Bocah Pintar Anak Pembuat Khamar

Bocah Pintar Anak Pembuat Khamar
Tarik Paksa


__ADS_3

Kalau kalian yang lepaskan mungkin bisa. Kalian ‘kan bisa melihat dengan jelas..”


Klik! Suara kunci bilik Handoko.


Zia langsung melompat ke arah pintu, menghalangi Handoko keluar.


"Gila aja kami harus lihat telur kau! Ih.. Najiiis!” teriak Zia. Tenaga Zia jelas lebih kuat dari Handoko. Handoko tidak bisa keluar dari bilik. “Ya sudah, Li. Kamu bilang ke Ustadz Sawab” sambung Zia.


“Lha.. kok aku. Tadi ‘kan yang lebih dulu punya ide bilang ke Ustadz, kamu Zia”


“Iya .. tadi. Tapi ‘kan kamu larang. Jadi sekarang kamu saja lah yang ke Ustadz Sawab” jawab Zia enteng.


“Tunggu dulu! Tunggu! Aku akan coba lepaskan sendiri” kata Handoko.


“Memangnya sudah bisa, Han. Mulut botolnya sudah licin” tanya Ali.


“Ha ha ha.. berhasil juga ‘kan ideku” sahut Zia bangga.


“Mendingan ‘sih, dibandingkan sebelum pakai pisang goreng. Tapi kalau untuk dilepaskan pelan-pelan masih butuh waktu lama. aku coba tarik saja” kata Handoko.

__ADS_1


“Ah.. jangan gila Han! Kalau kenapa-napa gimana” tanggap Zia prihatin.


“kayaknya enggak apa-apa deh. Aku pernah nonton film kungfu yang Kasimnya cuma dipotong satu. Tapi akhirnya dia masih bisa punya anak. Ini ‘kan aku yang nyangkut juga cuma satu. Jadi..”


“ Han!.. Han! Jangan Han” cuma itu yang bisa diucapkan Ali. Handoko mulai berteriak. Kata-kata Ali tertelan suara teriakannya. Awalnya tidak begitu keras. Perlahan-lahan teriakannya makin keras.


Sepanjang teriakan Handoko, kenangan saat terakhir kali Ali bermain bola terlintas kembali. Ali selalu bilang dia berhenti main bola karena penyakit asmanya. Sebenarnya bukan itu. Sepak bola sempat jadi olahraga favorit Ali. Di pertandingan terakhir, dia harus menjadi pagar betis, menahan tendangan bebas lawan. Penendangnya memang lebih tua dari Ali, namun tetap anak-anak. Teknik tendangannya belum sempurna.


Bola melesat tepat ke ************ Ali. Sakitnya bukan kepalang. Ali sampai digendong teman-temannya ke pinggir lapangan karena tidak kuat berjalan. Rasa sakit yang sama seolah-olah kembali dirasakan Ali saat ini. Membayangkan Handoko menarik paksa botolnya. Ali jadi ikut berteriak.


Perasaan empati yang sama juga dirasakan Zia. Alasan dia berhenti latihan karate kembali berkelibat dalam kenangan Zia. Padahal Zia sudah jadi karateka sabuk kuning. Suatu ketika Zia harus latih tanding dengan murid sabuk putih. Anak baru. Zia jadi terlalu percaya diri saat itu. Latih tanding dengan sesama sabuk kuning saja sering dia menangkan.


AAAAAAA......AAAHHHH.......!!!!!


Teriakan Ali, Zia dan Handoko menggelegar memenuhi seisi toilet.


“Tidak bisa..., haduuhh... sakit sekali” kata Handoko lirih. Ali dan Zia tidak percaya kalau mereka senang mendengar suara Handoko lagi. Paling tidak Handoko tidak mati. Tetapi Ali dan Zia lupa kalau sebenarnya mereka sedang menyimpan rahasia. Suara teriakan mereka justru akan mengundang lebih banyak murid ke toilet.


Suara derap kaki berlari terdengar dari pintu toilet. Terlambat, pikir Ali. Suara mereka sudah berkelana sampai keluar sana. Pikirkan sesuatu! Perintah Ali pada dirinya sendiri. Dua murid kemudian muncul di hadapan Ali. Ternyata kedua kakak kelas yang tadi.

__ADS_1


“Sekarang kalian tidak bisa bohong lagi. Tadi kalian bisa bilang kalau aku salah dengar. Kali ini, kami berdua mendengar kalian berteriak” kata kakak kelas yang penasaran tadi.


“Ada apa sebenarnya? Kenapa kalian tadi teriak-teriak” tanya yang satu lagi. Ali belum punya jawaban.


“Kami lagi latihan Adzan” kata Zia. “Seperti yang tadi kami bilang, Kak. Buat pertandingan antar kelas nanti”


“Latihan Adzan kok di toilet! memangnya kalian enggak tahu kalo itu dosa”


“Malu ‘lah kak. Suara kami ‘kan belum merdu. Lagian kami enggak pakai bacaannya kok. Cuma latihan suaranya saja, biar nyaring.” Sahut Ali menimpali kebohongan Zia.


“Terdengar sampai keluar ya ‘Kak? Waah.. sudah bagus suara kamu, Han! Sudah nyaring” kata Zia. Ali khawatir Handoko bakal menanggapi Zia. Bisa-bisa kebohongan mereka langsung ketahuan. Ternyata Handoko diam saja. Suara meringis kesakitan pun tidak terdengar.


“Iyaa.. lumayan kalau soal nyaringnya. Tinggal kalian atur iramanya saja, Adzan itu ‘kan enggak harus teriak dari awal sampai akhir” Sahut kakak kelas yang lain.


“Kok kamu malah membela mereka sih” tanya kakak kelas yang penasaran. “Mana ada orang latihan Adzan di toilet. Mereka pasti bohong ini. Ayo ngaku! Kalian sedang apa?


“Atau kalian sedang menjahili teman kalian yang sedang di dalam ya” sambungnya dengan tatapan berbinar. Seolah mendapatkan ilham cemerlang. “Hey, kamu yang di dalam sana. Kamu enggak apa-apa? Kenapa dari tadi belum keluar” tanyanya pada Handoko.


Ali merasa seluruh darahnya terpompa ke ubun-ubun. Sudah tidak ada kebohongan yang terpikirkan untuk menutupi keadaan. Jika ketahuan dia berbohong, masalahnya jadi semakin besar. Jika ketahuan masalah yang sebenarnya, malunya bukan main. Dan entah kenapa, Ali merasa dia juga akan ikut merasa malu.

__ADS_1


__ADS_2