
“Han.. kamu enggak apa-apa ‘kan” Zia ikut bertanya. Berharap dengan begitu kecurigaan kakak kelas akan mereda. Handoko hanya mengeluarkan suara berdeham seperti orang menahan batuk.
“Kamu sedang dijahili sama teman-teman kamu yang di luar sini ya. Bilang saja kalau iya. Kamu tidak perlu takut lagi. Ada kami kok. Ayo, keluar saja” sambung kakak kelas itu.
Handoko terbatuk-batuk. Suaranya serak. “Iya kak, jadi enggak bisa ngomong... tolong...”
“Lagian kamu langsung di gas, teriak kencang-kencang. Yang namanya latihan ‘kan harus pelan-pelan ya kak” potong Zia, mengalihkan pembicaraan.
“Iya.. perlu waktu untuk bisa teriak nyaring. Kayak atlet latihan otot saja” jawab kakak kelas. “Enggak apa-apa, nanti juga suara kamu balik lagi. Banyak-banyak minum saja
“Kakak ini pernah jadi juara lomba Adzan ya? Kok sepertinya mengerti banyak tentang latihan Adzan” sambar Ali, mencoba mempertahankan pembicaraan soal Adzan.
“Oh.. tahun lalu ‘Kan dia juara untuk kelas 4,5 dan 6. Kemarin jadi perwakilan sekolah kita untuk lomba se-Kabupaten. Dapat juara berapa kamu kemarin?” timpal kakak yang penasaran.
“Ah, sudahlah, Enggak perlu dibahas! Iya, Aku enggak dapat juara. Puas kau? Tapi ‘kan paling enggak aku pernah ikut lomba se-kabupaten. Kamu bisa apa?” balas temannya.
__ADS_1
“Ih, buat apa ikut lomba kalau cuma buat kalah. Buang-buang tenaga. Mana pakai dimarahi tetangga lagi. Ha .. Ha.. ha” kali ini kakak kelas yang penasaran itu balik menertawakan temannya.
“Iya itu, enggak habis pikir aku. Padahal tetangga aku itu Islam loh! Tapi kok jadi senewen karena dengar Adzan.
Nah.. Iya, kalau kalian mau latihan Adzan, bisa ke Kebun Provinsi. Jadi enggak ada yang marah gara-gara suara kalian.” Sambung kakak kelas kepada Ali dan Zia. Berhasil! Pikir Ali. Mereka tidak curiga lagi. Tapi bagaimana membuat mereka segera pergi.
“Kalian kelas berapa sih? Kok belum masuk kelas juga” tanya kakak kelas yang penasaran tadi. Ali dan Zia sudah bosan dengan pertanyaan itu. Tapi tetap saja, setiap kali perta nyaan itu dilontarkan, mereka tidak punya jawaban yang mantap.
“Iya.. ini kita mau ke kelas” jawab Zia. “Ayo Han! Buruan. Nanti saja kita latihan lagi di kebun Provinsi. Biar bisa sekalian latihan irama” sambungnya sambil menghadap pintu bilik, sekaligus menghindari tatapan kakak kelas. Khawatir mimik wajahnya membuat semua kebohongan ini jadi ketahuan.
Sejenak hati Ali terenyuh karena tanggapan Handoko. Walaupun tidak melihat wajahnya langsung, tapi dari suaranya, Ali bisa merasakan kebahagiaan Handoko setelah mendengar kemungkinan dia masih bisa bersama Ali dan Zia lagi nanti untuk latihan Adzan. Masyaallaah, sebegitu menderitakah kamu, Han. Bertahun-tahun tidak punya teman. Sampai-sampai kemungkinan menghabiskan waktu bersama teman saja sudah membuat kamu sangat bahagia. Padahal baru kemungkinan.
“Tuh ‘kan. Enggak ada apa-apa kok. Sudah kita balik ke kelas saja. Lagian ngapain juga ‘sih kamu sampai ajak aku balik lagi ke sini? cuma buat cari tahu kenapa mereka teriak? Kapan berubahnya kebiasaan burukmu ini. Senang sekali ikut campur urusan orang” kata kakak kelas juara adzan sambil berbalik ke arah pintu toilet.
“Justru orang-orang kayak kamu yang bikin dunia cepat kiamat. Sudah enggak peduli lagi sama teriakan orang minta tolong. Padahal ‘kan kita harus Amar ma’ruf nahi munkar” balas kakak kelas yang penasaran. Sambil berjalan menyusul temannya.
__ADS_1
“Iya kak! tadi memang minta tolong” kata Handoko dari balik bilik. Astaghfirullah! Gumam Ali dalam hati. Apa memang masih belum cukup kesulitan hari ini. Handoko! Kenapa kamu tidak mati saja!
“Apaan ‘sih Han. Sudah diam saja. Kalau kau enggak berhenti bicara! Sumpah! Aku tinggalin! ” desis Zia berbisik. “Tapi ‘kan kakak itu pernah balur telurnya dengan minyak, siapa tahu dia bisa menolong” sahut Handoko juga berbisik.
“Tuh.. ‘kan. Aku enggak salah dengar” kata kakak kelas. Dia mulai berbalik. Ali harus memikirkan cerita baru, kebohongan baru. Tetapi rasa jengkel dalam hati Ali mempersulit otaknya berpikir.
“Enggak kok! Bukan apa-apa” sahut Ali.
“Aku sama Zia enggak kenal sama kakak juara Adzan itu. Tapi sepertinya Handoko kenal suara kakak. Jadi tadi Handoko panggil kakak buat tanya apa kakak bersedia melatih Handoko. Cuma kakak keburu keluar sebelum Handoko selesai. Jadi tadi dia minta tolong kita panggil kakak.” Di satu sisi Ali sendiri juga terpana dengan seberapa cepat otaknya bisa menyusun cerita bohong. Namun di sisi lain dia khawatir kalau ini jadi kebiasaan.
“Nanti saja lah, Han. Masak minta tolong seperti itu di toilet. Nanti saja kita ke kelas kakaknya. Kakak di kelas mana ya” timpal Zia. Kakak kelas juara adzan itu pun berbalik. Lalu berjalan lagi ke arah Ali dan Zia. Celaka! Apa kata-kata menjilat Zia tadi terlalu berlebihan.
“Eko. Panggil saja kak Eko. Dari kelas 6 Jannatul Firdaus C” katanya sambil tersenyum bangga. “Kau lihat ‘kan Di! Tidak ada yang sia-sia. Aku mungkin belum juara di lomba kabupaten kemarin. Tapi mungkin takdir aku bantu mereka jadi juara” kata Eko pada Aldi. “Nanti kita bisa atur jadwal latihannya..”
“Ah.. sudah. Nanti saja bicaranya. Biar mereka ketemu langsung sama kamu saja. Sekarang kita harus segera balik ke kelas. Nanti kena hukum loh” potong Aldi. Rasa penasarannya sudah kalah dengan rasa muak melihat temannya lebih baik dari dirinya. Dengan setengah menyeret tangan Eko, Aldi berjalan keluar toilet.
__ADS_1
Ali dan Zia terdiam sejenak. Tetapi telinga mereka awas, memastikan mereka tidak kembali. Akhirnya, sepertinya kali ini benar-benar sudah selesai, pikir Ali.