
(Organisasi Hitaka)
'Bekal makanan kita hampir habis, sebaiknya kita mencari pulau terdekat terlebih dahulu,' ucap Kamori. Sudah dua minggu Tori dan Kamori berada di lautan, namun mereka tidak mendapati apa - apa.
"Kenapa kamu tidak memancing saja?" tanya Tori, Kamori mengambil alih tubuhnya dan mulai berjalan menuju belakang kapal sebuah alat pancing yang bersandar dengan kail berisi umpan berada di dalam air. "Kau lihat sendiri, tidak ada ikan di lautan luas ini!"
Secara paksa Tori mengambil alih tubuh Kamori. Tori mengangkat pancing tersebut, umpan yang terpasang di kail sama sekali belum tersentuh. "Aneh..., mungkin kita berada di laut mati?" ucap Tori asal. 'Laut mati? apa itu?"
Tori tidak menjawab pertanyaan Kamori, dia berlari menuju depan kapal. Raut wajah Tori dalam sekejap berubah setelah memeriksa sesuatu. "Tidak ada angin!" Tori mulai panik, segera dia memeriksa map untuk mencari sebuah pulau terdekat.
'Hei! Apa yang terjadi? Kenapa kamu gelisah? Jawab woi!' bentak Kamori mulai ikut gelisah hanya melihat dewa naga yang gelisah karena tidak adanya angin. "Kita terjebak di laut mati, disini tidak ada makhluk hidup bahkan angin saja tidak ada, jika terus begini kita akan mati kehabisan bahan makanan. Tidak ada angin kapal tidak akan jalan!" ucap Tori sambil terus mencari pulau terdekat.
Tidak jauh dari tempat mereka terdapat pulau kecil, gambar di map hanya menggambarkan sebuah titik hitam walaupun begitu titik tersebut bertuliskan "P" yang artinya pulau. "Ketemu! Tapi kenapa aku tidak pernah tau kalau disini ada pulau, sejak kapan ada pulau ini bahkan berada ditengah-tengah pulau mati," pertanyaan tersebut Tori pendam dan fokus untuk menuju pulau kecil itu.
'Bagaimana cara kita ke pulau itu?' tanya Kamori. "Mendayung," Tori mengeluarkan sisa kayu pembuatan kapal. Tidak butuh waktu lama, dua buah dayung besar sudah jadi. 'Dua dayung?' bingung Kamori. "Ssttt... Diam dan lihat lah," dengan kekuatannya, Tori berdiri di tengah-tengah deck kapal dan mengendalikan dua dayung besar tersebut tanpa menyentuhnya. "Mungkin setelah ini aku akan hibernasi," ucap Tori yang membuat Kamori kebingungan. Tori perlahan mendayung, kapal pun mulai bergerak menuju pulau terdekat.
Butuh waktu lima jam untuk sampai ke pulau tidak dikenal, hanya berjarak beberapa meter Tori berhenti mendayung yang membuat kapal berhenti. Tori menajamkan penglihatannya guna memastikan pulau itu aman atau tidak. Di pesisir pantai hanya ada pepohonan tidak ada tanda-tanda kehidupan, Tori pun melanjutkan mendayung sampai kapal berhenti tepat di bibir pantai dan menurunkan jangkar.
__ADS_1
"Kamu harus tetap waspada karena mulai sekarang aku tidak akan membantumu untuk beberapa saat," kata Tori. 'Hah? Maksudnya?' tanya Kamori. "Tubuhmu terlalu lemah untuk diriku yang kuat! Jadi kalau aku paksakan bisa-bisa tubuh mungilmu ini hancur berkeping-keping karena kekuatanku yang dahsyat! Paham!" Ucap Tori melebih-lebihkan. Belum juga menjawab ejekan dari Tori, Kamori sudah mengambil alih tubuhnya kembali.
"Awas saja! Aku akan bertambah kuat dan melampauimu!" kesal Kamori yang tidak direspon oleh Tori. Dengan membawa bekal yang masih ada, Kamori mulai turun dari kapal dan berjalan memasuki hutan, dia berniat menelusuri pulau tidak dikenal sambil mencari bahan makanan.
Di sepanjang perjalan hanya ada tumbuhan liar serta pohon, tetapi ada sesuatu yang menyita perhatian Kamori yaitu pohon dihutan ini berpola seperti sebuah isyarat. Kamori menepis firasatnya sendiri. Namun firasatnya itu semakin kuat. Setiap lima meter atau sepuluh meter arah timur terdapat sebuah pohon dengan daun kuning Kamori tidak tau nama pohon tersebut. Pohon kuning tersebut hanya ada di arah timur.
"Ada yang tidak beres," Kamori merasa ada yang aneh dan memutuskan mengikuti pohon kuning berada, namun dia menjaga jarak dari pohon tersebut. 500 meter arah timur dari kapalnya, Kamori menemukan sebuah kota kecil yang dikelilingi pagar besi, itu semua berkat mengikuti pohon kuning.
Kamori tidak langsung memasuki kota karena terdapat penjagaan ketat. "Kenapa ada kota di tengah-tengah laut mati? Begaimana cara mereka hidup kalau makhluk hidup saja tidak ada?" ucap Kamori bersembunyi di balik pohon besar dekat gerbang masuk.
Seorang laki-laki berjubah hitam tiba-tiba muncul tepat di depan gerbang menggunakan teleportasi. "Teleportasi! Bagaimana mungkin! Dia pasti penyihir level S!" Kata Kamori sedikit keras membuat laki-laki berjubah hitam itu berbalik badan dan...
Sihir yang dikeluarkan oleh laki-laki berjubah hitam itu berhasil membuat salah satu dari pohon kuning hangus tidak tersisa. "A...ada apa tuan Roki?" tanya salah satu penjaga, laki-laki yang bernama Roki itu terus memperhatikan tempat yang dia bakar tadi. "Bukan apa-apa, cuma perasaanku saja," Ucapnya sambil memberika sesuatu kepada para penjaga.
"Huh..., hampir sajaa...," Kamori sangat lega karena Laki-laki tadi salah sasaran kalau saja laki-laki itu menembak pohon di sebelah pohon kuning tamat sudah riwayat Kamori. "Tunggu dulu..., pria tadi membakar pohon dengan api hitam?" Kamori mulai mengamati wajah laki-laki tersebut. "Bu...bukannya dia dari organisasi Hitaka!" Firasat Kamori tidak enak, dia memilih mundur menuju kapal.
Hanya beberapa langkah dari tempatnya bersembunyi, Kamori tiba-tiba tidak sadarkan diri. Roki wakil ketua organisasi Hitaka membius Kamori dengan sihirnya dan membawa tubuh Kamori masuk ke dalam kota. "Bukannya anak ini sudah ku bunuh? Bagaimana bisa dia hidup lagi!" ucapnya lirih sambil memperhatikan wajah Kamori yang pingsan. "Harus melapor ke ketua!" Lanjut Roki.
__ADS_1
ʕ•ﻌ•ʔ
"Arrrgghhh... Sebenarnya apa yang terjadi..., kenapa aku merasakan ada yang kurang, apa yang aku lupakan!" keluh Aka Mengacak-acak rambutnya. Sudah beberapa hari Aka terjebak di sebuah gurun, rencananya dia ingin berkunjung ke negara Zato untuk mengisi perbekalan dan beristirahat sejenak setelah itu dia ingin pergi ke kerajaan timur.
"Aku yakin raja sialan itu menghapus sebagian ingatanku!" Sepanjang perjalan, Aka terus mengeluh dari perasaan yang campur aduk, kepala pusing setiap berusaha mengingat, serta terik matahari. Sebuah gerbang negara Zato mulai terlihat, Aka pun meningkatkan kecepatannya.
"Hei..., akhir-akhir ini aku tidak melihat Kamori, apa kamu melihat anak satu itu?" tanya salah satu penjaga gerbang ke penjaga yang lain. "Tidak, terakhir kali aku melihatnya, dia bersama anak kecil menunggangi kuda, tidak tau mau kemana, tapi sampai sekarang dia belum pulang," jawab penjaga satunya. Aka tidak sengaja mendengar pembicaraan antara dua penjaga gerbang. 'Kamori?'
"Permisi..., apa anda mengenal Kamori?" Tanya Aka setelah menyimpan kudanya ke dalam penyimpanan sistem. Dua penjaga tadi slaing memandang lalu salah satu dari mereka menjawabnya. "Iya, anda mengenalnya juga?" Sebuah harapan muncul untuk mengetahui siapa gadis bernama Kamori ini.
"Ah... tidak, saya hanya mengetahui namanya dari negara sebelah. Kalau boleh tau, Kamori itu seperti apa orangnya?" Aka sedikit ragu untuk menanyakan tentang Kamori ke para penjaga ini. Salah satu penjaga menatap temannya dan temannya hanya menganggukkan kepala.
"Kamori Lin, dia anak yang ceria namun suka sekali mengganggu warga sekitar, merayu laki-laki, semua yang berbau kenakalan melekat padanya. Tapi beberapa bulan ini dia tidak pulang. Terakhir kali kami melihatnya, dia bersama anak perempuan dengan menunggangi kuda..., Kamori juga tidak memberitahu kami mau kemana," jelas penjaga tersebut. Aka mengangguk paham.
'Deg'
Sekilas Aka melihat sebuah memori yang memperlihatkan seorang gadis dengan full armor sedang melawan binatang buas, tetapi wajah gadis itu buram. 'Mungkin aku akan mencari tahu siapa gadis itu sebelum melawan raja langit!'
__ADS_1
(Tujuan Selanjutnya, Markas Organisasi Hitaka!!!)