
(Dendam)
DORRR...
"Oi, oi ,oi. Siapa yang berani - beraninya mengganggu muridku haahh..."
"Hmmm, kenapa bisa meleset? Harusnya mengenai kepalanya langsung lo."
Steve menghindar dari peluru, untungnya dia dapat merasakan hawa keberadaan sekecil apapun.
Dua wanita berdiri tak jauh dari belakang Steve. "Ternyata kalian ya. kebetulan sekali, setelah membunuh bocah ini, rencanaku akan membunuh kalian juga."
Hilde memasukkan peluru ke shotgun dan langsung membidikkannya ke Steve lagi.
Sementara Clara berlari cepat ke arah Kamori untuk mengamankan gadis lemah itu. "Tidak percuma kamu lari naik turun gunung dulu."
Kamori hanya diam saja, memang dia hanya bisa berlari saat dia tidak membawa pedangnya. Seli menyeret Kamori ke belakang Hilde.
DORRR...
Hilde menembak lagi namun dengan mudahnya Steve menghindar. "Hm, kalau mengisi peluru saja membutuhkan waktu yang lama, aku yakin kamu akan terbunuh di medan perang," ejek Steve.
"Mungkin kamu perlu belajar kata - kata jangan meremehkan musuh," kata Hilde.
Tiba - tiba Hilde bisa menembak tanpa ada jeda, saat mengisi peluru seperti tidak mengisinya sebab kecepatannya itu.
Steve menyadari sesuatu, walaupun gerakan Hilde dalam menembak acak, pelurunya tetap saja seperti mengikuti ke mana arah Steve akan menghindar.
Steve menghindar dari satu peluru namun peluru lain sudah menyambutnya, tembakan yang diberikan Hilde untuk beberapa saat membuat Steve kerepotan.
'cih, kalau bigini terus, aku yang bakal mati duluan,' keluh Steve. Tanpa merapal sebuah mantra, Steve membidik senjata Hilde.
Sebuah jarum cahaya yang sama persis seperti jarum yang menyerang Kamori tersebut melesat mengenai shotgun milik Hilde.
Hilde menyeringai, tembakan sihir dari Steve membuat senjata Hilde menembak ke arah udara kosong, tidak ada lecet sedikitpun dari senjata Hilde mengingat tembakan sihir yang diberikan Steve sangat kuat.
"Hm, Senjata level SSS+ dilawan!" Senyum ejek dari Hilde membuat Steve marah.
Steve meningkatkan kekuatan dari jarum cahaya itu, warnanya pun berubah dari yang berwarna ke emasan kini menjadi ungu.
"Sekali kena manusia akan membuat tubuhnya lumpuh dan dalam waktu singkat manusia itu akan mati," jelas Steve.
__ADS_1
Hilde tetap tidak beraksi sama sekali, pertarungan pun dimulai, mereka berdua beradu tembakan.
Sementara Clara dan Kamori diam - diam mundur. "Aku tidak akan berguna kalau melawan serangan jarak jauh."
Bola cahaya yang tadi mengawasi pertarungan tersebut dari atas, melihat dua wanita yang ingin kabur.
Bola cahaya pergi menghampiri mereka lalu dia berubah menjadi manusia tepat dihadapan Clara dan Kamori.
Melihat ada laki - laki kekar dihadapannya, Clara segera mengeluarkan dua pedang dari penyimpanannya.
"Woah, santai dulu..., aku hanya mengincar orang yang dibelakangmu, Kalau kamu tidak ingin terluka, lebih baik berikan padaku," kata pria tersebut.
Clara menyeringai. "Buatlah aku terkesan dulu, baru kuserahkan dia!"
Clara maju menyerang pria kekar, satu tebasan darinya membuat pasir gurun dihadapan pria kekar terbelah. "Boleh juga," ucap pria kekar.
Pria kekar bernama Key itu mengeluarkan tombak. "Mungkin ini akan menjadi pertarungan tidak seimbang," ucap Key.
Clara cuek dengan yang dikatakan Key, dia terus menyerang Key serta menggiringnya menjauh dari dinding dan Kamori.
Clara tidak ingin merusak dinding pertahanan kota Charol sebab itu Clara menggiring Key menjauh.
Key terus menepis serangan Clara dengan tombak bajanya. Menemukan celah, Key segera menyerang Clara balik tepat pada tangannya.
Tombak merupakan serangan sedang, tidak jauh tidak pula pendek. Seandainya Clara membuat sedikit saja celah, Key akan mendapat giliran menyeranginya.
Kamori linglung, dia tidak tau harus berbuat apa. Hilde dan Clara sibuk bertarung, tidak ada celah di pertempuran mereka untuk Kamori masuk.
'Lebih baik kamu panggil Seli, dari pada kamu di sini menjadi beban mereka,' saran Tori yang segera Kamori iyakan.
Di pertempuran Hilde. Terlihat Hilde yang mulai lelah, sedangkan musuhnya masih tetap semangat.
'Peluruku akan habis, aku harus segera mengakhiri ini. Dia seorang mage, harusnya mana yang dia miliki sudah habis tetapi kenapa dia bisa terus mengeluarkan sihir besar?'
'Tidak bisa dibiarkan, aku akan mempertaruhkan energiku untuk serangan brutal!'
"Apa kamu sudah lelah?" Tanya Steve, Hilde tidak peduli dengan perkataannya.
Hilde mengganti senjatanya ke pistol dengan secepat kilat. "Hahahaha, ternyata pelurumu habis ya, hahaha," ejek Steve tanpa menghentikan serangannya.
"Tidak juga," Hilde menarik nafas banyak - banyak lalu dia berlari memutari Steve secepat kilat.
__ADS_1
Sebuah asap dari pasir yang diakibatkan dari larinya Hilde membuat penglihatan Steve berkurang. "Hahaha, kau kira berlari memutariku dapat membuatku tidak bisa membidikmu gitu? Percuma saja! Aku bisa menembakmu bahkan dengan mata tertutup sekalipun! Dasar pecundang!"
Steve menembakkan sihirnya secara acak, jujur dia sangat kesulitan akan target yang bergerak secepat kilat apalagi pasir gurun menghalangi pemandangan.
Pada saat merasa cukup, Hilde mulai menembak tanpa henti. Satu tembakan mengenai tangan, dua mengenai kaki, tiga pelipis, dan seterusnya.
Steve mulai lumpuh karena tembakan yang mengenai beberapa bagian tubuhnya, dia merasa ditembak banyak orang dalam ruang kecil.
'Aku tidak bisa menggunakan pelindung sihirku tidak mempan terhadap pelurunya dan pemulihan juga tidak berguna kalau dia terus menyerangku.'
Mengetahui dia terpojok, Steve segera Teleportasi. Sebelum melakukan teleportasi, dia melihat Clara yang sedang bertarung dengan Key.
'Setidaknya aku ingin membunuh wanita itu!' Steve merapalkan suatu mantra, sebuah jarum hitam pekat muncul di ujung jari telunjuk Steve.
Posisi Clara sangat menguntungkan dia. "Bang," ucapnya lirih, jarum tersebut melesat dan tepat mengenai betis Clara, tembakan jarum meninggalkan bekas hitam yang terus meluas pada betis Clara.
Steve tersenyum puas, dia segera berteleportasi meninggalkan area tempur. Melihat musuhnya sudah hilang entah kemana, Hilde pun jatuh terlentang.
"Akhirnya..."
Clara yang terkena serangan Steve, tiba - tiba saja berlutut. 'Arrgghhh, Ada racun yang berusaha masuk ke dalam tubuhku.'
Melihat celah terbuka lebar, membuat Key tersenyum kemenangan. "Pergilah dengan tenang."
Satu tusukan tepat punggung bagian kiri, Clara mengeluarkan darah dari mulutnya. Tubuh Clara jatuh tengkurap dengan tombak yang menembus dada kirinya.
"Dengan begini satu penghalang hilang," Key menarik tombaknya, darah keluar deras setelah Key menarik tombaknya.
Tanpa rasa bersalah, Key menyimpan tombak yang penuh darah, dia melihat ke arah tempat Steve bertarung, tidak ada orang selain Hilde yang tidur di atas pasir sedang melihat ke arahnya.
Dia langsung mengerti kenapa Hilde tidak bergerak, itu pasti karena dia terkena serangan dari Steve, kalau tidak kena pasti Hilde sudah menolong temannya yang ditusuk ini.
"Pulang aja lah, dia akan mati juga, racun ungu Steve kan membunuh secara perlahan," setelah mengatakan hal yang kejam itu, Key menghilang.
Sementara Hilde tidak bisa bergerak sama sekali, saat jatuh dia sudah merasakan racunnya mulai menyebar, tubuhnya sempat terkena serangan dari Steve saat melakukan serangan terakhir.
Hati Hilde terasa sakit, bahkan sakitnya melebihi racun musuhnya. Melihat sahabatnya dibunuh tepat di depan mata tanpa bisa berbuat apa - apa membuatnya sangat merasa bersalah.
Energinya habis, racun mulai menyebar, emosi yang terpendam dalam hati Hilde mulai memuncak, sebuah dendam mulai tertanam di hatinya.
"AAAGGHH, AWAS KALIAANN!!!"
__ADS_1
(Tujuan Selanjutnya, Pengobatan!!!)