Bocah Pintar Anak Pembuat Khamar

Bocah Pintar Anak Pembuat Khamar
Melapor ke Ustadz Shawab


__ADS_3

“Kamu tadi ngapain ikutan ngomong sih, Han? Kami di sini sudah setengah mati menolong kamu, menjaga supaya jangan sampai ada yang tahu. Kok malah kamu bikin makin sulit ‘sih” bentak Zia. Sepertinya dia benar-benar marah.


“Aku pikir kakak itu bisa tolong kita. Soalnya ‘kan tadi dia bilang pernah balur minyak ke..”


“Mana ada orang waras yang punya masalah kayak kamu sekarang ini, Han! Enggak ada!” Kata Zia lagi. Sekarang nafasnya jadi terengah-engah. Terlihat sekali Zia berusaha meredakan amarahnya dengan susah payah.


“Kita lapor Ustadz” kata Zia.


“Jangan donk, Zia. Maafin aku ya”


“Ini bukan karena aku marah sama kamu kok, Han. Ini karena sudah tidak ada yang bisa kita lakukan. Kita ‘kan cuma anak kelas empat SD. Ini terlalu berat buat kita” kata Zia.


“Iya sih, Han. Mencoba-coba sesuatu yang tidak kita tahu malah nanti bikin celaka. Bagaimana keadaannya sekarang? Setelah kamu tarik paksa tadi”


“Sakit banget, li! Tapi enggak lepas juga. Sepertinya ditambah lebih banyak pisang goreng juga enggak bakal bisa” sahut Handoko.


“Ya sudah. Kita ke Ustadz Shawab” jawab Ali singkat.


“Kalau kalian memang mau menyerah, silakan saja! Kalau memang kalian cuma bisa itu, ya sudah, terima kasih untuk semua bantuannya” kata Handoko. Muka Zia kembali memerah. Tetapi Ali menarik tangan Zia untuk bergegas keluar toilet supaya tidak bertambah pitam sahabatnya itu karena kata-kata Handoko.


“Anak itu ya! Kita sudah pusing mikirin cara bantuin dia, kok malah kurang ajar” kata Zia sambil diseret Ali ke pintu toilet. Lalu Zia berhenti di depan toilet, membuat Ali jadi harus menarik lengan Zia lebih kuat. Tapi Zia tetap bergeming. “Sudah lah, jangan diambil hati. Ayo!” kata Ali. “Aku tunggu di sini saja, Li. Kamu saja yang ke ustadz Shawab”


“Eh, gimana! Kok enak benar kamu. Bareng lah!”

__ADS_1


“Aku jaga di pintu biar enggak ada yang masuk toilet. Nanti aku bilang toiletnya lagi enggak bisa dipakai” sahut Zia santai sambil langsung berdiri di depan pintu seperti petugas keamanan.


“kalau begitu biar aku yang jaga. Kamu ke ruang BP”


“ Ini ‘kan masalah kamu, Li. Masak aku yang ke sana!”


“Enak saja! Kenapa aku? Handoko saja yang bodoh”


“Tapi ‘kan yang kelihatan tadi pagi jalan bareng Handoko siapa, kamu! Yang disuruh cari Handoko sama ustadzah Intan siapa, kamu” jawab Zia enteng. Semua perkataan Zia tidak bisa dibantah Ali. Ingin rasanya Ali membalas dengan mengancam Zia. Tapi apa yang sudah Zia lakukan sampai saat ini, sebenarnya sudah lebih dari cukup untuk seorang sahabat. Ali bergegas ke ruang BP.


Di antara para murid, ruang BP justru lebih dikenal sebagai ruang UKS karena lebih sering diperuntukkan untuk pelayanan kesehatan seperti pemberian imunisasi dan vitamin A buat siswa. Ruang ini juga tempat pertolongan pertama bagi murid yang luka atau benjol diberikan. Ada juga dipan seperti yang lazim di puskesmas dalam ruangan ini. Biasanya anak-anak yang pingsan saat belajar di luar ruangan beristirahat di dipan ini sampai dia sadar. Jarang ada yang datang ke ruang ini karena sudah melanggar peraturan. Guru wali kelas biasanya menangani langsung masalah ini di kelas.


Ustadz Shawab yang diberi mandat jadi guru BP sekaligus wakil kepala sekolah. Jadi sehari-hari biasanya dia menghabiskan waktunya di ruang ini untuk membantu pekerjaan administrasi tata usaha sekolah. Biasanya dia ditemani oleh ustadz atau ustadzah yang mendapat jadwal menjaga UKS. Biasanya dipilih dari ustadz dan ustadzah yang kelasnya sedang jam pelajaran olah raga atau pelajaran keterampilan. Ustadz Shawab juga memimpin bengkel untuk pelajaran keterampilan untuk kelas 5 dan 6. Ali sangat takjub dengan perkakas yang ada di bengkel ustadz Shawab, terutama gergaji dan bor listrik yang bisa ujungnya bisa diganti-ganti. Menurut Ali itu mirip tangan robot Transformer. Tapi menurut sekolah, Ali dan anak kelas 4 lainnya masih terlalu kecil untuk perkakas semacam itu.


“Assalamu alaikum” kata Ali sambil langsung masuk.


“Alaikum salaam, ooh.. Ali ya.. yang juara ceramah di pildacil kemarin ‘kan. Ada apa Ali? Ada yang sakit? ” sahut Ustadzah Dian ramah. Ternyata Ustadzah Dian yang piket hari ini. Bukan berita baik, karena dari semua ustadzah, menurut Ali, ustadzah Dian yang paling ramah sekaligus paling cerewet. Cerita tentang Handoko mungkin sudah menyebar ke seluruh sekolah jika ustadzah Dian tahu, pikir Ali.


“Ini... mau ke Ustadz Shawab” jawab Ali canggung. Ustadz Shawab masih tenggelam di belakang laptopnya, terlihat sangat serius. Dia masih belum memberikan tanggapan apa-apa bahkan saat Ali sudah berdiri di sampingnya. Ustadz Shawab berharap dengan begitu, Ali akan pindah ke ustadzah Dian untuk minta apapun yang diperlukan.


“Ustadz” kata Ali pelan. Berusaha sesopan mungkin.


“Ya, ada apa Ali” kata ustadz Shawab singkat. Sepertinya rencananya tidak berhasil. Dia harus meladeni Ali.

__ADS_1


“Ada, masalah sedikit di toilet. Ustadz bisa tolong enggak” dari semua kata yang mungkin untuk menceritakan keadaan Handoko, cuma itu yang berani Ali sampaikan.


“Ada yang kotor? Sudah ke Bang Edi? Bilang saja ke Bang Edi, nanti akan dibersihkan” jawab Ustadz Shawab tanpa memindahkan tatapannya dari layar laptop.


“Bukan ustadz” sahut Ali. Tapi kalimatnya berhenti sampai di situ. Ali cuma berdiri tanpa kata di samping ustadz.


“Terus masalahnya apa Ali. Ceritain donk! Masak juara ceramah masih malu-malu untuk cerita” kata Ustadzah Dian dari mejanya, memaksa ikut ke dalam pembicaraan. Mungkin sekaligus untuk membuat Ali berhenti mengganggu Ustadz Shawab. Tapi Ali tetap diam, menatap Ustadz Shawab lekat-lekat sampai dia mendapat perhatian penuh lawan bicaranya.


Ustadz Shawab menyerah, dia kemudian menatap Ali sambil memaksa tersenyum. “Ada apa”


“Eh.. Ustadz bisa ikut saya ke toilet enggak. Biar bisa lihat langsung masalahnya” kata Ali takut-takut.


“Kenapa, ceritain saja dulu. Kalau Ali sudah cerita, mungkin cukup Bang Edi yang ke sana”


Ali cuma menjawabnya dengan menoleh kecil ke arah Ustadzah Dian. Berusaha memberi isyarat kalau dia tidak bisa bilang langsung karena ada Ustadzah Dian. Tampaknya bukan cuma Ustadz Shawab yang mengerti. Ustadzah Dian memperhatikan pembicaraan mereka juga paham. Dia cekikikan setelah tahu Ali malu cerita karena keberadaannya.


“Malu sama ustadzah Dian? Ah! Kamu ini ada-ada saja Li. Kami ‘kan sama-sama guru kamu” kata Ustadz sambil tersenyum. Ali jadi kehilangan akal untuk menjaga diri tetap sopan. Ali kemudian mencoba mendekat kepalanya ke wajah ustadz Shawab untuk membisikkan beritanya pada ustadz Shawab. Tanpa sadar tangan kiri Ali merangkul bagian belakang leher ustadz yang memang berencana menjauh. Lalu Ali menceritakan soal Handoko yang tersangkut di toilet.


“Hah! Kok Bisa?” pekik Ustadz Shawab. “Ayo! Di mana?” kata Ustadz Shawab sambil bangun dari kursinya dan bergegas keluar. Ali mengikutinya. Sebelum sampai keluar Ustadz Shawab tanpa sadar berdesis “Handoko itu mikirnya gimana ‘sih”


Ustadzah Dian yang sedari tadi melihat semuanya, ditinggal penasaran tanpa penjelasan. Lalu dia memeriksa daftar murid kelas 4. Ali di kelas 4B, kelasnya Ustadzah Intan.


Assalamu alaikum ustadzah. Lagi seru banget ya kelasnya. Sampai enggak sadar ada murid yang hilang. Ada Ali ni, di ruang BP.

__ADS_1


Pesan singkat ustadzah Dian meluncur ke ponsel Ustadzah Intan.


__ADS_2