
Ali sudah berada di kelasnya. Dia jadi murid yang datang pertama hari ini. Ali yang minta pada Ayah untuk diantarkan pagi pagi, sebelum Ayah mengantarkan kakak. Setelah apa yang terjadi kemarin, Ali tidak ingin memulai hari ini dengan kegaduhan. Dia ingin merasakan damainya menjadi anak SD. Kalaupun nanti setelah teman temannya ramai datang, biarlah kedamaian ini pergi perlahan.
Ali lupa kapan terakhir dia menikmati pagi seperti ini di sekolah. Ali menghirup napas dalam dalam. Jendela kelas masih dibuka. Sinar matahari menerobos melewatinya, cantik sekali. Ali hampir saja percaya tidak ada yang bisa membuat suasana pagi ini jadi lebih cantik. Namun Takdir langsung membuktikan kalau Ali salah. Aira muncul di pintu kelas.
Aira menenteng dua tas sekaligus, sepertinya kepayahan. Ali terlambat untuk bangun dan menolong membawakan tas Aira. Aira sudah terlanjur sampai di mejanya, di samping Ali. “Tumben kamu datang pagi-pagi sekali? Kak Raya enggak sekolah?” tanya Aira.
“Sekolah kok, aku saja yang pengen diantar ke sekolah duluan. Lagi enggak pengen ramai-ramai. Sudah cukup semua kegaduhan kemarin. Aku capek” sahut Ali tulus. Aira bisa memahami perasaan temannya. Dia cuma tersenyum menanggapinya.
“Kenapa bawa tas banyak banget” tanya Ali.
“Bajunya Disha. Aku ‘kan disuruh tanggung jawab sama Ustadzah Intan. Mengembalikan lagi baju Disha dalam keadaan bersih. Ibu marah sekali begitu aku ceritakan apa yang terjadi. Dia suruh aku cuci dan setrika baju Disha sendiri” cerita Aira. Ali langsung terkesiap, duduk tegak menghadap Aira. “Bukan! Bukan soal Handoko, Cuma soal aku menumpahkan minuman ke baju Disha” lanjut Aira yang bisa menebak pikiran Ali dari reaksinya tadi. “Haah.. kirain..” sahut Ali sambil kembali bersandar lemas pada kursinya.
“Kemarin aku sudah dengan sangat sukses membawa pulang kegaduhan pada seisi rumah. Aku cerita seua yang terjadi. Kakak hanya tertawa geli. Dia tidak percaya ada orang seperti Handoko. Ayah dan Ibu awalnya ikut tertawa, tapi akhirnya mereka malah khawatir. Bagaimana kalau nanti Ali disalahkan atas apa yang menimpa Handoko. Lebay banget khan Ayah sama Ibu. Ustadz Shawab dan Ustadzah Intan saja tidak begitu.”
“Makanya setelah semua kegaduhan kemaren, aku pengen memulai hari ini dengan tenang. Dan ternyata memang suasana sekolah kita itu enak sekali. Alahmdulillah ya! Kalau nggak datang pagi-pagi kayak gini, jadi lupa mensyukurinya. Suasana yang nyaman, tenang…”
__ADS_1
“Sebelum semua anak-anak datang” potong Aira. Ali Cuma tertawa membenarkan. Lalu Ali kembali menatap ke jendela. Sinar matahari makin kuat masuk ke jendela. Sinarnya berpedar pada bekas debu yang masih melayang-layang. Aira juga jadi ikut memperhatikan. Sejenak mereka Cuma
“Diem-dieman aja nie kayak orang marahan” sebuah suara muncul dari pintu kelas. Ali dan Aira segera melihat ke arah Zia yang meluncur penuh semangat ke kursinya di samping Ali. “Lagi ngapain sih” sambungnya lagi. Suara kursi berderak, tas Zia yang berdebum di lantai, sudah menyadarkan Ali bahwa, suka tidak suka, hari ini harus dimulai.
Perlahan teman-teman sekelas Ali yang lain datang satu per satu. Lalu datang Handoko. Ali, Aira dan Zia pura-pura tidak menyadarinya. Mereka menghindari terlihat oleh teman-temannya menatap Handoko. Namun Handoko justru mendekati Ali, ada cerita besar yang dia pikir harus segera disampaikan pada Ali.
“Ali, eh.. kita masih tetap teman ‘kan” sapa Handoko, sangat tidak lazim memulai percakapan seperti ini. Ali Cuma menanggapi dengan anggukan dan senyum kecil. “Benar ‘kan! Kamu benar tidak marah sama aku ‘kan” lanjut Handoko. Aira paham kalau Ali sangat tidak ingin berlama-lama dalam suasana ini. “Ah, Handoko, tumben sekali kamu datang sepagi ini. Mama kamu lagi di rumah ya” ujar Aira mencoba untuk mencairkan suasana, mengalihkan pembicaraan.
“Enggak sih, habis aku cerita soal kemarin, Ibu langsung pergi ke rumah kakek. Tapi dia sudah titip pesan sama Mang Usman, supaya jangan sampai telat antar aku. Kata Mang Usman kalau berangkat tiga puluh menit lebih lambat saja, kami akan terjebak macet. Dijamin telat deh. Itu ilmu mang Usman dari pengalamannya sepuluh tahun jadi sopir. Mang Usman itu..”
“Tapi,Li.. Kamu enggak bakal marah sama aku khan”
“Iyaa.. sudah sana pergi” pungkas Ali.
“Nah.. kalau begini, sudah yakin kalau kita masih akan berteman, aku jadi enak ceritanya. Jadi gini, Li..”
__ADS_1
“Oh.. Hai Disha! Ucap Aira setengah berteriak. Agak berlebihan untuk menunjukkan keramahan. Sekilas ada kelegaan pada wajah Disha saat bertemu Aira, seperti ada yang penting yang ingin disampaikannya. Namun wajahnya seketika berubah menjadi jijik saat melihat ada Handoko di dekatnya. Disha memang cantik, namun kesaktiannya tidak Cuma itu. Dia seperti punya kekuatan khusus pada anak laki-laki. Seolah-olah dia bisa menyuruh anak laki-laki berbuat apa saja yang dia inginkan, dan kadang tanpa perlu berkata apa-apa.
Seperti saat ini misalnya, pandangan jijiknya yang diikuti dengan menjentikkan tangan sebagai isyarat untuk menjauh, sudah cukup untuk membuat Handoko kembali ke mejanya. Sesuatu yang sudah diusahakan Zia sedari tadi. Setelah yakin Handoko sudah berada cukup jauh dari dirinya, Disha kembali menatap Aira. Aira dengan sigap menyodorkan tas yang berisi seragam Disha. Seragam yang sudah dicuci dan disetrika dengan tangannya sendiri. “Ini!”kata Aira sambil memasang senyum paling manis.
“Ah.. iya, nanti saja. Bawa saja ke Ruang BP” sahut Disha singkat. Dan saat Disha ingin mengutarakan berita pentingnya pada Aira, dia sadar raut wajah Aira sudah tidak bersahabat. Seolah tanda bahaya sudah menyala-nyala di atas kepalanya.
Sombong sekali anak ini. Padahal Cuma ketumpahan teh manis. Dan aku sudah cuci dan setrika dengan rapi, dia malah tidak mau terima! Pikir Aira. Apa dia sudah tidak mau pakai lagi seragam ini? Apa dia mau sumbangkan saja seragamnya? Pikiran-pikiran buruk semakin banyak berseliweran dalam benak Aira. Dasar Sombong! Mentang mentang anak orang kaya, mentang mentang anak artis, umpat Aira dalam hati.
Disha mengurungkan niatnya. Dia lalu duduk di mejanya dalam keadaan bingung. Saat ini saja Aira sudah marah padaku, apalagi jika aku sampaikan padanya apa yang terjadi, makin runyam lah semuanya, pikir Disha. Zia mengamati Disha dengan seksama sedari tadi. Ada yang beda dengan Disha hari ini. Tidak percaya diri seperti biasanya. Tapi Zia tidak berani ikut campur lebih jauh dalam perseteruan dua anak perempuan ini.
Ustadzah Intan pun akhirnya masuk kelas. Pelajaran pun langsung dimulai. Cara ustadzah Intan menerangkan bak seorang pendongeng. Anak-anak terhanyut dalam kata-katanya sampai mereka lupa apa yang ingin mereka lakukan dan katakan tadi pagi.
Saat istirahat, sekali lagi Handoko mendekati Ali dan Zia, dia ingin menceritakan sesuatu. Ali dan Zia pikir dia Cuma ingin berakraban dengan mereka. Ali dan Zia terus berusah menghindar atau meminta Handoko menjauh, lewat sindiran bahkan juga terang-terangan. Sampai kelas dimulai lagi, Handoko belum berhasil menceritakan apa yang menunggu Ali saat pulang nanti.
Beberapa kali Zia mendapati Disha memperhatikan Aira sambil meremas ujung kemejanya. Queena dan Syaqueela yang beberapa kali mencoba membuka pembicaraan dengan Disha hanya ditanggapi sewajarnya. Disha tidak antusias seperti biasanya. Biarlah, pikir Zia. Disha dengan pikirannya yang sibuk sendiri itu masih tetap cantik kok. Dan hikmahnya, dia tidak sadar kalau sedang dipandang, pikir Zia sambil senyum senyum sendiri.
__ADS_1