Bocah Pintar Anak Pembuat Khamar

Bocah Pintar Anak Pembuat Khamar
Album Rangga


__ADS_3

Ruangan kerja Ayah Javin memang selalu mengagumkan buat Ayah. Punya ruangan seperti ini memang sudah jadi impian Ayah sejak dari kuliah. Luasnya cukup untuk sebuah meja kerja kayu, beberapa lemari penyimpanan berkas tersusun rapi di belakang dan salah satunya lemari es. Lalu ada satu set sofa yang nyaman untuk menyambut tamu dengan cara yang lebih santai. Dan disitulah mereka sekarang, Ayah dan Ayah Javin membicarakan perkembangan persiapan pendaftaran ISO 9001 untuk perusahaan Ayah Javin.


“Yaa.. saya memang sangat terbantu sejak Pak Kismanto jadi manajer pabrik disini,” tanggap Ayah Javin. Setelah Ayah menjelaskan bagaimana semua penyiapan dokumen pendaftaran ISO 9001 bisa lancar karena manajer pabriknya sangat mudah diajak bekerja sama. “Kismanto itu dulu teknisi di pabrik jamu” sambung Ayah Javin sambil mengambil dua botol teh kemasan dari lemari es.


“Jadi saat kami beli boiler untuk sterilisasi keluaran terbaru, saya dapat khabar kalau di Indonesia, pabrik yang sudah pakai boiler yang sama itu ya Cuma pabrik jamu tempat kerjanya Kismanto. Saya coba hubungi pabrik jamunya, niatnya buat cari teman, kalau-kalau nanti boilernya ada masalah jadi tahu harus tanya kemana. Ternyata Kismanto yang bertanggung jawab pada boiler itu baru saja mengundurkan diri. Pabriknya balik lagi pakai boiler yang lama, untungnya belum dijual” cerita Ayah Javin sambil berjalan menuju ke sofa tempat Ayah.


Sambil menyodorkan salah satu botol teh yang sejuk, Ayah Javin melanjutkan cerita. “Kemampuan Kismanto menjalankan boiler memang tidak perlu diragukan lagi. Kepatuhannya pada prosedur juga luar biasa, walaupun dia tidak paham sepenuhnya kenapa prosedurnya harus demikian. Makanya saya senang ada Bapak yang bisa menjelaskan pada Kismanto.”


“Ah.. saya Cuma menterjemahkan prosedurnya ke bahasa Indonesia kok Pak” jawab Ayah merendah.


“Enggak lah pak, lebih dari itu. Bapak banyak memberi pelajaran berharga buat Kismanto, terutama penjelasan tentang prosedurnya. Alhamdulillaah, terima kasih banyak Pak. Saat dia tahu kenapa prosedurnya harus begitu, lebih mudah baginya untuk patuh. Soalnya Kismanto itu walaupun sarjana tetapi wawasannya masih.. eh.. unik” kata Ayah Javin. Ayah jadi makin tertarik menantikan penjelasan maksud uniknya.


“Jadi alasan kenapa dia keluar dari pabrik jamu itu karena, menurut dia, persaingan antar karyawan di sana sudah tidak sehat. Sudah main guna-guna”ujar Ayah Javin sambil tersenyum. Mungkin karena malu dengan kalimat yang baru saja dia ucapkan.

__ADS_1


“Ha, gimana pak?”sahut Ayah tidak percaya.


“Iya.. jadi Kismanto cerita, yang punya pabrik tiba-tiba melantik salah satu keponakannya jadi penjaga gudang karena sebelumnya banyak bahan kimia yang hilang atau dilaporkan sudah habis. Menurut dia posisi penjaga gudang ini sudah jadi incaran banyak teman-temannya sesama teknisi. Tapi yang jadi penjaga gudang justru keponakan pemilik pabrik yang baru saja lulus SMA akuntansi.


“Naah, si penjaga gudang ini entah karena disuruh atau inisiatif sendiri, membuat ruang kerjanya di dalam gudang. Mungkin dipikirnya, biar bisa sekaligus menjaga isi gudang dari maling. Entahlah, tapi yang pasti ruangannya dibikin mewah, pakai karpet dan AC segala. Ini malah bikin teman-teman Kismanto makin cemburu. Belum genap setahun, si penjaga gudang baru itu mulai batuk-batuk darah. Lalu setahun lebih sedikit, dia meninggal”. Ayah terkesiap dan makin memperhatikan cerita Ayah Javin.


“Pemilik pabrik kemudian menunjuk Kismanto jadi penjaga gudang. Kismanto sampai dia mulai bekerja disini masih percaya kalau penjaga gudang sebelumnya mati karena diguna-guna. Jadi dia memilih keluar daripada ikut mati konyol” tutup Ayah Javin sambil tertawa terbahak-bahak. Sepertinya sudah sejak bercerita tadi dia berusaha menahan tawanya. Ayah sebenarnya masih bingung bagaimana pantasnya bersikap, di satu sisi keyakinan Kismanto tentang guna-guna memang menggelikan. Tapi di sisi lain, yang sedang dibicarakan memang kematian, tidak sopan jika sambil tertawa.


Setelah tawanya mereda, Ayah Javin justru melanjutkan ceritanya dengan nada menyesal. “Saya sebenarnya merasa bersalah juga karena ikut menikmati pemahaman Kismanto yang salah itu. Saya biarkan dia percaya kalau teman kerjanya dulu mati karena diguna-guna.”


“Sudah pernah saya coba mengajak Kismanto menelaah lagi apa yang terjadi. Gudang dan tempat kerja memang tidak sehat untuk disatukan. Apalagi menurut Kismanto, ruang kerja di dalam gudang itu dipasang AC. Dan supaya ruangannya tetap dingin, semua jendela dan lubang ventilasi ditutup. Jelas aja semua bahan kimia, pelarut-pelarut yang di dalam gudang itu, uapnya Cuma muter-muter di dalam ruangan. Dan itu terhirup oleh si penjaga gudang selama berhari-hari. Terang saja jadi muntah darah”.


“Sayangnya saya cuma bicara begitu sekali dengan Kismanto. Mungkin dia juga belum yakin dengan kata-kata saya. Masih percaya itu karena guna –guna. Akhirnya yang terjadi dengan gentong boiler yang penyok pun dia percaya karena sihir dan jin.”

__ADS_1


“Alhamdulillaah, ada Bapak yang memberikan pelatihan tentang ISO 9001 kali ini. Memberi penjelasan yang logis dan ilmiah untuk setiap prosedur penggunaan peralatan, berikut prosedur keselamatan kerjanya. Yang Bapak lakukan itu tidak hanya menyelamatkan keselamatan dan kesehatan karyawan saya, tapi juga tauhid dan keimanan mereka. Jadi sekali lagi, terima kasih banyak pak.”


Ayah cuma tersenyum menanggapi Ayah Javin. Ayah lega, ternyata memang tidak ada hubungannya kematian teman kerja Pak Kismanto dengan Ayah Javin. Tidak ada sabotase atau hal buruk lainnya seperti yang banyak diceritakan di film-film drama. Senyum Ayah sebenarnya lebih pada menertawakan dirinya sendiri. Ayah membangun dugaan dalam hati karena telalu banyak nonton film. Keanehan senyum ayah ini juga disadari Ayah Javin.


“Sepertinya, yang membuat Bapak penasaran bukan Cuma alasan kenapa Kismanto percaya jin dan guna-guna ya” tebak Ayah Javin. Ayah kaget! Lalu mencoba mencari-cari jawaban apa yang tepat.


“Oh, iya.. anu… eh.. soal kemarin pak. Soal kejadian di sekolah dengan Pak Gilang. Kok bisa amarah Pak Gilang langsung reda begitu ketemu sama Bapak dan Ayah Aira” jawab Ayah. Ayah Javin langsung tertawa terbahak-bahak. Ayah lega, tidak ketahuan telah mencurigai Ayah Javin dalam hatinya. “Sebentar ya pak” kata Ayah Javin sambil bangun dari sofa dan berjalan menuju salah satu lemarinya. Dia masih tertawa geli sepanjang jalannya. Setelah mendapatkan buku yang dia cari, dia berjalan kembali ke sofa sambil mulai bercerita.


“Pak Gilang, Pak Bintang dan saya itu dulu kuliah di kampus yang sama, Cuma beda jurusan. Mungkin karena beda jurusan makanya kami bisa akrab. Saat kami berkumpul, kami rehat sejenak dari semua urusan kuliah. Dan sebenarnya masih sering kumpul-kumpul sampai kami sudah punya anak. Tapi belakangan, karena kesibukan masing-masing, lama kami tidak kumpul kumpul lagi. Seingat saya terakhir kami kumpul waktu ulang tahun Handoko yang pertama.”


“Setelah itu sepertinya Gilang sibuk karena banyak buka cabang kedai kopinya. Gilang jadi sering keluar kota. Sepertinya Kiky, istrinya, juga jarang ikut hadir di acara sekolahan. Mungkin sering ikut Gilang berpergian, entahlah. Pokoknya kami jadi jarang kumpul lagi beberapa tahun belakangan ini. Makanya saya baru tahu kalau Handoko satu sekolah dengan anak-anak kita. Soalnya rumah mereka ‘kan jauh dari sekolah, jadi saya pikir Handoko disekolahkan di dekat rumah mereka saja.”


Ayah masih menyimak ceritanya dengan penasaran. Jawaban yang ditunggunya masih belum didapatkan. “Lalu, kenapa Pak Gilang tidak marah lagi soal.. eh.. insiden yang terjadi pada anaknya setelah ketemu sama Bapak dan Pak Bintang?” Tanya Ayah memberanikan diri.

__ADS_1


“Nah .. iya, ha ha ha, itu yang ingin saya tunjukkan pada Bapak. Dulu kami pernah mengalami kejadian lucu. Sama Bintang ditulis jadi cerpen, terus dikirim ke surat kabar. Eh, ternyata dimuat. Mungkin redakturnya paham kalau ceritanya tidak dibuat-buat, ha ha ha”sahut Ayah Javin. Lalu dia menyerahkan buku besar pada Ayah, yang ternyata adalah album foto.


Ayah mengamati album tersebut, halaman demi halaman. Hampir semua foto-foto masa muda Ayah Javin dengan kedua sahabatnya, Pak Bintang ayahnya Aira dan Pak Gilang ayahnya Handoko. “Cerpennya ada di halaman belakang”kata Ayah Javin. Ayah segera membuka halaman yang dimaksud. Dia menemukan potongan surat kabar mengisi penuh halaman album. Cerpen yang berjudul Sambal Pembunuh Naga.


__ADS_2