Bocah Pintar Anak Pembuat Khamar

Bocah Pintar Anak Pembuat Khamar
Kami semua di sini untuk kamu. Tidak ada yang mau mencelakakan kamu


__ADS_3

“Alhamdulillah, untung Ustadz Khairul tidak marah pada kalian” kata Aira. “Jadi ini rupanya, urusan laki-laki yang kamu maksud tadi” sambungnya. Ali cuma tersenyum lega, Aira juga tidak marah padanya karena salah sangka. Namun dari tarikan nafas Zia yang cepat, sepertinya dia masih berusaha menahan amarahnya pada Handoko. Mungkin karena Zia khawatir tentang anggapan Ustadzah Intan padanya setelah kejadian ini, pikir Ali.


Ustadz Khairul kembali dengan gulungan kabel di tangannya dan langsung menuju ke sisi meja yang tadi ditempati Ustadzah Dian. Menyambungkan kabelnya lalu membawa ujung lainnya ke dalam tirai. Lalu terdengar suara gemerincing perkakas Ustadz Shawab saling berbenturan. Lalu suara bor atau gerinda yang menyala.


Ali cuma bisa menebak-nebak apa yang terjadi dari apa yang terdengar. Namun suara selanjutnya begitu mengagetkan. “Jangan dipotong! Jangan! Saya sudah disunat” teriak Handoko.


“Siapa yang potong kamu! Ini kita mau potong botolnya” jawab Ustadz Khairul.


“Iya Ustadz. Tapi pelan-pelan ya Ustadz”

__ADS_1


Kemudian suara gerindanya terdengar berbeda. Sepertinya sudah mulai memotong kaca botol. Namun baru sebentar. Suara gerindanya berhenti karena teriakan Handoko. Sepertinya semuanya kebingungan. Ali, Aira dan Zia yang mengikuti hanya lewat suara bisa merasakannya. Handoko lalu menangis kencang sekali, entah karena kesakitan atau ketakutan. Ali bisa maklum, siapa yang tidak takut jika ada gerinda yang menyala di ************.


Ustadzah Intan berusaha menenangkan Handoko. Tapi dia sendiri tidak yakin dengan usahanya karena dia sendiri ketakutan. Ustadz Shawab sebenarnya ingin melanjutkan dan tidak terusik dengan suara tangisan Handoko. Tetapi dia tidak bisa melakukannya sendirian. Dia perlu Ustadz Khairul dan Ustadzah Intan untuk menjaga Handoko tidak melakukan gerakan mendadak yang bisa berakibat celaka. Sayangnya kedua rekan yang diharapkannya sudah ketakutan bahkan sebelum suara tangisan Handoko menggelegar.


“Dia cuma ketakutan saja. Mungkin suara mesinnya terlalu keras. Lalu getaran pada botolnya juga jadi mengejutkan. Kita coba dengan alat kikir saja. Ini getarannya lebih pelan, tetapi selesainya jadi lebih lama“ kata Ustadz Shawab sambil mengganti mata bor untuk alat kikir.


“Pelan-pelan ustadz. Pelan-pelan” kata Handoko di sela-sela tangisnya. Jemarinya mencengkeram erat tangan Ustadzah Intan. Ustadzah Intan hanya menatap Handoko sambil sekali-sekali mengusap kepalanya. Dia tidak berani melihat apa yang terjadi di bawah sana.


“Sudah Han! Diamlah!” teriak Zia. Dia sudah jengah dengan suasana di ruang ini sampai tidak sadar siapa saja yang ada di ruangan. “Kalau kau terus teriak seperti itu, seluruh sekolah akan tahu. Percuma saja semua yang sudah kami lakukan untuk menjaga ini tetap rahasia. Kami semua di sini untuk kamu. Tidak ada yang mau mencelakakan kamu” sambung Zia dengan nada suara yang masih keras.

__ADS_1


Ruangan sejenak hening, hanya terdengar isak Handoko yang perlahan menghilang. Berganti dengan gumaman Handoko, “semua ada di sini untuk aku. Tidak ada yang mau mencelakakan aku” berulang-ulang. Ustadz Shawab ikut merasakan keadaan menjadi lebih tenang, lalu mengambil kesempatan untuk melanjutkan memotong mulut botol dengan alat kikirnya. Ustadz Khairul sudah bersiap menahan kedua paha Handoko, namun ternyata tidak ada gerakan. Handoko sudah bisa mengendalikan dirinya.


Ustadzah Intan masih menatap Handoko lekat-lekat. Sepertinya dia memang sudah tenang. Andai keadaannya berbeda, gumaman Handoko yang berulang seperti ini tentu membuat Ustadzah Intan menganjurkan orang tua Handoko untuk memeriksakan anaknya ke dokter jiwa. Tapi Ustadz Shawab perlu ketenangan. Dia biarkan Handoko dengan gumamannya. Semua ada di sini untuk aku. Tidak ada yang mau mencelakakan aku.


“Sebaiknya Ustadzah kembali ke kelas. Bawa anak-anak. Di sini biar saya dan Ustadz Shawab yang urus” kata Ustadz Khairul. “Sudah ya, jangan menangis lagi. Jangan teriak-teriak lagi. Biar tidak terdengar anak lain. Nanti kalau sudah selesai, Handoko langsung balik ke kelas ya. Ustadzah tunggu di kelas.” Kata Ustadzah Intan pada Handoko sambil mengusap kepala Handoko. Handoko hanya mengangguk. Mulutnya masih menggumamkan kalimat yang sama. Semua ada di sini untuk aku. Tidak ada yang mau mencelakakan aku.


Ustadzah Intan mengangguk kecil pada Ustadz Khairul sebagai tanda pamit kemudian berlalu keluar tirai. Tiga muridnya yang lain menunggunya dengan tatapan polos. Ali, Aira dan Zia sudah pasrah dengan hukuman yang akan mereka terima dari Ustadzah Intan. Dan ternyata yang mendapat giliran pertama adalah Aira. Ustadzah Intan memegang bahu Aira, menuntunnya ke meja Ustadzah Dian dan mempersilahkan dirinya duduk di kursi Ustadzah Dian. Bagaimana Ustadzah Intan menghempaskan tubuhnya ke kursi menunjukkan badannya amat kelelahan.


“Ustadzah tahu, kenapa kamu menuangkan air dengan sengaja ke kepala Disha.” Ali dan Zia saling bertatapan sambil melongo. Mereka tidak percaya Aira dengan sengaja berbuat nakal.

__ADS_1


“Tapi bukan begitu caranya jika ingin menolong teman.” Sambung Ustadzah Intan. “Ustadzah percaya Aira pernah naik pesawat. Masih ingat ‘kan tata cara memasangkan masker oksigen. Pasang untuk diri sendiri dulu, baru tolong orang lain. Selalu begitu. Kalau kamu mau tolong orang lain, pastikan diri kamu aman, sehingga benar-benar mampu menolong, bukannya malah memperkeruh keadaan.


Kamu melakukan kenakalan agar bisa menolong Ali dan Zia, karena kamu khawatir dengan kenakalan apa yang sudah mereka lakukan, itu baik. Tandanya kamu peduli. Tapi kamu harus pilih cara yang benar untuk menolong. Dan terlebih lagi, harus sadar sama kemampuan diri saat ingin menolong,” lanjut Ustadzah Intan. Kalimat yang terakhir sepertinya tidak hanya ditujukan pada Aira.


__ADS_2