BERPINDAH KE DUNIA SIHIR MODERN

BERPINDAH KE DUNIA SIHIR MODERN
TEMAN BARU


__ADS_3

"Pergi kalian semua, kalau tidak..." ucap gadis tersebut.


"Kalau tidak apa ha? Mau berteriak, percuma tidak akan ada yang datang" ucap seorang berbadan tinggi.


"Oh, benar kah tidak ada orang yang akan datang" ucap Panji yang tiba-tiba muncul.


"Siapa kamu bocah?" tanya laki laki yang terlihat lebih tua dari yang lainnya.


"Aku siapa, aku adalah.... orang yang numpang lewat" ucap Panji dengan ngeselin.


"💢 Jangan main main kau bacah. Kau belum tau siapa aku, aku adalah si tangan besi Rully hahaha" ucap Rully memperkenalkan diri.


"Kamu tidak apa-apa" ucap Panji yang mengabadikan omongan Rully.


"Brengsek berani kamu mengabaikan ku, serang dia" ucap Rully menyuruh kedua anak buahnya.


"Haha mati kau" ucap bawahan 2.


"His maaf y, ada gangguan. Gravity" ucap Panji ke gadis itu dan melepaskan sihir pemberat 'Gravity'.


Tiba-tiba atmosfir disekitar Panji berubah. "Ukh...ke-napa...tub-buhku terasa berat" ucap mereka yang langsung tersungkur ke tanah kecuali gadis itu dan Panji.


"Em, maaf y karena aku tidak bisa berlama-lama disini, jadi kita akhiri sekarang" ucap Panji, kemudian Panji membuat mereka pingsan dan menghapus ingatan mereka.


Disaat Panji ingin pergi jubah yang sedari tadi ia pakai ditarik oleh gadis yang berada di belakangnya tadi.


"Anu...em terimakasih karena sudah menolongku, em kalau boleh tau siapa namamu?" tanya gadis itu.


"Bukanya tidak sopan menanyakan nama sebelum diri sendiri memperkenalkan namamu" ujar Panji.


"Ah maaf, namaku Septiana, aku merupakan murid di akademi Pedang Sihir Emas" ucap Septi.


"Hah, sama dong aku juga dari akademi Pedang Sihir Emas, tapi aku baru 1 hari mendaftar dan masuk ke kelas penyihir {D}" ucap Panji.


'Itukan kelasku, tidak kusangka ternyata dia seorang penyihir. Senangnya' batin Septi.


"Em, itu sebenarnya adalah kelasku itu berarti kita satu kelas ya" ucap Septi.


"Oh benarkah, kalau begitu mohon bantuannya ya" ucap Panji.


"Mmm, em kalau begitu ki-kita pulang bersama aja" ajak Septi.


"Oh boleh juga tuh, ayo" ucap Panji menjulurkan tangannya.


Di saat mereka pergi menuju asrama akademi mereka sesekali bercanda dijalan. Hingga mereka sampai di gerbang akademi.


"Haha kasian banget temen kamu..." ucap Septi mendengar cerita lucu yang Panji katakan.


"Berhenti, siapa kalian" langkah mereka dihentikan oleh pak Jiman sang security akademi Pedang Sihir Emas.

__ADS_1


"Oh pak Jiman, saya Panji pak murid baru yang kemarin baru mendaftar disini" ucap Panji.


"Kalau kamu aku emang baru pertama kali lihat, tapi nona Septi kenapa Anda baru pulang dan bersama anak ini?" tanya pak Jiman.


"Eh em itu tadi..."


"Tadi aku melihat Septi dihadang oleh tiga preman jalanan pak" ucap Panji memotong perkataan Septi.


"Em benarkah itu nona Septi?" tanya pak Jiman kepada Septi.


"Be-benar paman, tadi Panji menolong ku dari ketiga preman jalanan itu" jawab Septi membenarkan perkataan Panji.


"Oh seperti itu, baiklah kalian boleh masuk" ucap pak Jiman.


"Oke, terimakasih pak" ucap mereka. kemudian mereka masuk menuju asrama siswa.


"Huh, dasar anak jaman sekarang ctctct" gumam pak Jiman.


............


Tok tok tok...


"Rifan Iqbal buka pintu ini aku Panji" ucap Panji dari luar kamar.


"Oh oke bentar" ucap Iqbal dari dalam kamar.


.............


Kamar asrama Panji memiliki ukuran lumayan besar dan terdapat dua tempat tidur dua kasur, empat lemari pakaian dan empat meja belajar yang berada di pojok kamar, dan cuma ada satu kamar mandi.


"Oh iya, siapa yang menempati tempat tidur satunya?" tanya Panji.


"Oh dia namanya Glen, dia baru aja pulang dari rumahnya" jawab Iqbal.


"Oh, terus dia dimana?" tanya Panji.


"Dia keluar sebentar tadi" jawab Iqbal.


"Oh keluar, oh iya ini buat kalian" Panji memberikan satu kotak kayu untuk mereka. Kotak kayu tersebut berisi gingseng ungu yang ia beli dari Pelelangan tadi dan dari kartu penyimpanan nya.


"Itu gingseng ungu bagus untuk kalian yang seorang petarung" ucap Panji.


"Wah makasih Pan, tapi apa gak apa-apa nih inikan mahal harganya" ucap Rifan.


"Benar Pan, kalau kamu menjualnya kamu bisa dapat banyak uang loh" tambah Iqbal.


"Hey emang apa ada yang lebih berharga dari sebuah persahabatan?" tanya Panji.


"....." tidak ada respon.

__ADS_1


"Tidak adakan, itu sebabnya aku lebih memilih memberikannya kepada kalian karena persahabatan/teman sejati itu susah dicari sedangkan uang kita bisa mencari lagi" ucap Panji meyakinkan mereka.


"😖😭 hua Panji kamu adalah sahabat terbaik ku" ucap Rifan sambil memeluk Panji dengan air mata yang menetes.


"Benar hihis,,, kamu adalah sahabat kami selamanya" ucap Iqbal yang sama memeluk Panji.


"Kita bukan sahabat saja tapi kita semua saudara" ucap Panji.


"Mmm, kita adalah saudara untuk selamanya" teriak Iqbal.


"Ehem, kalian lagi ngapain sih?" tanya Glen yang baru saja masuk.


" Oh kamu teman baru yang tinggal disini ya, salam kenal namaku Glen" ucap Glen sambil menjabat tangan Panji.


"Salam kenal Glen, namaku Panji. Oh iya ini untukmu tanda pertemanan" Panji memberikan kotak kayu yang sama seperti milik Iqbal dan Rifan.


"Oh apa ini?... Ini kan gingseng ungu darimana kamu mendapatkannya?" tanya Glen yang terkecut melihat isi kotak kayu yang Panji berikan.


"Oh itu... itu pemberian dari kakek guru untukku" ucap Panji.


"Lagi pula aku masih ada 5 gingseng ungu (500 gingseng ungu dalam kartu penyimpanan alkemisnya)" ucap Panji.


"Oh oke aku terima, terimakasih ya" ucap Glen.


"Yos lebih baik kita tidur dulu besok kita harus masuk kelas, oh iya pan kamu masuk kedalam kelas apa?" tanya Rifan.


"Aku,,, aku masuk ke kelas sihir (D), emang kenapa?" tanya Panji.


"Hah kelas sihir, kenapa kamu tidak masuk kelas petarung saja" tanya Iqbal.


"Oh aku juga masuk kelas petarung kok, tapi aku langsung dilatih oleh paman Felix" jawab Panji.


"Apa paman!!!" mereka bertiga sontak kaget ketika Panji mengucapkan 'paman' tentang kepala akademi Pedang Sihir Emas.


"Apa kamu itu dari keluarga Adiyaksa?" tanya Glen.


"Bukan"


"Apa keluarga kamu ada kenalan dengan keluarga Adiyaksa?" tanya Glen.


"Tidak ada"


"Kalau tidak ada bagaimana kamu bisa memanggil kepala akademi dengan sebutan paman, jawab dengan jujur" Panji langsung di interogasi mereka bertiga.


"Huff, sebenarnya begini ceritanya...." Panji menceritakan semua tentang awal mula Panji bertemu dengan Felix hingga menyelamatkan nenek Mei.


"Begitu ceritanya..."


"Oh seperti itu..." jawab serentak.

__ADS_1


"Sudahlah aku mau tidur" ucap Panji.


__ADS_2