Bocah Pintar Anak Pembuat Khamar

Bocah Pintar Anak Pembuat Khamar
Adab di atas ilmu


__ADS_3

“Coba cerita sama Ustadz, bagaimana kejadian yang sebenarnya? Kok bisa Handoko jadi seperti itu.”


“Ustadz tahu lah, bagaimana Handoko. Cara kerja otaknya beda. Ustadz mungkin lebih baik tanya langsung ke dia” jawab Ali menghindar.


“Kalian ‘kan tahu, Handoko sekarang belum bisa ditanyai. Bukan karena masalah di otaknya. Tapi karena.. Ya kalian saja dulu lah yang cerita apa yang kalian tahu. Dan terutama kenapa kalian sampai terlibat dalam masalah Handoko ini” bujuk Ustadz Khairul.


Ali dan Zia bingung harus bilang apa. Sayup-sayup terdengar suara gemeresik dari meja Ustadzah Dian. Ali dan Zia menoleh ke arah suara. Ternyata suara itu dari tangannya yang diusapkan kuat-kuat ke lengan bajunya. Seolah-olah ada ratusan semut sedang jalan di tangannya. Lalu keduanya tersenyum, mereka punya ruang lagi untuk berkelit. Ali dan Zia lalu menatap ke ustadz Khairul sambil menunjuk ke arah Ustadzah Dian. Mereka percaya Ustadz Khairul paham maksud isyarat mereka. Tidak sopan diceritakan di sini, di depan ustadzah Dian.


“Enggak apa-apa kok. Ustadzah Dian itu sudah lama jadi guru. Masalah begini sudah tidak bikin dia kaget lagi. Guru itu di sekolah kadang-kadang sudah seperti orang tua kalian di rumah. Kadang harus bantuin muridnya cebok, menggantikan baju. Lihat anak kecil tidak pakai baju pastinya sudah sering. Apalagi yang seumur kalian. Anak Ustadzah Dian sudah lebih besar dari kalian lho” bujuk Ustadz Khairul lagi.


Ali masih tidak bisa menjelaskannya. Ini bukan seperti tugas menjelaskan pekerjaan orang tua seperti bulan lalu. Ini beda! Entah berapa banyak kata-kata tidak sopan yang harus Ali ucapkan di depan ustadz jika dia harus menjelaskan. Pastinya lebih dari cukup untuk menjadikan dirinya manusia tidak beradab.


Untung saja keheningan yang menemani Ustadz Khairul dalam menunggu jawaban Ali dipecahkan oleh kehadiran Ustadzah Intan dan Aira. Sangking paniknya, mereka sampai lupa mengucapkan salam saat masuk. “Ada apa?” tanya Ustadzah Intan pada seisi ruangan. Setelah bertanya, baru dia meneliti satu per satu orang dalam ruangan.


Ustadzah Dian langsung menghampiri Ustadzah Intan sambil berlari kecil. “ IIh.. enggak tahu saya. Enggak sanggup saya. ini anak-anak dari kelas kamu. Kamu saja yang urus ya.. saya enggak sanggup” katanya. Setelah menjabat tangan Ustadzah Intan, dia pun pergi keluar ruangan BP. Mungkin dia pikir ini seperti acara gulat WWW, setelah jabat tangan, urusan di arena jadi tanggung jawab rekannya.


Ustadzah Intan memastikan Ali dan Zia baik-baik saja dengan tatapannya, seolah dia memiliki tatapan sinar X atau semacamnya. Setelah yakin, tatapannya langsung menusuk ke Ustadz Khairul. “Ada apa ustadz”


Ustadz Khairul jadi kikuk karena pertanyaan itu. Dia membuang matanya ke arah Ali dan Zia, mencoba menghindar. Ali dan Zia cuma senyum-senyum nakal. “Ayo Zia, bilang sama Ustadzah Intan. Ustadzah ‘kan guru berpengalaman. Sudah pernah bantu cebok muridnya, sudah pernah bantu menggantikan baju. Anaknya Ustadzah juga laki-laki yang lebih tua dari kita. Jadi bukan hal yang luar biasa buat ustadzah” kata Ali pada Zia namun matanya melirik nakal pada Ustadz Khairul.

__ADS_1


“Ih.. tapi ‘kan malu, Li” jawab Zia dengan senyum yang sama. Ustadz Khairul cuma tertawa melihat kelakuan Ali dan Zia. Dia dibalas kontan oleh murid muridnya. Lalu dengan kedua tangannya dia mengacak-acak rambut Ali dan Zia.


Dibanding Ali dan Zia, Aira memang lebih peka dalam membaca perasaan orang, dalam berempati. Dia tahu kedua sahabatnya sedang berlaku tidak sopan pada ustadz Khairul. Aira langsung duduk di samping Ali sambil meninju bahu Ali. “Apa yang sudah kalian lakukan”


Ali Cuma cengengesan sambil melirik Aira sebentar. lalu kembali menatap Ustadz Khairul, menanti bagaimana dia menjawab pertanyaan Ustadzah Intan.


“Sebaiknya Ustadzah lihat sendiri saja”


Sontak Ali dan Zia berteriak “whooaa” yang dilanjutkan dengan tawa terkekeh. Buat mereka, jawaban Ustadz Khairul itu curang. Ustadz Khairul juga sadar maksud mereka, tapi dia memilih tidak peduli.


“IIh.. enggak sopan tahu!” kata Aira pada kedua temannya. Ali berhenti tertawa, dia juga merasa bersalah di hadapan Aira. “sebenarnya ada apa ‘sih” tanya Aira.


“Iiih.. itu sudah sampai lembek begitu, apa benar tidak apa-apa” terdengar suara Ustadzah Intan.


“Bukan! Itu pisang goreng. Bukan cedera. Tadi saya sudah periksa sekilas, tidak ada luka atau darah” jawab Ustadz Shawab datar.


“Apa tidak lebih baik kita panggil dokter saja”


“Lalu kita harus bilang apa pada dokternya?” sahut Ustadz Khairul.

__ADS_1


"Kacanya harus dipotong, tolong jaga sebentar ya Ustadzah. Saya ambil peralatannya dulu” kata Ustadz Shawab, lalu dia muncul dari tirai dan langsung menuju keluar. Seperti tidak melihat keberadaan Ali, Aira dan Zia.


Ali memang sudah pernah dengar anak-anak menjuluki Ustadz Shawab sebagai robot. Awalnya Ali pikir itu karena kemampuannya dalam menggunakan alat-alat bengkel. Hasil kerajinan yang dicontohkan Ustadz Shawab selalu rapi dan sempurna seperti buatan robot. Setelah menyaksikan Ustadz Shawab hari ini, Ali lebih percaya kalau julukan itu lebih karena dia jarang melibatkan emosinya saat bekerja. Saat melihat keadaan Handoko, Ustadz Shawab tidak marah atau jijik. Dan ternyata untuk keadaan darurat seperti ini, bersikap seperti Ustadz Shawab justru yang paling tepat. Ustadz Shawab keren! Puji Ali dalam hati.


“Coba cerita sama Ustadzah, kok bisa kejadiannya seperti ini.” Dengan diselingi suara sesenggukan, Handoko mulai menceritakan kejadiannya. Mulai dari apa yang diceritakan Javin padanya, lalu apa yang dikatakan Ali dan akhirnya sampai pada pisang goreng Zia. Ali, Aira dan Zia ikut menyimak cerita Handoko dari balik tirai.


Sama sekali tidak ada kesan berterima kasih dari Handoko untuk apa yang sudah dilakukan Ali dan Zia selama dia terjebak di toilet. Malah kesannya jika Ali tidak membenarkan perkataan Javin, maka dia tidak akan terjebak seperti ini. Dan jika Zia tidak datang dengan ide pisang gorengnya, mungkin Ustadz Shawab sudah bisa melepaskan botolnya dari tadi. Ini yang bikin Zia kesal luar biasa.


Ali juga kesal. Tapi setidaknya dengan Handoko yang bercerita, maka dia tidak perlu menjelaskan apa-apa lagi, terutama pada Aira. Dia sudah mendengarkannya sendiri. Walaupun selama mendengarkan, Ali perhatikan Aira seperti tidak bisa memutuskan apa yang harus ditutup oleh tangannya, mulutnya atau telinganya. Saat kaget dengan isi ceritanya, dia menutup mulutnya. Di saat lain saat dia tidak berani membayangkan kejadian dari cerita Handoko, dia menutup telinganya sambil memejamkan matanya. Namun rasa penasarannya membuat dia membuka mata dan telinganya lagi. Buat Ali itu lucu, apalagi Aira tidak sadar sedang diperhatikan.


Ustadz Khairul yang sedari tadi berusaha membuat kehadirannya tidak disadari oleh Handoko agar dia tidak ragu bercerita, gagal total dengan usahanya. Beberapa kali terdengar suara seperti orang habis menelan biji kedongdong keluar dari mulutnya. Mungkin karena dia menahan tawa atau kaget. Untungnya Handoko merasa sangat aman dan dekat dengan Ustadzah Intan. Apa pun tanggapan yang diberikan Ustadz Khairul tidak membuatnya berhenti bercerita.


Ustadz Shawab masuk dengan kotak peralatannya yang sepertinya berat. Dia langsung masuk ke balik tirai, sekali lagi tanpa menghiraukan keberadaan Ali, Aira dan Zia. Ali mendengar suara kotak dibuka dan gemerincing suara perkakas yang saling berbenturan. “Ah.. Saya lupa bawa kabel” kata Ustadz Shawab.


“Biar saya ambilkan” ujar Ustadz Khairul yang langsung keluar dari tirai. Tanggapannya sangat berbeda dari Ustadz Shawab. Entah dia baru sadar atau tidak atas keberadaan tiga muridnya ini atau tidak, tapi wajahnya langsung memasang senyum ramah saat melihat mereka. Sempat heran kenapa Aira ada di sini, Ustadz Khairul berjalan mendekat pada Ali dan Zia.


“Ustadz senang kalian menyimak ceramah Ustadz Jumat lalu, tentang bagaimana cucu Rasulullah, Hassan dan Hussein, mengingatkan seorang kakek tentang tata cara berwudhu. Maksud Ustadz untuk menjelaskan bahwa yang lebih tua tidak selalu lebih tahu. Yang muda boleh saja mengingatkan yang tua asalkan dilakukan dengan adab yang benar. Ustadz tidak menyangka bakal mengalaminya sendiri hari ini, dengan kalian. Ustadz bangga kalian sudah menempatkan adab di atas ilmu” tutupnya sambil tersenyum. “Tetapi sepertinya jika kalian menemui keadaan seperti ini lagi di kemudian hari, ...”


“Ya enggak mungkin, lah! Mana ada orang lain yang seperti Handoko” kata Zia.

__ADS_1


“Bukan itu.. maksud Ustadz kalau kalian harus mengingatkan orang yang lebih tua di kemudian hari dengan cara yang kalian lakukan pada ustadz hari ini, harus hati-hati! Belum tentu orangnya bisa terima” jelas Ustadz Khairul. Awalnya dia ingin menyuruh anak-anak ini kembali ke kelas. Namun akhirnya dia membiarkan keputusan itu diambil Ustadzah Intan. Dia bergegas mengambil kabel di kantornya.


__ADS_2