
“Handoko!..” panggil Ali, pelan. Ali dan Zia masuk ke dalam toilet pelan-pelan sambil memastikan tidak ada orang lain.
“Ah.. Ali, kamu sudah kembali, Alhamdulillah. Zia mau bantuin kita?”
“Hush! Enggak boleh bilang begitu di toilet” jawab Zia ketus. Entah kenapa Zia yakin dia akan menyesali apa yang akan dia lakukan bersama anak aneh ini.
“Oh.. iya, maaf. Tapi makasih sebelumnya ya Zia. sudah mau bantu aku”
“Ih.. siapa bilang! Kalo bukan karena Ali yang minta, mana sudi aku!”
“Iya ‘deh. Apa pun itu, makasih ya. Makasih banyak kalian berdua sudah ada di sini”
Zia masih kesal sama Ali karena sudah menyeretnya ke toilet untuk anak yang sama sekali tidak ingin dia jadikan teman. Ali sangat paham itu hanya dari tatapan Zia.
“Terus, ngapain kita di sini” tanya Zia masih ketus.
“Han, ayo.. kamu saja yang cerita!” kata Ali. Sejenak hening. Handoko mencoba memilih kata-kata untuk mengawali ceritanya. Dan seiring dengan makin hilangnya urat malu Handoko, cerita vulgar dan tak masuk akal itu pun tertutur tuntas dari mulut Handoko. Mulut Zia hanya ternganga mendengarkan cerita Handoko. Makin lama makin lebar sampai akhir cerita, mulutnya hampir terbuka sempurna. Ali yang sudah tahu saja masih geli bercampur takjub saat mendengar cerita Handoko. Ali juga belum bisa menebak bagaimana reaksi Zia selanjutnya. Apakah dia mau tertawa atau berteriak. Sempat beberapa detik mulut Zia tetap terbuka setelah cerita Handoko selesai. Entah dengan begitu bisa membantu Zia mencerna informasi yang baru diterimanya atau tidak.
“Ah.. ha ha ha... ah... gila” akhirnya mulut Zia mengeluarkan kata yang bisa dipahami. Sedari tadi sepanjang mendengarkan cerita, hanya potongan-potongan kata dan suara seperti orang tersedak. “Kok bisa kamu percaya sama Javin. Masak kamu enggak mikir ‘sih kalau tidak mungkin Javin memamerkan yang begitu di depan orang ramai. Bagaimana ‘sih sebenarnya otak kamu bekerja” ujar Zia kesal.
“Aku enggak langsung percaya juga. Makanya tadi pagi aku pastikan dulu sama Ali” jawab Handoko. Seketika Zia menatap Ali. Dia jadi sadar kenapa sahabatnya ini bersusah payah berusaha menolong. Ali juga langsung sadar kalau Zia pasti sudah salah paham lagi padanya.
“Eh! Jangan sembarangan ya! Mana pernah aku bilang telurnya Javin yang dimasukkan dalam botol. Lagian pertanyaan kamu tadi pagi juga bukan soal telur siapa yang dimasukkan. Kamu ‘kan Cuma tanya apa benar aku bikin sulap telur sama Javin akhir pekan kemarin. Ya memang benar. Mana aku tahu apa yang Javin sudah ceritakan sama kamu. Kamu Cuma memastikan sebagian cerita lalu menganggap seluruh cerita Javin benar” kata Ali membela diri.
“Gila.. hebat juga Javin. Dia bisa paham cara kerja otak si Handoko ini dan bisa mempengaruhinya sampai sebegitu rupa” ujar Zia takjub.
“Ya.. aku juga tadi sempat takjub, sama kayak kamu sekarang” timpal Ali.
__ADS_1
“Tapi kita enggak sama, Li. Kamu saja yang mengulang kesalahan yang sama”
“Loh! Kok aku yang salah. Kamu ‘kan dengar itu semua gara-gara Javin”
“Bukan, itu karena kamu tidak pernah memikirkan akibat dari sebuah ilmu. Masalah bulan lalu waktu satu sekolah panggil kamu anak tukang pembuat khamar, anak pendosa, bukannya sama seperti ini. Kamu ingin membuat orang terpesona dengan ilmu yang sudah kamu kuasai” gugat Zia
“Lalu apa salahnya! Bukannya hal yang baik kalau membuat orang-orang jadi melek ilmu. Daripada percaya sama dukun , jin dan sihir” kata Ali membela diri.
“Tapi kamu harus perhatikan pada siapa ilmu itu kamu tunjukkan. Apakah mereka cukup pintar, atau sebodoh Handoko.”
“Aku enggak bodoh ‘kok” kata suara dari dalam bilik.
“Diam!” teriak Ali dan Zia hampir bersamaan, menimpali suara itu. Keduanya sama-sama marah. Ali tidak terima disalahkan. Zia kesal karena sahabatnya masih tidak sadar kalau dia salah.
“Perlu kesiapan mental dan kecerdasan untuk sebuah ilmu baru. Jika dilemparkan langsung pada orang awam, ada risiko penerapan ilmunya yang bisa berbahaya. Bukannya bulan kemarin kamu merasakan hukuman sosial karena hal yang serupa?” kata Zia menegaskan maksudnya. “Dan kali ini malah membahayakan kesehatan,” – sambung Zia dengan tercekat – “... kalau tidak membahayakan nyawa” Zia menuntaskan kalimatnya dengan sedikit panik. Ali pun mulai sadar kepanikan Zia. Keadaannya memang bisa mengancam nyawa si bodoh ini, pikir Ali. Dia mulai pucat dan berkeringat. Zia merasa kasihan melihat sahabatnya baru menyadari masalah yang mereka hadapi.
“Tapi ini memang kesalahan umum dari seorang peneliti, ilmuwan, penemu. Mereka berpikir dari satu sudut pandang. Bagaimana membuat hal baru atau memecahkan masalah yang sedang dihadapinya. Makanya perlu ada banyak orang untuk menelaah ilmu dari sudut pandangnya masing-masing. Mengkaji akibat, risiko yang mungkin bisa ikut lahir bersamaan dengan penerapan sebuah ilmu baru. Makanya perlu orang-orang seperti ibuku. Perekayasa yang mengkaji dampak penerapan teknologi” ujar Zia sambil tersenyum.
“Baiklah. Anggap saja kamu benar. Lalu bagaimana kita bisa selesaikan masalah ini. Bagaimana kita mengeluarkan telur Handoko tolol ini, dari mulut botol. Wahai anak perekayasa yang luar biasa” tanya Ali dengan nada sinis.
“Aku enggak tolol!” teriak Handoko
“Diam!” teriak Ali dan Zia. Bersamaan dan lebih keras dari sebelumnya. “He he he.. tapi kamu bilang dulu kalau perekayasa lebih penting dari peneliti. Ibuku lebih hebat daripada ayahmu” kata Zia menggoda Ali.
“Ah.. Zia! Yang benar saja. Memangnya enggak ada waktu lain untuk kita bicara soal ini. Apa benar-benar harus sekarang” kata Ali tidak habis pikir.
“Ya sudah kalau enggak mau” kata Zia.
__ADS_1
“Okey! Baiklah! Kamu benar Zia. Perekayasa yang lebih penting. Dan ibu kamu memang lebih hebat dari ayahku. Gimana? Sudah puas sekarang!” jawab Ali kesal.
Zia tahu temannya tidak mengatakan itu sepenuh hati. Zia juga yakin nanti Ali akan mencari cara untuk membalas semua ini. Tapi untuk sementara, Zia memutuskan untuk menikmati sejenak kemenangannya. Senyumnya merekah puas. Membuat Ali sejenak membuang muka. Sampai akhirnya Ali berusaha untuk kembali pada masalah mereka.
“Jadi gimana Zia”
“Ya bilang sama Ustadz lah!” jawab Zia santai
“Jangan!” teriak Handoko dari balik pintu toilet.
“Yaa elaah!... Cuma gitu doank ide anak perekayasa. Kalo tinggal lapor sama ustadz ngapain aku repot-repot panggil kamu. Dari tadi juga aku bisa langsung ke ruangan Ustadz Shawab” jawab Ali kecewa. ”terlalu gaduh nanti kalau banyak orang yang tahu. Kita juga ikut malu” sambungnya.
“Lha.. harusnya ‘kan aku enggak bakal kena malu kalau kamu enggak ajak” teriak Zia protes.
“Jangan Zia. Jangan bilang siapa-siapa dulu. Aku mohon” kata Handoko sambil sedikit terisak. Zia jadi ikut merasa kasihan. Ali hanya mengangkat tangannya ke arah pintu toilet Handoko. Seolah menyetujui bahwa perasaan yang sama pula lah yang menyebabkan dia mau terlibat sampai sejauh ini. Kasihan.
“Aku percaya kalau kalian bantu, aku bisa keluarkan telurku dari botol. Yang masuk ‘kan Cuma satu. Kalau kalian lihat langsung mungkin kalian bisa lebih paham” kata Handoko seiring dengan suara kunci toilet yang terbuka.
“Jangan!” teriak Ali dan Zia sambil melompat menghambur ke pintu toilet Handoko. Mencegahnya untuk keluar. “ Enggak usah.. cukup. Sudah terbayang kok” sambung Zia. Ali Cuma bisa membuat ekspresi jijik bukan kepalang. Seolah isi perutnya ingin berhamburan keluar dari mulutnya.
“Coba dilaburi minyak saja!” ujar Zia dengan matanya berbinar bangga. Entah bagaimana ide itu bisa muncul di kepalanya, tapi dia percaya ini kan berhasil.
“Oh ya, lalu dari mana kita bisa dapat minyak? Minta sama siapa? Dan kalaupun ada yang mau kasih, kalau ditanya untuk apa, kamu mau jawab apa” tanya Ali. Zia memang belum memikirkan sampai sejauh itu. Tapi Zia percaya pasti ada cara.
“Aku tahu. Tunggu sebentar ya” kata Zia sambil berlari keluar.
“Jangan bilang siapa-siapa ya Zia” teriak Handoko.
__ADS_1
“Awas kalau kamu tidak balik lagi” teriak Ali.
Dan kini tinggallah Ali berdua saja dengan Handoko di dalam toilet. Situasi yang tidak pernah Ali bayangkan sebelumnya. Menakjubkan memang bagaimana takdir manusia dituliskan.