
(Kota Charol)
Hanya dalam dua minggu, Kamori sudah mendapatkan fisik yang dapat menampung kekuatan Tori, itu semua berkat Clara guru pembimbing latihan Kamori.
Setelah melatih Kamori fisik, Clara merencanakan pelatihan pedang untuk Kamori. Hasil yang Clara dapatkan dari latihan Kamori selama dua minggu adalah bahwa Kamori lebih cocok dengan aliran dua pedang.
"Aku akan melatihmu ilmu aliran dua pedang, kalau masalah senjata yang akan kamu gunakan itu akan dipikir terakhir. Mungkin akan membutuhkan waktu satu bulan," Ucap Clara kepada Kamori yang tengah melakukan latihan rutinnya.
"Itu terlalu lama, kita harus segera menemukan temanmu yang bernama Seli. Aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk mempercepat latihannya!" Kata Kamori dengan penuh semangat yang membara.
Clara tersenyum kecil dan berkata. "Kalau kamu sangat ingin memperpendek jadwal Latihan, aku akan mengaturnya. Namun! Kamu harus bersiap dengan latihan malam dan waktu istirahat yang sebentar!"
Kamori merasa tertantang dengan apa yang dikatakan Clara. "Baiklah! Aku akan menerimanya," senyum lebar ditunjukkan oleh Kamori.
Pada hari itu-pun Clara menambahkan porsi latihan Kamori. Latihan malam Kamori terima demi segera mencari Aka dan Seli.
Sementara Tori juga berlatih, Tori sudah tidak perlu mengkhawatirkan tentang wadah yang lemah karena Kamori telah berlatih memperkuat fisik.
Karena dulu Tori disegel membuat kekuatannya menurun. Saat pertama kali melihat Kamori, Tori merasakan sebuah aura khusus yang memancar dari tubuh Kamori.
Itu sebabnya Tori memilih Kamori sebagai wadah sementara. Setelah kekuatanya pulih sepenuhnya, dia akan kembali ke wujud aslinya yaitu naga.
'Ketahanan fisik Kamori sudah cukup bagiku untuk memulihkan kekuatan,' Ucap Tori yang tidak bisa didengar oleh Kamori
...ʕ•ﻌ•ʔ...
Aka dan Arlo sudah sampai di kota Charol setelah menempuh perjalanan selama delapan hari.
"Jadi..., di mana Kamori?" Tanya Arlo
Pertanyaan itu sudah dilontarkan sepuluh kali oleh Arlo semenjak datang di kota Charol. 'Aku tidak menyangka kalau ayah Kamori begitu cerewet, sama persis dengan Kamori.'
__ADS_1
"Kamori tidak ada di sini tuan, kita mampir sebentar di sini untuk istirahat, dua hari setelah itu kita akan berangkat lagi menuju desa Yasai," Kata Aka penuh dengan kesabaran.
"Baiklah."
Malam hari yang sunyi, di mana tuan Arlo sudah tidur di suatu penginapan. Aka yang masih terjaga diam - diam meninggalkan penginapan.
Suasa malam di kota Charol sangat tenang, hanya segelintir orang yang masih beraktifitas. Aka memasuki toko senjata yang sebentar lagi tutup.
"Maaf tuan..., ka...," Perkataan penjaga toko itu terhenti saat mengetahui siapa yang memasuki tokonya.
"Aka? Kenapa kamu di sini? Kamu membuat masalah lagi ya!" Ucap Seli si penjaga toko senjata.
"Aku hanya ingin bercerita sama mencari informasi saja," Ucap Aka sambil duduk di tempat yang sudah di sediakan.
Seli ikut duduk di sebelah Aka, di tatapnya Aka yang sedang banyak pikiran. Seli merangkul Aka lalu bertanya. "Apa yang ingin kamu ceritakan?"
Helaan nafas Aka terasa berat. "Ingatanku sebagian hilang dan itu tentang majikanku yang baru, kemungkinan besar majikanku itu juga memiliki masalah dengan 'dia' atau bisa jadi memusuhinya."
"Aku ingin mengingat tentang dia dan mencarinya untuk dijadikan rekan. Bagaimana menurutmu?" Tanya Aka.
"Jadi gini, tuannya itu tanpa di sengaja mengetahui tentang dunia ini yang dikendalikan oleh raja kerajaan langit, namun sistem yang diterapkan dalam dunia ini sangat mengerikan sehingga membuat tuannya membenci sang raja."
"Karena tuannya yang dianggap berbahaya bagi raja pada akhirnya di bunuh secara diam - diam dan sang sistem yang sudah nyaman dengan tuan barunya itu tiba - tiba melupakan semua tentang tuannya."
Setelah mendengar cerita tersebut raut muka Aka menjadi muram. Seli wanita cantik itu hanya bisa menceritakan apa yang dia ketahui.
"Siapa tuan barumu yang kau lupakan itu?" Tanya Seli.
"Kamori Lin, aku mengingat samar - samar kalau kamu dan dia pernah bertemu untuk sebuah transaksi," Ucap Aka sambil memegang kepalanya yang mulai pusing.
"Transaksi? Kalau itu hampir setiap hari aku bertransaksi dengan orang lain! Apa kamu tidak memiliki petunjuk yang lain?"
__ADS_1
Aka terdiam, sekilas dia melihat sebuah batu biru yang berfungsi sebagai alat komunikasi jarak jauh, Seli memberikan ke Kamori.
"Ah..., apa kamu pernah memberi batu komunikasi ke seorang pelanggan?" Tanya Aka sedikit bersemangat.
"Hmm..., kalau tidak salah aku pernah memberikannya ke seorang kucing yang menjual armor langka dan itu lengkap."
"Pada saat itu aku tidak memiliki uang yang cukup untuk membeli armor itu, namun kucing itu sangat baik dan menjualnya dengan harga yang murah, karena aku berpikir dia adalah anak orang kaya yang suka membuang - buang armor langka, jadi aku memberinya sebuah batu komunikasi untuk menghubungiku sewaktu - waktu butuh menjual armor lagi."
Jelas Seli apa adanya. Aka terlihat berpikir, dia memiliki ingatan itu namun tidak jelas apa yang digambarkan oleh ingatannya.
"Apa kamu tidak punya saran untuk aku mengingat Kamori?" Tanya Aka yang sudah pasrah mengingat apa yang hilang.
"Cari yang baru," Canda Seli sambil tersenyum jahil.
"Aku serius! Bagaimana caranya?" bentak Aka masih berusaha menahan rasa sakit di kepalanya.
Seli berdiri dan memasuki sebuah ruangan. Beberapa menit Seli kembali lagi dengan membawa sebuah botol kecil berisi pil obat bewarna hitam pekat.
"Minumlah ini, salah satu anak buahku telah membuat obat pengembali ingatan. 'Meski harus mengorbankan nyawa dari bangsawan'," Kata Seli yang mengecilkan suaranya saat kalimat terakhir dikatakan.
Aka terlihat ragu untuk meminum obat itu, perlahan Aka mengambil obatnya dari tangan Seli. "Minumlah dua pil!" Seli mengambil air putih untuk membantu Aka minum.
"Apa ini aman?" Seli mengangguk tanpa beban.
Dua pil mulai dimasukkan ke mulut Aka, perlahan pil itu ditelannya. "Ohya..., aku hampir lupa..., pil itu masih belum sempurna jadi kalau ada efek sampingnya jangan salahkan aku," Peringat Seli sambil tersenyum lebar.
Aka terkejut, tetapi itu percuma saja, pilnya sudah dia telan bulat - bulat. "Awas saja kalau aku ma...ti...," Belum juga menutup mulut, Aka sudah tidak sadarkan diri.
Seli yang melihat itu panik. "Hey..., kenapa bisa begini? Bukannya kata Yuri, obat itu sudah bisa digunakan? Kenapa setelah Aka meminumnya malah pingsan begini!"
Seli panik sendiri, dia segera menghubungi sang pembuat obat. Saat tubuh Aka di periksa oleh Seli untuk pertolongan pertama sambil menunggu sang pembuat obat datang. Detak jantung Aka tidak terdengar dan tubuhnya juga mulai mendingin.
__ADS_1
"DIA MATI!"
(Tujuan selanjutnya, Aka Meninggal?!!!)