
(Aka Manusia???)
Kamori berlari menuju kediaman kepala desa yang tengah terbakar hebat dengan cepatnya api tersebut membakar setengah rumah.
'Aka,' masih tidak ada balasan dari Aka, Kamori semakin mengencangkan larinya, saat tiba Kamori masuk dan melihat sesuatu yang mengejutkan.
Aka terbaring lemas dengan beberapa luka bakar ditubuhnya, Aka melirik ke arah Kamori dan membuat kode untuk menolongnya.
Kamori segera menghampiri Aka dan menggotongnya, "A... apa yang kau la... kukan?" liri Aka yang sudah kehabisan tenaga.
"Kau sendiri kenapa tidak jadi sistem kalau sudah tahu terluka begini?" belum selesai berbicara, Aka sudah tidak sadarkan diri di gendongannya.
Kamori diam meski dikepalanya banyak pertanyaan untuk sistem yang selalu membuatnya jengkel itu.
Kamori berhenti atau lebih tepatnya tidak bisa bergerak sama sekali seperti waktu berhenti namun Kamori tetap sadar.
Seseorang keluar dari kobaran api, dia sama sekali tidak terbakar meski berjalan sangat pelan, Kamori tidak bisa melihat wujudnya.
Kepala maupun tubuhnya sama sekali tidak bergerak bahkan mulutnya.
"Ma...af, a...ku tidak... tau kalau... wa... kil mereka ada disini," ucap Aka tanpa tenaga dia pun tidak sadarkan diri lagi.
Kamori tidak percaya, kenapa wakil mereka ada disini, 'Kalau begini warga desa dan Mika akan dalam bahaya,' Kamori mulai meronta tapi percuma, tubuhnya mati rasa.
Wakil ketua yang tidak diketahui namanya itu semakin mendekat membuat jantung Kamori semakin berdetak kencang.
'Ketua dari organisasi ini adalah salah satu ksatria terkuat, kalau begitu seharusnya wakil organisasi Hitaka juga 'kuat.'
'Apa ini akhir hidupku, hm baru... saja, aku ingin menjadi tokoh utama yang overpower dan lihat sekarang! aku sudah menemukan ajalku,' Kamori sangat kecewa, dadanya sakit saat mengetahui kenyataan yang pahit.
'Mungkin benar kata orang-orang, aku tidak bisa melakukan sesuatu yang bermanfaat bahkan untuk masa depanku,' Kamori perlahan mulai pasrah dengan nasib yang menimpanya.
'Kostum ini bekerja menggunakan pikiran, kalau kau berimaji-nasi, itulah yang akan muncul.'
Wakil organisasi kini melihat muka Kamori lalu tersenyum kecil, "Dasar ampas tak berguna!" ucap wakil tersebut.
Dia mengalihkan pandangannya ke Aka dan mulai menggerakkan tangannya ke Aka, sebelum selesai merapalkan sesuatu, tubuh Aka menghilang.
Wakil organisasi tersebut terkejut, dia menatap tajam Kamori yang membeku, "Brengs*k!" wakil tersebut seketika mengeluarkan sebuah aura yang sangat menekan bahkan dapat membuat manusia biasa meninggal ditempat.
__ADS_1
Tangan wakil Hitaka mengeluarkan api berwarna hitam pekat, kalau tidak salah api hitam pekat hanya bisa digunakan oleh penyihir api tingkat tinggi, jarang yang menemukannya.
Api hitam pekat dapat menghanguskan satu desa dalam hitungan detik, mengeluarkan api tersebut juga membutuhkan mana yang banyak, kalau saja mana yang dia miliki tidak cukup, dia akan mati.
'Yang terpenting warga desa, Mika dan Aka sekarang aman, aku sudah menteleportasi mereka ke tengah hutan dan sudah dilengkapi pelindung, mereka aman untuk sekarang,' Kamori tersenyum dalam hati.
Kamori ingin sebelum dia mati, dia dapat berguna bagi orang sekitarnya dan tidak menjadi beban orang lain lagi, 'Selamat tinggal.'
Wakil Hitaka melemparkan api hitam itu ke arah Kamori, "Selamat tinggal kucing," wakil Hitaka pergi meninggalkan desa yang sudah hangus terbakar, kini hanya ada abu, betapa menakutkan api itu.
ʕ•ﻌ•ʔ
(Teleportasi)
"Dimana kita? apa yang terjadi?" Mika yang terkejut melihat sekeliling hanya ada pohon yang sebelumnya adalah gerbang masuk desa.
"Kita dimana?" para penduduk juga ke bingungan termasuk ibu Mika, Mika menghitung semua satu persatu.
"Huh... lengkap, hanya kurang Kamo-" perkataan Mika terhenti oleh seorang Laki-laki yang tidak dia kenal sedang gelisah.
"Siapa dia? apa dia salah satu penduduk desa?" karena penasaran Mika menghampiri laki-laki itu.
"Dimana dia?" ucap laki-kali itu berulang kali sambil terus mencari di kerumunan warga desa, dia semakin gelisah saat seseorang yang dia cari tidak ada.
"Mika! apa kau tau Kamori dimana?" pertanyaan pria tersebut membuat Mika terkejut, 'Bagaimana bisa dia mengenalku dan kak Kamori?'
"Anda siapa ya?" tanya Mika tetap mempertahankan senyumnya meski dia curiga dengan pria tinggi itu.
"Aku Aka, teman Kamori yang tadi membantu kalian keluar," ucap Aka masih tampak gelisah, sedangkan Mika tidak bertemu dengan Aka ini.
'Pasti dia menggunakan teleportasi dan penyembuhan ke aku, tapi itu akan memakan mana yangvcukup banyak mengingat yang dia pindah bukan aku saja namun warga desa yang berjumlah 126 ini!' Aka bingung harus melakukan apa.
'Aku sudah mencoba kembali menjadi sistem lagi, tapi koneksiku dengannya terputus seperti ada penghalangnya, apa yang terjadi dengannya?'
"Aku harus kembali!" ucapnya, Mika yang mendengar itu juga ikut kebingungan, pertanyaan tentang siapa dirinya yang akan dia lontarkan berganti pertanyaan.
"Apa yang terjadi? kenapa kamu ingin kembali? " tanya Mika menarik pucuk baju Aka.
'Mika, karena ini anak Kamori dalam bahaya, kenapa bocah itu mau ikut dengan beban seperti dia?' keluh Aka, dia kini sangat ingin memusnahkan Mika.
__ADS_1
"Kamori orang yang sudah menyelamatkan nyawa kalian kini sedang sekarat disana! dia kehabisan mana untuk menteleportasi kita, apa kau tidak sadar!" cukup lantang Aka berbicara sehingga beberapa warga yang dekat dengan mereka mendengarnya.
"Apa yang kau maksud? kak Kamori itu kuat! dia pasti bisa menghadapinya!!! " bentak Mika, Mika yakin bahwa Kamori bisa mengatasi organisasi itu.
"Hm, kamu apa tau kalau wakil ketua organisasi hitam nomer dua yang bernama Hitaka disini? dan Kamori melawannya sendirian!"
"Sementara wakil ketua organisasi Hitaka itu adalah penyihir level S dengan kekuatan pengendali waktu serta api iblis!! KAMORI TIDAK AKAN SANGGUP MELAWANNYA!!!"
Aka berlari sekencang mungkin menuju desa menyusul Kamori, Mika dan warga desa terkejut setelah mendengar penjelasan Aka.
Mika tiba-tiba lari menyusul Aka, Lily yang dari tadi tidak tau apa yang sedang terjadi hanya mengikuti sang anak dari belakang, dia takut kehilangan orang yang dia sayang, warga desa juga menyusul.
Aka terdiam melihat abu hitam bertebaran ditanah, tidak ada rumah atau pun orang, semuanya terbakar hangus tak tersisah.
Mika yang baru sampai juga terkejut disusul oleh Lily dan para penduduk, "Apa yang terjadi? kenapa semuanya terbakar?" beragam pertanyaan diucapkan oleh warga.
'Kenapa aku masih tidak bisa berubah? apa aku terlambat?' Aka terus mencoba, tapi hasilnya tetap tidak bisa.
(Maaf, anda tidak bisa lagi berhubungan dengan Kamori, tidak ada tanda-tanda aktivitas dari Kamori.)
Sebuah pemberitahuan sukses membuat Aka tidak berdaya, 'Dia sudah mati, sekarang apa yang harus aku lakukan? 'Dia' pasti menganggurkanku lagi.'
"Kak Kamori...," Mika paham apa yang terjadi disini, dia tau kenapa desanya hancur menjadi debu dan yang terpenting kenapa Kamori memindahkan mereka ke tempat aman.
Mika mulai menangis, dia tidak tau apa yang harus dia lakukan, Mika merasa bersalah karena sudah membuat orang sebaik dia mati hanya untuk menyelamatkan desa mati.
Desa Yasai adalah desa makmur lima tahun yang lalu dan sekarang menjadi desa mati karena desa itu tiba-tiba terkena bencana kekeringan.
Tidak ada yang bisa berbuat sesuatu termasuk wali kota, pada akhirnya wali kota hanya bisa menyalurkan bantuan.
Dua tahun berlalu persediaan pangan digudang mulai menipis, wali kota juga mulai tidak menyalurkan bantuan sampai tiba waktu dimana tidak ada makanan sama sekali.
Pada saat itulah desa yang sebelumnya makmur kini telah menjadi desa mati, warganya bisa bertahan hidup karena berburu dihutan.
"DIA TIDAK ADA...," teriak salah satu penduduk yang mencari Kamori disekitar desa yang rata dengan abu hitam.
"Tampaknya dia sudah tidak ada, Mika kamu harus sabar," ucap Lily sambil terus mengusap punggungnya.
Mika yang tak berhenti menangis dan Aka hanya terdiam tidak bergeming entah apa yang dia pikirkan sekarang.
__ADS_1
'Mungkin aku tidak akan memberitahu 'dia' untuk sementara,' batin Aka.
(Tujuan Selanjutnya, Dewi Reinkarnasi!!!)