Bocah Pintar Anak Pembuat Khamar

Bocah Pintar Anak Pembuat Khamar
Korban Javin


__ADS_3

“Anu.. Li. Akhir pekan kemarin kamu benar ‘kan bikin sulap masukin telur ke dalam botol sama Javin” tanya Handoko.


“Iyaa.. emangnya kenapa sih” jawab Ali masih dengan nada kesal. Bukannya dari tadi pagi dia sudah menanyakan hal yang sama.


“Nah.. iya, aku tadi juga udah coba. Ternyata beneran bisa, telurnya memang beneran bisa masuk botol setelah botolnya dipanaskan dengan korek api. Telurnya kayak tersedot gitu. Luar biasa, enggak nyangka aku Javin bicaranya bener sama aku. Padahal dinding botolnya aku dinginin Cuma pakai es mambo dari kantin” jawab Handoko dari bilik toilet.


“Oh.. yaa baguslah. Sekarang buruan keluar, Ustadzah Intan nungguin kamu” kata Ali mulai tidak sabar. “sudah ya, aku ke kantin” sambung Ali.


“Eh.. bentar dulu, Li. Di sulap akhir pekan kemarin, telurnya gimana caranya dikeluarkan dari botolnya” tanya Handoko lagi.


“Kalo mau dikeluarin ya, pecahin aja botolnya” jawab Ali asal.


“Bahaya lah, Li. Kalo luka kena pecahan kacanya gimana”


“Ya udah, nggak usah dikeluarin lagi”


“Lha.. terus, gimana caranya pakai celana” sahut Handoko polos.


“Ya Pakai aja lah, apa hubungannya” jawab Ali makin tidak mengerti.


“Ya, kalau celananya agak longgar ‘kan nggak masalah. Kalo celananya agak ketat kayak celana aku sekarang ini, ada botol jadi nggak bisa dikancingkan” kata Handoko berusaha menjelaskan.

__ADS_1


“Hah.. gimana sih maksudnya”


“Ih.. si Ali ini payah banget rupanya! Kalo telurnya nggak dikeluarin dari dalam botol, berarti ‘kan botolnya harus di dalam celana kalo pas mau pakai celana lagi” jawab Handoko mulai kesal karena Ali tidak mengerti.


“Ini apaan sih Han. Kamu ngomongin telur apa sich” tanya Ali makin senewen.


“Telur yang dipakai buat sulap lah. Kemarin kalian pakai telur siapa? Telur Javin ‘kan! Memangnya sekarang di celana Javin ada botolnya” jawab Handoko dengan suara lebih keras.


“Ih.. mana aku tahu itu telur puyuh siapa! Pokoknya udah disediakan di atas panggung. Kami tinggal lakukan sulap sesuai perintah” jawab Ali.


“Oh.. jadi telur puyuh ya” kata Handoko. Kalimat yang diucapkan dengan nada yang terdengar aneh di telinga Ali. Entah emosi macam apa yang melingkupi kalimat itu.


“Emangnya kau pakai telur a...” kalimat tanya Ali tidak diselesaikannya. Ali jadi paham masalahnya sekarang. Maka yang terucap dari mulut Ali selanjutnya, menyelesaikan kalimat yang menggantung itu adalah “Astaghfirullaah ... Handoko! Kamu sebenarnya punya otak nggak sih!”


“Kok kamu bisa-bisanya percaya.. Javin ‘kan sudah berulang kali ngerjain kamu” tanya Ali tidak habis pikir.


“Karena aku lihat dia juga sudah akrab sama kamu, Li. Padahal kamu sudah bikin hidungnya berdarah. Jadi aku pikir Javin memang sudah jadi anak baik. Dia tidak dendam lagi padamu. Jadi aku pikir dia juga sudah tidak dendam lagi padaku karena sudah melaporkannya ke Ustadz”


Ali tidak bisa menyalahkan seluruhnya alur pemikiran Handoko yang ini. Selama akhir pekan kemarin dia memang sudah melihat sisi lain Javin. Bahkan pagi ini dia bertekad untuk belajar lebih banyak dari Javin.


“Aku juga tadi sempat mikir, Li. Nggak mungkin Javin memamerkan telurnya di acara sulap. Itu ‘kan nggak sopan. Itu aurat, dosa kalau dipamerkan. Tapi Javin bilang, kalau telur beneran pasti bakal pecah. Terus Javin juga bilang demi ilmu pengetahuan, nggak apa-apa sedikit terbuka aurat. Dokter juga belajar tubuh manusia kadang-kadang harus lihat aurat” kata Handoko lagi, mencoba membela diri.

__ADS_1


“Ya telurnya direbus dulu, Handoko...” jawab Ali yang masih tidak habis pikir dengan kebodohan temannya.


“Yang bener aja, Li. Kejepit di mulut botol gini aja sakit, apalagi kalo direbus” balas Handoko polos.


“Telur puyuhnya yang direbus, Handoko... bukan telur kau! Kok kamu bisa... masih bisa hidup sih” tanya Ali terheran-heran.


Ali berusaha berpikir. Apa yang harus dia lakukan. Ali bisa saja meninggalkan Handoko dan pura-pura tidak tahu. Tapi hati nurani Ali melarangnya. Apalagi Ustadzah Intan yang menyuruhnya mencari Handoko. Ali tidak bisa pura-pura tidak tahu.


Javin kurang ajar! Pikirnya. Ternyata dia tetap jadi anak jahil yang senang mengerjai anak orang. Tapi ada sedikit kekaguman di hati Ali atas ide nakal Javin kali ini. Caranya dia menjalankan ide dengan menggunakan Ali sebagai penguat pembenaran bagi korban, luar biasa. Bagaimana mungkin hal seperti ini bisa terpikirkan oleh Javin. Tapi korbannya, Handoko, memang bodohnya minta ampun. Kombinasi keduanya yang membuat kejahilan seperti ini bisa jadi nyata.


Tapi percuma saja melanjutkan pemikiran ini. Ali harus segera mencari penyelesaian. Dan dia yakin ini tidak bisa diselesaikannya sendiri. “Tunggu di sini ya, Han. Aku cari bantuan” kata Ali.


“Tunggu, Li. Jangan panggil siapa-siapa. Apa tidak cukup kamu saja yang tolong aku. Aku malu, li. Kalau ini sampai ketahuan banyak orang.” Kata Handoko merengek. Kali ini sepertinya sudah bercampur dengan isak tangis.


Ali paham perasaan Handoko. Tiga minggu lalu dia sudah merasakan sendiri. Jadi bahan ejekan teman-teman. Itu cobaan yang berat sekali buat Ali. Walaupun Handoko sudah berulang kali di posisi ini. Tetap saja masih berat menjadi bahan ejekan teman-teman satu sekolah. Tidak akan ada anak yang terbiasa dengan ini.


“Baiklah, aku panggil Ustadz Shawab saja. Tenang saja. Enggak akan bilang sama anak-anak lain” janji Ali.


“Jangan, Li. Jangan bilang Ustadz. Itu sama saja dengan bilang ke satu sekolah. Semua orang bakal tahu. Bahkan nanti Ibuku juga bakal diberi tahu. Jangan ya, Li” pinta Handoko sambil menangis.


“Ya sudah, Iya. Tapi jangan menangis. Nanti justru kedengaran sama yang lain di luar” perintah Ali. “Tapi aku juga enggak bisa tolong kamu sendirian. Aku panggil Zia. Biasanya dia bisa bantu aku” sambung Ali sambil langsung pergi.

__ADS_1


“Li... Ali.. Kamu masih di sana? Sudah pergi ya.. nanti bilang sama Zia jangan bilang siapa-siapa ya” kata Handoko sambil menahan tangis. Dia mulai takut dengan apa yang akan terjadi.


__ADS_2