Bocah Pintar Anak Pembuat Khamar

Bocah Pintar Anak Pembuat Khamar
Sekarang Giliran Aira


__ADS_3

Aira masih tidak percaya Ali berani bilang kalau dia kagum padanya, apalagi di depan Zia. Tidak! pasti ada hal yang lebih besar dari itu, pikir Aira. Hal yang lebih penting daripada diledek Zia sampai lulus, pikir Aira.


Tadi Aira sekilas mendengar tentang Handoko. Kata Ali, Javin baru saja mengerjai Handoko lagi. Tapi apa, pikir Aira. Hal yang sebegitu penting sampai-sampai Ali tidak bisa menceritakannya kepadaku.


Aira kembali ke kursinya dengan lesu. Ditatapnya dua kursi kosong di sampingnya. Aira merasa dua sahabatnya itu meninggalkannya karena dia perempuan.


Toilet! Pikir Aira lagi. Apa yang mereka lakukan di toilet. apa mereka bawa ponsel dan main game online di toilet. Tidak! Ali dan Zia tidak punya ponsel, apalagi membawanya ke sekolah. Mereka bisa dapat hukuman yang sangat berat. Jangan-jangan pakai ponsel Handoko. Anak itu memang biang masalah! Aira masih berkutat dengan pikirannya sendiri.


“Ciee... yang baru punya pacar” kata Disha, menggoda Aira yang sedang melamun.


“Apaan ‘sih. Masih kecil sudah ngomong pacar-pacaran" jawab Aira ketus. Tapi dia penasaran sampai mana Disha mendengar pembicaraannya dengan Ali.


"Lha.. yang habis dapat pengakuan dikagumi seorang laki-laki siapa”


Astaghfirullaah, ternyata dia dengar itu juga. “Ah, anak bodoh itu memang suka ngomong sembarangan” tanggap Aira pura-pura tidak panik.


“Awalnya kagum, terus suka, terus sayang deh! Ciee..” goda Disha lagi. Aira mencoba tidak memedulikan. Tapi suara Disha tadi lumayan keras. Syaqeela dan Queena jadi mendekat dan ingin ikut menggoda.


“Lagian apa bagusnya si Ali itu. Sudah lah dia anak pembuat khamar, bukan anak yang sangat pintar, badannya pun kurus dan kecil” kata Queena yang langsung terjun ke pembicaraan tanpa ada yang mengundang. Aira mulai naik darah.


“Kamu ke mana saja Queena, Ustadzah Intan ‘kan sudah jelaskan pekerjaan peneliti macam-macam. Peneliti bisa bikin barang yang berbeda tiap tahunnya.”


“Nah,.. iya! Dari semua yang bisa mereka bikin, kenapa malah memilih bikin Khamar, coba! Khamar ‘kan haram. Apa namanya itu kalau bukan cari gara-gara”


“Etanol, sayang! Ayah Ali bikin etanol, bukan khamar. etanolnya untuk menggantikan bensin" kata Aira mencoba meladeni dengan sabar. “Etanol itu banyak manfaatnya, enggak cuma sebagai pengganti bensin, tetapi juga sebagai bahan kimia, bahan pembersih luka, campuran parfum, banyak deh!”


“Khamar ‘kan etanol juga, Ra!” Syaqeela menimpali. “Kalau mau cari alasan memang kita bisa temukan banyak. Di Al Qur’an ‘kan juga sudah jelas dikatakan, Jika ada yang bertanya padamu tentang khamar dan judi, maka katakan sesungguhnya pada keduanya ada dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia. Akan tetapi dosanya lebih besar daripada manfaat-manfaatnya. ‘Kan baru kemarin ustadz halaqah menjelaskan waktu kita menghafal surat Al Baqarah ayat 219. Eh.. tapi Aira halaqahnya belom sampai Juz 2 ‘sih ya. Jadi belum belajar ayat itu” sambung Syaqeela, yang terdengar lebih pada menyombongkan diri ketimbang meyakinkan Aira bahwa membuat etanol itu haram.


Ustadzah Intan sudah mengikuti perdebatan itu sejak dari pintu masuk. Dia pun sebenarnya tertarik dengan soal yang satu ini, tetapi tiap kali dia bertanya serius sama ustadz dan ustadzah di kelas halaqah, selalu saja jawabannya sama. “Ah.. ustadzah ‘kan lebih pintar dari saya. Ustadzah lebih tahu lah hukumnya”. Maka kali ini Ustadzah Intan memilih untuk membiarkan perdebatan murid-murid perempuannya. Siapa tahu dapat ilmu baru soal hukum khamar ini, pikirnya. Ustadzah Intan berusaha menuju ke mejanya tanpa menarik perhatian lalu mengangkat buku panduan belajar yang besar di hadapan wajahnya, pura-pura membaca.

__ADS_1


“Tapi kamu bacanya jangan setengah-setengah donk. Baca juga terjemahannya, kalau perlu tafsirnya juga. Khamar itu dari bahasa Arab yang diterjemahkan sebagai minuman keras” jawab Aira lugas.


“Ya sama saja lah. Isinya ‘kan etanol juga” Disha menimpali.


“Beda lah! Minuman keras itu minuman. Kalau etanolnya diminum, baru namanya Khamar. Kalo enggak diminum, ya namanya etanol saja” kata Aira.


“Yaa.. kalo disempitkan penggunaannya Cuma untuk diminum begitu, enggak ada manfaatnya donk! Jelas-jelas minum alkohol cuma bikin sakit. Apa manfaatnya minum alkohol coba! Dalam Al Qur’an malah kata manfaatnya pakai kata jamak, Naf’ihima. Jadi lebih dari dua manfaat” kata Syaqueela. Ustadzah Intan langsung kagum dengan kemampuan bahasa Arab Syaqueela.


“Eh, siapa bilang Cuma bikin sakit. Justru khamar jadi pereda rasa sakit di masyarakat Eropa jaman dulu. Jadi kalau ada luka yang harus dijahit atau operasi, saat belum ada obat bius, dokter jaman itu suruh pasiennya minum khamar sampai setengah mabuk biar sakitnya tidak terasa. Lalu ada juga yang minum khamar karena ingin menghangatkan badan. Mereka yang hidup di negara empat musim sering memilih cara ini. Di Indonesia sendiri juga banyak orang yang minum anggur merah sebagai obat demam karena bikin badan hangat” balas Aira bangga. Tidak percuma ibunya dokter. Aira baru dapat cerita ini dari ibunya setelah dia menceritakan kejadian Ali mematahkan hidung Javin bulan lalu.


Ustadzah Intan makin bangga dengan murid-muridnya. Mereka bisa belajar, dapat ilmu dari mana saja. Sayangnya cara merek berbagi dengan berdebat. Ustadzah Intan kemudian bertekad untuk mencari cara mengajar yang bisa mengembangkan kemampuan muridnya dalam mengumpulkan ilmu dan informasi.


“Tapi itu ‘kan dulu, Ra. Waktu dokter masih belum punya obat bius. Selanjutnya ‘kan banyak ilmuwan Islam yang mencari bahan obat bius supaya tidak harus menggunakan khamar. Ilmu pengetahuan berkembang pada jaman Khilafah justru karena para ilmuwannya berusaha untuk berlepas dari menggunakan semua yang haram, walaupun dalam keadaan darurat. Mereka meneliti untuk mempermudah ummat dalam menegakkan syariat. Lha.. kenapa malah ayahnya Ali bekerja ke arah sebaliknya” kata Disha lagi.


Disha senang jika Aira semakin naik darah dan meladeni perdebatannya. Artinya Aira sebegitu kerasnya berusaha untuk membela Ali. Kenyataan ini suatu saat akan Disha gunakan untuk menggoda Aira sebagai pacar Ali. Dia pasti akan malu setengah mati.


“Nah, Itu Syaqeela malah bawa alkohol ke mana-mana” kata Aira sambil menunjuk ke saku Syaqeela.


“Ini cairan antiseptik, Sayaang.. bukan alkohol” kata Syaqeela membantah.


“lha iya, cairan antiseptik itu ‘kan bahan utamanya alkohol”


“Bukan Ra! Ini isinya air yang ditambah racun untuk membunuh kuman” kata Syaqeela sambil membuka tutup botol dan menyodorkannya ke wajah Aira.


“Iya, betul! Yang dipakai sebagai racunnya itu alkohol. Dari baunya saja sudah ketahuan”


“Lho, kok kamu kenal banget sama bau alkohol. Sering cium alkohol ya, atau sering minum alkohol” kata Syaqeela.


“Ooo, sekarang aku baru paham kenapa kamu senang banget berteman dengan Ali. Kalian sering minum alkohol bareng ya” kata Disha menimpali.

__ADS_1


“Eh! Enak saja. Jangan sembarangan kalau ngomong!” bentak Aira sewot.


“Lagian Ali mana lagi, sudah bel belum masuk kelas. Jangan-jangan lagi merokok di toilet” timpal Queena. Diiringi tawa Disha dan Queena.


“Kurang ajar! Jaga mulut kamu ya!” Aira sudah benar-benar marah. Ustadzah Intan pun sampai terperangah, belum pernah dia melihat Aira seperti ini sebelumnya. “Eh.. ada apa ini. Kok malah bertengkar. Disha! Ayo duduk di kursi kamu. Syaqeela dan Queena juga. Sudah! Jangan ada yang ngobrol lagi” kata Ustadzah Intan melerai pertikaian. “Kita mulai pelajaran. Ayo yang lainnya semua duduk di kursinya masing-masing” sambungnya.


Aira mengambil buku dari tasnya dengan terengah-engah. Rasa kesalnya masih menggulung-gulung dalam dada. Berani-beraninya mereka menuduh aku pemabuk, umpat Aira dalam hati. Ini semua gara-gara dua anak itu belum lagi balik ke kelas, pikirnya sambil melirik ke dua bangku kosong di samping kanannya. Sedang apa mereka di toilet? Apa yang sudah Handoko lakukan sampai mereka berdua mau mengikutinya. Atau jangan-jangan Queena benar. Mereka bertiga sedang merokok di toilet.


Aira menggeleng-gelengkan kepalanya. Mengusir semua pikiran tidak masuk akal itu dari kepalanya. Dia merogoh tasnya lagi, lalu mengeluarkan botol minumnya. Segera dibuka dan ditenggak isinya dengan cepat seolah ingin memadamkan api yang sedang bergejolak di perutnya.


Ustadzah Intan sudah mulai menjelaskan tentang daur air di atmosfer. Tentang awan, hujan, sungai dan entah apa lagi. Aira masih belum bisa mengikuti apa yang disampaikan Ustadzah. Dia berusaha untuk memperhatikan, namun tiap kali melirik dua bangku kosong di kirinya, hatinya gundah lagi.


Pernah dia mencoba memalingkan wajahnya ke kanan. Kebetulan saling bertatapan dengan Disha. Disha kemudian menggerakkan tangannya meniru orang yang menenggak minuman dari botol lalu bertingkah pura-pura mabuk. Di belakangnya ada Queena yang jarinya ditempelkan ke bibir menirukan orang merokok. Syaqeela cuma menonton sambil cekikikan, menikmati ekspresi marah Aira.


Pandangan Aira segera dia arahkan ke papan tulis. Mencoba memperhatikan Ustadzah Intan dengan saksama. Tapi hatinya kesal campur penasaran sehingga tidak ada kata-kata Ustadzah yang dipahami. Dan entah mengapa waktu pun terasa berlalu lama sekali.


Tiba-tiba ponsel Ustadzah Intan bergetar. Kalimat Ustadzah Intan saat bicara soal sampah. Dia membaca pesannya lalu melihat ke arah kursi Ali dan Zia. Kosong.


“Ali sama Zia belum balik ke kelas ya? Ada yang tahu mereka ada di mana” tanya Ustadzah Intan pada seisi kelas. Tidak banyak yang peduli. “Tadi mereka ke toilet Ustadzah” sahut Aira.


“Ciee.. ciee...” kata Disha yang disambut dengan suara cekikikan Queena dan Syaqeela. Aira langsung menatap Disha seolah ingin meninju mukanya. Ustadzah Intan memutuskan untuk mengabaikannya. “Ya sudah, kita lanjutkan ya..”


Ustadzah Intan pun melanjutkan pembahasan tentang bagaimana sampah bisa menghalangi daur air di atmosfer. Anak-anak lain pun menyimak laksana dongeng. Sambil sesekali memperhatikan gambar di buku pelajaran mereka, mencocokkan dengan penjelasan Ustadzah.


Ponsel Ustadzah Intan bergetar lagi. Ada sedikit kesal di raut ustadzah karena gangguan ini. Terlihat dari caranya membuka ponselnya. “Astaghfirullah, Handoko” pekiknya lalu langsung melihat ke kursi Handoko. Kosong. Lalu tatapannya bolak balik dari layar ponsel ke kursi Ali dan Zia. “Mereka bertiga sedang apa” kata Ustadzah Intan.


Aira mengambil botol minumnya yang masih di atas meja. Isinya tinggal setengah. Perlahan dia buka tutupnya sambil berdiri menghadap Disha. Yang selanjutnya terjadi tidak pernah terbayangkan akan dilakukan oleh anak sebaik Aira. Dia menuangkan air dari botolnya ke atas kepala Disha. Disha yang kaget dan tidak percaya dengan apa yang terjadi hanya terdiam sampai isi botol habis.


“Aira! Apa-apaan kamu!” teriak Ustadzah Intan. Aira hanya menatap Ustadzah Intan dengan tatapan lugu, lalu tersenyum kecil. Disha mulai menangis. Kerudung dan bajunya basah. “Oke, kamu ikut ustadzah ke ruang BP” kata ustadzah sambil melaju keluar kelas. Teriakan “whooaa” dari murid-murid yang lain menggema ke seisi kelas.

__ADS_1


__ADS_2