Berpetualang Di Dunia Game

Berpetualang Di Dunia Game
Aka Si Sistem


__ADS_3

(Kehidupan Aka)


Sudah satu bulan berlalu setelah Kamori minghilang atau meninggal belum diketahui. Aka kini tinggal bersama orang-orang desa Yosan serta Mika dan ibunya.


Disana Aka membantu warga membangun kembali desa mereka yang hancur oleh penyihir level S.


Pembangun cepat selesai sebab ada Aka yang memiliki kekuatan khusus, di sana Aka hidup selayaknya manusia bekerja, tidur, makan dan mandi seperti orang pada umumnya.


'Huh... aku selalu menginginkan kehidupan normal seperti manusia biasa,' batin Aka, dia beristirahat sejenak dari menebang pohon.


Aka bersandar di salah satu batang pohon, dua menebang pohon bukan untuk dirinya namun untuk warga desa membuat pagar pembatas antar desa dan hutan agar hewan buas tidak bisa masuk ke desa.


"Entah kenapa aku merasa kalau Kamori masih hidup walaupun aku tidak bisa kembali ke menjadi sistemnya," ucap Aka sambil memandang ke atas yang dimana terdapat langit tertutup oleh rindangnya daun pepohonan.


"Seandainya aku tidak menjadi manusia dan tetap berada di tubuhnya mungkin dia masih bisa diselamatkan, tapi...," Aka mengepalkan tangannya. "Sial...!"


"KAAKKK...," teriak seorang anak kecil sedang berlari menuju dirinya, Aka yang mendengar hal itu menengok ke anak kecil tersebut.


"Kak! ibu menyuruhmu untuk makan siang...," ucap anak lelaki, anak laki-laki itu adalah anak yang pernah menghadang Kamori pada saat dia ingin bertemu Lily ibu dari Mika, nama anak itu adalah Barel.


"Oke, aku akan menyusulmu nanti," ujar Aka dengan lembut, Barel mengangguk lalu berlari lagi menuju desa. Aka kembali memandang dedaunan di atas.


"Aku tau kalau Kamori bukan dari dunia ini, dia adalah manusia dunia lain, andai saja dia beneran meninggal, apa dia kembali ke dunianya?" pertanyaan Aka membuat dia mengingat kejadian yang dia alami bersama Kamori.


Aka menghembuskan nafas berat, dia berdiri dan mulai mengambil kapak serta dua ikat kayu yang sudah dia potong. Sebenarnya bukan dia saja yang menebang pohon tapi seluruh warga ikut menebang pohon, Aka saja yang ingin lebih lama berada di hutan.


Dengan membawa kapak serta dua ikat kayu, Aka pergi meninggalkan hutan dan menuju pemukiman, perutnya yang lapar membuatnya kembali.


"Aku pulang...," ucap Aka sambil meletakkan kapak dan kayu di sebelah pintu. Dia tinggal bersama Barel serta kedua orang tuanya.


Aka tinggal disana karena penduduk desa tidak mengizinkan dia tinggal bersama Mika dan Lily, alasannya karena Lily adalah seorang janda dan anaknya perempuan tidak sepantasnya ada laki-laki tinggal bersama janda anak satu kalau bukan keluarga.

__ADS_1


Pada akhirnya Aka ditawarkan tempat tinggal bersama Barel anak kecil ceria, ibunya bernama Ana dan ayahnya yang bernama Nato. Mereka adalah keluarga yang sangat ramah pada Aka.


"Selamat datang...," sambut Ana yang sedang mencuci piring sedangkan Barel dan Nato tidur di sofa.


"Tuan Nato dan Barel sudah tidur?" tanya Aka sedikit basa-basi sambil mendekat ke meja makan, disana sudah ada berbagai macam makanan.


"Iya, pasti mereka kecapean membangun pagar desa," jawab Ana. Ana adalah ibu rumah tangga, dia memiliki ciri khas yaitu selalu tersenyum, Aka tidak tau kenapa dia sangat suka tersenyum.


"Kamu makan dulu nak, maaf kami makan duluan karena Nato tidak sabaran," Aka tidak mempermasalahkan hal itu, keluarga ini sudah banyak berjasa pada Aka.


"Tidak apa-apa buk."


ʕ•ﻌ•ʔ


kesokkan harinya, Aka harus bangun pagi-pagi karena dia harus membantu warga membangun pagar, tinggal sedikit saja pagar itu akan selesai.


Gotong royong membangun pagar selesai pada siang hari, semua orang kembali ke rumah masing-masing setelah makan bersama-sama. Aka izin ke tuan Nato dia tidak akan pulang dulu, dia ingin pergi sebentar.


Aka mulai mencari hewan tanpa peduli level berapapun itu, dia hanya ingin mengasah skillnya saja. Semenjak Kamori meninggal Aka merasa dirinya tidak berguna di depan orang yang sudah dia anggap sebagai teman.


Saat dia menjadi sistem orang lain, orang itu hanya memanfaatkannya atau bisa dibilang menganggapnya hanya sebuah layar transparan yang bisa apa saja.


"Huh..., mungkin aku akan masuk dalam daftar miasi lagi," keluh Aka berhenti sejenak mengatur nafasnya, dia sudah dikelilingi oleh hewan-hewan buas dari serigala sampai beruang.


"Huu..., menurut aturan, kami bisa menaikkan level skill kami namun tidak dengan level kekuatan, dua bilah pisau bisa mematikkan jika sudah mencapai level max."


Aka dengan gesit berlari melewati para binatang dan berdiri dibelakang binatang besar yaitu beruang, dia mengayunkan kedua pisaunya ke leher sang beruang.


Kraak...


Aka berhasil memotong leher beruang meski hanya bagian tulang beruang itu tumbang, hewan lain melihat itu takut kepada kecepatan dan keahlian memegang dua bilah pisau.

__ADS_1


Pada saat mereka ingin kabur, Aka dengan gesitnya membunuh satu persatu hewan yang ingin kabur, semua hewan buas berhasil tumbang di tangannya.


Baju yang dikenakan Aka penuh dengan darah hewan yang tadi dia bunuh. "Lumayan..., buat makan satu kampung cukup ini," senyum Aka mengembang melihat hasil buruan lumayan banyak.


Siang menjelang sore, waktu Aka digunakan berburu serta meningkatkan level skillnya, dia mengumpulkan hewan yang telah dia bunuh ke sebuah gerobak dan kuda yang dia ambil dari penyimpanannya.


"Cepat atau lambat 'dia' pasti akan tau kalau aku sekarang pengangguran dan memasukkanku kedalam misi pencarian lagi," ucap Aka enteng, dia pun pergi meninggalkan hutan dengan membawa hewan hasil buruannya.


'Aku ingin bertemu dengannya lagi.'


ʕ•ﻌ•ʔ


[Level Naik!]


"Hah... hah... hah..., apa kakek itu sudah gila! ini namanya kerja paksa, bagaimana bisa dia mengurungku di tempat monster yang ngak ada habisnya," ucap Kamori sambil mengusap keringatnya.


Dia sudah mulai kelelahan namun tua bangka itu tidak datang-datang sementara ruang bawah tanah lantai 6 ternyata memiliki kunci dan si kakek menguncinya.


"Kalau begini terus aku akan dimakan monster-monster ini!" Kamori masih dalam sikap siap menyerang, ini sangat berbeda dari lantai 1 sampai 5.


Disini para monster sangat agresif, saat melihat manusia dia akan menyerang berbeda dengan lantai sebelumnya yang hanya merespons saat mereka diserang.


'Disini kau harus bisa menghemat tenaga, kalau tidak kau akan mati!'


Hanya itu pesan itu yang ditinggalkan oleh tua bangka. "Apa dia ingin membunuhku dengan cara halus!" Kamori berteriak sambil terus menghunuskan katananya ke para monster itu.


'Berkonsentrasi lah pada katanamu dan kurangi penggunaan energi dalam katana yang paling penting jangan tegang, rileks kan tubuh dan pikiranmu, kau pasti bisa!' kata-kata yang sebelumnya diucapkan kakek Riga tiba-tiba masuk ke kepala Kamori.


"Baiklah..., mari kita coba cara si tua bangka itu!!!"


(Tujuan Selanjutnya, Skill Baru!!!)

__ADS_1


__ADS_2