Bocah Pintar Anak Pembuat Khamar

Bocah Pintar Anak Pembuat Khamar
Berkumpul di Ruang BP


__ADS_3

Zia masih berusaha menghalangi pada murid yang ingin menggunakan toilet saat Ali dan Ustadz Shawab bergegas menuju toilet. Tampak beberapa murid memilih untuk tidak berdebat dengan Zia dan kembali ke kelasnya. Namun ada beberapa yang berusaha masuk sehingga Zia harus saling dorong dengan mereka. Murid yang sedang di hadapan Zia berhenti mendorong saat melihat mimik wajah ustadz Shawab yang bergegas masuk toilet. Ali sampai harus berlari kecil mengikuti ustadz Shawab.


“Lihat sendiri ‘kan, bagaimana Ustadz, Shawab” kata Zia pada anak yang memaksa masuk ke toilet. Sepertinya kakak kelas. “sudah, balik dulu ke kelasnya Kak. Nanti kalau masalah di toiletnya sudah beres, Kakak bisa pakai toiletnya sepuasnya. Sebentar lagi ‘kok. Itu Ustadz Shawabnya sudah datang” sambung Zia. Entah bagaimana Ali menyampaikannya, tapi Zia lega Ustadz Shawab segera datang. dia sendiri tidak yakin seberapa lama lagi bisa menahan murid-murid untuk tidak menerobos masuk.


Kakak kelas yang tadi saling dorong dengan Zia akhirnya memutuskan untuk kembali ke kelasnya. Tidak lama setelah itu Ali berlari kencang keluar dari toilet menuju ke ruang BP lagi. Suara derap langkah Ali membuat kakak kelas itu kembali menoleh ke belakang. Dia sempat sebentar berdiri sambil celingak-celinguk ke dalam toilet sambil penasaran.


“Sudah sana Kak. Balik ke kelasnya. Tidak ada yang perlu dilihat “ ujar Zia sambil mengusir. Namun dari arah yang berlawan, Zia melihat Javin dan dua temannya mengarah ke toilet. Sepertinya kakak kelas sudah bilang ke Javin kalau toilet sedang tidak bisa digunakan saat berpapasan. Namun saat melihat Zia yang menjaga pintu toilet, dia bukannya kembali ke kelas, malah menghampiri Zia. Sambil pura-pura tidak melihat, Javin menerobos masuk. Zia menjulurkan tangan ke perut Javin untuk menahan lajunya.


“Apaan ‘sih”


“Enggak boleh masuk”


“Kenapa” balas Javin keberatan.


“Ya karena Kau lah!” teriak Zia tanpa memberi penjelasan sebelumnya. Terang saja Javin makin tidak terima.


“Enak saja! Jangan macam-macam ya Zia, dari tadi aku belum pernah masuk toilet” sahut Javin marah. Namun Cuma sebentar. “Memangnya ada apa sih” sambungnya, rasa penasarannya lebih besar dari rasa marahnya.


“Ada Handoko” jawab Zia singkat


***


Suara berdebum saat Ali menubruk pintu ruang BP mengagetkan Ustadzah Intan. “Kata Ustadz Shawab... pinjam kain sarung” kata Ali tersengal-sengal. Ustadzah Dian dengan cepat meraih kain sarung dari rak di sampingnya dan menyerahkannya pada Ali.

__ADS_1


Ali langsung berbalik dan berlari ke toilet, tanpa memberikan penjelasan apa-apa pada ustadzah Dian. Tetapi pengalamannya sebagai pendidik membuat ustadzah Dian tidak kaget. Paling ada anak yang berak di celana, pikirnya. Dan memang ruang BP yang merangkap ruang UKS ini sudah mempersiapkan perlengkapan untuk keadaan tidak biasa seperti itu.


Dia masih ingat saat ikut serta dalam sidang komite sekolah saat membahas penggalangan sumbangan seragam dari para murid dan alumni. Banyak orang tua murid yang menjadi pengurus komite menolak permintaan ini karena percaya semua murid sekolah dari kalangan mampu. Tidak ada yang mau ke sekolah dengan memakai seragam dari sumbangan. Padahal baju sumbangan itu diperlukan untuk keadaan tidak biasa seperti ini.


Ustadzah Dian lalu beranjak ke lemari penyimpanan seragam. Lalu memilih seragam yang kira-kira cukup untuk anak kelas empat. Pikirannya sedang membayangkan cerita lucu apa lagi yang akan keluar dari Ali atau temannya kali ini.


Ali hanya menunduk saat sampai di pintu bilik tempat Handoko berada. Dia tidak berani melihat. Pintu bilik hanya terbuka setengah. Sepertinya Ustadz Shawab sudah memandikan Handoko yang sudah tidak memakai celana. Tangan Ustadz Shawab menjulur keluar untuk meminta kain sarung yang dibawa Ali. Kain itu dipakaikan seadanya pada pinggang Handoko lalu Ustadz Shawab menggendong Handoko keluar dari bilik. Walaupun sambil menggendong, langkah Ustadz Shawab tidak melambat, mimik wajahnya pun masih tegang sama seperti saat Ali pertama kali menyampaikan masalah ini. Handoko masih terisak-isak. Mata dan pipinya masih basah.


Ali mengikuti sampai di depan pintu toilet, di mana Zia masih berdiri menugaskan dirinya berjaga. Ali melihat bagaimana Javin memaksa masuk. Javin menyapa Ali dengan keramahan setulus yang dia bisa, tanpa merasa bersalah. “Ada apa ’sih” sambungnya.


“Gara-gara kau ‘lah! Jawab Ali sebal.


“Ini apa-apaan ‘sih kalian berdua. Tiba-tiba menyalahkan aku. Aku hari ini baru sekarang ke toilet” balas Javin sewot. Seolah semua usahanya untuk beramah-tamah dengan Ali dan Zia sia-sia.


“Oh.. jadi tadi yang digendong Ustadz Shawab itu Handoko. Ooh...” Javin tidak meneruskan kalimatnya. Kedua telapak tangannya menutup mulutnya sendiri. Tapi terlihat jelas dari binar mata kalau mulutnya sedang tertawa sekaligus kaget. “Jadi Handoko benar-benar melakukannya?” dua teman Javin yang dari tadi mendengarkan pembicaraan akhirnya tersadar dan ikut tertawa terbahak-bahak.


Ali dan Zia semakin kesal melihat mimik Javin yang seperti itu. “ Tapi beneran lho,Vin. Aku salut sama kau, bisa mengerti jalan pikiran Handoko dan bahkan menyuruhnya melakukan yang kamu mau" kata Zia.


“Naah, kamu mengakuinya juga ‘kan” kata Ali. Dia tidak sadar kalau sedang memegang celana Javin yang basah di tangannya. Walaupun sudah diperas, tetapi tetap saja dengan tenaga anak kelas empat SD. Air masih menetes-netes dari celana itu dan hampir saja menimpa sepatu Zia.


Ustadz Shawab sekilas mendengar pembicaraan Ali, Zia dan Javin. Rasa penasarannya membuatnya jadi memperhatikan. Pengalamannya sudah mengajarkan bahwa untuk kasus seperti ini, menanyakan langsung pada murid malah tidak efektif. Dan Ustadz Shawab sadar masalah yang lebih besar sekarang sedang ada di gendongannya.


Kemudian dia melihat Ustadz Khairul keluar dari ruangan kepala sekolah. mimik wajahnya bertanya-tanya, tangannya menengadah seperti orang sedang berdoa. Ustadz Shawab belum ingin menjelaskan keadaan ini pada Kelapa Sekolah. Selain karena memang belum paham benar bagaimana ini semua bisa terjadi, dia juga merasa melepaskan botol ini dari Handoko harus lebih disegerakan ketimbang memuaskan penasaran.

__ADS_1


“Ali, Zia, kalian ikut ke ruang BP” kata Ustadz Shawab setelah berbalik sejenak.


“Javin juga Ustadz!” teriak Zia. “Ini semua awalnya gara-gara dia” sambungnya. Tatapan Ustadz Shawab pun beralih ke Javin. Teman-teman Javin bersegera masuk toilet seolah tidak kenal dengan Javin. Javin sendiri merasa darah yang dipompakan ke kepalanya sedikit terhambat karena tatapan itu.


“Enggak Ustadz. Saya enggak tahu apa-apa. Saya ke toilet dulu Ustadz” kata Javin berlari ke toilet.


Ali dan Zia hanya melongo melihat Javin yang sekali lagi bisa bebas dari semua akibat masalah yang dia awali. “Ayo! Cepat” kata Ustadz Shawab pada Ali dan Zia sambil berbalik dan bergegas ke ruang BP.


Ingin rasa Zia membantah, bilang kalau dia tidak ada sangkut-pautnya dengan masalah ini. Dia Cuma diminta tolong oleh Ali. Tapi melihat sahabatnya berjalan sambil menjulurkan tangannya yang memegang celana basah ke depan agar tetesan air dari celana tidak kena baju, Zia tidak sampai hati. Mereka berjalan secepat yang mereka bisa mengikuti Ustadz Shawab. Dari lorong yang lain Ustadz Khairul juga bergegas menuju ke ruang BP.


Ustadz Khairul yang sampai lebih dulu, lalu membukakan pintu ruang BP untuk Ustadz Shawab. Dari wajah tegang Ustadz Shawab, dia tahu kalau ini bukan masalah biasa seperti murid berak di celana. Ini lebih gawat lagi. Ustadzah Dian sudah menyiapkan seragam pengganti di atas dipan. Saat Ustadz Shawab membaringkan Handoko di atas dipan, Ustadzah Dian dengan cekatan menutup tirai. Ustadz Khairul merapikan letak kaki Handoko.


Semua seperti tahu apa yang harus dilakukan, kecuali Ali dan Zia. Mereka seperti anak hilang di balik tirai, tidak tahu bagaimana harus bersikap. Tapi yang mereka percaya, berada di luar tirai jauh lebih baik daripada harus melihat apa yang terjadi di atas dipan. Akhirnya mereka memutuskan untuk duduk saja di kursi yang tersedia.


Ustadz Shawab membuka sarung yang dipakai Handoko. Ustadz Khairul jelas kaget, tetapi reaksinya hanya terpaku. Reaksi Ustadzah Dian yang di luar dugaan. Dia berteriak histeris dan langsung keluar tirai. Sesaat wajah Ustadzah Dian bertatap-tatapan dengan Ali dan Zia. Tapi dia tetap tidak bisa menjaga mimik wajahnya untuk tetap terlihat berwibawa. Menurut Ali mimik wajahnya mirip seperti wajah ibu dan kakak saat melihat ulat bulu waktu mereka liburan ke Kebun Raya Bogor. Tapi Ali tidak begitu yakin, karena harusnya tidak ada kemiripan antara apa yang Ustadzah Dian lihat dengan ulat bulu. Atau justru mirip? Entahlah. Yang pasti harus hati-hati menjelaskan masalah Handoko pada perempuan, pikir Ali.


Ustadzah Dian kembali ke kursinya. Muka dan keningnya masih mengernyit, kakinya masih dientak-entakkan ke lantai. Sepertinya Ustadzah Dian perlu waktu untuk menenangkan diri. Kabar baiknya, Ali dan Zia masih belum harus menjelaskan apa yang terjadi dalam watu dekat. Ustadzah Dian lalu mengambil ponselnya dan mulai mengetik pesan. Mungkin untuk mengalihkan perhatian, pikir Ali.


“Masyaallaah ya, sudah sebelas tahun saya jadi guru, baru kali ini saya ketemu masalah yang seperti ini” kata ustadz Khairul. Ustadz Shawab tidak berkomentar. Dia sedang meneliti mulut botolnya. Dia memegang botol tanpa merasa terganggu dengan apa yang ada di dalamnya. ”Kok bisa ‘sih?” lanjut Ustadz Khairul.


“Saya tahu Ustadz bakal bertanya soal itu. Saya tidak tahu dan penasaran juga. Tapi saya masih sibuk mencari cara melepaskan botol ini. Kalau Ustadz mau cari tahu, di luar ada Ali dan Zia, harusnya mereka bisa menjelaskan” jawab Ustadz Shawab sambil matanya masih fokus pada mulut botol. “Tidak ada cara lain. Botolnya harus dipotong” sambungnya.


Ustadz Khairul keluar dari tirai. Ali dan Zia Cuma melongo membalas tatapan. Ustadz Khairul mendekati mereka. Ali dan Zia mulai takut kalau waktunya menjelaskan sudah tiba. Ustadz Khoirul memulai dengan senyum paling manis yang dia bisa.

__ADS_1


__ADS_2