Berpetualang Di Dunia Game

Berpetualang Di Dunia Game
Penyerangan


__ADS_3

(Tragedi Desa Tempat Tinggal Mika)


(2 tahun yang lalu)


Seorang gadis kecil menguap, dia melihat keluar jendela yang sudah disambut oleh matahari pagi, udara segar mulai masuk dikamar gadis kecil.


Gadis kecil itu turun dari kasurnya lalu berlari keluar kamar mencari sosok yang dia sangat sayangi, ibu dari gadis kecil itu tengah memasak sesuatu.


"Ibu!!!" gadis kecil memeluk sang ibu erat-erat membuat ibunya hampir jatuh, ibunya tersenyum sambil mengusap rambut coklat keemasannya dan mengatakan, "Selamat pagi sayang."


"Selamat pagi bu, ibu masak tumis sayur ya," semangat gadis kecil, ibunya mengangguk dan terus mengaduk masakannya.


"Iya sayang, Mika suka tumis sayur kan?" tanya sang ibu sambil terus mengaduk, Mika tersenyum lebar sambil menggangguk semangat.


"Baguslah, kalau begitu Mika mandi dulu habis itu kita makan bersama-sama ya."


"Siap," Mika lari menuju kamarnya mengambil handuk serta baju yang akan dia kenakan.


"AAAA...."


Baru saja keluar kamar, Mika dan ibunya dikejutkan akan suara teriakan warga, mereka berdua segera keluar rumah, tapi ayah Mika tiba-tiba kembali dan mencegah mereka berdua keluar rumah.


"Jangan keluar, kalian harus meninggalkan desa lewat pintu belakang, jangan buat suara dan tetap bersembunyi!" tampak wajah ayah Mika panik, keringat dingin terus keluar dari ayahnya.


"Apa yang terjadi di luar sana?" tanya ibu Mika sambil Memeluk Mika dalam gendongannya.


"Entah aku juga tidak tahu, yang pasti mereka dari organisasi hitam yang terkenal itu, tujuan mereka kesini hanya ingin mencari tameng dewa emas yang ada dalam legenda."


"Kenapa mereka sampai mencari disini?" ibu Mika mulai panik, Mika tidak tau apa yang terjadi dan memilih memeluk ibunya erat.


"Aku pernah mendengar tentang legenda zirah emas yang digunakan oleh para dewa dan salah satu zirah tersebut ada disini, itu masih kata orang-orang, aku juga tidak tau yang sebenarnya."


Ayah Mika terus memaksa Mika serta ibunya segera meninggalkan kediaman mereka, ibu Mika juga menyuruh suaminya untuk ikut melarikan diri.


Ayah Mika menolak ajakannya, dia harus tetap disini untuk menjaga penduduk desa karena dirinya adalah salah satu mantan ksatria, jadi dia termasuk penjaga desa.


"Kalian berdua carilah bala bantuan di kota, kami akan mengulur waktu, walaupun hanya sebentar," pesan ayah Mika sambil terus menyuruh anak dan istrinya pergi.


"Hati-hati Carel, aku akan mencari bala bantuan, kamu harus bertahan sampai kami tiba," ayah Mika hanya tersenyum dan pergi untuk menghambat pergerakan musuh.


Ibu Mika dan Mika lari melewati hutan yang dimana adalah jalan pintas menuju kota mungkin hanya setengah kilometer.


Sementara di desa, para penduduk mulai tunduk pada pemimpin cabang organisasi hitam tersebut, kekuatan antara penduduk dan organisasi sudah sangat berbeda.


Ayah Mika mengambil senapan yang biasa dia gunakan untuk berburu di hutan, dia bersembunyi di salah satu rumah yang pas untuk membidik ke arah pemimpin mereka.


Orang bertubuh tinggi ramping, kulit kecoklatan, rambut hitam campur putih, rambut panjang diikat dan pakaian serba hitam tengah duduk di salah satu teras warga, dialah sasaran ayah Mika.


Carel mulai membidik, tepat pada kepala sang pemimpin, dia menarik pelatuknya, suara keras hasil tembakan terdengar sangat keras.

__ADS_1


Betapa terkejutnya Carel melihat peluru yang dia tembakan melayang tepat dihadapan pemimpin, 'Tidak mungkin, dia pengguna sihir!'


Carel menjatuhkan senjatanya dan perlahan mundur dari dekat cendela agar pemimpin organisasi tidak mengetahui keberadaannya.


"Akkhh..."


Terlambat, pemimpin tersebut telah mengetahui keberadaannya, Carel terangkat ke udara tanpa ada orang yang mengangkatnya.


Perlahan tubuh Carel dibawa ke hadapan pemimpin, sampai didepan pemimpin organisasi, Carel mulai kehabisan napasnya.


"Sampah," Steve nama pemimpin cabang tersebut membuat gerakan di tangannya membuat ayah Mika tercabik-cabik.


Carel tidak bisa apa-apa yang terakhir dia ingat adalah senyuman dari istri dan anaknya setelah itu Carel meninggal dengan bersimbah darah.


ʕ•ﻌ•ʔ


Mika dan ibunya sampai di kota meski ibu Mika sangat kelelahan dia menahannya hanya demi mencari bala bantuan.


Tidak ada orang, di kota yanar tidak ada orang sama sekali, ibu Mika sangat bingung sehingga dia mengingat kalau hari ini ada festival perayaan raja baru.


"Bagaimana ini? kita harus mencari dimana lagi?" ibu Mika tampak putus asa, dimana lagi ibu Mika bisa mencari bala bantuan.


"Ibu..., kita harus apa?" Mika tau kondisinya sekarang, dia mulai khawatir kepada ayahnya, perasaan tidak enak meyertai perasaan Mika.


Pikiran ibu Mika mulai tidak jernih, dia menurunkan Mika membuat Mika bingung, "Ibu?" tanya Mika melihat ibunya gelisah.


Tiba-tiba ibu Mika berlari masuk ke hutan meninggalkan Mika sendirian, Mika yang terkejut mengejar ibunya masuk ke dalam hutan dan berakhir tersesat.


Hari mulai gelap, Mika menangis dibawah pohon jati diantara semak-semak, dia bersembunyi agar tidak diketahui hewan buas.


"Apa ada orang disini?" ucap orang misterius yang sepertinya mendengar tangisan Mika, dia pun segera menghentikan tangisnya meskipun masih terdengar.


Langkah kaki mulai mendekat, Mika semakin memeluk lututnya sambil berharap tidak ditemukan oleh orang misterius itu.


"Kenapa kamu disini?" Seorang pria paruh baya dengan tas besarnya berlutut mengusap kepala Mika lembut.


Mika meresa pria paruh baya itu tidak berbahaya dan diapun langsung memeluknya sambil melanjutkan tangisan.


"Sudah-sudah, kalau gitu kita keluar dari hutan dulu ya, sebentar lagi gelap," Mika mengangguk dalam pelukan pria paruh baya yang terus mengusap lembut rambutnya.


Depan ruko kosong, Mika dan pria paruh baya itu duduk, pria itu memberikan sebuah air ke Mika dengan sebuah roti tawar, "Terima kasih," pria tersebut tersenyum.


"Kamu tau nak, saat melihatmu, aku teringat putriku, dia sudah ditinggal ibunya sejak lahir," Mika memakan roti tawar yang diberikan sambil mendengarkan pria paruh baya.


"Dia sangat cantik bagaikan malaikat, tingkahnya sedikit nakal sering mengganggu tetangga sama anak laki-laki, suka membuat onar sampai-sampai penduduk dikota kenal dengannya, saat aku melihat dia, di saat itu pula aku melihat istriku..."


"Siapa nama putrimu?" tanya Mika, dia sudah selesai memakan roti tawar dan mendengar cerita pria paruh baya baik hati itu, pria itu tersenyum.


"Namanya Kamori Lin panggil saja Kamori, dia adalah anak yang tegar meski aku tinggal berdagang ke kota selama seminggu atau bahkan berbulan-bulan, dia tetap menunggu..."

__ADS_1


"Hahaha..., aku ja..di ingin melihatnya lagi," pria itu meneteskan air mata dan langsung dia berasihkan.


"Ohya, namaku arlo, aku pedagang keliling, nama kamu siapa nak?" tanya Arlo.


"Mika, aku tersesat," jawab Mika, Arlo mengangguk.


"Tersesat? dimana rumahmu?" tanya Arlo sambil menaruh tas besarnya disamping agar tidak mengganggu.


"Desa Yo-


"Tunggu-tunggu, jadi kau berbohong?" Kamori tiba-tiba memotong cerita Mika, saat ini mereka tengah bersembunyi dari organisasi hitam.


Kamori ingin sekali istirahat untuk makan, sambil makan Mika bercerita tentang asal usulnya, sementara itu organisasi terus mencarinya.


"Apa benar kita akan aman disini?" tanya Mika yang terus was-was dengan keadaan mereka sekarang.


Pasalnya, mereka bersembunyi dirumah kepala desa tempat pemimpin pasukan dua organisasi hitaka berada, 'APA DIA MASIH WARAS!' batin Mika yang terus melihat pasukan mereka berlalu lalang.


"Tenang saja..., kita tidak akan terlihat kok, asal kecilkan suara," senyum Kamori tanpa beban sama sekali.


"Benar kata paman Arlo, dia nakal," Mika pasrah dan terus berusaha agar suaranya tidak terdengar oleh para pasukan mereka.


"Jadi apa kau berbohong?" Kamori sudah mulai menghabiskan separuh dari bekal yang dibawa.


"Tidak, ada yang benar, aku tidak memberi tahu paman, lalu yang paman pergi ke kota charol itu benar tapi itu sudah dua tahun lalu mana mungkin paman Arlo masih disana," jelas Mika.


"Benar juga kau, jadi ayahku dua tahun lalu ada dikota Charol ya..., terus apa tujuanmu membawaku?"


"Aku memerlukan bantuanmu, tolong selamatkan penduduk desa, mereka telah dipenjara di ruang bawah tanah tempat gudang persedian pangan," minta Mika sambil menatap Kamori yang masih terus makan.


"Apa untungku?" tanya Kamori menaruh makanannya ke dalam tas lagi.


"Aku... aku..., aku akan mengantarmu ke charol dan membantu mencari paman Arlo, bagaimana?" tawar Mika, Kamori berpikir kalau yang di tawar Mika itu tidak berguna.


Kamori-kan punya peta canggih, jadi tentu saja tidak berguna.


[Bagaimana kau tambah tawarannya dengan memberikan tameng emas itu.]


Hasut Aka, 'Terus apa untungku?' balas Kamori, bagaimana bisa untung kalau saja ini kostum masih terus melekat ditubuhya.


[Kostum kucing itu bisa kau ganti jika pakaian yang kau gunakan lebih kuat, lagi pula anak kecil itu tau tempatnya.]


"Bagaimana kalau diganti dengan memberikan tameng emas yang dicari oleh organisasi kepadaku?" tawar Kamori, Mika berpikir, tidak ada pilihan lagi untuk menyelamatkan ibunya.


"Baiklah," setuju Mika.


'Woah..., bagaimana kau tau?' Kamori kagum akan prediksi Aka.


[Rahasia.]

__ADS_1


Kamori hanya mengangguk, "Yosh..., kita sepakat, oke sekarang mari kita hantam dia dan selamatkan penduduk!" semangat Kamori mulai membara, Mika senang akan Kamori yang mau membantunya.


(Tujuan Selanjutnya, Melawan organisasi hitam!!!)


__ADS_2