itu muncul, seekor naga berwarna hijau bercampur orange muncul, sama persis dengan yang Kamori temui bersama kakek Riga.
"TIDAK MUNGKIN! kalau begitu, kenapa kamu menghisap energi orang yang ada di dekatmu?" tanya Kamori sambil sedikit mundur menjauh dari sang naga.
Naga yang mengaku bahwa dirinya dewa itu, berubah bentuk menjadi anak laki-laki berwajah imut, seringai terukir diwajah anak laki-laki tersebut. "Aku akan menjawab semua pertanyaanmu, tapi ada syarat yang harus kau terima!"
__ADS_1
Naga yang menjelma menjadi anak laki-laki tersebut mulai mendekati Kamori masih dengan senyuman. "Sebutkan dulu! apa syaratnya?" tegas Kamori yang merasa dipermainkan oleh anak laki-laki itu.
"Santai..., syaratku hanya satu, kamu harus mengikuti apa yang aku perintah!" ucap dewa para naga sambil menatap Kamori.
"Lalu, apa keuntunganku? ingat! aku bukan orang bodoh yang akan menyutujuinya hanya karena rasa penasaranku!" tolak Kamori yang mulai marah dengan anak laki-laki dihadapannya.
"HAHAHAHA..., aku kira, kamu akan seperti di cerita-cerita yang akan langsung menyutujui syarat tanpa berpikir panjang..." Kamori hanya memperhatikan tingkah anak itu tanpa ekspresi.
"Huh...," anak itu berhenti tertawa lalu menatap Kamori tajam serta aura yang di keluarkannya mulai menekan Kamori. 'Aura ini sama persis dengan aura naga pemangsa'
"Kamori Lin, aku Tori, dewa para naga, akan memberikan sebagian kekuatanku kepadamu dengan imbalan, kamu akan menuruti semua apa yang aku perintahkan! tidak ada penolakan dalam sumpah yang berlangsung ini!"
"Dengan begini aku akan memberikan sebagian kekuatanku dan imbalannya adalah kau harus menuruti semua perintahku, jika Kamori Lin melanggar janjinya, dia akan menerima hukuman berat!"
Cahaya terang berwarna emas mengelilingi mereka, ruang yang semula hitan kini menjadi putih bersih dihiasi warna keemasan.
"Aaarrrggghhhh...," Kamori berteriak saat warna emas itu mulai mamasukinya, Tori si dewa naga mulai terurai menjadi butiran-butiran emas yang menyatu dengan tubuh Kamori.
ʕ•ﻌ•ʔ
'Apa ini dunia game?' seorang anak laki-laki memperhatiakan sekelilingnya, sebuah istana megah yang indah menjadi tempat berdirinya.
"Selamat datang di duniaku..., mulai hari ini kamu akan bekerja untuk ku," kata seorang gadis remaja berparas cantik dengan dua hewan kuno disamping kanan kirinya.
"Apa yang kamu maksud? dimana teman-teman serta keluargaku? dan siapa kamu?" pertanyaan beruntun diberikan kepada gadis cantik tersebut, anak itu menatap matanya tanpa ada rasa takut sedikit pun.
"Hahaha..., dengar ini baik-baik. Kamu tidak akan bertemu lagi dengan keluarga atau temanmu, bukannya kamu tidak butuh mereka? kini permintaanmu sudah terkabul!" gadis itu tertawa sangat kencang.
Anak laki-laki yang dia ajak bicara mulai marah, dia mengambil sebuah vas didekatnya dan menyerang gadis tadi, seketika tertawanya berhenti dan menatap anak tersebut murka.
__ADS_1
"Beraninya kamu menyentuhku!" gertak gadis berparas cantik, jari telunjuknya menunjuk ke arah anak laki-laki, tak lama kemudian lantai yang menjadi pijakan sang anak terbuka, menjatuhkan tubuh mungil itu di sebuah tempat hampa.
Deg...
'Ibu..., kak Aka sudah sadar!' teriak Barel yang terdengar samar-samar oleh Aka.
Perlahan Aka menggerakkan tubuhnya agar dapat duduk, tubuhnya terasa sangat berat saat digerakkan, inilah efek dari menggunakan energi secara berlebihan.
'Kenapa mimpi itu lagi? aku sangat ingin melupakannya,' batin Aka sambil memegang keningnya, tidak ada yang bisa Aka lakukan saat ini.
'Aku sudah putuskan, setelah aku sembuh, aku ingin pergi menuju kerajaan langit!' saat Aka sedang berpikir, seorang wanita paruh baya serta Barel masuk ke kamar yang dia tempati.
"Syukurlah..., nak Aka kamu baik-baik sajakan?" tanya Ana ibu dari Barel, khawatir melihat Aka yang masih pucat.
"Iya bu, maaf merepotkan anda," ibu Ana menggeleng pelan sambil duduk disisi kasur. "Ibu sudah menganggap kamu seperti anak sendiri."
"Bu..., rencana saya setelah sembuh..., saya ingin kem-," seketika ucapan Aka terhenti, saat dia samar-samar melihat bayangan seorang gadis berambut coklat di ingatannya.
"Nak Aka?"
'Siapa? siapa gadis tadi?' kepala Aka mulai sakit seperti ada yang menghilang dari ingatannya, sesuatu yang sangat penting.
"Ah..., ma... maaf bu, kepala saya sedikit pusing," ucap Aka masih berusaha mengingat.
"Kalau begitu kamu tidur lagi..., ibu akan buat makanan dulu buat kamu," ibu Ana dan Barel meninggalkan Aka sendirian.
"Kenapa..., siapa dia? tidak tau kenapa, gadis itu... seperti sangat berarti bagiku," ingatan Aka terus memunculkan seorang gadis dengan wajah buram.
"Apa semua ini karena monster yang aku kalahkan?"
__ADS_1
(Tujuan Selanjutnya, Meninggalkan Desa!!!)