
Setelah Panji, Alex dan Miyuki berbelanja mereka langsung kembali ke rumah. Di saat mereka melewati sebuah gang kecil untuk mempersingkat waktu, mereka dihadang oleh sekelompok preman.
"Hey adik kecil, jika kamu ingin selamat serahkan uang kalian" ucap preman yang menggunakan penutup kepala dan menggunakan jaket berwarna hijau.
"Kalau kalian tidak mau maka teman wanita kalian akan kami bawa, haha" ucap preman yang lainnya.
"Jangan pernah bermimpi kalian untuk membawa adikku" Ucap Alex.
"Heh, emang apa yang bisa dilakukan oleh seorang bocah seperti kalian ini hah" tanya preman yang memiliki tato banteng di tangan kirinya.
"Jika kalian mengginginkan uang akan aku beri, kalau kalian menginginkan Miyuki maka akan aku berikan kematian buat kalian" ucap Panji.
"Apa kematian, haha lucu sekali, kalau begitu kamu yang akan mati duluan. Semuanya bunuh bocah itu dan bawa gadis itu" ucap pemimpin mereka.
"Ooo"
Teriak mereka dan langsung menyerang Panji dari beberapa arah.
"Alex Miyuki, kalian mendekat lah" kemudian Alex dan Miyuki mendekati Panji.
"Kalian tetap di belakang ku, biar aku yang mengurus mereka" ucap Panji.
"Tapi mereka ada enam orang sedang kamu ingin melawan mereka sendirian" ucap Alex.
"Tenang saja" Panji kemudian tersenyum jahat dan berlari ke preman tersebut.
"Bocah sombong, mati kau" salah satu preman mengarahkan pisau ke arah Panji, dengan mudah Panji menghindari serang tersebut dan menendang pinggang preman tersebu.
__ADS_1
"Buahk" keluar banyak darah dari mulut preman yang Panji tendang.
"Saudaraku, sialan. SEMUA BUNUH BOCAH ITU" ucap pemimpin preman tersebut.
"Hey bocah, kau akan mati hari ini karena kesalahan mu, haha" pemimpin preman tertawa keras.
"Benarkah, kalau begitu kalian dulu aja yang mati" ucap Panji. kemudian Panji mengeluarkan salah satu jurus miliknya, perlahan tapi pasti seekor ular hitam besar keluar dari bayangan Panji. Ular hitam tersebut merupakan kemampuan tranformasi dari sihir kegelapan yang pernah Panji pelajari.
"Srees"
Ular hitam itu berdesis. Dan langsung menyerang preman preman tadi.
"Marilah kalian" teriak Panji.
# Di Rumah Lin Bai
"Cih, kemana mereka pergi ini sudah malam tapi mereka masih belum pulang juga" gumam Lin Bai yang sedang menunggu anaknya dan Panji.
Tak lama kemudian Panji Alex dan Miyuki telah berada di depan rumah.
"Nak, kalian dari mana saja" tanya Lin Bai ketika mereka sudah berada di halaman rumah.
"Kami hanya jalan jalan saja kok, ayah" ucap Alex.
"Benar ayah kami cuma jalan jalan saja dikota" ucap Miyuki.
"Benarkah itu nak Panji" paman Bai bertanya kepada Panji.
__ADS_1
"Benar paman, kami dari tadi cuma jalan jalan karena aku ingin melihat kota Jepang ini" ucap Panji.
"Huff, baguslah kalau begitu, sekarang kalian masuk mandi dan setelah itu kita makan bersama bibik Ema sudah memasak Hotpot" ucap paman Bai.
"Wah kita akan makan Hotpot, asik" ucap Alex yang merasa senang.
"Ayo kalian mandi dan makan malam" ucap paman Bai.
"Apa Hotpot itu enak" tanya Panji karena belum pernah memakan Hotpot, karena di markas militer Panji hanya memakan makanan khusus tentara saja.
"Heh, tentu saja enak, nanti kamu coba dulu deh biar tau rasanya" ucap Miyuki.
"Emm" Panji.
Setelah itu mereka langsung masuk ke dalam rumah. Saat ini mereka tengah merayakan kesembuhan Ema.
"Wah bibi ini masakan bibi sangat enak" ucap Panji.
"Ara ara, kamu tidak perlu terlalu memuji mu, nak" ucap bibi Ema.
"Tapi ini beneran enak, kalau begitu aku ingin belajar masak" ucap Panji dengan antusias tinggi.
"Wah bagus itu nak. Oh iya kebetulan aku punya kenalan dia adalah koki terbaik di Jepang namanya Yukihira" ucap paman Bai.
"Baik paman, Terimakasih atas bantuannya" ucap Panji.
"Sama sama" ucap paman Bai.
__ADS_1