Bocah Pintar Anak Pembuat Khamar

Bocah Pintar Anak Pembuat Khamar
Pertemuan Tiga Sahabat Lama


__ADS_3



Pertemuan Tiga Sahabat Lama




Disha lega saat Neneknya bersedia ikut ustadzah Intan ke ruangan BP, tanpa gaduh, tanpa suara. Disha dengan santun membantu neneknya duduk di lantai. Tidak ada kursi di ruangan itu, hanya karpet empuk dan beberapa bantal yang ditumpuk di salah satu pojok karpet. Disha menawarkan salah satu bantal pada Neneknya namun ditolak. Jantung Disha masih berdegup kencang walaupun tidak seperti saat di luar tadi. Di sini lebih aman, di dalam ruangan. Apapun kata-kata memalukan yang keluar dari mulut Nenek tidak terdengar orang, pikir Disha.


Ayah Aira masih memegang pundak Aira yang berjalan di depannya saat masuk ke ruangan. Dari gejolak amarah dalam dadanya, sudah tidak dapat dipastikan apakah dia sedang melindungi Aira atau justru berlindung pada Aira agar dia tidak meluapkan amarahnya. Ayah Aira ikut duduk setelah Ustadzah Intan mempersilahkan dia dan anaknya. Ruangannya tidak besar, saat semua duduk melingkar di lantai, lutut Aira hampir bersentuhan dengan lutut Disha. Ayah Aira memperhatikan anaknya sama sekali tidak keberatan duduk sedekat itu dengan Disha. Diapun menyimpulkan kalau sebenarnya sudah tidak ada masalah di antara anak-anak.


“Alhamdulillaah, Nenek masih kuat, masih sehat” kata Ustadzah Intan berusaha meredakan ketegangan. “Jangan marah-marah lah Nek, nggak baik untuk kesehatan” sambungnya sambil tersenyum ramah.


“Ustadzah pikir saja sendiri! Who is not gonna mad watching their kids being bullied! Sebesar apapun marahnya Ibu Disha, dia tidak pernah menghukum Disha secara fisik. Tidak pernah!”


“Tidak ada yang memukul Disha, kok Nek. Disha Cuma disiram”


“Cuma disiram? Cuma? Enak sekali Ustadzah ngomong! Jadi mahasiswa yagn lagi demo ditembakin pakai meriam air itu juga Cuma disiram donk?”


“Ah, nggak segitunya juga lah Nek. Disiramnya kan enggak keras” tanggap Ustadzah Intan tersenyum. Susah juga menghadapi nenek-nenek yang lebay seperti ini, pikirnya. “Nggak ada yang sakit ‘kan Disha” tanya Ustadzah Intan. Disha ragu-ragu mengangguk. Dia takut disalahkan Nenek karena mengiyakan.


“Aira bukan anak nakal kok, Nek. Baru kali ini dia punya kelakuan aneh seperti ini“ kata Ustadzah Intan sambil menatap tajam pada Aira. Aira langsung menunduk, menghindari tatapan Ustadzah Intan. Dia takut. Aira tahu kalau dia salah. “Saya percaya Aira tidak akan melakukan ini lagi pada Disha, atau pada siapapun. Benar ‘kan Aira?” lanjut Ustadzah Intan. Yang ditanya Cuma bisa mengangguk gugup.


“So, just like that, Hah? Dimaafkan begitu saja? Tidak diberi hukuman apa-apa? Enak sekali! Begitulah pendidikan anak-anak jaman sekarang. Terlalu lembek. Kalau anak-anak bikin salah, Cuma dimaafkan dan dibiarkan. Hampir tidak berbekas. Jadinya besok dia akan mengulanginya lagi. Nge-bully lagi. Kalau dihukum yang keras, anak anak yang suka nge-bully akan takut walaupun tidak ada guru yang melihat. Jaman saya sekolah dulu, anak seperti ini sudah dipukul pakai rotan. Sampai membekas!”


“Saya minta maaf, Nek. Anak saya memang salah, tapi dia bukan anak yang suka nge-bully. Sebelumnya Aira tidak pernah begini. Mungkin saat itu emosi Aira sedikit terpancing saja”


“Oh, jadi menurut Bapak ini gara-gara Disha yang memancing emosi Aira? Begitu” tanggap Nenek sewot.


“Bukan begitu maksud saya. Tapi mungkin saja begitu ‘kan” sahut Ayah Aira. Nenek semakin sewot dan siap untuk membentak lagi. Tapi Ayah Aira buru-buru melanjutkan “Tapi memang Aira salah.semaraha apapun harusnya dia bisa mengendalikan diri” katanya sambil melirik tajam ke Aira.


“Saya berjanji akan menjaga anak saya lebih baik lagi. Insyaallaah tidak akan ada kejadian seperti ini lagi. Semoga saja tidak. Kalau sampai kejadian lagi..”kata Ayah Aira dengan nada geram, sambil melihat ke Aira, menepuk nepuk pundak Aira. “Entah hukuman apa yang bakal dia terima. Saya sendiri yang akan menghukumnya.” Aira takut bukan main. Disha pikir dia akan senang melihat Aira seperti itu. Ternyata tidak, Disha merasa kasihan.


“Kemarin dia juga sudah dihukum kok, Nek. Baju Disha yang kotor saya suruh Aira cuci sendiri, tengan tangannya. Mengeringkannya saja yang boleh pakai mesin cuci. Lalu dia juga yang setrika sampai rapi. Lama juga itu. Sampai lepas Isya belum kelar. Alhamdulillah juga, ada hikmahnya kejadian ini” kata Ayah Aira dengan raut muka yang lebih ramah. “Aira jadi bisa nyuci dan setrika sendiri” sambungnya sambil tersenyum.


“Beneran, Ra? Kamu bisa nyetrika sendiri” tanya Disha tidak percaya.


“Ya.. jadi bisa. Walaupun harus ngulang berapa kali. Eh.. pas aku mau ngasih ke kamu, malah kamu suruh bawa ke BP aja” jawab Aira


“Ooh.. pantesan tadi pagi kamu langsung jutek.. maaf ya. Aku nggak tahu”


“Tuh, Nek. Dengar sendiri ‘kan. Airanya sudah dihukum kok. Sudah janji tidak akan mengulangi lagi. Sudah tidak ada masalah lagi ‘kan? Ini anak-anaknya sudah akur, masak kita yang lebih dewasa tidak bisa.”


“Generasi nenek yang mendidik kami sekarang, sehingga kami tidak harus dipukul untuk mengerti. Dan itu yang kami coba teruskan pada anak-anak sekarang. Kita semua ingin anak anak kita jadi generasi yang santun dan lemah lembut. Cukup dinasehati sudah mengerti. Sepertinya sejauh ini, menurut saya, sudah sangat baik. Sekolah ini sudah sangat membantu kita mendidik generasi seperti yang kita harapkan. Hukuman memang perlu, tapi membuat hukuman yang mendidik lebih penting” kata Ayah Aira lagi.

__ADS_1


“Yaa.. mungkin demikian. Insyaallaah demikian. Kita memang ingin anak-anak kita jadi generasi yang santun, penyabar…””


“Ustadz yang jadi guru BP disini ya?


Orang baru atau sudah lama disini?


Kenapa kemarin anak saya bisa sampai begitu?”


Teriakan keras dari luar itu memotong kata-kata Nenek. Semua yang di dalam ruangan terdiam. Bertanya-tanya apa yang terjdi di luar. Samar-samar terdengar suara Ustadz Shawab. Lalu kemudian terdengar teriakan lagi.


“Memang benar, nggak mungkin bisa mengawasi anak-anak sampai ke toilet. Tapi Bapak ‘kan bisa mencegah supaya tidak ada anak yang menghasut temannya untuk temannya untuk melakukan yang bukan-bukan. Tugasnya Bapak ‘kan, sebagai guru BP memperbaiki akhlak anak-anak. Terutama yang sudah terlanjur rusak.”


Kejadian di Toilet! Jangan-jangan …, pikiran Aira Cuma sampai pada satu kesimpulan. Dia bergegas keluar ruangan. Ayahnya hanya bengong melihat anaknya yang tiba tiba menjadi sigap. Ustadzah Intan juga punya dugaan yang sama dengan Aira. “Haduuh.. apa lagi ini…” katanya meratap pada dirinya sendiri sambil memijit-mijit kepalanya.


Saat Aira keluar, yang dia lihat semuanya sudah keluar dari ruangan BP. Ali berdiri merapat dengan Ustadz Shawab. Laki-laki bertubuh gempa di hadapan mereka sepertinya yang berteriak. Ada Handoko yang bersembunyi dibalik orang itu. Jadi ini ayahnya Handoko, pantas saja! Pikir Aira.


Ayah Aira sejenak ragu untuk ikut meninggalkan ruangan. Dia belum yakin apakah Nenek Disha sudah bisa menganggap permasalahan mereka selesai. “saya.. permisi dulu”ujar Ayah Aira lirih. Nenek Disha hanya mengangguk pelan. Disha sepertinya tidak peduli, dia sama penasarannya dengan Ayah Aira tentang apa yang terjadi di luar. Tapi Disha tidak berani keluar, meninggalkan neneknya berdua saja dengan Ustadzah Intan. Ustadzah Intan sepertinya sudah sampai pada batas ketahanannya. Dua hari berturut-turut menghadapi kejadian-kejadian aneh dengan murid-muridnya sungguh menguras semua daya tahan mentalnya. Dia memilih untuk tetap di ruangan, mengabaikan apa yang sedang terjadi di luar. Walaupun dia yakin itu adalah masalah antara Ali dan Handoko, murid-muridnya juga.


Ayah yang sedari tadi menunggu di perkarangan jadi ikut memperhatikan asal datangnya teriakan. Begitu sadar datangnya dari depan pintu ruangan BP, perasaannya jadi tidak enak. Dia khawatir firasat buruknya pada Ali jadi kenyataan. Ayah pun bergegas menuju ke ruang BP. Rasa cemas langsung membanjiri dadanya begitu melihat Ali berdiri di depan orang yang berteriak tadi. Posisi berdiri Ali yagn merapatkan punggungnya ke perut Ustadz Shawab menjelaskan kalau Ali sedang cari perlindungan.


“Ini semua pasti gara-gara Ali si anak pemabuk itu. Kalau dia tidak menghasut anak saya, enggak mungkin main-main yang begituan. Latihan adzan kok pake pijit-pijit itu. Mana ada cara begitu!” Lanjut ayahnya Handoko. Ustadz Shawab dan Ali tahu kalau ayahnya Handoko sudah salah paham. Cuma yang mereka tidak habis pikir, kenapa ceritanya jadi melenceng jauh sekali, sampai-sampai mereka tidak mengerti apa yang ayah Handoko ceritakan, apalagi untuk meluruskan kesalahpahaman.


“Om jangan sembarangan bicara ya!” sembur Aira sambil menghambur keluar ruang BP.


“Aira! Ngapain sih!” panggil Ayah Aira sambil bergegas menyusul anaknya. Dia kaget sekali melihat kelakuan Aira. Terlalu banyak hal tidak terduga yang sudah dilakukan Aira. Ayah Aira jadi sedikit khawatir kalau dia mulai tidak mengenal lagi anaknya.


“Kamu yang namanya Ali ya!” bentak ayahnya Handoko pada Ali. “Kamu jangan berteman lagi dengan anak saya”


“Tunggu dulu pak. Ada apa ini. Kenapa Bapak tiba-tiba membentak anak saya” kata Ayah yang baru datang ke tempat kejadian. Ayah langsung berdiri di antara Ayah Handoko dan Ali.


“Oh, Kamu Bapaknya. Tolong jaga anakmu yang benar. Jangan menyebarkan pengaruh buruk untuk anak-anak lain. Orang-orang bayar mahal mahal buat anaknya sekolah di sini biar jadi anak baik” lanjut Ayah Handoko. Ayah baru saja hendak bicara, namun belum sempat suaranya keluar.


“Gilang!. Gilang ‘kan? Lagi ngapain kamu disini” panggil Ayah Aira.


“Lho.. Bintang? Kamu… anakmu sekolah di sini juga” sahut Ayah Handoko. Pak Bintang hanya menunjuk ke arah Aira yang sudah dalam sikap siap berperang. “Kok kamu keluar dari ruang BP?” tanya Pak Gilang lagi.


“Ooh.. kamu juga mau protes sama guru BP nya ya.. sama, aku juga. Memang enggak becus kerjanya orang ini. Ayok, kita ke ruangan kepala sekolah. Kita laporkan semuanya, biar dia dipecat sekalian” ujar Pak Gilang tanpa ragu dengan kesimpulan yang baru saja dia ambil.


Sejenak, semuanya masih terdiam di tempat berdirinya masing-masing. Semua mencoba mencermati apa sebenarnya yang sedang terjadi. Ustadz Shawab yang awalnya bergerak. Sambil menjulurkan tangannya, dia mempersilahkan Pak Gilang untuk berjalan menuju kantor kepala sekolah sambil pelan-pelan mengiringinya.


Kepala Sekolah kebetulan baru saja keluar ruangan untuk mengantarkan Ayah Javin berpamitan. Ayah javin masih menggaruk-garuk alisnya, berharap itu bisa mengusir penatnya dalam memimpin rapat komite orang tua murid. Soal perdebatan soal pengeluaran lomba anak-anak saja bisa sebegitu alotnya. Padahal ‘kan itu anak-anak mereka sendiri, Ayah Javin membatin tak habis pikir. Ayah Javin melemparkan senyum pada Ustadz Shawab yang sedang mendekat. Namun dia kaget melihat dengan siapa Ustadz Shawab datang.


“Gilang? Kok kamu ada disini?” tanya Ayah Javin .


“Lhaa.. ada kamu juga, Ga. Kok kebetulan banget ya. Itu barusan aku ketemu Bintang juga. Masyaallaah, udah lama banget kita bertiga nggak ketemu.”


Pak Bintang hanya menggelengkan sedikit kepalanya untuk menyapa Pak Rangga. Melihat wajah temannya yang tegang, Pak Rangga sadar sepertinya sedang ada masalah penting. “kalo sama Bintang aku sudah sering ketemu, Aira ‘kan pernah sekelas sama Javin. Kamu yang kemana aja?” kata Pak Rangga.

__ADS_1


“Lhaa.. anakku juga sekolah disini. Ini!” kata Pak Gilang sambil menunjuk ke Handoko. “”Han, sana! kamu salim sama temen Papa” lanjutnya pada Handoko. Segera setelah Handoko bersalaman dengan Pak Rangga, semua keadaan menjadi tenang. Seolah semua jadi normal lagi. Orang-orang yang tadinya menonton karena Pak Gilang berteriak, kembali ke kegiatannya masing-masing. Sudah tidak ada yang menarik untuk dilihat.


“Ada apa sih, tumben-tumbenan kamu ke sekolah” tanya Pak Rangga.


“Ini, kemaren Handoko dikerjain temannya di toilet” sahut Pak Gilang. Ayah, Ustadz Shawab, Aira dan Ustadz Khairul berjengit mendengar komentar Pak Gilang yang sembarangan. Cuma Pak Bintang yang masih mendengar dengan ekspresi datar. Pak Rangga kenal betul bagaimana tabiat Pak Gilang, sahabatnya di bangku kuliah. Hampir pasti setiap pernyataan Gilang perlu ditinjau ulang.


Pak Rangga lalu berbisik pada Ustadz Khairul, dan kemudian dia mendapatkan versi cerita yang lain dari sang kepala sekolah.


“Hah.. kok bisa?” teriakan Pak Rangga jelas terlalu keras. Namun dia segera menutup mulutnya dengan tangan sambil terus mendengar sisa cerita dari Ustadz Khairul. Ayah, Ali, Aira dan Ustadz Shawab hanya senyum-senyum kecil melihat tanggapan Pak Rangga. Hanya Ayah Aira yang masih kebingungan. Sementara Pak Gilang menunggu Ustadz Khairul menyelesaikan ceritanya dengan penuh percaya diri. Rangga pasti akan mendukung aku kali ini. Dia ‘kan temanku, pikirnya.


Ayah Aira yakin kalau anaknya tidak akan menceritakan padanya apa yang sebenarnya terjadi. Andai dia mau, pastilah sudah dia ceritakan sejak kemarin. Maka Ayah Aira mengambil inisiatif yang agak radikal. “Li, kenapa sampai kamu dimusuhi sebegitu rupa sama ayahnya Handoko” tanyanya. Ayah pura-pura tidak dengar. Aira yang kaget mendengar pertanyaan ayahnya. Perasaannya campur aduk tidak karuan.


Ali hanya melambaikan tangan sebagai isyarat dia ingin membisikkan sesuatu pada Ayah Aira. Ayah Aira pun menurut. Aira makin kaget melihat apa sedang terjadi antara Ali dan Ayahnya. Awalnya Pak Bintang tersenyum-senyum kecil saat mendengarkan cerita yang dibisikkan Ali. Sampai akhirnya Pak Bintang tertawa terbahak-bahak setelah mendengar ceritanya utuh. Pak Rangga yang lebih dulu mendengar cerita lengkapnya dari Ustadz Khairul sempat sebentar mampu menahan tawa. Namun setelah mendengar Pak Bintang tertawa, dia pun akhirnya tidak mampu menahannya lagi. Suara tawa keduanya mengisi seluruh perkarangan sekolah.


“Benar ‘kan kataku! Guru Bp ini tidak becus dalam menjaga akhlak anak-anak kita dari pengaruh buruk anak-anak nakal. Harusnya dia justru bisa mencegah ini terjadi sejak dari pendaftaran murid baru. Anak anak dari latar belakang yang bermasalah sekalian saja tidak usah diterima” kata Pak Gilang lantang.


“Sabar dulu. Ini bukan masalah serius kok, ha ha ha” kata Pak Rangga di sela-sela tawanya.


“Enggak serius gimana? Kalau kemarin penanganannya salah, Handoko bisa mati. Atau mungkin tidak bisa punya anak” balas Pak Gilang.


Pak Rangga dan Pak Bintang justru tertawa makin keras mendengar kata-kata Pak Gilang tadi. “Apaan sih, apanya yang lucu” sambung Pak Gilang tidak terima.


“Bukan begitu maksudku” sahut Pak Rangga sambil berusaha mengendalikan dirinya. “Aku sepakat dengan kamu soal kejadian kemarin sangat berbahaya dan tidak boleh terulang lagi”


“Naah.. gitu donk. Baru namanya teman!” sahut Pak Gilang senang.


“Tapi, perlu kamu ingat juga kecelakaan Handoko itu bisa terjadi bukan Cuma pada anak-anak. Bahkan mahasiswa pun bisa mengalami hal yang sama. Ha ha ha ha” Pak Rangga kembali tertawa.


“Seperti saat habis makan di Restoran Padang, sebelum kita cari batang pisang” timpal Pak Bintang yang disambung dengan tawa yang lebih deras dari mulut Pak Rangga. “Masih ingat juga kau Bin” sahutnya. Hingga beberapa detik berikutnya, Pak Rangga dan Pak Bintang masih melanjutkan tawanya.


“Ah.. itu beda. Yang waktu itu ‘kan benar-benar kecelakaan yang tidak disengaja. Kalau Handoko ‘kan sengaja dihasut sampai dia mau melakukannya”


“Sudah lah, Lang. Sama saja. Sama seperti kamu ingin melupakan kejadian yang kamu bilang kecelakaan itu, kami pun ingin kamu melupakan kejadian kemarin. Sudah, maafkan saja. Anggap saja kekonyolan anak-anak. Andia kamu besar besarkan masalah ini, kamu sendiri yang akan malu. Apa kamu mau semua orang tahu soal kecelakaan di restoran padang itu?” terang Pak Rangga.


“Emang ada kecelakaan apa, sih Pa?”tanya Handoko penasaran. Rasa penasaran yang sama juga mengganggu Ali, Ayah dan yang lainnya.


“Enggak ada! Ini temen-temen Papa lagi iseng aja ngegodain Papa”


“Kalau kamu mau tahu ceritanya, nanti pulang tanya saja pada Mama ya Han” ujar Pak Bintang pada Handoko.


“Jangan! Sudah enggak usah. Sudah! Lupakan saja” potong Pak Gilang.


“Lagian juga kalau mau nanya, Mama nggak ada! Lagi di rumah Opa. Tadi malam Mama marah sama Papa gara-gara Papa mau ke sekolah hari ini buat marahin Ali. Mama bilang kalau Papa tetap ke sekolah, Mama mau ke rumah Opa aja. Papanya bandel pengen tetap ke sekolah. Jadi aja…”Handoko tidak bisa meneruskan ceritanya. Mulutnya buru-buru ditutup oleh Pak Gilang.


“Hush!.. sudah, sudah. Ayo kita pulang.” kata Pak Gilang sambil bergegas berjalan, menggiring Handoko ke gerbang sekolah. Sebentar Pak Gilang sempat menoleh ke belakang untuk mengangguk ke arah Pak Rangga dan Pak Bintang. Mungkin maksudnya untuk isyarat berpamitan. Saat itu Handoko berhasil melepaskan tangan ayahnya yang membekap mulutnya.


“Gimana kalo kita ke rumah Opa saja, Pa. Jemput Mama” kata Handoko. Suaranya terlalu kencang sehingga semuanya bisa mendengarkan. Pak Rangga dan Pak Bintang kembali tertawa.

__ADS_1


“Salam buat Kiky, ya Lang!” teriak pak Bintang. Pak Gilang hanya melambaikan tangannya sambil mempercepat langkahnya ke gerbang sekolah.


__ADS_2