Bocah Pintar Anak Pembuat Khamar

Bocah Pintar Anak Pembuat Khamar
Bukan Teman Saya, Ustadzah


__ADS_3

Hari ini Ibu yang mengantar Ali ke sekolah. Ayah jadi harus sering berangkat pagi akhir-akhir ini, tidak sempat mengantarkan Ali. Ibu tidak berani membawa motornya masuk ke pekarangan sekolah. Ibu khawatir nanti sulit untuk keluar dari gerbang lagi. Akibatnya Ali jadi harus menyusuri pekarangan sekolah dengan berjalan kaki, memanggul ranselnya yang berat.


“Hai, Li. Kata Javin kalian akhir pekan kemarin liburan bareng ya. Katanya seru ya” sapa Handoko sambil berjalan mengiringi Ali. Handoko sebenarnya bukan anak yang Ali inginkan berjalan beriringan dengannya di pekarangan sekolah. Bahkan sebenarnya, Ali tidak pernah ingin terlihat berdekatan dengan Handoko. Apalagi sampai dianggap sebagai teman Handoko. Malu nya pasti luar biasa. Mungkin tidak bakal hilang sampai mereka lulus.


Tetapi Handoko membuka pembicaraan dengan kata-kata, ”kata Javin..” Ini membuat Ali tidak mengabaikan Handoko sebagaimana sebelumnya. Ali sudah bertekad ingin belajar dari Javin. Apakah Javin memang anak baik atau sudah berubah jadi baik sejak hidungnya dia pukul sampai berdarah. Apakah memang Javin bukan anak yang suka usil, tapi justru anak yang perhatian dan berteman dengan semua anak, bahkan dengan anak seperti Handoko. Pertanyaan-pertanyaan itu berseliweran di kepala Ali. Membuatnya tidak bisa menanggapi dengan tepat sapaan Handoko. Ali hanya tersenyum kecil ke arah Handoko.


Handoko senang. Ini mungkin pengalaman langka buatnya. Punya teman jalan beriringan sampai ke kelas. Dia makin semangat untuk beramah-tamah dan membuka pembicaraan lebih panjang dengan Ali. “Kata Javin kalian bikin sulap bareng. Kata Javin kalian masukin telur ke dalam botol. Cuma pakai lilin dan es. Bener enggak” kata Handoko memberondong Ali dengan pertanyaan sepanjang mereka menapaki tangga sekolah.


Ali masih tidak percaya apa yang baru saja Handoko katakan. Sehingga dia hanya mengangguk pelan sambil tersenyum kecil. Apa benar Javin sudah bicara sebegitu banyak pada Handoko? Kira-kira di mana mereka bicara? Apakah di hadapan banyak orang seperti yang sedang Ali alami saat ini? Benak Ali penuh dengan pertanyaan.


“Kereen!!!“ teriak Handoko. Sayangnya dia berteriak saat Ali dan Handoko menapak masuk ke ruang kelas. Jam pelajaran memang belum mulai. Tapi anak-anak dan Ustadzah Intan dan teman-teman sekelas Ali sudah berkumpul di dalam kelas. Semua jadi melempar pandangan ke arah mereka, karena teriakan Handoko tadi. “Aku juga mau coba Ah” sambung Handoko. “Makasih, Li” katanya lagi sambil menepuk pundak Ali lalu bergegas ke kursinya.


Perasaan Ali sangat tidak nyaman dengan apa yang baru saja terjadi. Zia hanya terkekeh-kekeh kecil melihat perubahan sahabatnya itu. Kecanggungan pun bertambah dengan tatapan Aira sambil mengernyitkan dahi ke arahnya, mengikutinya sampai Ali sampai ke kursinya. Jangankan Aira, Ali pun masih tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Ali masuk kelas bersama Handoko.


Ustadzah Intan sangat gembira dengan perkembangan terbaru yang dilihatnya. - Alhamdulillah, Handoko sudah ada teman. Mungkin Ali belakangan ini jadi bisa berempati, bagaimana rasanya jadi Handoko yang dihindari sama teman-teman, sejak Ali dirundung celaan sebagai anak pembuat khamar. Makanya sekarang Ali bisa berteman dengan Handoko yang dihindari teman-teman sepanjang umurnya di sekolah ini - pikirnya.


“Faa innamaa ‘al usyri yusran” ujar Ustadzah Intan lirih. Hanya dia yang bisa mendengarnya. Selalu bersama kesulitan ada kemudahan. Setelah semua kesulitan memperbaiki nama baik Ali dan Ayahnya, ada kemudahan bagi Handoko untuk mendapatkan teman, pikir Ustadzah Intan. Ustadzah Intan pun menatap Ali dengan senyum merekah tanda terima kasih.


Ali makin merasa tidak nyaman. Pasti sama seperti Aira, Ustadzah Intan pun sudah salah sangka, pikirnya. Tetapi Ali percaya ini semua akan berlalu. Orang-orang akan segera melupakannya. Dan tidak cuma dirinya, Ali pikir Javin juga akan mengalami hal yang sama. Karena kata Handoko, Javin sudah lebih dulu berbicara panjang dengannya.

__ADS_1


Seperti biasa, jam pelajaran bersama Ustadzah Intan terasa begitu cepat berlalu. Ustadzah Intan memang pengajar yang handal. Murid muridnya tidak hanya mengerti apa yang diajarkan, tetapi juga menikmati setiap jamnya. Bel tanda istirahat pun berbunyi. Anak-anak bergegas merapikan buku dan berhamburan ke luar kelas.


“Ali!.. “ panggil Ustadzah Intan sebelum Ali sempat keluar kelas bersama Zia. Zia memilih untuk keluar lebih dulu, meninggalkan Ali bersama Ustadzah Intan. “Tolong cari Handoko di toilet ya! Sejak tadi dia ijin untuk ke toilet sampai sekarang belum balik” perintah Ustadzah Intan.


“Kenapa saya, Ustadzah” jawab Ali protes.


“Kamu ‘kan sudah akrab sama Handoko”


“Enggak kok Ustadzah! Enggak akrab! Tadi Cuma kebetulan saja kami masuk kelas berbarengan” sahut Ali lagi.


“Iya juga enggak apa-apa kok, Li. Enggak dosa kok. Malah Ali dapat pahala karena sudah menyambung tali silaturrahim, jadi teman baru Handoko”


“Tapi saya memang enggak berteman dengan Handoko” protes Ali dengan ekspresi jijik.


Ruang kelas Ali ada di lantai dua. Cuma ada kantin dan toilet khusus untuk ustadz dan ustadzah yang ada di lantai dua. Ali memilih mencari di tempat yang paling dekat dulu, kantin. Dan ternyata dekat belum tentu ramah. Kantin terlalu ramai dan berdesakan untuk Ali. Dan sepertinya memang tidak ada usaha dari pihak sekolah untuk memperbesar kantin atau bikin kantin baru di lantai lain. Memang sekolah lebih suka anak-anak membawa bekal sendiri dari rumah atau berlangganan jasa katering yang di rekomendasikan sekolah. Dengan begitu keamanan makanan yang dikonsumsi murid jadi lebih terjamin.


Ali melihat Javin dan teman-temannya baru keluar dari kantin. Javin langsung menyapa Ali yang masih merasa canggung beramah-tamah dengan Javin di depan pengikutnya. Sebelumnya Javin sendiri juga menghindari menunjukkan keakraban dengan Ali karena takut dikira lemah, tidak melakukan apa-apa untuk membalas orang yang telah mematahkan hidungnya. Tapi kali ini keramahan Javin terlihat tulus. Ali cerita kalau dia disuruh ustadzah Intan untuk mencari Handoko.


“Waah.. sudah jadi teman akrabnya Handoko kamu sekarang. Jadi cemburu aku!” kata Javin menggoda.

__ADS_1


“Apaan ‘Sih! Kalau enggak dipaksa Ustadzah juga enggak bakalan aku cari dia. Kalian lihat dia enggak”


“Enggak ‘tuh. Biasanya sih sering lihat dia mengikuti kami, tapi hari ini belum lihat” jawab Javin.


“Ya sudah” kata Ali sambil mengayunkan lambaian tangan kecil pada Javin dan teman-temannya sebagai tanda pamit. Dia bergegas menuju tangga sekaligus menghindari kecanggungan di hadapan teman-teman Javin. Javin mengikuti Ali dengan pandangan dan senyuman misterius. Beberapa teman dekat Javin langsung paham, akan ada kejadian seru setelah ini. Javin yang mereka kenal tidak akan membiarkan Ali begitu saja.


Toilet ikhwan berusaha mencerminkan identitas sekolah Ali sebagai Sekolah Islam Terpadu. Tidak ada urinoar, semuanya adalah bilik-bilik toilet dengan ****** jongkok. Karena itulah secara keseluruhan, toilet ikhwan luasnya setara dengan tiga ruang kelas. Ali tentu saja tidak pernah masuk toilet akhwat, tetapi dia percaya luasnya juga sama.


Jejeran bilik yang paling depan disediakan khusus buat ustadz. Ali masih ingat ayahnya sangat keberatan dengan penyediaan toilet khusus untuk ustadz. Ayah sangat tidak suka jika orang dibeda-bedakan kesempatannya untuk mendapatkan pelayanan yang harusnya sama untuk semua manusia. Kebelet itu fitrah milik semua manusia. Jika kebelet sudah akut, maka tidak adil bagi murid untuk menempuh jarak lebih jauh agar bisa selamat. Andai dalihnya karena kebersihannya terjaga pun ayah masih tidak bisa terima. Ustadz harus tahu jika ternyata toilet tidak bersih karena muridnya tidak disiplin bersuci. Karena itu artinya pengajaran bersuci bagi murid, entah itu di rumah masing-masing atau di sekolah belum cukup. Maka buat program, kegiatan atau apa pun itu namanya yang bisa membuat murid lebih disiplin dalam menjaga kebersihan toilet. Bukan malah menjadikan diri lebih eksklusif.


Setelah sekian lama mengutarakan keberatannya lewat media sosial atau pertemuan dengan beberapa guru, akhirnya ayah berhenti protes. Ali pikir ayah karena sudah menyerah pasrah. Ali baru tahu alasannya setelah suatu kali berkunjung ke kantor ayah. Dari sejak lapangan parkir sudah ada tempat yang dikhususkan untuk para pejabat. Saat Ali bertanya apakah ayah juga menyatakan keberatan atas perlakuan istimewa ini, ayah tidak menjawab. Saat Ali masuk toilet, Ali menemukan satu urinoar yang dibikin lebih rendah dari yang lain. Ali pikir itu untuk anak-anak dan ingin mencobanya. Tapi ternyata masih terlalu tinggi untuk Ali.


Keluar dari toilet Ali menanyakan perihal urinoar itu pada Ayah. Kata Ayah itu khusus buat kepala kantor. Ali tertawa geli mendengar jawaban ayah dan bertanya apakah ayah juga menyampaikan keberatan dengan penyediaan urinoar khusus buat kepala kantor itu. Kata ayah dia sudah mengajukan keberatan, tapi tidak ada yang peduli. Ali bertanya lagi apakah keberatan ayah karena perlakuan istimewa untuk seseorang, ternyata Ayah bilang bukan itu.


Di kantor Ayah, yang tinggi badannya kurang lebih sama dengan kepala kantor ternyata cuma Ayah. Jadi Ayah sering diledek teman-temannya. Gaji boleh beda tapi paling tidak toiletnya sudah sama. Dan celakanya, jika urinoar itu terlihat kurang bersih dan berbau, ayah yang sering dikambinghitamkan tidak bersih dalam menggunakan toilet. Karena tidak ada yang berani menegur pak kepala. Padahal ayah tidak pernah menggunakan urinoar itu karena takut terciprat ke celana dan susah untuk dipakai Shalat.


“Handoko!.. Han!... dicariin Ustadzah Intan” teriak Ali di toilet murid laki-laki. Toilet laki-laki di jam istirahat masih menjadi misteri buat Ali. Kenapa toilet selalu sepi saat istirahat. Padahal di jam pelajaran hampir selalu ada yang minta ijin untuk keluar kelas dengan alasan ke toilet. Kenapa mereka tidak memilih untuk ke toilet di jam istirahat.


“Handoko..!” teriak Ali mulai kesal.

__ADS_1


“Siapa...? Ali ya...” terdengar suara menyahut dari salah satu bilik. Ali tidak kenal suara Handoko, tapi ia yakin yang jawab adalah Handoko.


“Iya.. buruan ke kelas. Kamu dicari Ustadzah Intan” jawab Ali ketus.


__ADS_2