
(Meninggalkan Desa)
Dua minggu telah berlalu semenjak Aka melawan monster. "Nak..., apa kamu beneran mau meninggalkan desa?" tanya ibu Ana.
Para penduduk berkumpul di depan gerbang saat mendengar Aka akan meninggalkan desa, Aka sudah memutuskan, setelah pembangunan desa selesai dia akan pergi ke kerajaan langit dimana semuanya dimulai, Aka sudah muak dengan kehidupan ini.
"Iya bu..., terima kasih semua..., aku sangat bersyukur bisa bertemu dengan kalian, kalian sudah aku anggap seperti keluarga. Tapi sayangnya aku tidak bisa tinggal di sini lagi."
Para penduduk merasa bersalah karena mereka tidak bisa membalas budi kepada Aka terlebih lagi Kamori yang meninggal karena menyelamatkan desa. Mendengar kata-kata Aka, para penduduk jadi lebih bersalah.
"Justru kami yang harus berterima kasih, sudah banyak yang kamu lakukan untuk desa ini, maaf kami belum bisa membalas semua yang kamu lakukan," ucap Nato sambil menghampiri dan memberikan kantong berisi emas.
"Ini dari kami, walaupun sedikit semoga bisa membantu," Aka tersenyum berterima kasih ke para penduduk. Mika berlari menerobos keruman dan berhenti tepat di depan Aka.
"Kak..., ini untuk kakak," Mika memberikan sebuah buku dan satu set baju, Aka mengangkat sebelah alisnya, dia menggambil buku serta baju yang diberikan.
"Buku itu sering dibaca sama kak Kamori dan baju yang kakak pegang itu dari kak Kamori, dia bilang ingin memberikannya ke kak Aka," Aka menatap dua benda itu. "Dia suka membaca?" tanya Aka lirih namun masih bisa di dengar oleh Mika.
"Tidak, kak Kamori tidak suka membaca. Dia hanya menyukai satu buku itu saja karena di sana menjelaskan berbagai macam makanan yang ada di setiap kerajaan," Aka tersenyum menatap Mika.
"Terima kasih Mika, kakak akan menjaga semua barang-barang ini," Aka membelai rambut Mika dan menyimpan barang tadi di penyimpanan sistem.
"Kalau begitu, aku pamit dulu semua..., terima kasih untuk semuanya," ucap Aka, para penduduk bersorak sambil menangis saat Aka mulai melangkah pergi.
"Kalau ada waktu mampir lagi kesini..."
"Hati-hati..."
"Semoga selamat sampai tujuan..."
Aka meneteskan air mata, dia tidak bisa menahannya saat akan meninggalkan desa, entah kenapa ada sesuatu yang aneh dengan nama yang diucapkan Mika. "Siapa Kamori? kakaknya Mika? apa dia punya seorang kakak?."
__ADS_1
Aka mengeluarkan kuda dari penyimpanannya dan mulai menunggangi kuda tersebut. "Sudahlah, sekarang aku harus menghadapi seseorang, tunggu saja kau, raja sialan!"
ʕ•ﻌ•ʔ
Ughhh...
'Tubuhku tidak bisa digerakkan,' ruangnya berganti, kini Kamori kembali berada di ruangan hewan kuno, namun naga itu sudah lenyap. Kamori berusaha menggerakkan kepalanya, dilihatnya terbaring kakek Riga.
'Hahaha..., betapa baiknya aku, hanya untuk satu pertanyaan tidak jelasmu aku dengan senang hati memberikan kekuatanku kepadamu,' suara dari Tori menggema di pikiran Kamori.
'Apa kamu bodoh? yang mendapat semua keuntungan ini adalah kau, dengan begini kau bisa merencanakan niat jahatmu menggunakan tubuhku. Dan yang lebih bodohnya lagi aku. Kenapa aku bisa menyetujuimu,' balas Kamori.
'Bagaimana kau bisa tau? kau dukun atau orang pintar?'
'KAU ITU MENYATU DENGANKU PINTAR!!! apapun yang kau pikirkan itu menyalur ke otak kecilku ini. Kau itu dewa naga apa dewa kebodohan sih...' Kamori kesal mendengar pertanyaan dari Tori si dewa naga.
'Kau berani mengejekku? tapi tidak kusangka tubuhmu tetap utuh sampai sekarang' Kamori tidak membalas perkataan dari Tori, dia kini fokus pada pemulihan terhadap tubuhnya.
Setelah beberapa detik berlalu Kamori dapat menggerakkan tangan beserta kakinya, dia sangat terkejut karena pemulihannya sangat singkat, sekarang Kamori dapat berdiri, tubuhnya juga lebih ringan dari sebelumnya.
'Hahaha... itu semua berkat kekuatanku, betapa kuatnya diriku ini,' kata Tori, mendengar hal itu Kamori memasang wajah datar. "Ternyata kamu lebih cerewet dari Aka."
'Siapa Aka?.'
Kamori tidak menjawab pertanyaan Tori, dia lebih memilih memulihkan kakek Riga yang terbaring. "Kakek pingsan," mengetahui kakek Riga pingsan, Kamori duduk disebelahnya menunggu kakek Riga bangun.
"Jadi..., aku akan menagih janjiku," Kamori menutup matanya dan mengalihkan fokusnya ke dalam kepala. 'Ingat kamu belum menjawabku soal kenapa kau menyerap semua energi yang ada?'
'Itu karena aku membutuhkan banyak energi untuk bisa beraktivitas,' jawaban dari Tori belum memuaskan rasa penasaran Kamori, masih banyak lagi pertanyaan yang ingin dia ketahui jawabannya.
'Aku yakin bukan hanya itu alasanmu menyerap energi para manusia, lalu apa yang terjadi dengan hewan kuno yang lainnya, kenapa hanya kamu saja yang masih hidup?' Kamori melihat sebuah cahaya emas di dalam pikirannya.
__ADS_1
'Aku membunuhnya, kalau dibiarkan mereka akan semakin menghancurkan dunia ini. Tapi saat itu aku menyesal karena tidak membunuh 'dia' sekaligus' Kamori merasakan perasaan kesal itu bukan murni perasaannya namun ini adalah perasaan Tori.
'Dia siapa? dan sebenarnya dunia apa ini?' tanya Kamori. Sebelum menjawab pertanyaan tersebut Tori memindahkan kesadaran Kamori ke dalam sebuah ruang hampa berwarna putih.
"Dengan begini kita bisa mengobrol dengan tenang," ucap Tori masih dalam wujud cahaya, Kamori yang tiba-tiba dipindahkan itu hanya diam saja sambil menunggu jawaban dari dewa naga itu.
"Dia adalah salah satu ksatria yang selamat waktu itu, kini dia menjabat jadi raja di kerajaan langit. Dia adalah orang yang memanggil kamu ke sini," Kamori bingung serta penasaran, disini dia hanya pemain pemula.
"Seorang wanita bertubuh mungil yang sudah hidup ratusan tahun karena kekuatan yang dia dapat. Kekuatannya tidak terbatas semenjak wanita mungil itu berhasil mengalahkan seorang dewa reinkarnasi."
"Setelah itu dia pun membuat dunia fantasi ini, para dewa marah, mereka menyerang wanita mungil itu, terjadilah pertempuran besar antara 12 dewa melawan satu manusia dibantu oleh hewan kuno," Kamori menyela cerita Tori, ada bagian di mana dia penasaran.
"Bukannya kamu sudah memusnahkan para hewan kuno?" tanya Kamori mendang cahaya keemasaan itu. "Dia membangkitkannya lagi." jawab Tori.
"Lalu apa yang terjadi dengan pertempuran tersebut? dan bagaimana wanita kecil itu mengalahkan dewa reinkarnasi? bukannya dewa itu kuat?" tanya Kamori.
"Pertempurannya dia kalah, kalau mengalahkan dewa aku kurang tau," pada saat itulah Kamori teringat dengan dewi yang telah membantunya hidup kembali. "Tori...., apa dewa reikarnasi yang meninggal itu digantikan oleh wanita cantik berambut perak panjang?"
"Bagaimana kamu bisa tau? apa kau pernah mati sebelumnya?" tanya Tori, meski Tori berbentuk bola emas namun Kamori tau kalau dia tengah terkejut. "Iya, aku pernah meninggal karena melawan penyihir level S. Dan dihidupkan kembali oleh dewi itu."
"Hm..., benar dia adalah pengganti dewa reinkarnasi dan juga anaknya," Kamori mengangguk paham, sekarang hanya dua pertanyaan yang sangat ingin dia tanyakan.
"Katamu wanita mungil itu kalah, lalu kenapa sampai sekarang masih hidup? dan bagaimana cara mengalahkan dia?" tanya Kamori.
"Dia hidup kembali dengan kekuatannya sendiri, saat mengetahui dia bangkit lagi, para dewa lepas tangan kecuali kalau dia mengancam keselamatan umat manusia di bumi. cara untuk mengalahkan aku belum tau, seandainya aku mengetahuinya mungkin sudah kumusnahkan dari dulu."
'Dia tidak bisa di kalah kan selama bisa hidup kembali. tapi aku yakin walaupun sekuat apapun dia pasti ada titik lemahnya,' melihat raut wajah serius Kamori, Tori terpikirkan sesuatu.
"Apa kau ingin mengalahkannya?" mendengar perkataan Tori, dia langsung menatap bola emas itu. Melihat reaksi Kamori membuat Tori senang.
"Bekerja sama lah denganku!!!"
__ADS_1
(Tujuan Selanjutnya, Keluar Desa Mea!!!)