
Mata Ali Berbinar. Dia senang luar biasa. Dalam pelukan Ali ada piala pertamanya. Juara Pertama Pemilihan Dai Cilik (PILDACIL) tahun Ajaran 2021-2022 tertulis mentereng di piala. Memang belum sebanyak Kakak, tapi sebentar lagi. Kakak tidak bisa lagi mengejeknya karena tidak pernah dapat piala. Belum sama banyak seperti Kakak. Tapi nanti bisa menyusul. Yang pasti, air mata Ibu dan Ayah yang tumpah karena haru di panggung tadi, sudah sama.
Zia dan keluarga tampak berjalan mendekat. Ibu Zia tampak kepayahan menggendong adik Zia yang gemuk. Dia meronta-ronta ingin segera keluar dari ruangan. Mungkin kepanasan, pikir Ali. Ayah Zia berusaha mengambil adik Zia dari gendongan ibunya, tapi malah bikin adik Zia meronta lebih keras. Zia, sepertinya sama sekali tidak terpengaruh dengan suasana hati kedua orang tuanya. Matanya sama berbinarnya dengan Ali. Ada piala juga di dalam pelukannya. Zia juara Musabaqah untuk kelas 4, 5 dan 6.
“Assalamu alaikum, Ayah Ali,” sapa Ayah Zia sambil mengulurkan tangan untuk berjabatan. Ayah menyambut dengan sehangat yang dia bisa. Terakhir kali Ayah menjabat tangan Ayah Zia saat kepala Zia benjol karena jatuh di kamar mandi. Dugaan penyebab utamanya, didorong Ali. Sapaan hangat Ayah Zia paling tidak membuat Ayah percaya sudah tidak ada lagi dendam Ayah Zia pada anaknya.
“Alhamdulillaah, ya, Ali juara Pildacil. Hebat sekali!” Puji Ibu Zia. Ibu yang sedari tadi mencoba bermain dengan adik Zia sepertinya berhasil mendapat perhatian bayi itu. Jadi hanya membalas pujian Ibu Zia dengan senyum lebar, sambil tetap melihat ke adik Zia. Adik Zia sudah juga ikut tersenyum girang pada Ibu. “Tuh, dek. Nanti kamu juga seperti Mas Zia ya.. seperti Mas Ali juga. Jadi pinter, biar jadi juara”
“Kalau yang mendidik mereka orangnya seperti Ibu, Insyaallaah bisa jadi juara. Mereka sudah punya teladan yang nyata,” balas Ibu memuji.
“Ah, Ibu bisa aja.. Ibu masih kerja di BSN”
“Iya bu, Masih. Ibu juga kata Ali kerja di BPPT ya”
“Udah enggak bu” jawab Ibu Zia sambil tersenyum.
“Oh.. udah enggak ya, aduh maaf, saya kurang up date di group wali murid. Lagi sibuk. Banyak kerjaan. Ali saja lebih sering dijemput Ayahnya,” tanggap Ibu dengan sedikit merasa bersalah.
“Maksud saya sudah tidak di BPPT lagi, karena sekaran sudah berubah jadi BRIN hi..hi..hi..hi..”
__ADS_1
“Oo alaah.. bisa aja ibu ini. Saya pikir sudah berhenti kerja”
“Enggak lah bu, tapi waktu luangnya sama seperti yang berhenti kerja. Apalagi habis pandemi kayak begini. Yaa.. diambil hikmahnya saja bu. Jadi punya lebih banyak waktu sama anak anak. Ini.. Zidan jadi minta saya gendong terus kalo di rumah. Makin gede kok makin manja sih..” kata Ibu Zia. Zidan yang diajak ngobrol kembali meronta-ronta sambil menunjuk pintu keluar.
“haduh.. dek, kok ngambek lagi. Iyaa.. iya kita pulang tunggu sebentar ya,” sambung Ibu Zia sambil membenahi kain gendongannya. “mas Zia, ayo nak, kita cari Ustadzah Intan sambil sekalian pamit. Hayuk Yah!”
“Kami duluan ya Bu. Selamat Ya Ali” kata Ibu Zia sambil berlalu menuju pintu keluar aula. Ustadzah Intan dan beberapa ustadzah lain sedang berkerumun di sana sambil mengantarkan orang tua murid lain yang hendak berpamitan.
“Senin kamu masuk ‘kan Li,” ujar Zia sambil bergegas menyusul ibunya.
“Iya lah, eh.. Insyaallaah”
“Ali..” terdengar suara ceria Aira memanggil. Dia mendekat sambil berlari kecil. Gamisnya yang panjang sepertinya agak sedikit menghambat langkahnya. Atau mungkin piala yang dalam pelukannya yang terlalu besar. Hari ini Ustadzah Intan bangga sekali di Pildacil. Dua jagoan dari kelasnya jadi juara satu, putra dan putri. Tugas-tugas yang diberikannya memang lebih mengasah kemampuan bertutur murid-muridnya. Porsinya memang lebih banyak dibanding guru-guru lain. Kelasnya memang jadi lebih berisik. Tetapi jumlah PR yang harus diperiksanya sepulang sekolah jadi lebih sedikit.
“Aira.. jangan lari-lari” ibu Aira menyusulnya di belakang. Ibu langsung menyambut dengan ramah, “Assalamu alaikum Bu Dokter”
“Ah, ibu, Ratna saja bu. Bu Dokter mah, untuk di rumah sakit. Atau Mama Aira juga boleh. Apa khabar Mama Ali. Alhamdulillah bisa ketemu disini,” sahut mama Aira ramah.
“Selamat ya, Aira. Kamu keren, kok bisa kamu kepikiran pilih ngebahas Bunda Khadijah. Anak-anak lain kalo temanya pahlawan perempuan pastinya nggak jauh jauh dari Kartini, Malahayati, Cut Nyak Dhien” kata Ali.
__ADS_1
“Yee.. itu mah pahlawan lokal. Kalo aku ‘kan pilih pahlawan yang sedunia” jawab Aira bangga. Dan cerita bagaimana Bunda Khadijah memastikan kenabian Baginda Rasulullah pada Burairah, lalu memastikan bahwa yang datang mengantar wahyu adalah Jibril, ternyata memang belum banyak yang tahu. Ini yang memastikan keunggulan Aira di Pildacil kategori putri.
“Hallah.. Bilang aja karena kamu nggak punya kostum yang cocok dengan budaya lokal. Enggak punya kebaya sebagus Disha”
“Enak aja! Aku memang nggak pernah pakai kebaya. Mama juga nggak pernah. Tapi Disha memang cantik banget ya kalau pakai kebaya. Kayak pengantin. Ya iya lah ya.. Mamanya artis” sahut Aira sedikit iri.
“Kejadian kemarin jangan terlalu dipikirkan pak” kata Ayah pada Pak Bintang yang terlihat berjalan celingak-celinguk memeriksa seiisi ruangan. Perlahan keduanya jadi berjarak dari kerumunan dimana Ali dan Ibu asyik ngobrol dengan Aira dan Ibunya. Ayah pikir Pak Bintang gelisah karena khawatir ketemu sama neneknya Disha di Aula ini. ”Oh Enggak kok Pak. Ini saya lagi cari Pak Rangga sama Pak Gilang, katanya janji mau ngumpul di sekolah hari ini. Sudah lama kami tidak ketemu. Pengen sekalian nostalgia masa kulaih dulu” sahut Pak Bintang setengah berbohong.
“Oh iya.. Pak Rangga juga cerita sama saya. Masih sering menulis cerpen di surat kabar pak?” tanya Ayah.
“Oh.. Jangan-jangan sudah baca cerpen yang..”
“Sudah pak, Sambal Pembunuh Naga ‘Kan. Bagus pak. Di masa itu pasti sulit bisa membuat cerpen yang dimuat di surat kabar ternama” potong Ayah.
“Itu ‘kan sebenarnya dari..”
“Iya Pak, Pak Rangga juga sudah cerita”
“Jangan bilang-bilang sama siapa-siapa ya pak. Kasihan Kiky” kata Pak Bintang sambil berbisik dan mendekatkan badannya ke arah Ayah.
__ADS_1
“Tenang pak. Amaan..” jawab Ayah sambil mengacungkan jempol.