
“Assalamu alaikum, Pak Bintang” terdengar suara merdu menyapa dari belakang Ayah dan Pak Bintang. Keduanya berbalik dan terperangah. Raisa, ibunya Disha, memang sudah terkenal sebagai artis. Namun baru kali ini Ayah dan Pak Bintang bertemu langsung. Dan ternyata memang ibunya Disha cantik sekali. Beberapa detik keduanya hanya terperangah menatap paras rupawan ibunya Disha. Ayah yang sadar lebih dulu. Pasti Ibunya Disha mau membahas soal kejadian bulan lalu. Ayah tidak mau membuat keadaan menjadi canggung, jadi memutuskan untuk bergabung dengan Ibu, dan Mama Aira.
“Soal kejadian bulan lalu. Maafkan ibu saya. Saya tahu kata-kata Ibu telah menyakiti hati Bapak” lanjut Mama Disha.
“Ah, tidak apa-apa bu. Semua orang tua pasti akan melindungi anaknya kesayangannya sekuat tenaga. Saya yang seharusnya minta maaf. Tidak biasanya Aira berbuat nakal seperti itu. Sepertinya Aira juga begitu juga untuk melindungi kesayangannya” kata Pak Bintang sambil membuang pandangan ke arah Aira, Ali dan Istrinya. Ternyata kelemahan lamanya masih juga belum hilang. Dia masih tidak mampu menatap mata wanita cantik saat berbicara dihadapannya. Pak Bintang masih takut nyalinya meredup semua. Hingga tidak bersisa untuk bicara kata-kata berikutnya. Mama Aira merasakan tatapan suaminya. Radarnya mulai menyala, mengawasi apakah kesayangannya baik baik saja.
“Alhamdulillah kalau Bapak bisa mengerti. Bisa maklum dengan kata kata ibu saya yang suka sekenanya. Mungkin Bapak sudah tahu kalau Ayah Disha sudah lama meninggal. Saya jadi harus sibuk di luar rumah untuk mencukupi kebutuhan Disha. Urusan pengasuhan Disha di rumah semuanya saya serahkan pada Ibu. Kasihan Ibu, harus mengasuh anak di usianya yang sudah tua. Mungkin dia sering kelelahan, makanya saat bicara jadi kurang kendali” sambung Mama Disha.
Apa apaan sih ini. Aku ‘kan bukan mahasiswa lagi. Aku sudah jadi Ayah seorang anak perempuan. Masak masih harus takut melihat perempuan di matanya saata berbicara. “Andaipun Ibu yang mengasuh Disha di rumah, Disha tetap akan jadi anak yang cantik, sholehah seperti sekarang. Tidak banyak yang berubah. Mungkin cuma sedikit beda budaya dengan orang Indonesia kebanyakan yang banyak basa-basi. Kalau saya tidak salah tebak, Nenek sepertinya masih keturunan Eropa ya” ujar Pak Bintang sambil menatap mata Mama Disha lekat-lekat.
“Betul, Pak. Kakek saya asalnya dari Norwegia. Nenek dulu Atase Indonesia untuk Norwegia. Lalu mereka menikah dan memutuskan menetap di sana. Ibu saya menghabiskan masa kecilnya disana. Sampai akhirnya Kakek meninggal, Ibu ikut Nenek ke Indonesia.”
“Nah.. benar ‘kan. Terlihat sekali dari matanya. Mata Nenek, Ibu dan Disha sama. Hijau cerah seperti pucuk muda tersiram cahaya senja. Harusnya dengan mata seindah itu, tidak ada laki-laki yang bisa tersinggung dengan kata-katanya. Bahkan bisa dibilang, tidak peduli”
“KYIAAA!!!”
Tiba-tiba Pak Bintang berteriak. Sontak seisi aula memalingkan pandangan ke arah Pak Bintang. Pak Rangga salah satunya. Dia langsung menyadari apa yang terjadi pada sahabat lamanya itu dan bergegas menuju Pak Bintang.
“Adduh.. Apaan ‘sih Ma..”kata Pak Bintang sambil mengusap perutnya. Sepertinya dia tidak sadar kalau Mama Aira mendekatinya dari belakang. Cubitan Mama Aira sepertinya secara telak menemui sasaran.
“Kok bisa-bisanya masih nanya kenapa, Hah”
“Waah.. akhirnya bisa berkumpul disini ya. Alhamdulillaah.. terima kasih ya Bu Raisa, sudah bersedia hadir. Pasti sulit menyediakan waktunya di tengah-tengah kesibukan ibu. Tapi itu yang perlu kita lakukan demi anak-anak kita” ujar Pak Rangga yang entah muncul darimana. Semangatnya membara ingin menyelamatkan Pak Bintang, sahabat lamanya.
“Benar Pak. Sayangnya yang saya lakukan ini tidak seberapa dibanding apa yang sudah ibu-ibu lain lakukan untuk anaknya. Mudah-mudahan ini cukup buat Disha senang. Saya tidak bisa jemput dia tiap hari seperti ibu ibu lain” jawab Mama Disha.
__ADS_1
“Alhamdulillaah, saya harap kita semua bisa bersenang-senang bersama di acara ini, saling berkenalan, saling bermaafan. Kalau ada kelakuan anak-anak kita yang tidak berkenan, saya harap tidak dimasukkan ke hati. Pelan-pelan kita perbaiki bersama”sambung Pak Rangga. Dia masih berpikir bahwa kegaduhan tadi buntut dari perselisihan antara Aira dan Disha bulan lalu. Mama Disha menyadari apa yang ada dalam benak Pak Rangga.
“Oh.. Alhamdulillah, sudah tidak ada masalah kok. Disha dan Aira saja sudah akur lagi. Masak kita para orang tua masih mempermasalahkan” tanggap Mama Disha.
“Iya, anak-anaknya sudah akur. Ayahnya ini, justru keganjenan!” Sambar mama Aira. Namun sambaran jarinya ke perut Pak Bintang gagal menemui sasaran.
“Ooo.. ha ha ha” Pak Rangga hanya menanggapi dengan tertawa geli. Ternyata masalahnya tidak sepelik yang dia kira.
“Ratna, Kiky tadi kayaknya nyariin kamu deh. Tadi dia malah nanya-nanya soal anunya Handoko ke Sari. Lha.. istriku mana ngerti”
“Ayok..!” kata Mama Aira sambil menyeret suaminya.
Ayah hanya senyum-senyum sendiri mengamati apa yang baru saja terjadi. Tiba-tiba ada sesuatu yang bergerak-gerak melilit kakinya. Ayah langsung menunduk untuk memeriksa. Ada kabel yang sedang ditarik. Ujung yang satu sepertinya baru terlepas dari speaker. Di ujungnya yang lain terlihat Ustadz Shawab sedang menggulung kabel. Ayah berusaha membantu dengan ikut menarik kabel yang tersisa dan mendekatkannya ke Ustadz Shawab, sambil menghindari agar tidak melilit kaki-kaki para tamu.
“Nah.. iya! Saya juga tadi bertanya-tanya. Kenapa tahun ini juaranya lebih banyak, hadiahnya juga lebih mahal” tanggap Ayah penasaran.
“Permintaan Ayahnya Javin. Hadiahnya juga dia semua yang belikan”
“Lha.. Javin ‘kan juara pertama ya. Nggak perlu ditambah juga anaknya sudah dapat hadiah”
“Bukan untuk Javin, tapi buat..”
“KYIAAA!!!”
Teriakan terdengar lagi. Ternyata kali ini keluar dari mulut Pak Rangga. Mama Javin terlihat sedang merapatkan gigi-giginya dengan tangan menjulur ke pinggang Pak Rangga. Mama Disha, sebagaimana dia terlihat dalam kesehariannya, tersenyum manis mengamati sekelilingnya.
__ADS_1
“Apaan sih Ma, produk kita ‘kan memang sedang cari Brand Ambassador” ujar Pak Rangga membela diri.
“Alasaaaan….”tanggap Mama Javin sambil berusaha melancarkan cubitannya yang kedua. Pak Rangga kali ini lebih siap untuk menghindar. Tanpa sempat berpamitan, dia meninggalkan Mama Disha.
“Mama sebenarnya sudah sejak lama menantikan kamu yang mencubit, entah siapa lah dia” ujar Nenek Disha sambil berjalan mendekati Raisa. Disha mengiringi neneknya dengan menggendong piala peserta favorit pilihan pemirsa. Sebenarnya kemampuan bahasa Inggris Disha lebih dari cukup untuk masuk dalam tiga besar lomba English Story Telling. Hanya saja penampilannya yang setengah bule membuat orang mengharapkan kefasihan berbahasa inggris yang tidak adil buat Disha. Tapi biarlah, kecantikan Disha dan Mamanya juga tidak adil untuk ukuran lingkungannya. Seolah pada piala peserta favorit sudah tertulis namanya bahkan sebelum lomba di mulai.
“Ayah Disha ‘kan sudah meninggal Ma”
“Makanya, carilah yang baru. Penting itu! Setidaknya untuk Disha. Biar dia belajar bagaimana cemburu yang boleh.”
“Hi hi hi, Mama ini ada ada saja” sahut Raisa geli. “Tapi kamu tadi lihat ‘kan Disha, bagaimana bersikap saat dicemburui. Dengan wajah kamu yang seperti ini, kamu perlu belajar dan membiasakan diri, Nak” sambungnya pada Disha.
“ha ha ha, baik Ma” sahut Disha, berkomplot dengan ibunya untuk menggoda neneknya.
“Bukannya kemaren justru Disha yang cemburu sama Aira” sahut Nenek balas menggoda cucunya.
“ih.. kapan! Dia kali, yang cemburu sama aku. ‘Kan dia yang siram aku”
“Kamu cemburu karena dia membela Ali sebegitu rupa. Sementara kamu tidak punya siapa-siapa yang bisa kamu bela”sambung nenek. Dan sepertinya kata-kata nenek mendarat telak di hati cucunya. Wajah Disha yang putih bersih jadi merah merona karenanya.
“Ihh.. apaan sih nek” sahut Disha sambil cemberut.
“Ah sudah lah nek. Ayo kita pulang”ajak Raisa. “Yang perlu kamu ingat, Disha! Cemburu itu ibarat pisau bermata ganda. Entah itu kamu yang cemburu atau kamu yang dicemburui, keduanya bisa membuat kamu terluka” lanjutnya menasehati Disha.
“Jadi yang penting, tetaplah cantik, menarik dan berhati baik. Dengan begitu biasanya semesta jadi lebih mendukung apapun rencanamu. Perkara nanti ada akibat orang orang jadi cemburu pada kamu, biar jadi urusan mereka” kata Raisa sambil beranjak ke pintu keluar. Anggun dan elegan seperti biasanya. Disha mengikuti dibelakangnya dengan langkah berjalan yang sama. Seolah bagian tengah aula menuju pintu keluar adalah pelataran catwalk. Nenek cuma bisa menggeleng-geleng mengamati tingkah anak cucunya. Dan kemudian menyusul mereka secepat yang dia bisa.
__ADS_1