Bocah Pintar Anak Pembuat Khamar

Bocah Pintar Anak Pembuat Khamar
Sambal Pembunuh Naga


__ADS_3

“Assalamu alaikum yaa Akhi Bintang” teriak Gilang keras keras di pelataran kantin. Sontak semua mata melirik ke arah yang dipanggil. Bintang, mahasiswa lusuh dengan rambut gondrongnya langsung merasa risih dengan panggilan itu. Beberapa perempuan yang ikut melirik cuma cekikikan kecil sambil berlalu. Bintang bisa menduga apa yang mereka pikirkan. “Yang kayak gitu kok dibilang Akhi.”


“Apaan sih kau Lang! bikin malu saja. Teriak teriak.” Jawab Bintang setelah Gilang cukup dekat dengannya.


“Ha ha ha, Sorry dech, lagi senang nih. ‘Kan mau ketemu Kiky.”


“Ya sudah sana! Kenapa harus cerita-cerita sama aku” tanggap Bintang masih kesal.


“Yaa.. kau temenin aku” balas Gilang santai.


“Enak aja, sejak kapan aku setuju!”


“Jiah! Jadi Rangga belum cerita sama kau” kata Gilang yang sama kagetnya dengan Bintang.


“Eh, itu dia, Rangga!” Gilang memanggil sahabatnya yang sedang menuju ke arah mereka.


Sepertinya Gilang dan Rangga memang sudah berjanji akan berjumpa di pelataran kantin ini, tanpa menyertakan Bintang dalam rencana mereka. Gilang dan Rangga sudah kenal betul Bintang sahabat mereka. Kiriman uang bulanan yang pas-pasan membuat Bintang tidak punya banyak pilihan untuk makan siang. Kantin kampus lah yang jadi langganannya.


“Ga, kau belum cerita sama Bintang kalau kalian hari ini temenin aku ketemuan sama Kiky?”


Dengan santai Rangga bicara pada Bintang.


“Bin, sekarang kita rencananya mau temenin Gilang, ketemuan sama Kiky” lalu menghadap ke Gilang. “Sudah, Lang! Barusan aku bilang.”


“Aahh.. gila kau ya…” balas Gilang senewen.


“Santai saja… Bintang pasti mau, kok! Ya ‘Kan Bin. Kamu ikut kita ‘kan.”


“Ayo lah Bin, tolong aku. Aku juga waktu kau minta tolong antarkan surat buat Ratna, nggak menolak” kata Gilang sok polos. Kontan saja Rangga terbahak-bahak mendengar kata kata Gilang.


“Ah, lontong lah sama kau, yang kayak begitu kok dibilang menolong” jawab Bintang.


“Tapi ‘kan, suratnya sampai ke tangan Ratna” kata Gilang membela diri.


“Sudah lah, nggak usah dibahas” kata Rangga. “Gilang bakal traktir kita kok, Bin.”


“ Kalau begitu beda lagi ceritanya” sambut Bintang sumringah.


“ He he he, kalian memang teman-teman aku yang paling baik. Gampang terbaca apa maunya kalian. Apapun jadi, kalau ada traktiran. Tenang saja saudara-saudara, aku tahu Rumah Makan Padang baru yang enak. Sambal cabe ijo nya, beeeuugghhh.. mantap banget. Penjualnya kasih nama Sambal Pembunuh Naga. Kau bilang kau kuat makan pedas, Ga. Sambal ini kalau memang benar kau kuat makannya, angkat topi aku sama kau.”


“Hayuuukk.. siapa takut” jawab Rangga menerima tantangan Gilang.


***


“Astaghfirullaah… sumpah.... pedes banget!” Kata Rangga terpotong-potong tarikan napasnya. Tentu saja disambut tawa puas oleh Gilang. Walaupun belum bisa dipastikan Gilang tertawa atau meringis kepedasan. Bintang sadar diri untuk tidak ikut kontes sok jagoan makan sambal seperti kedua sahabatnya itu.


“Apa aku bilang.. shhhh.. haah.. sshhhh… haah.. mantap ‘kan” komentar Gilang sambil menyeka keringat di keningnya.


“Lang, katanya mau ketemu Kiky. Kapan?” tanya Bintang


“Kok jadi kau yang semangat, Bin”


“Yaa … aku ‘kan nggak bisa lama-lama disini. Ada janji sama anak anak PAS.”

__ADS_1


“Harusnya sich dia sudah datang. Janjinya memang ketemunya disini. Tapi barusan kirim pesan, katanya agak telat” jawab Gilang santai.


“ Kau ini sudah gila ya! Kau mau ketemu Kiky dengan tampang kayak begini, kepedasan kayak begini, sebenarnya kau serius nggak sich sama Kiky” sahut Rangga yang sudah mulai meradang. Muridnya dalam urusan percintaan yang satu ini tidak pernah mengerti bagaimana menghargai wanita.


“Ya serius lah! Tapi ‘kan apa salahnya kalau juga sambil menikmati makanan enak ini.”


“Bener juga sich Ga, lagian kalau nanti lidah si Gilang kelu, nggak bisa ngomong di depan si Kiky, dia ada alasan. Kepedasan!” sambar Bintang.


“Hmm …hmm …hmm” gumam Gilang sambil mengangguk-angguk menyetujui kata-kata Bintang. Mulutnya masih penuh dengan lalap daun singkong rebus. “Memang tidak ada harapannya dua sahabatku ini kalau soal perempuan” pikir Rangga.


Telpon genggam Gilang berdering. Tepat setelah Gilang memasukan suapan terakhir dari nasi tambahnya yang ketiga. Setelah membersihkan tangan seadanya dengan serbet, Gilang merogoh teleponnya dari saku.


“Wahh… kata Kiky sebentar lagi dia sampai. Kita tunggu dia di depan aja ya. Katanya dia sudah makan. Kalian duluan saja ke depan. Aku bayar dulu” kata Gilang pada kedua temannya.


Tak lama ketiganya sudah duduk duduk di kursi depan rumah makan. Memperhatikan satu persatu mobil yang masuk.


“Kau bikin harga diri aku jatuh saja Lang! Nongkrong disini kayak tukang parkir” protes Rangga.


“Sabar, sebentar lagi juga Kiky sampai. Aku kencing dulu ya. Gara gara kepedasan tadi aku kebanyakan minum.”


“Kau bilang sebentar lagi dia datang. Kalau dia sampai tapi kau nggak ada gimana” tanya Bintang.


“Sebentar aja, cuma disitu, kok” sahut Gilang sambil menunjuk semak semak di samping lapangan parkir.


“Iihhh … Jorok banget sich kau Lang! Di dalam ‘kan ada toilet.” Kata Rangga.


“Kelamaan!” Sahut Gilang sambil langsung menuju semak- semak.


Dan benar saja. Tak lama setelah Gilang menghilang di balik semak, sebuah sedan berhenti di parkiran. Seorang perempuan terbungkus kerudung rapi, tinggi semampai, turun dari mobil.


“Eehh… ada, tadi kesana sebentar.” Jawab Rangga kikuk. Tapi jarinya terlanjur menunjuk ke semak-semak


“ Buat apa dia kesana?” tanya Kiky bingung.


“Ehh.. “ Rangga tidak tahu harus menjawab apa.


“Eh, kenalin, ini temenku, Bintang.”


“Oh... Iya... Assalamu alaikum, aku Kiky. Ini Bintang yang ditinggal kawin itu ‘kan? Gilang cerita banyak soal kamu.”


Muka Bintang merah padam mendengar kata kata Kiky. “Gilang sialan.... Awas saja!” gumam Bintang dalam hati.


Tak lama Gilang datang. Cuma cara jalannya agak aneh. Agak mengangkang seperti orang yang kesemutan karena seharian naik motor.


“Oh.. Hai Ki, sudah lama?” sapa Gilang, masih dengan ekspresi yang aneh. Bukan seperti seseorang yang sedang menantikan pujaan hatinya.


“Hai, Lang. Sorry ya! Aku telat. Tadi diajakin temen makan dulu. Sorry ya. Kita jadi ‘kan nyari batang pisangnya. Terima kasih banyak lho, kamu sudah mau ajak Rangga sama Bintang, kalau nggak, mana kuat aku angkat semuanya sendiri.”


Bintang makin kesal dengan temannya yang satu ini. Ternyata dia diajak cuma untuk dijadikan kuli angkut. “Sialaann!!! Awas ya kau Gilang!” dendam Bintang dalam hati.


“Eh… Anu... kayaknya nggak bisa hari ini ‘deh” sahut Gilang. Rangga kaget dengan jawaban Gilang.


“ Kamu ini maunya apa sich, Lang. ‘Kan kasihan Kiky.” Protes Rangga.

__ADS_1


“Sini bentar ‘deh, Ga” sahut Gilang sambil menarik Rangga agak menjauh dari Kiky,lalu membisikkan sesuatu.


***


“Memangnya buat apa batang pisang, Ki?” Tanya Bintang yang berusaha membuka percakapan dengan Kiky. Namun tetap saja Bintang belum berani menatap mata Kiky lama-lama. Bintang takut nyalinya meredup semua. Hingga tidak bersisa untuk bicara kata-kata berikutnya.


“Belum tahu, Bin. Pamanku yang mau bikin pesta taman. Katanya butuh batang pisang buat hiasan. Aku cuma membantu mencarikan. Aku sendiri belum terbayang jadi seperti apa hiasannya”


Bintang yang memang dari tadi menghindari menatap mata Kiky, membuang pandangannya ke arah kedua temannya selama Kiky cerita. Keduanya masih berbisik-bisik. Gilang lalu menunjuk-nunjuk ke selangkangannya. Lalu badan Rangga terlonjak-lonjak seperti orang yang menahan tawa.


“Ah… itu rupanya” pikir Bintang.


“Pamanku itu juga lulusan Desain lho. Kamu kuliah di Seni Desain ‘kan” tanya Kiky pada Bintang. Tetapi yang ditanya sedang sibuk memperhatikan kedua sahabatnya. Bintang masih mencoba meyakinkan dugaannya.


“Benar! pasti begitu” pikirnya. Dia coba mereka ulang apa yang mereka bertiga lakukan sampai sebelum Kiky datang. Tangan Gilang memang tidak benar-benar bersih tadi setelah selesai makan sambal. Dia cuma mengelap seadanya dengan serbet, karena buru-buru mau mengambil telepon. Lalu... tadi dia langsung ke semak-semak untuk kencing.


“Ya! Pasti itu!” teriak Bintang dalam hati.


“Bin, kamu kuliah di Seni Desain, ‘kan?” Tanya Kiky lagi setengah jengkel karena merasa diabaikan.


“Oh iya … eh … batang pisang ya … buat apa ya … aku jadi penasaran paman kamu mau bikin apa dengan batang pisang itu. Untung saja Gilang ngajak aku. Aku bisa dapat ilmu gratis dari paman kamu” jawab Bintang sekenanya. Dia memang tidak begitu menyimak pertanyaan Kiky yang terakhir.


“Gilang itu sering banget lho ngomongin kamu. Buat acara ini saja dia juga sudah rencanakan sejak lama. Nggak sabaran banget dia nunggu hari ini”


sambung Bintang berbohong.


Rangga dan Gilang lalu kembali berkumpul dengan Kiky dan Bintang. Bintang menatap Rangga lekat-lekat. Bintang kenal senyum jahil Rangga. Dan Bintang membalas dengan senyum girang tanda setuju dengan semua rencana jahil Rangga.


“Hayuk Ki, kita jalan. Ayo Lang, kamu yang menyetir, masak kamu tega Kiky yang nyetir.”


“Wahh… terima kasih ya Lang, terima kasih semuanya. Yuk, ke mobilku. Tapi tunggu sebentar ya, aku bereskan bangku belakangnya. Agak berantakan.” sahut Kiky sambil jalan mendahului yang lain ke mobilnya.


“Gimana sich, Ga! Tadi kau sudah setuju kalau kita bilang sama Kiky nggak jadi hari ini” ujar Gilang setelah yakin Kiky tidak mendengar suaranya. Rangga cuma cengengesan. Bintang tertawa puas.


“Hua ha ha ha, rasain.. rasain..” kata Bintang. “Makanya kalo kata Rasulullah jangan kencing sembarangan itu, patuhi! Ha ha ha!”


“Jiah.. kok kau malah ikut-ikutan Bin. Eh.. iya.. Bin, kau bilang tadi kau ada acara sama anak anak PAS. Bilangin ke Kiky donk, kalo kau nggak bisa hari ini” kata Gilang memohon.


“Nggak apa apa kok. Aku batalkan saja. Mana mungkin aku melewatkan semua ini” jawab Bintang.


“ Masyaallaah.. tega ya kalian berdua.”


Rangga dan Bintang tertawa puas.


Lalu mereka lihat Kiky melambai memanggil mereka.


“Ayoo… itu Kiky sudah nunggu” kata Rangga sambil setengah mendorong Gilang. Gilang jalan dengan langkah terseret. Bintang langsung mendorong Gilang dari belakang. Dan mereka pun akhirnya melaju dalam posisi seperti itu ke mobil Kiky.


“ Bin, panas, bin. Panaaass” ratap Gilang lirih.


Rangga dan Bintang tertawa puas. Tetapi keduanya berusaha untuk memasang raut wajah laksana keceriaan yang biasa mereka alami dalam keseharian .


Kiky menyerahkan kunci mobil pada Gilang. Rangga dan Bintang lalu mengambil kursi di belakang. Begitu masuk mobil, Gilang menyalakan mesin dan langsung berusaha menyalakan AC. “Walaupun nggak menghilangkan sepenuhnya, tapi paling tidak bisa sedikit meredakan panasnya” pikir Gilang.

__ADS_1


“Oh, maaf ya Lang. AC-nya lagi rusak”


“Sempurna!” teriak Bintang dalam hati.


__ADS_2