Berpetualang Di Dunia Game

Berpetualang Di Dunia Game
Aka Meninggal?


__ADS_3

(Menuju Desa Yosan)


"Kalau ingin memberikan obat ini izin dulu ketua!!! Untung saja dia hanya terkena efek sampingnya, bagaimana kalau dia mati beneran!!!" Omel seorang wanita bernama Yuri.


"****!!! Iya, iya, aku yang salah..., yang penting dia baik - baik saja kan!" Seli menatap Aka yang terbaring di lantai.


"Iya..., aku sudah memberi obat penawarnya, mungkin besok pagi dia sudah bangun," Ucap Yuri sambil keluar dari toko senjata.


Seli bernafas lega, dia menggendong tubuh Aka dan menaruhnya di sofa. "Huh..., biar Aka di sini dulu sekalian menjaga toko," Seli mematikan lampu lalu keluar dari toko dan menguncinya.


Keesokan harinya Aka terbangun dengan suasana sepi hanya ada sinar matahari yang mulai muncul dari arah timur, cahaya tersebut memasuki kaca jendela toko.


'Arrrggghhh...'


Sakit hebat yang melanda kepala Aka membuatnya terbaring lagi. Semua ingatan tentang Kamori terlintas begitu cepat di benak Aka.


"DIA TELAH DIBUNUH!!!" Teriak Aka.


Pintu toko tiba - tiba terbuka lebar, suara pintu cukup keras menatap sofa yang ditempati Aka terdengar .


Brakkk...


"Siapa yang dibunuh!!!" Bentak Seli dengan posisi kuda - kuda siap menyerang.


Aka diam tetap menahan rasa sakit di kepalanya, air mata dari Aka mulai menetes saat mengingat bagaimana Kamori mati dibuunuh oleh wakil organisasi Hitaka.


"Ka... Kamori, dia telah dibunuh oleh Roki, wakil ketua organisasi Hitaka," Kata Aka lemas.


Seli sedikit terkejut, dia mulai duduk di samping Aka. "Roki? Anak buahnya Clara?" Satu alis Seli terangkat menampakkan raut wajah bertanya.


"Iya. Bagaimana ini! Aku sudah terlanjur bilang kalau Kamori berada di desa Yasai!" Aka mulai panik saat mengingat ayah Kamori yang tidak sabar bertemu anaknya itu.


"Bilang ke siapa?" Tanya Seli.


"Ayahnya Kamori, di perjalanan ke kota Charol aku bertemu dengan ayahnya Kamori. Karena aku pikir Kamori masih hidup dan tinggal di desa Yosan, jadi aku memberi tumpangan ke ayah Kamori," Jelas Aka.


Belum juga Seli menjawab, Aka berlari keluar sambil berteriak. "AKU AKAN PERGI KE DESA YOSAN!!"


"Dasar! Padahal aku ingin mengasih solusi. 'Bunuh saja!' eh... dia malah pergi duluan," Ucap Seli sedikit kecewa.

__ADS_1


Aka baru ingat kalau dia belum berpamitan dengan ayah Kamori, takutnya Arlo mengira kalau dia membohonginya.


Aka berlari memasuki penginapan segera menuju kamar yang dia pesan untuk mereka berdua. Di bukanya pintu coklat dan memperlihatkan sosok Arlo yang tengah kebingungan


"Aka! Aku kira kamu meninggalkanku," Ucap Arlo sambil menghampiri Aka.


"Ma... Maaf, tadi saya menemui teman lama saya. Saat mau berpamitan, saya melihat tuan Arlo masih tidur nyenyak membuat saya tidak tega membangunkan anda," Jelas Aka berusaha menutupi semuanya.


Aka masih gelisah tentang apa yang terjadi dengan Kamori, dia takut menceritakannya ke Arlo, bagaimanapun juga orang tua akan sedih kalau tau anaknya meninggal.


"Baiklah, tidak apa - apa. Jadi, kapan kita akan pergi ke desa Yasai?" Tanya Arlo dengan mata yang berbinar menambah perasaan bersalah di hati Aka.


"Anu..."


'Mungkin aku akan negosiasi dengan Mika masalah ayah Kamori ini,' Batin Aka memberi solusi sendiri.


"Itu..., kita akan berangkat nanti siang, sekarang mari kita bersiap - siap dulu," Senyum paksa Aka berikan ke Arlo.


Sedikit rasa sedih di wajah Arlo namun dia tetap menyetujui permintaan Aka. "Baiklah, aku akan jalan - jalan dulu sambil membeli beberapa oleh - oleh," Arlo mengambil mantel hitamnya lalu pergi meninggal Aka sendiri di kamar.


"****!!! Semoga saja Mika bisa diajak kerja sama. Rencanaku, aku akan menitipkan tuan Arlo di rumah Mika agar tuan Arlo menjadi nyaman dan melupakan Kamori."


Pada akhirnya Aka memilih untuk pasrah apa yang akan terjadi ke depannya, dia pun mulai pergi meninggalkan kamar penginapan dan memilih pergi mencari beberapa benda yang bermanfaat di pasar.


Siang hari di depan pintu gerbang kota Charol. Terlihat dua pria yang menunggangi kuda tengah melamun, tidak ada pergerakan sedikit pun dari mereka berdua.


'Kenapa para penjaga sangat lama, bukannya mereka hanya ingin membeli minum? Lagi pula kenapa kita juga yang menggantikan mereka menjaga gerbang!!!'


Lima menit sebelumnya...


"Apa tuan Arlo sudah siap?" tanya Aka berusaha setenang mungkin.


Ancungan jempol diberikan Arlo sambil membawa dua tas yang cukup besar di punggunya.


Aka sangat heran, Arlo sangat berbeda dengan Kamori saat bepergian. 'Kamori kalau mau perjalanan selalu membawa tas kecil itupun isinya cuma makanan, ini bapaknya malah membawa dua tas besar seperti mau mindahin pulau aja!'


"Tuan Arlo tidak keberatan dengan dua tas itu?" tanya sesopan yang Aka bisa.


"Tidak, tenang saja..., bagi para pedagang, membawa tas besar itu sudah biasa. Lagi pula tas ini berisikan semua barang - barang yang Kamori suka."

__ADS_1


Aka terdiam, dia hanya menawarkan bantuan dengan menyimpan dua tas tersebut ke tempat penyimpanan sistemnya. Arlo takjub saat melihat dua tasnya yang hilang setelah Aka sentuh.


Sementara itu yang ada di dalam pikiran Aka. 'Jujur, aku sangat terganggu dengan tas besar tuan Arlo.'


Perjalanan mereka lanjutkan. Dan kini mereka dihadang oleh para penjaga gerbang. "Maaf kalau mengganggu perjalanan tuan, tapi apa kami boleh minta bantuan ke tuan?" tanya salah satu penjaga.


Belum juga Aka membalasnya, Arlo sudah membalasnya terlebih dahulu. "Ah..., tidak mengganggu kok. Apa yang bisa saya bantu?"


"Kami mau membeli beberapa minum, namun penjaga pengganti hari ini diberi tugas oleh atasan, jadi kami membutuhkan tuan untuk menjaga sebentar gerbang ini, kalau tuan mau."


Aka ingin menolaknya karena dia berpikir kenapa tidak satu orang beli minum satunya lagi menjaga gerbang, namun perkataan tersebut terpendam lagi karena Arlo sudah menjawabnya.


"Boleh..., kami akan menjaganya untuk anda, lagi pula kami tidak terburu - buru," Ucap Arlo tanpa beban.


Dua penjaga gerbang tersebut senang dan berterima kasih, mereka pun pergi membeli minuman. 'Aku bisa saja memusnahkan kota ini kalau penjagaannya saja dengan mudah diserahkan ke orang asing.'


Kondisi mental Aka sangat tertekan, entah mengapa bagi Aka bulan ini bulan yang di penuhi berkah sampai - sampai membuatnya ingin segera menghancurkan dunia tidak jelas ini.


Aka sangat ingin marah ke Arlo tapi dia masih ingin masuk surga, Aka serba salah di dekat Arlo. "Kenapa mereka lama?" tanya Aka lirih.


Arlo yang sibuk dengan lamunannya hanya diam menatap kosong ke arah langit. 'Lebih baik anaknya dari pada bapaknya.'


Satu setengah jam telah berlalu, namun masih belum ada tanda - tanda kedatangan dari dua penjaga gerbang tersebut. Sampai pada akhirnya datang seseorang misterius dengan jubah hitam bergaris coklat di pinggirannya.


Dengan aura yang sangat menekan, dia tanpa bicara sepatah katapun memberi satu koin emas ke Aka lalu pergi masuk ke kota.


Sebelum masuk, Aka menghentikannya dan bertanya ke orang misterius. "Apa tujuanmu datang kesini!" Suara Aka sedikit membentak.


Wajah orang itu terangkat sedikit, memperlihatkan mata merah cerah yang menambah aura tekanannya semakin meningkat.


Aka tetap memberanikan diri, walaupun dia tidak setuju dengan menggantikan para penjaga tersebut, tetapi itu sudah terlanjur menjadi tanggung jawabnya selama para penjaga itu kembali.


"Bukan urusanmu!" Tatapan tajam dari orang itu.


Setelah menjawab pertanyaan Aka, orang itu berjalan memasuki kota dan menghiraukan panggilan dari Aka.


'Apa - apaan orang itu!'


(Tujuan Selanjutnya, Pergi!!!)

__ADS_1


__ADS_2