Bocah Pintar Anak Pembuat Khamar

Bocah Pintar Anak Pembuat Khamar
Kenapa Harus Gandhi


__ADS_3

“Di kelas Adek, apa udah dibagi siapa yang harus ikut apa untuk lomba antar kelas nanti” tanya Kakak saat makan malam. Ali bahkan sampai lupa dengan apa yang membuatnya khawatir setengah mati tadi pagi. Dasar anak-anak! Dan sekarang saat mengingatnya lagi, beef teriyaki kesukaannya pun jadi terasa pahit. Teringat kembali gambaran keadaan yang dikhayalkan Zia. Selera makannya pun langsung jadi hilang.


“Memangnya Kakak ikut apa” tanya Ibu.


“Biasa lah, Cerdas Cermat. Bertiga ‘Kan bu. Jadi santai aja. Kalo aku enggak bisa, ada yang lain yang jawab,” jawab Kakak. “Adek ikut lomba apa?” sambungnya lagi, masih belum puas karena dari tadi belum dijawab.


“PILDACIL”jawab Ali singkat.


“Hah! Kenapa pilih itu? Itu ‘kan susah! Kenapa enggak pilih yang gampang-gampang aja, mewarnai ‘Kek!” protes Kakak.


“Bukan aku yang mau! Ustadzahnya yang pilih”


“Ya bilang lah! Enggak mau, gitu. Atau enggak bisa. Ah… parah memang Adek ini. Atau kenapa nggak pilih Musabaqah aja. ‘Kan gampang, tinggal ngaji”


“Udah ada Zia yang ikut, dia pun dipilihin Ustadz Rahmat”


“Ih… aduh… Kenapa PILDACIL ‘Sih” sahut Kakak masih meratap.


“Ya… sudahlah! Mau gimana lagi,” sahut Ibu. “Kita siapin aja si Adek sebisanya kita. Adek harus bicara soal apa?” tanya Ibu.


“Temanya soal pahlawan Bu” justru Kakak yang jawab.


“Ooo… terus Adek mau cerita soal pahlawan siapa” tanya Ibu lagi. Kali ini Kakak Cuma ikut melihat ke arah Ali.


“Enggak tahu” jawab Ali polos.


“Tuuh… ‘Kaan.. dia mah suka gitu! Suka malu-maluin” sahut Kakak bersungut sungut.


“Apaan “Sih Kak! Belum apa-apa udah su’udzon sama adeknya. Enggak mungkin lah jadi malu-maluin. Ustadzah Intan pasti udah siapin materi buat Ali. Dia ‘kan juga enggak mau kelasnya kelihatan jelek. Tidak dapat prestasi di lomba antar kelas” sahut Ayah.


“Mana ada! Materinya tulis sendiri” sahut Kakak sewot.


“Tahu dari mana, emang Kakak pernah ikutan”


“Ih… teman-teman aku, yang ikutan PILDACIL semuanya tulis sendiri materinya” balas Kakak tidak mau kalah.


“Ooo… ya udah. Ayah bikininlah teks pidatonya. Nanti Adek tinggal baca” kata Ibu memutuskan, sambil mengemas piring kosong Ayah dan Ibu.


“Iyaa…” teriak Kakak setuju.

__ADS_1


“Lhaa… kok Ayah”


“Siapa lagi?” sahut Ibu santai. “Ayah mau di Adek bikin cerita sendiri? Memangnya udah lupa gimana jadinya waktu si Adek bikin cerita sendiri soal pekerjaan Ayah,” sambung Ibu sambil berlalu ke tempat cucian. Ayah tidak bisa menimpali apa-apa, Ibu benar. Ibu selalu benar.


“Bikin yang bagus Yah! Biar Aku bisa menang” sahut Ali bersemangat.


“Katanya Adek disuruh Ustadzah, tapi ini kenapa paling semangat. Adek yang minta sendiri yaa…” Tuduh Kakak.


“Enggak kok! Emang aku disuruh Ustadzah”


“Siapa aja yang ikut PILDACIL” tanya Ibu.


“Aku doank”


“Ya iyaa… lah! Mana ada yang mau” sahut Kakak.


“Masak ‘Sih? Memangnya yang perempuan enggak ada yang ikut. ‘Kan ada kategori putra dan putri.” Tanya Ibu menyelidik.


“Iya… Yang putra nya Cuma aku”


“Yang putrinya siapa” tanya Kakak mempertegas.


“Aira” jawab Ali sedatar dan senormal yang dia bisa.


“Enggaaak…”


“Hallaaah…”


“ Hush… Sudah!” potong Ibu yang jengah mendengar anak anaknya sudah mulai saling ledek soal pacar-pacaran. “Jadi gimana Yah, si Adek cerita soal pahlawan yang mana”


“Yang mana yaa…” jawab Ayah bingung. Ayah merenung sebentar, mencoba menimbang-nimbang. Ali satu satunya anak Aceh di kelas. Kalau pilih Teuku Umar mungkin bakal aman, tidak akan sama dengan peserta lain, pikir Ayah. Tetapi Ayah ingat kalau cerita Cut Nyak Dhien dan Teuku Umar sudah pernah dibuat filmnya. Bisa jadi bakal banyak orang tua yang ambil jalan pintas mencuplik cerita dari film itu untuk narasi PILDACIL anaknya.


Lalu Ayah teringat sesuatu yang seketika membuatnya tampak bersemangat. “Dek, ambilin dompet Ayah!” Ali langsung bergegas mengambil dompet Ayah tanpa paham kenapa.


“Kok dompet, Yah. Memang Ayah nyimpen apa?” tanya Kakak.


“Ih… Kakak ini. Semua gambar yang ada di dalam isi dompet ‘Kan pahlawan”


“Yang ada di duit maksudnya? Ha ha ha ha…” Kakak tak sanggup menahan tawanya. “Enggak harus yang ada di duit juga ‘kali Yah” sambungnya setelah tawanya mereda.

__ADS_1


“Kakak aja yang enggak tahu. Lihat saja” sahut Ayah misterius.


Ali pun datang mengantarkan dompet Ayah. Sama seperti Kakak, dia juga penasaran dengan apa yang akan ditunjukkan Ayah.


Ayah menarik selembar uang berwarna merah.


“Sukarno dan Hatta ya Yah!” tebak Kakak. Ayah hanya tersenyum, lalu menyerahkan lembar uang itu pada Ali yang baru sadar kalau itu bukan lembar uang seratus ribu rupiah. Kakak juga mendekat untuk melihat lebih jelas, dia belum pernah lembar uang dengan gambar kakek kakek botak di atasnya.


Ayah menyerahkan lembaran uang rupee yang pernah diperolehnya saat transit di bandara di Delhi kepada Ali. Sudah lama uang itu ada di dompet Ayah. Bersama dengan beberapa lembar duit dari negara lain yang pernah Ayah kunjungi. Ali mengambil uang itu, mencoba mencari nama kakek yang ada di gambarnya.


“Mahatma Gandhi…” tanya Ali dengan nada bingung sambil membaca nama kakek botak pakai baju ihram yang terlukis di lembar uang rupee tersebut.


“Iya… Adek kenal siapa dia” sahut Ayah.


“Orang India…”sahut Ali ragu ragu. Ayah hanya terkekeh mendengarnya.


“Kenapa harus Gandhi, Yah?” tanya Kakak sewot.


“Kenapa enggak” jawab Ayah santai.


“Iih… dia ‘Kan bukan pahlawan Indonesia”


“Justru karena itu Kak. Kalau pahlawan Indonesia, ada kemungkinan yang akan Adek ceritakan sama dengan peserta yang lain. Kecil kemungkinan Adek bisa menang.” Ali yang mendengar penjelasan Ayah masih ragu-ragu dengan ide ini.


“Jangan yang aneh aneh lah, Yah. Nanti kalo kenapa kenapa, aku juga ikutan malu” rengek Kakak.


“Ya… terserah Adek lah! Adek yang mau ikut lomba. Kalau Adek sepakat, Ayah bikinin teks pidatonya. Kalau enggak mau, ya… Ayah enggak punya ide lain. Adek bikin sendiri aja”


Ali terdiam sejenak, menimbang nimbang. Kakak menatap Ali penuh harap agar tidak setuju dengan Ayah. Apa kata teman temannya nanti kalau Ali malah menceritakan pahlawan India. Aku sudah pernah coba tulis cerita sendiri, malah gaduh dituduh anak pemabuk, pikir Ali. Mungkin hasilnya bakal lebih baik kalau kali ini ikut kata Ayah. Apalagi dapat bonus melihat Kakak panik aku bakal bikin malu, pikirnya lagi.


“Ya udah, Yah. Kita cerita soal Gandhi aja,” kata Ali memutuskan.


“Naah… kalo gitu sini, Dek. Ayah ceritain gimana hebatnya Gandhi dan kenapa kita bisa menang kalau bawa cerita ini”


“Ibuuu…” teriak Kakak mencari dukungan. “Masak Adek mau cerita pahlawan India di PILDACIL. Ibuu…”


“Ya… mau gimana lagi? Ayahnya bisanya Cuma itu. Atau Kakak yang mau bikin naskah pidato buat Adek. Lumayan Kak, sekalian buat belajar.”


“Aku enggak bisa. Takutnya malah jelek. Ibu aja yang bikinin. Yang wajar wajar aja”

__ADS_1


“Ibu juga enggak bisa. Enggak sempat juga”


“Hadduuuh… gimana donk…” kata Kakak meratap. “Nanti aku jadi ikut malu”


__ADS_2