Bocah Pintar Anak Pembuat Khamar

Bocah Pintar Anak Pembuat Khamar
Pulang


__ADS_3

“Ah.. Ustadz Shawab, sudah dulu lah. Kenapa buru buru sekali. Kita nikmati dulu acara kita. ‘Kan setahun Cuma sekali. Urusan kabel nanti sajalah” ujar Pak Rangga saat menuju ke arah Ayah dan Ustadz Shawab. Mama Javin menyusul di belakang dengan tangan dilipat di dada.


Enak saja bicaranya, kalau ditunda-tunda, ujung-ujungnya tetap saya juga yang membereskan, pikir Ustadz Shawab dalam hati. “Tidak apa-apa pak, memang sudah waktunya. Kalau ditunda nanti khawatir adzannya terlambat” yang keluar dari mulut Ustadz Shawab jauh lebih sopan.


“Ah, begitu ya. Kalau begitu Ayah Ali saja yang gabung sama kita. Kebetulan Pak Gilang juga belum pulang. Ayo kita gabung sama mereka pak, sambil icip-icip kuenya” ajak Pak Rangga. Ayah pun berdiri tegak, menyerahkan sisa Kabel yang belum rapi digulung pada Ustadz Shawab. Mama Javin sudah mulai merapat dengan Ayah dan Pak Rangga.


“Alhamdulillaah tadi Mama Disha juga sudah akur dengan Pak Bintang. Saya senang acara kita hari ini mengikis semua kesal yang mungkin ada gara gara anak-anak kita yang .. yaa… masih anak-anak. Tujuan saya mendukung acara ini sebenarnya Cuma untuk itu pak” sambung Pak Rangga dengan nada suara yang agak dibesarkan. Sengaja supaya Mama Javin bisa mendengar.


“ Eeh.. masih mencoba membela diri rupanya” komentar Mama Javin.


“Hayuk pak” kata Pak Rangga sambil menarik Ayah bergabung dalam kerumunan yang lebih besar. Pak Bintang dan Bu Ratna sepertinya sudah mesra kembali. Walaupun Bu Ratna sedang berbicara dengan Mamanya Handoko, tapi bahunya tetap setengah bersandar ke bahu Pak Bintang. Pak Gilang tersenyum lebar dengan piala Handoko ditangan kirinya. Tangan kanannya berusaha merangkul erat pundak Handoko. Entah karena takut Handoko kabur atau supaya semua orang di Aula sadar kalau dia adalah Ayahnya Handoko, juara harapan tiga lomba adzan.


Handoko menyibukkan diri dengan piring cemilan yang ada di tangannya. Matanya terus memperhatikan Ali dan Aira yang sedari tadi sibuk ngobrol berdua. Berharap bisa nibrung atau dirangkul dalam pembicaraan. Ali dan Aira dengan gestur dan nada bicara yang dipelankan justru berusaha untuk membentengi diri agar Handoko tidak ikut serta.


Ibu saja yang dari tadi mengamati Ali dan Aira berbicara, tidak bisa mengikuti apa yang sedang mereka diskusikan. Ibu sepertinya jadi kesepian di tengah kerumunan ini. Ayah langsung berdiri di samping Ibu, menempelkan pundaknya ke bahu ibu. Terlihat Ibu jadi sedikit lega. Pak Rangga yang tadi mendekat bersama Ayah menepuk pundak Pak Gilang layaknya teman akrab. Lalu dia berisyarat mengajak Pak Gilang untuk ngobrol dengan Ayah. Pak Bintang pun bergabung karena berpikir ini akan jadi obrolan para Ayah.


“Ayah Ali.. Alhamdulillah kita ketemu lagi disini. Sehat-sehat ‘kan. Saya pangling tadi melihat bapak ikutan gulung kabel. Saya pikir salah satu ustadz disini” sapa pak Gilang ingin beramah-tamah. Pak Rangga dan Pak Bintang hanya saling bertatapan melihat temannya yang masih saja kurang lihai dalam memilih kata-kata.


“Ah .. itu. Tadi Cuma bantu sedikit Ustadz Shawab. Katanya kabelnya perlu dibereskan segera. Kabelnya punya mesjid, mau dipakai buat adzan” jawab Ayah. Sengaja dipanjangkan dengan informasi receh seperti ini agar tidak terkesan ketus.


“Lhaa.. jadi sekolah belum punya kabel untuk speaker ya” tanggap Pak Gilang. “Ustadz Shawab!” teriaknya tiba-tiba. Yang menoleh tidak hanya yang dipanggil. Yang dipanggil hanya mengangguk sopan. Kabelnya sudah selesai dibenahi. “Nanti tolong kasih tahu saya soal kabel speakernya ya. Merk apa, butuh berapa panjang, biar saya belikan” sambung Pak Gilang lagi.

__ADS_1


Nada suaranya Cuma sedikit lebih kecil dari panggilannya yang pertama. Mungkin niat Pak Gilang agar Ustadz Shawab yang di seberang aula bisa mendengar dengan jelas. Tapi orang tua lain yang masih berada di dalam aula juga jadi ikut mendengarkan. Beberapa ngedumel dalam hati, siapa sih orang ini, sombong sekali. Baru niat membelikan kabel saja sudah sombong.


Pak Rangga menggaruk-garuk alisnya, mungkin begini caranya mengusir kesal dan kecanggungan. Pak Bintang hanya tertunduk dan tersenyum. Mungkin ikut malu karena semua mata di aula yang melihat ke arahnya pasti menyimpulkan kalau yang berteriak barusan adalah temannya.


“Oh iya Ayah Ali, Handoko cerita soal Ali dan Zia yang sudah membantunya latihan Adzan di toilet, jadi saya mau bilang, terima kasih banyak”


Ayah hanya ternganga mendengar kata kata yang meluncur dari mulut Pak Gilang. Pak Bintang dan Pak Rangga sepertinya tidak kalah kagetnya.


“Oh iya, maksud saya berlatih pernafasan untuk bisa mengeluarkan suara dengan nada tinggi. ‘Kan tidak boleh ya, latihan adzan di toilet. Tidak sopan”sambung pak Gilang. Dia berpikir dengan penjelasannya tadi bisa meredakan kaget dan bingung para pendengarnya. Ayah, Pak Rangga dan Pak Bintang masih belum sadar sepenuhnya atas apa yang baru saja mereka dengar.


“Maksud saya latihan yang diajarkan Ali untuk mengeluarkan suara tinggi dengan menjepit.. eh.. bagian itu… yaa.. tidak biasa. Tapi berhasil! Lihat ini!” katanya lagi sambil mengangkat piala Handoko tinggi-tinggi. “Yaa.. walaupun banyak cara latihan lain yang lebih aman, tapi ya.. namanya juga anak-anak, saya bisa maklum”


“Saya juga sekalian mau minta maaf, karena tempo hari sudah marah-marah sama Bapak. Itu semata-mata karena ketidaktahuan saya. Kalau saya tahu itu Cuma salah satu bentuk latihan, dan ternyata memang memberikan hasil” kata Pak Gilang sambil sekali lagi mengacungkan piala Handoko, “saya tentu tidak akan berkata-kata yang berlebihan seperti kemarin. Jadi, tolong maafkan saya” katanya sambil menyodorkan tangan, mengajak bersalaman.


Ayah yang dari tadi termagu dengan kikuk menerima jabat tangan Pak Gilang. “Ah.. iya Pak, sama sama. Saya juga minta maaf atas kelakuan Ali anak saya”. Ibu dari tadi juga ikut mengamati pembicaraan Pak Gilang. Ibu tidak paham maksud Pak Gilang soal latihan adzan. Yang dia paham rasa kesalnya belum hilang. Orang ini telah merendahkan suami dan anaknya. Ibu ingin segera cepat cepat keluar dari aula.


“Naah, Alhamdulillah, tadi urusan Ayah Aira dengan Mama Disha sudah selesai. Sekarang urusan Ayah Ali juga sudah beres dengan Ayah Handoko. Alhamdulillaah, sungguh acara hari ini penuh berkah” kata Ayah Javin menisbatkan jabat tangan kedua saudaranya. Pak Rangga pun kemudian menatap Pak Bintang sambil tersenyum geli. Pada akhirnya, tidak semuanya harus bisa dijelaskan dengan akal sehat.


Ibu menarik tangan Ayah dan memberi isyarat untuk segera pulang. Ayah pun setuju. “Baiklah kalau begitu, Ayah Javin, Ayah Aira, Ayah Handoko sekalian saya mohon pamit. Sudah siang. Sebentar lagi Dhuhur” kata Ayah.


“Nah, Ra, akhirnya kelar juga urusan orang tua. Aku pulang dulu ya. Besok kamu sekolah ‘kan” kata Ali.

__ADS_1


“Iya lah. ‘kan emang nggak libur. Aku juga mau pulang. Udah nggak betah pakai gamis ini. Gerah! ”Sahut Aira.


Setelah mengiringi Ayah dan Ibu bersalaman dengan semua orang tua, Ali pun menyusul Ayah dan Ibu ke pintu keluar. Ustadzah Intan sudah menyambut Ibu yang hendak berpamitan.


“Maa.. Ayo.. kita pulang juga” kata Aira pada Mamanya. Bu Ratna dan Bu Kiky sepertinya masih ingin ngobrol lebih banyak. Tapi Mama Aira sadar betul kalau anak semata wayangnya udah minta pulang, tidak ada tawar menawar. “wha.. sayang, udah mau pulang ya” tanggap Mama Aira. “Ki, ini Aira udah minta pulang, nanti kalau ada apa-apa dengan Handoko telpon aja ya. Harusnya si Cuma tinggal lecetnya saja. Olesin aja salep yang aku kasih kemaren, Insyaallah cepat sembuh” sambungnya ke Mama Handoko.


“Sari, aku duluan ya” kata Mama Aira pada Mama Javin. Mama Javin menyempatkan diri untuk cipika-cipiki dengan Mama Aira sambil menyuruh Javin untuk salim pada Mama Aira.


“Eh, ini jagoan. Baik-baik ya” kata Mama Aira saat Javin mencium tangannya. Dan saat Javin akan menarik tangannya, Mama Aira menahan tangan Javin hingga mendapat perhatian penuh dari anak itu. “Ibu tahu ini semua awalnya gara-gara kamu. Sudah, tidak usah membantah. Ibu tahu benar kamu dari kamu masih kecil. Sekarang semua sudah tenang, yang penting kamu jangan ulangi lagi. Atau kalau tidak ibu bilang sama Mama kamu, biar kamu dihukum” ancam Mama Aira. Javin ketakutan. Keluarga Aira dan Javin memang akrab. Dan Cuma kali ini kenakalan Javin tercium oleh Mama Aira.


“Kok buru-buru nak. Ini Aira sudah besar ya.. dulu Om ingatnya terakhir kali kita ketemu kamu masih bayi. Dulu waktu masih bayi kamu ‘kan sering main bareng Javin dan Handoko” kata Ayah Handoko.


“Bin, anakmu makin besar makin cantik ya. Kayaknya boleh juga ini kalau kita jadi besan” sambung Ayah Handoko pada Ayah Aira. Entah itu bercanda atau serius, tidak ada yang tahu pasti. Atau lebih tepatnya, tidak ada yang bisa menebak maksud hati Pak Gilang. Handoko yang mendengar kata kata ayahnya langsung melempar senyum lebar ke arah Aira.


“Terlambat kamu Lang” Jawab Pak Bintang sambil melihat ke arah pintu keluar aula. Kearah mana tadi bocah pintar anak pembuat khamar yang sudah membuat anak daranya sampai rela melakukan kenakalan yang tidak biasa. Dan tidak disangkanya si anak itu sedang menatap ke arahnya dengan aura ingin berkelahi. Sepertinya dia mendengar perkataan Gilang tadi, memang orang ini masih belum bisa mengendalikan suaranya, pikir pak Bintang.


Namun sejenak ketegangan di wajah Ali melumer saat sadar tanpa sengaja sedang bertatap-tatapan dengan Ayah Aira. Dengan senyum sesopan mungkin dia berujar “Pamit Om..” Pak Bintang hanya tersenyum lebar sambil mengangguk. Mengamati anak itu berbalik dan mengejar ayah ibunya.


“Papa.. Ayo pulang” rengek Aira lagi. Kali ini lebih memaksa. Sebelum ayahnya mulai berpikir yang bukan bukan. Sebelum dia terpaksa harus melihat senyum Handoko lagi.


“Iya nak. Ayo kita pulang”

__ADS_1


__ADS_2