
“Ada orang, Han! Sudah! Ikuti saja” bisik Zia. Suaranya mendesis antara menghindari agar tidak terdengar atau menahan rasa geram yang ingin meledak dalam dirinya.
“Ikuti ke mana? Apa aku boleh keluar?”
“Astagfirullah! ... Han! Jawab saja pertanyaan Ali”
Dari salah satu bilik yang dipakai kakak kelas terdengar suara air bergemuruh. Artinya tombol gurah toiletnya sudah ditekan. Dia sudah selesai. Sebentar lagi bakal keluar dari bilik.
“Oh.. iya.. rencananya aku akan ikut lomba Adzan” kata Handoko. Dan benar saja, kakak kelas keluar dati bilik toilet. Tapi dia tidak langsung keluar toilet, malah mendekat ke arah Ali dan Zia. Ali dan Zia panik. Sepertinya dia mendengar kata-kata Handoko tadi.
“Ayo! Mengaku saja! Kalian sedang apa” tanyanya
“Enggak apa-apa. Ini lagi tunggu teman” jawab Ali berlagak santai.
“Hey! Kamu! Yang di dalam! Lagi ngapain!” tanyanya berteriak. Alhamdulillah, Handoko tidak punya cukup nyali untuk menjawab.
“Enggak ada apa-apa, Kak! Ini kami beneran lagi tunggu. Biar dia enggak ketakutan sendiri di dalam, kami ajak dia ngobrol. Hal-hal yang receh, pertandingan antar kelas nanti” jawab Ali mencoba berkilah.
Suara gemuruh air terdengar lagi dari bilik yang lain. Kakak kelas yang satu lagi juga selesai. “Woy.. Ayok.. ngapain ‘sih kau main sama bayi” teriaknya
“Bayi apaan. Ini anak-anak pada mesum! Masak ya! Tadi yang di dalam lagi main-main sama telurnya. Katanya sebelum digesek, dilabur minyak pisang goreng dulu biar enggak lecet”
__ADS_1
“Enggak kok! Enggak ada yang bilang begitu. Kakak salah dengar kali” kata Ali berbohong.
“Iya.. tadi kami cuma ngobrol soal lomba Adzan. Handoko mau ikut lomba Adzan” Zia menimpali.
“Ha ha ha.. gila aja kau! Mereka ‘kan masih bayi. Mana mungkin bikin mesum di toilet. Emangnya kau” kata kakak kelas yang satunya lagi.
“Mereka sudah bukan bayi lagi. Sudah pada sunat ‘kan kalian” kata kakak kelas yang penasaran.
“Jiaah.. apalah kau ini. Sudah sunat ‘kan enggak berarti apa-apa. Kalo sudah sampai umurnya, baru baligh. Baru mungkin dituduh mesum” sahut temannya.
“Tapi aku yakin dengan apa yang aku dengar. Ini anak yang di dalam melaburi telurnya dengan pisang goreng. Terus dia gesek-gesek. Ayo ngaku!” kata kakak kelas sambil memukul pintu bilik Handoko. Handoko masih diam saja, untungnya.
“Ih enggak tahu... Kami enggak mengerti sama yang kakak bilang. Memangnya mesum dengan telur itu gimana? Apanya yang digesek? Buat apa digesek sampai lecet, kak?” tanya Ali lagi. “Iya kak. Lagian ‘kan jorok kak pegang-pegang telur. Apalagi habis itu makan pisang goreng” timpal Zia.
“Kau aja kali.. yang pikirannya mesum. Gila banget imajinasi kau. Telur dilabur pisang goreng , ha ha ha” kata temannya.
Kakak kelas yang penasaran itu pun salah tingkah. Temannya yang dia harap mendengarkan kata-kata yang sama dari mulut Handoko malah ikut mempermalukannya. Dia langsung berbalik dan bergegas ke pintu keluar.
“Serius ni.. , kau pernah labur telurmu dengan pisang goreng” tanya temannya sambil jalan keluar mengiringi kakak kelas yang penasaran tadi.
“Ya enggak lah! Gila apa!”
__ADS_1
“Ah.. enggak usah malu-malu” timpal temannya. Percakapan mereka terdengar semakin sayup, menjauh ke arah pintu keluar seiring dengan suara derap kaki mereka yang menggema ke seluruh toilet pria. “Selamaat.. ” gumam Ali lega.
“Kakak juga pernah ya? telurnya juga pernah kejepit dalam botol? Tolongin aku kak!” teriak Handoko. Ternyata dia menyimak semua percakapan yang terjadi di luar. Terdengar derap kaki yang mereka dengar berhenti.
“Han! Apaan sih!” Zia kembali berdesis sambil memukul pintu bilik Handoko. Zia geram bukan main. Zia merasa semakin keras dia berusaha menolong Handoko, semakin keras usaha Handoko untuk menceburkan diri lebih dalam ke lautan masalah.
Derap kaki itu pun terdengar menjauh. Kali ini benar-benar selamat, pikir Ali. Namun keadaan ini mungkin tidak akan bertahan lama. Kalau teorinya benar, maka saat jam pelajaran sudah mulai, akan lebih banyak lagi murid yang menggunakan toilet.
Ali mencoba berpikir di sela-sela cacian Zia pada Handoko yang terlalu kasar untuk dituliskan. Ali tidak bisa menyalahkan salah satu dari keduanya. Dia sudah sampai di tahap ‘bisa memahami’ perasaan keduanya. Namun pemahamannya itu tidak terpikirkan manfaatnya untuk masalah yang sedang mereka hadapi.
“Ayo lah, Zia, Han. Sudahlah. Kita selesaikan saja ya urusan ini” kata Ali. Zia dan Handoko yang sedang berdebat langsung berhenti.
“Gimana?” tanya Zia singkat.
“Benar kata kamu, Zia. Kita lapor Ustadz saja”
“Jangan!” teriak Handoko
“Mau gimana lagi, Han. Kita ‘kan cuma anak kecil. Apa yang sudah kita bisa sudah kita coba.” kata Ali putus asa.
“Belum. Belum semuanya” kata Handoko. “Kalian bisa bantu aku melepaskan telurku dari botol. Aku sulit melepaskannya sendiri karena enggak kelihatan dengan jelas.
__ADS_1