Bocah Pintar Anak Pembuat Khamar

Bocah Pintar Anak Pembuat Khamar
Naik Panggung


__ADS_3

Lapangan di tengah sekolah, tempat dimana Ali pernah menabrakkan pantat ranselnya ke hidung Javin hingga patah, telah berubah rupa. Ada panggung megah berdiri disana. Kecuali lomba cerdas cermat dan mewarnai, semua cabang lomba antar kelas akan dilangsungkan di panggung ini.


Zia sudah menyelesaikan tugasnya. Mudah buat dia untuk bilang tidak perlu takut dengan tatapan penonton. Zia ikut lomba musabaqah. Sepanjang lomba matanya tertuju ke Al Qur‘an. Zia memang tidak perlu menatap penonton.


Hal lain yang membuat panggung ini lebih mengerikan menurut Ali adalah, tidak ada bagian dibalik layar. Penonton bahkan bisa mengikuti semua gerakan Ali bahkan sejak Ustadzah Intan mencontohkan bagaimana memegang mikrofon yang benar, menjaga jarak yang pas dengan mulut. Semua perisapan itu dilakukan di samping panggung. Semua kepanikan dan ketakutan Ali saat akan naik panggung, terpampang jelas di hadapan penonton.


Nama Ali pun akhirnya dipanggil. Siap tidak siap, Ali harus naik ke atas panggung. Lidahnya pahit saat telah berdiri di tengah panggung, menghadap ke penonton. Tapi Ali tahu kalau dia harus mulai.


“Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh. Alhamdulillahirabbil álamin. Ashsholatu wa shola alaa asyrafil anbiyaa’i wal mursalin. Wa alaa alihii wa ash shaabihi ajmain. Asyhadu allaa ilaaha ilallaah, Wa asyhadu anna Muhammad Rasulullaah.


Yang saya hormati, ustad dan ustadzah. Yang saya hormati para dewan juri


Dan teman teman semua yang saya sayangi.”


Ali sebenarnya berdebat panjang dengan Ayah soal kalimat pembuka ini. Sebelumnya Ali berpikir, memulai bicara di hadapan puluhan pasang mata sudah sangat sulit, kenapa harus ditambah lagi dengan mengucapkan kalimat dalam bahasa Arab. Tapi kata Ayah, justru mulai bicara di depan orang ramai dengan pujian kepada Allaah, maka Insya Allaah akan diridhoi, dan dilancarkan lidahnya. Ayah benar, Ali bisa mengucapkan semua kalimat dalam bahasa Arab itu dengan lancar. Dan entah bagaimana, ini membuat Ali jadi lebih percaya diri untuk melanjutkan.


“Alhamdulillah, hari ini Allaah meridhoi kita berkumpul di sini dalam keadaan sehat dan tidak kurang suatu apapun. Perkenalkan, nama saya Ali Muhammad Karim. Saya mewakili kelas IVD dalam kontes pemilihan da’i cilik tahun ini. Tema kita tahun ini adalah tentang pahlawan. Makanya, hari ini saya akan cerita tentang salah satu pahlawan yang bernama Mahatma Gandi. Pahlawannya orang India yang terkenal sedunia karena bisa berjuang tanpa kekerasan.”


Para penonton mulai bereaksi, termasuk para ustadz dan ustadzah. Sebagian berbisik pada temannya yang lain. Kakak memilih menonton bersama teman teman sekelasnya, bukan dengan Ayah dan Ibu. Akibatnya, Kakak malah paling merasakan teman temannya berjengit mendengar nama Gandhi. Beberapa malah tercetus dari mulutnya, “Kok Gandhi ‘sih”. Walaupun ada juga yang masih bertanya, siapa Gandhi.


“Buat yang tidak kenal siapa Gandhi, tidak apa-apa. Tapi paling tidak bisa membayangkan saja kira-kira kejadiannya waktu Gandhi diajak melawan tentara Inggris sama kawan kawannya dulu,” sambung Ali.

__ADS_1


“Gandi, ayo kita lawan tentara tentara Inggris itu. Mereka sudah kejam sama bangsa india, udah merampas harta kita! Anggaplah begitu ajakan temen temennya Gandhi. Mereka udah bawa kayu, parang, besi, buat menyerang tentara Inggris,” Ali melanjutkan usahanya mereka adegan.


“Ayok lah! Tapi aku nggak mau ikut kalo kalian bawa senjata kayak gitu, jawab Gandi. Temen temennya menurut. Mereka akhirnya datang ramai ramai ke tentara Inggris. Mirip mirip kayak orang demo di TV sekarang ini,” Ali makin yakin dengan usahanya mengajak penonton untuk masuk ke dalam dunia imajinasi dimana Gandhi masih hidup.


“Dan bener aja! Tentara Inggrisnya bawa senjata lengkap. Temen temennya Gandhi udah mulai takut. Gandhi di belakang mulai dorong dorong temennya buat maju. Ayo.. maju, katanya tadi mau melawan tentara Inggris, ujar Gandhi enteng.” Ali mencoba menggambarkan percakapan antara Gandhi dan teman teman seperjuangannya.


“Yaa.. tapi khan mereka bawa senjata, kata temen temennya Gandi. Tadi kamu yang larang kita bawa senjata. Mulai protes lah teman-teman Gandhi” lanjut Ali bercerita. Sepertinya para penonton mulai masuk dalam dunia cerita. Kakak bahagia. Tidak ada seorangpun dari teman sekelasnya yang mengeluarkan suara. Semua memperhatikan Ali.


“Udah.. nggak apa-apa. Maju aja, kata Gandhi,” Ali berbicara sambil menoleh ke kanan, seolah-olah memerankan Gandhi.


“Lhaa.. entar kita dipukulin donk!” Kali ini Ali berbicara sambil menoleh ke kiri, berperan sebagai temannya Gandhi


“Enggak apa-apa” Kata Ali sambil menghadap ke kanan, kembali berperan sebagai Gandhi. Kali ini ditambah dengan gesture seolah olah Gandhi sedang mendorong temannya maju.


Gerrr… Beberapa penonton tertawa melihat aksi panggung Ali. Membayangkan kekonyolan orang orang yang masih maju walaupun di depan mereka bakal dipukuli. Ibu terharu! Latihan olah gerak dua minggu ini membuahkan hasil. Walaupun sepanjang latihan terus dapat kritik dan dukungan dari Kakak sampai terlihat seperti mereka berdua sedang berantem.


“Ya pastinya Gandi dan teman-temannya jadi luka-luka, berdarah darah. Ada yang sampe pingsan. Tapi tetap melawan. Yang pingsan ditarik, ke belakang. Diganti sama yang masih sehat. Dan masih dipukuli lagi,” lanjut Ali yang kali ini kembali berperan sebagai pencerita. “ Gandi tahu, kejadian ini pasti bakal dilihat sama wartawan Inggris. Gandhi berharap nanti wartawan tulis cerita kejadiannya di koran, dibaca sama rakyat Inggris. Nanti Rakyat Inggris yang tolong.”


“Dan yang terjadi selanjutnya, benar seperti harapan Gandi. Rakyat Inggris marah lihat tentaranya kasar kayak begitu. Langsung minta sama Ratu Inggris supaya Tentara Inggris di India disuruh pulang saja. Jangan menyiksa orang India lagi. Dan merdekalah India dari jajahan Inggris. Gandi jadi pahlawan. Dipuja puja sama rakyat India sampai sekarang.” sambung Ali, menutup kesimpulan dari rencana perlawanan Gandhi.


“Tapi kita semua tahu. Ada manusia yang jauh lebih hebat dari Gandi. Pernah mengalami kejadian yang mirip mirip seperti tadi. Beliau adalah Rasulullaah Salallahu ‘alaihi wa salaam. Rasulullaah juga mencontohkan berdakwah tanpa kekerasan. Waktu Rasulullaah berdakwah ke kota Thaif, Rasulullaah datang sendirian. Mengajak warga Thaif untuk memeluk agama islam. Yang terjadi adalah sama, Rasulullaah dipukuli, dilempari batu, berdarah darah. Sampai darahnya mengalir dan menetes dari janggut. Waktu itu Rasulullaah sendirian. Tapi Rasulullaah yakin Allaah selalu menjaga. Rasulullah tahu ada Jibril yang melihat semua kejadian dengan warga Thaif. Jibril juga marah, tidak terima Rasulullah yang mulia, kekasih Allah, sampai terluka parah. Bantuan yang ditawarkan Jibril waktu itu juga bukan main-main,” lanjut Ali pada babak kedua dari pidatonya.

__ADS_1


Ayah sangat bangga dengan plot-twist yang disiapkannya pada babak kedua ini. Kamera di tangan yang sedari tadi Ayah menghadap ke panggung untuk merekam aksi Ali, memang tidak berubah arah. Tapi mata Ayah berpaling mengarah ke arah para ustadz dan ustadzah yang duduk di bangku penonton. Ayah melihat beberapa ada yang mengangguk-angguk, ada yang mengubah posisi duduk. Entah hanya perasaan Ayah saja atau memang begitulah adanya. Para ustadz dan ustadzah terperangah dengan plot-twist pidato Ali.


“Wahai Rasulullaah, Andai engkau memperkenankan. Akan angkat gunung Uhud ini,” kata Ali sambil mengangkat tangan, seolah-olah ada benda besar di telapak tangan kanannya. “Lalu aku timpakan ke atas masyarakat Thaif,” lanjutnya dengan gerakan menelungkupkan telapak tangan kanannya. Ali sedikit terlalu bersemangat. Gerakan tangannya tanpa sengaja membuat mikrofon di tangan kirinya sedikit lebih dekat dengan mulut. Membuat kalimat terakhir jadi terdengar lebih membahana. Namun ternyata malah membuat kesan pada penonton lebih pekat. Seolah penonton bisa merasakan kemarahan Jibril saat itu.


“Apa Jawab Rasulullaah,” sambung Ali, dengan jarak mikrofon yang sudah kembali ke posisi semula. “Jangan, sesungguhnya mereka cuma belum mengerti.” Ali jeda sebentar.


“Masyaallaah..” lanjutnya.


“Begitu mulia akhlak Rasulullah. Bahkan pada orang yang telah menyakitinya pun, Rasulullah tidak berniat membalas. Padahal kalau mau, sangat mudah. Tinggal terima saja tawaran Malaikat Jibril.”


“Maka pantaslah Allaah memuji akhlak Rasulullaah dalam Surah Nuun Ayat 4. Wa inna lakaa la álaa khlukin adhim. Dan sesungguhnya engkau benar benar berbudi pekerti yang luhur,” sambung Ali.


Ayah kembali memperhatikan para ustadz dan ustadzah. Dari raut wajah mereka, Ayah percaya penampilan Ali tidak akan mereka lupakan begitu saja.


“Demikianlah Rasulullah, mencontohkan pada kita bagaimana berjuang tanpa kekerasan. Apa yang dilakukan Gandi tidak ada apa apa jika dibandingkan dengan yang Rasulullah contohkan di Kota Thaif.”


“Masalahnya sekarang.”lanjut Ali dengan nada yang sedikit lebih tinggi. “Apakah kita sudah bangga, menyanjung dan mencontoh Rasulullaah. Jangan jangan rasa bangga dan cinta kita pada Rasulullah masih kalah dibanding rasa bangga dan cinta orang india pada Gandi.” Kakak yang melatih Ali untuk meninggikan sedikit nada bicaranya saat menyampaikan pertanyaan retoris ini. Kakak yang dari tadi menonton Ali, beberapa kali mencuri pandang ke arah teman teman sekelasnya. Dari yang Kakak lihat, teman temannya mengikuti certia Ali dengan seksama. Adikku tidak jadi bikin malu, pikirnya.


“Dan terakhir yang perlu diingat, Rasulullah mencontohkan bagaimana berjuang tanpa kekerasan. Maka ******* yang melakukan kekerasan pada orang lain bukan mencontoh Rasulullaah. Bukan ajaran Islam! Maka jangan pernah mengatakan umat Rasulullah sebagai *******,” tutup Ali dengan nada yang lebih tinggi dari kalimat sebelumnya.


Beberapa Ustadz tanpa sadar menjadi duduk lebih tegak, seolah menjadi bersemangat. Beberapa malah ada yang sampai mengangguk tegas, menunjukkan bahwa dia sangat setuju dengan apa yang Ali sampaikan.

__ADS_1


“Demikian yang bisa saya sampaikan. Mohon maaf jika ada salah salah kata. Namanya juga masih anak kecil. Semoga yang saya sampaikan ada manfaatnya. Akhir kata, Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.”


__ADS_2