
Setelah Panji berlari cukup lama, akhirnya dia sampai di depan pintu gerbang akademi yang mengajarkan semua hal kepada anak anak berbakat. Akademi ini merupakan salah satu sekolah elit.
Panji langsung pergi mengantri untuk melakukan pengecekan dan pendaftaran.
"Berikutnya..."
"Berikutnya..."
Setelah menunggu sekitar 45 menit, sekarang adalah giliran Panji.
"Baik, tolong letakkan tanganmu di atas bola kristal ini" ucap seorang perempuan yang memakai seragam akademi yang akan Panji masukki.
Panji meletakkan tangan di atas bola kristal tersebut. Dan hasilnya adalah Tingkat Pendekar Alam hidup dan mati II bintang 2. Kakak perempuan tersebut terkejut dengan tingkat pendekar milik Panji. Pasalnya untuk anak seusianya seharusnya baru beranda di Tingkat Pendekar Alam hidup dan mati I bintang (1-5) tapi pengecualian untuk anak berbakat.
"Ini,,,ini beneran kamu sudah berada di tingkat pendekar alam hidup dan mati tahap II" tanya perempuan di depannya.
"Iya ada yg salah kah" tanya Panji.
"Ah, tidak tidak ada kok, hehe" ucap nya.
"Kalau begitu mana kertas pendaftaran siswa baru milikmu"
"Ah bentar...loh kemana kertas ku" Panji mencari di dalam tasnya, namun dia tidak menemukan kertas pendaftarannya.
"Hiks, maaf kak. kertas pendaftaran ku hilang. Apa kakak masih punya kertas pendaftarannya?" tanya Panji.
"Ah maaf tapi kertas formulir pendaftaran sudah habis"
"Huff, yang sudah aku pergi dulu" Panji langsung pergi meninggalkan tempat pendaftaran.
Saat Panji ingin keluar dari akademi tersebut, tiba tiba ada mobil hitam dengan model yang sangat jaim (keren) berhenti tepat di depan pintu gerbang.
Pintu mobil terbuka dan keluarlah seorang pria dewasa yang mengenakan kemeja hitam dengan dasi merah dan ada jam tangan dan sepatu yang terlihat sangat mahal.
"Kyaaa,,, itu adalah kepala akademi Guru Felix Adidama"
__ADS_1
"Benar, dia sangat tampan"
"Hey, aku dengar dia sudah berada di tingkat pendekar Bumi bintang 7 loh"
"Beneran, kuat banget dia"
Komentar para murid lama maupun baru.
"Halo nak Panji" sapa Felix ke Panji yang berada tepat di depan pintu gerbang.
"Ha,,,oh paman Felix" jawab Panji.
"Haha, kamu mau pergi kemana?" tanya Felix.
"aku ingin kembali paman" jawab Panji sambil menundukkan kepalanya.
"Nak Panji kenapa kamu ingin pergi" seorang wanita tua yang baru keluar dari dalam mobil. ya itu nenek Mei.
"Ah nenek Mei, sebenarnya aku ingin mendaftar tapi kertas formulir pendaftaran ku hilang jadi aku tidak jadi mendaftar" jawab Panji yang terlihat murung.
"Hah? maksudnya paman" tanya Panji.
Kemudian Paman Felix memberikan selembar kertas yang sudah diberi setempel.
"Ini, sekarang kamu resmi menjadi murid di Akademi Pedang Sihir Emas" ucap Paman Felix.
"Wah siapa anak itu, dia beruntung banget bisa langsung diterima tanpa melakukan tes dulu"
"Benar, apalagi dia langsung diterima oleh Kepala Akademi"
"Hem aku jadi iri"
Banyak komentar yang dilemparkan tapi Panji tidak mempedulikan hal itu.
"Terimakasih paman" Ucap Panji.
__ADS_1
"Itu tidak seberapa dibandingkan dengan nyawa ibuku" Jawab Felix.
"Oh iya, di kertas formulir itu masih ada yang kosong loh. Terutama bagian orang tua mu" tanya Felix.
"Saya tidak mempunyai orang tua paman" jawab Panji sambil tersenyum.
"Oh,,maaf karena paman gak tau kalau kamu.."
"Tidak apa apa paman"
"Em karena kamu tidak punya tempat tinggal, kebetulan Akademi ini menyediakan asrama untuk para siswa yang sudah resmi, bagaimana kamu mau kan" ucap Paman Felix.
"Iya paman aku mau" Panji pun setuju. walaupun sebenarnya Panji sudah berencana membeli sebuah rumah yang tidak jauh dari akademi tersebut.
AUTOR POV
Sekarang ini Panji sedang berada di depan pintu kamar asrama.
"Krek"
Panji membuka pintu dan...
"Selamat datang" Panji disambut oleh dua orang.
"Ah ooh, iya"
"Hehe, Perkenalkan namaku Rendi" Rendi memiliki rambut berwarna hitam dan mata coklat, memiliki bentuk tubuh sedikit berotot.
"Perkenalkan namaku Iqbal" Iqbal memiliki wajah tampan, rambut merah mata kuning.
"Oh, Salam kenal. Namaku Panji" ucap Panji.
"Mulai sekarang mohon kerjasamanya ya" ucap Panji.
"Oke Panji" jawab Rendi dan Iqbal.
__ADS_1