
Pelajaran Bahasa Inggris jadi yang terakhir untuk hari ini. Artinya mereka sekarang akan diajar oleh Ustadzah Caca. Ustadzah Intan bisa mengambil jadwal piket di ruang BP, sekalian beristirahat. Tidak ada murid yang lebih mahir berbahasa Inggris di kelas Ali dibandingkan Disha. Dan Disha biasanya akan selalu mengambil kesempatannya untuk bersinar. Namun anehnya tidak hari ini. Dari gelagatnya Zia bisa lihat kalau Disha ingin hari ini cepat selesai. Saat Ustadzah Caca bilang, siapa yang sudah menyelesaikan tugas boleh pulang duluan, Disha yang menanggapi paling semangat. Disha jadi yang paling cepat selesai dan dia bergegas keluar kelas.
Tapi selisihnya tidak lama. Bel pulang sekolah pun berbunyi, terdengar anak-anak kelas lain sudah berhamburan keluar. Ali segera mengambil tas Aira yang berisi seragam Disha. “Biar aku saja yang bawa” ujar Ali.
“Ah.. enggak apa-apa kok. Aku bisa sendiri”
“Enggak, biar aku saja. Gimana pun juga, aku punya andil kenapa kamu kena hukum kemarin” sahut Ali datar.
“Whuiidiih.. ge-er banget bang!”sahut Aira tidak terima. Tapi pipinya tersipu merah. “Ya sudah kalau begitu ini juga sekalian” kata Aira sambil menimpakan tas berisi buku pelajarannya ke pelukan Ali. Ali hanya tertawa kecil. Zia juga ikut menertawakan Ali yang sempoyongan.
“Kalian mau kemana sih?”tanya Zia.
“Ke ruang BP, balikin seragam. Mau ikut?”
“Ih.. males bangeet.. emang nggak cukup kemaren main-main ke ruang BP. Aku balik duluan lah ya” kata Zia sambil bergegas keluar. Tapi sebelumnya dia menyempatkan diri menggoda sahabatnya. “emang sebegitu sayangnya kamu sama Aira, sampai mau disuruh-suruh bawain tas.”
“Apaan sih, Zia! Rese deh..” teriak Aira sambil pura-pura akan menggetok kepala Zia. Ternyata dia ikut mendengar. Zia hanya terkekeh sambil menghindari Aira dan bergegas keluar. Ali pun berusaha menyusul. Tas-tas itu memang berat. Ali kepayahan membawa kedua tas Aira, ditambah lagi ransel miliknya sendiri yang sudah menggantung di punggung.
“Sanggup nggak?” tanya Aira nakal.
“Sanggup lah! Buat cowok segini mah enteng” sahut Ali sombong.
__ADS_1
“Oh.. masih mau bicara soal laki-laki yang lebih hebat daripada perempuan” tanggap Aira tidak terima.
“Enggaak…” sahut Ali singkat. Padahal Aira tidak perlu membuktikan apa-apa untuk jadi yang paling hebat buat aku, pikir Ali.
Ali sebenarnya ingin berlama-lama berjalan bersama Aira. Hanya saja tas-tas yang dipikulnya terasa semakin lama semakin beras saja. Mau tidak mau Ali pun mempercepat langkahnya ke ruang BP. Ada Ustadzah Intan yang piket hari ini. Jadi harusnya tidak akan banyak pertanyaan, pikir Ali.
Ayah Aira mengamati Ali dan Aira yang sedang berjalan menuju ruang BP. Hari ini dia memutuskan untuk menggantikan istrinya menjemput anak semata wayangnya. Entah kenapa, setelah Aira yang melaporkan padanya tentang apa yang sudah dia lakukan kemaren, Ayah Aira punya firasat bahwa hari ini akan menerima akibatnya. Dia sempat ingin memanggil anaknya, menunjukkan kalau dia sudah datang untuk menjemput. Tapi karena melihat tas Aira yang sedang dibawakan Ali, dia mengurungkan niatnya. Ayah Aira yakin anaknya akan malu jika ketahuan tasnya dibawakan Ali.
“Come on, Nek. Sudahlah, kita pulang saja. This is so embarasing” kata Disha saat Ali dan Aira membuka pintu ruang BP.
“Enggak bisa. Nenek enggak bisa biarkan semua ini. You stay there, Disha. Ustadzah harusnya tidak membiarkan cucu saya diguyur begitu. Kenakalan anak-anak bisa makin menjadi-jadi kalau dibiarkan. Sekarang baru pakai air. Only god knows what next. Tidak bisa! Anak itu harus dihukum biar jera. Biar enggak ada anak lain lagi yang meniru” ujar Nenek Disha lantang. Dia sepenuhnya sedang menghadap ke arah ustadzah Intan, tidak menyadari ada yang datang.
“Tenang dulu, Nek. Ayo duduk dulu. Kita bicarakan pelan-pelan”sahut Ustadzah Intan. Namun perhatiannya tidak sepenuhnya pada Nenek Disha, matanya menyambut Aira yang baru saja membuka pintu. Ingin rasanya dia berteriak pada Aira agar tidak masuk dulu. Namun terlambat. Pandangannya yang sekilas tadi ke arah pintu justru membuat Nenek Disha membalikkan badannya ke arah pintu.
Sepertinya ada yang salah, pikir Ayah Aira yang mengamati anaknya ragu-ragu memasuki ruang BP. Dan saat melihat Nenek Disha menyusul keluar dari ruang BP sambil mengacung-acungkan telunjuk ke arah Aira, Ayah Aira jadi yakin firasatnya benar. Dia bergegas mendekati anaknya.
“Well, well,well, lihat siapa yang datang. Kebetulan sekali” kata Nenek Disha begitu melihat Ayah Aira yang bergegas mendekat. “Ustadzah Intan” kata Nenek sambil menatap ke pintu Ruang BP, tempat Ustadzah Intan sedang berdiri dengan gugup. Bukan hanya tatapan Nenek Disha yang membuatnya gugup, tapi juga orang-orang lain di pelataran yang ikut menyaksikan, terutama para orang tua yang menjemput.
“Saya pikir kita semua sepakat pendidikan anak-anak tanggung jawab kita semua. Kita sering salah karena terlalu memanjakan anak-anak kita. Membebaskan mereka melakukan semaunya, lalu memaafkan mereka jika melakukan kesalahan. Even clean up their mess after every trouble their made! Anak-anak harus diajarkan menerima akibat dari perbuatan mereka. Supaya mereka bisa belajar dari kesalahan mereka.” Sambung Nenek Disha dengan suara yang sengaja dikeraskan agar Ayah Aira juga ikut mendengar.
“Dan saya pikir Ayah Aira juga sependapat dengan kita, bukan begitu pak”kata Nenek Disha lagi. Kali ini tatapannya langsung tertuju pada mata Ayah Aira. Ayah Aira tidak berkomentar apa-apa. Kedua tangannya segera menggenggam pundak Aira dan merapatkannya ke tubuhnya. Kedua ayah anak itu terdiam, seolah tersihir dan hanya menatap wajah Nenek Disha. Ali hanya bengong menyaksikan semua yang terjadi. Semua berat dari tas-tas yang sedang digendongnya seolah tidak terasa lagi.
__ADS_1
Disha hanya menutup wajahnya rapat-rapat karena malu dengan semua mata yang sedang menonton mereka. Andai tadi pagi aku bisa bilang pada Aira kalau ini semua akan terjadi, Neneknya akan datang dan menuntut penjelasan atas kejadian kemarin, mungkin kegaduhan ini bisa dihindari. Mengapa sulit sekali untuk bicara sama Aira, pikirnya.
“Benar, sekali Nek. Pendidikan anak-anak memang tanggung jawab kita bersama, makanya kita perlu memberikan contoh yang baik” sahut Ustadzah Intan. “Saat ini kita terlihat baik semata-mata hanya karena Allah menutupi aib-aib kita. Jadi bagaimana kalau kita bicarakan ini semua di dalam saja. Biar tidak jadi fitnah dan aib. Malu kita, Nek, gaduh-gaduh begini dilihat banyak orang” bujuk Ustadzah Intan.
Nenek hanya mengangguk pelan. Lalu Disha dengan sigap menuntun Neneknya untuk kembali masuk ke ruang BP. Ayah Aira dan anaknya menyusul dengan berat hati. Namun mereka sadar harus ikut maduk tanpa disuruh. Ali sempat kebingungan harus bagaimana. Dia sempat bertanya-tanya apakah dia juga diperkenankan untuk masuk. Namun akhirnya Ali masuk juga, atas keputusannya sendiri, tanpa minta ijin pada siapapun.
Tirai yang kemarin menghalangi Ali, Aira dan Zia melihat apa yang sedang Ustadz Shawab lakukan pada Handoko saat ini sedang terbuka lebar. Dipan perawatan UKS tempat semua drama pembebasan kemarin terjadi, berdiri disana tanpa mencatat bekas apapun. Ali baru sadar ternyata ada pintu menuju ke ruangan lain di balik tirai. Sepertinya pintu itu melekat pada dinding tidak permanen untuk membagi ruangan menjadi dua. Di atas pintu tertulis “Ruang Laktasi”. Ustadzah Intan mempersilahkan Nenek Disha dan Ayah Aira untuk masuk ke ruangan itu. Ada dua pintu yang membatasi sekarang. Semoga semua suara yang akan keluar dari ruangan ini tidak akan sampai terdengar keluar, pikir Ustadzah Intan.
Ali duduk di bangku sambil meletakkan semua tas yang dibawanya. Dia tidak menyangka harus duduk di bangku yang sama selama dua hari berturut-turut. Mengalami kecemasan yang sama, walaupun dengan alasan yang berbeda. Saat itu Ali di tinggal sendirian di ruang BP. Dia sendiri tidak yakin harus seberapa lama dia menunggu. Namun Ali juga ingin tahu apa sebenarnya yang terjadi di dalam sana.
Ustadz Shawab masuk ke ruangan BP. Dia juga kaget begitu melihat ada Ali disana. “Eh, ada Ali. Ngapain kamu disini” tanyanya singkat, khas Ustadz Shawab. Ali lalu menceritakan apa yang terjadi. Ustadz Shawab hanya manggut-manggut, sambil menimbang-nimbang apa yang harus dia lakukan. Aira dan Disha dua duanya murid kelas Ustadzah Intan. Dia pasti mampu mengatasi ini sendiri, pikir Ustadz Shawab.
“Ya sudah, sini seragamnya, biar Ustadz simpan. Tas Aira kamu letakkan saja di bangku itu. Lalu kamu langsung pulang saja” katanya pada Ali. Ali patuh, namun dia berjalan keluar dengan enggan. Tangan kanan Ustadz Shawab memegang pundak Ali, lalu membimbing Ali agar lebih bergegas ke pintu keluar. Tidak baik bagi anak-anak mendengarkan pertengkaran orang dewasa, pikir Ustadz Shawab. “Siapa yang jemput kamu hari ini? Ayah?” tanya Ustadz Shawab. Ali hanya mengangguk.
Saat pintu terbuka, Ayah Handoko sudah berdiri gagah di depan pintu. Raut wajahnya seperti siap untuk berperang. Handoko hanya bersembunyi dibelakang ayahnya sambil mengintip. Bukan Cuma Ali, Ustadz Shawab juga kaget, tidak siap menghadapi kejutan ini.
Sebenarnya ini bukan kejadian pertama Ustadz Shawab harus menghadapi wali murid yang datang laksana orang mengajak perang. Dia sudah punya pengalaman. Bahkan pengalamannya sudah dijadikan tata laksana percontohan bila suatu saat nanti bukan dirinya, tapi ustadz yang lain yang harus menghadapi situasi seperti ini. Langkah pertamanya akan selalu sama. Tenangkan, lalu isolasi wali murid di tempat dimana suaranya tidak sampai mengundang kecurigaan dan rasa ingin tahu orang-orang lain di sekitar, orang tua dan murid lain. Terutama murid lain.
Masalahnya “ruang isolasi” yang sudah disediakan sedang digunakan oleh Ustadzah Intan. Ustadz Shawab dia harus berpikir cepat. Ruang kepala sekolah yang terpikir pertama kali olehnya. Belum sempat dia berkata apa-apa, Ayah Handoko sudah membentak.
“Ustadz yang jadi guru BP disini ya?
__ADS_1
Orang baru atau sudah lama disini?
Kenapa kemarin anak saya bisa sampai begitu?”