
“Aku tidak bodoh ‘kok, Li” ujar Handoko lirih dari balik bilik toilet. Suaranya bergetar. Mungkin sambil menangis, Ali juga tidak begitu yakin. “Ibuku selalu bilang tidak ada manusia yang bodoh, apalagi terlahir bodoh. Masing-masing terlahir unik, makanya perlu cara belajar yang berbeda. Kita Cuma perlu menemukan cara belajar yang paling sesuai dengan diri kita” kata Handoko lagi. Kali ini suaranya sudah lebih datar.
Ali berusaha sopan dan mendengarkan. Semua orang tua akan berkata demikian pada anaknya, pikir Ali. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan ibunya Handoko bila kejadian ini sampai jadi bahan omongan satu sekolah.
“Kenapa kamu bisa begitu percaya sama Javin? Padahal bukan Cuma kali ini kamu dikerjai oleh Javin. Bukannya kamu harusnya belajar dari pengalaman?” tanya Ali.
“Javin itu keren, Li. Pintar, punya banyak teman. Yaa.. mungkin dalam urusan hafalan Al Quran dia tidak jauh beda dengan aku. Masih tidak sebaik kamu dan Zia. Tapi untuk yang lainnya, sepertinya semua yang dia inginkan bisa terjadi. Jika dia melucu, teman-teman di sekelilingnya ikut tertawa. Lalu kemudian bila dia bicara, teman temannya mendengarkan sungguh-sungguh. Sampai akhirnya saat dia minta tolong, atau bahkan memerintah, teman-temannya juga patuh.”
Barulah jelas semuanya bagi Ali. Handoko mengagumi Javin. Alasan mengapa Handoko berkali-kali dijahili Javin karena memang Handoko tidak pernah menghindar. Dia selalu ada di sekitar Javin. Mengamati dari jauh, berharap suatu saat bisa menjadi salah satu teman Javin. Ini semua akan sangat mengherankan buat Ali andai saja dia tidak melihat pribadi Javin dan keluarganya di akhir pekan kemarin.
“Aku Cuma pengen tunjukkan kalau aku juga bisa seperti Javin” lanjut Handoko lagi. “Sulap telur yang dia banggakan di depan teman-temannya itu. Yang katanya ingin juga dia pamerkan lagi tanpa perlu bantuan kamu, aku juga pengen bisa. Aku pengen buktikan sama Javin kalau aku bisa melakukannya sendiri. Atau jika nanti tidak ada yang peduli, paling tidak aku buktikan pada diriku sendiri kalau aku juga bisa.”
__ADS_1
Ali cuma tersenyum kecil. Dia baru tersadar arti dari pelajaran yang dia dapat minggu lalu. “Kamu salah, Han. Dan sejujurnya aku sendiri baru mengerti soal ini. Aku juga sudah salah. Alasan aku belajar ilmu, menceritakan bagaimana ayahku mengembangkan ilmu, memamerkan ilmu lewat pertunjukan sulap, alasan terbesarnya memang untuk pamer semata. Biar semua orang terpana sama aku. Benar kata Zia, aku tidak pernah memikirkan dampak yang mungkin ikut lahir dari ilmu yang aku tunjukkan, cerita yang aku pamerkan.”
“Akhir pekan yang lalu aku mendengarkan nasihat ini. Tapi baru sekarang aku bisa memahaminya. Jika ilmu digunakan untuk melayani iman, maka Allaah akan ridha dan ilmu itu akan berkembang, bermanfaat untuk kemashlahatan ummat. Jika ilmu digunakan hanya untuk melayani ilmu pengetahuan itu sendiri, maka ilmu tidak akan ke mana-mana. Berkutat di situ-situ saja dengan masalahnya sendiri. Dan yang terburuk saat ilmu digunakan untuk melayani nafsu, seperti kesalahan yang sudah kita lakukan, maka hanya membawa kehancuran dan musibah.
Aku sudah menghancurkan nama baikku dan bahkan juga ayahku karena menceritakan ilmu membuat bensin dari kayu supaya terlihat keren. Dan kamu sendiri jadi tersangkut seperti ini juga karena bernafsu ingin sehebat Javin, ingin diakui sebagai temannya, dengan menguasai sulap telur.”
“Itu sebenarnya sulap sederhana. Semua orang bisa mempelajarinya di internet. Tapi seseorang memaksa Ayahku untuk menampilkan sulap itu di acara perusahaannya. Tujuan dia memang mulia, melayani iman! Supaya karyawannya sadar kecelakaan di pabriknya bukan karena sihir, jin atau ilmu hitam seperti yang mereka kira. Itu murni keteledoran cara kerja yang bisa dijelaskan dengan ilmu pengetahuan” sambung Ali.
Ali tertawa kecil. Dia juga baru sadar kalau akhir pekan kemarin ayahnya dibayar untuk jadi tukang sulap. “Itu dia yang ironis, Han. Orang bijak itu Ayahnya Javin” kata Ali. Dan tanggapan Handoko atas jawabannya bikin Ali makin terperanjat.
“Tuh.. Kaan! Apa aku bilang. Javin itu memang keren! Dan sekarang aku jadi paham dari mana dia dapat semua hal keren itu. Ternyata diturunkan dari ayahnya. Benar kata Ibu. Anak laki-laki tumbuh sebagaimana ayahnya. Like father like son. Kata ibu aku juga unik seperti ayahku” kata Handoko senang. Sejenak dia lupa masalahnya.
__ADS_1
Zia kembali! Dengan sekantung plastik jajanan di tangannya. Nafasnya sedikit terengah-engah setelah berlari dari kantin. Sambil berjalan mendekati Ali dikeluarkannya isi plastik. Pisang goreng.
Ah.. yaa.. pisang goreng! Kenapa tidak terpikirkan sebelumnya, Ali membatin. Ali Cuma pernah coba makan pisang goreng itu sekali. Minyaknya yang terlalu banyak bikin Ali batuk dan asmanya kumat. Zia pun akhirnya ikut menghindari jajan pisang goreng kantin karena dia biasanya pergi ke jajan bersama Ali.
“Hebat kamu Zia! Kok bisa kepikiran” puji Ali.
“Justru kamu yang mengherankan. Kok baru tahu kalo aku hebat” jawab Zia sombong. “Enggak Cuma minyaknya yang bakal bikin licin, pisangnya juga” sambung Zia.
“Han!” panggil Zia sambil mengetuk bilik toilet Handoko. Kunci bilik dibuka, tapi Zia menahannya dari luar agar tidak terbuka terlalu lebar. Mencegah Handoko menerobos keluar. Andai Handoko menjalankan rencananya, maka membayangkannya saja sudah sangat menjijikkan buat Zia. Apalagi kalau harus melihatnya secara langsung. Kantung plastiknya disodorkan lewat celah pintu dan diterima Handoko.
“Apa yang harus aku lakukan dengan pisang goreng ini?” tanya Handoko polos.
__ADS_1