
“Masih belum ada yang mau ikut Pildacil? Masak semuanya pengen ikutan lomba mewarnai. Ayo donk! Murid-murid Ustadzah ‘kan pemberani” tanya Ustadzah Intan untuk ke sekian kalinya. Penentuan siapa yang ikut lomba apa di ajang tahunan perlombaan antar kelas akan selalu saja seperti ini. Padahal tahun ini dia sudah merancang kurikulum dengan porsi berbicara di depan kelas yang lebih banyak. Tapi sepertinya masih belum cukup untuk bikin murid-muridnya berani bicara di atas panggung, di depan teman-teman satu sekolah.
Sambil menghela nafas panjang, Ustadzah Intan kembali menatap papan tulis. Baru beberapa nama yang tercatat di sana. Handoko dengan sangat mantap memilih lomba adzan. Permintaan yang langsung disetujui Ustadzah Intan, namanya langsung ditulis di papan. Akan sangat memusingkan untuk menempatkan Handoko di lomba yang lain. Tahun lalu Ustadzah Intan menempatkan Handoko di lomba mewarnai, bukan untuk mengharapkan kelasnya memenangkan lomba namun lebih kepada memperkecil kemungkinan Handoko berbuat onar. Dan terbukti Ustadzah Intan berharap terlalu muluk. Seisi kelas tempat peserta lomba mewarnai jadi gaduh melihat Handoko batuk batuk dengan cairan merah tersembur dari mulutnya. Yang bikin suasana makin mencekam, saat itu baru saja diperbolehkan sekolah tatap muka setelah sekian bulan pandemi. Ternyata Handoko mengunyah crayon warna merah. Cuma karena crayon itu beraroma strawberi.
Nama Zia tertulis mengisi baris disamping Musabaqah Tilawatil Quran. Ini memang sudah pesanan Ustadz Rahmad, rekan Ustadzah Intan yang mengajar membaca dan menghafal Al Quran di kelas ini. Dari kepercayaan Ustadz Rahmad, Ustadzah Intan jadi yakin kelasnya sudah mengamankan satu piala dari cabang ini. Disha, sebagaimana tahun tahun sebelumnya, perwakilan satu satunya untuk story telling dalam bahasa Inggris. Penampilannya yang lebih mirip gadis eropa mudah mudahan mempengaruhi penilaian para juri, pikir Ustadzah Intan. Peserta cerdas cermat sudah pasti milik para rangking kelas. Tinggal lomba Pemilihan Dai Cilik yang masih kosong. Ustadzah Intan percaya, sudah saatnya menunjuk langsung perwakilan kelas untuk cabang ini. Dari semua murid tersisa yang memilih untuk ikut lomba menggambar dan mewarnai.
“Pildacil yang putri, Aira ya!” pungkas Ustadzah Intan.
“Iih.. kenapa saya ustadzaah.. Saya enggak bisa”
“Bisaa lah! Seperti kemarin saja, waktu Aira cerita soal gimana kerjaan Bunda. Gampang kok!”
“Beda lah Ustadzah, kalo itu khan Bunda aku sendiri. Kalo ini aku harus cerita siapa”
“Cerita soal Bunda lagi juga boleh. Lombanya ‘Kan bulan November. Jadi temanya tentang Pahlawan. Aira bisa cerita tentang Bunda yang jadi pahlawan buat Aira” bujuk Ustadzah Intan.
“Whidih.. ke-PD-an banget bilang bundanya pahlawan! Kalo peserta kelas lain bawa tema pahlawan beneran, langsung kalah kelas kita” kata Disha menimpali. Mendengar itu Aira langsung berdiri sambil mengangkat botol minumnya.
“Ngomong lagi, Aku guyur!”
“Eh.. udah, Ra!” Kata Ali yang ikutan berdiri. Kebetulan Ali dan Zia duduk di antara Aira dan Disha.
Faiz yang melihat kejadian itu langsung teriak, “yang ikut pildacil, berdiri!” Seisi kelas langsung serentak berkata, “iyaaa…”
Sebagian malah menambahkan dengan kalimat kalimat yang lebih memanaskan suasana. Atau lebih tepatnya, berusaha menyelamatkan diri.
“Udah kepilih itu Ustadzah”
“Iya Ustadzah, udah cocok itu”
“Langsung tulis namanya, Ustadzah”
Ali dan Aira yang sedang berdiri cuma tercenung melihat reaksi teman temannya. Mau langsung buru-buru duduk pun sudah terlambat.
__ADS_1
“Tuh, Aira! Semua juga sudah sepakat, percaya sama kemampuan Aira. Mau ya! Ustadzah tulis namanya ya”
Alhamdulillah! Ternyata cuma Aira. Aku enggak perlu ikut, pikir Ali. Perlahan lahan Ali mencoba duduk kembali.
“Eits!.. Mau ngapain!” Kata Aira sambil mencengkeram lengan Ali hingga tidak jadi duduk. “Ali, juga ‘kan Ustadzah?” sambungnya.
Ustadzah Intan masih ingat apa jadinya terakhir kali Ali bicara di depan kelas. tapi dia juga sangat paham kalau ini cara yang paling mudah membuat Aira setuju. Ustadzah Intan lalu menuliskan nama Ali di baris Pildacil Putra. Lalu dibawahnya, Aira di baris Pildacil Putri. Semua anak bersorak. Mereka selamat. Ali dan Aira kembali duduk dengan tatapan kosong. Keduanya memikirkan hal yang sama. Apa yang harus diceritakan?
Tapi seolah seisi kelas menganggap urusan siapa berlaga dimana ini sudah selesai. Ustadzah Intan sudah memerintahkan murid muridnya untuk membuka buku tematik. Dia sudah mulai bercerita tentang ASEAN sambil menurunkan layar di depan papan tulis. Sudah tidak ada harapan bagi Ali untuk menghapus namanya dari papan tulis itu.
Walaupun sekarang layar memantulkan gambar peta ASEAN dari proyektor, di mata Ali yang masih terkenang adalah namanya tertulis sebagai perwakilan lomba pildacil. Aku harus ngomong apa? Gimana kalau salah, lalu di atas panggung ditertawakan banyak orang? Aku harus minta tolong sama siapa? Pertanyaan pertanyaan yang terus berputar putar dalam pikiran Ali.
Zia menabrakkan bahunya ke bahu Ali. Lalu mendekat seolah ingin membisikkan sesuatu. Ah.. iya! Ini dia penolongku. Zia memang sahabat yang paling bisa diandalkan, pikir Ali.
“Mati lah kau, Li” bisik Zia.
Ali menatap Zia, terperangah. Tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Kata yang bisa diucapkannya untuk menanggapi Zia cuma, “Zia, Seriusan?”
“Jadi anak-anak, ASEAN itu adalah kumpulan negara serumpun yang terletak di Asia Tenggara. Kenapa dinamakan serumpun? Karena kita memiliki kemiripan letak geografis, cuaca dan budayanya.”
“Tapi orang Thailand dan Vietnam, tidak mirip dengan orang Indonesia, Ustadzah. Budayanya juga beda. Makanannya saja, misalnya. Kata Ayah saya kalau dilihat dari masakan khasnya, masakan Padang lebih mirip masakan India ketimbang masakan Thailand dan Vietnam. Jadi kalo melihat rumpun budayanya, lebih cocok India yang masuk ASEAN daripada Thailand dan Vietnam” sahut Faiz mengutarakan pendapatnya.
Sama sekali tidak marah, Ustadzah Intan malah bangga sekali dengan Faiz yang dengan lugas berargumentasi. Ali pun mengakui, memang Faiz pantas jadi perwakilan di lomba cerdas cermat. Rangking pertama yang disandangnya memang bukan kebetulan.
“Benar kata Faiz. Jadi begitu ya anak-anak. Masakan, masakan dan bagaimana mengolah makanan termasuk contoh hasil budaya. Melihat kemiripan budaya bisa dengan memperhatikan masakan khasnya. Tapi bukan sebagai satu satunya cara. Ada banyak hasil budaya lain seperti bahasa, seni dan arsitektur, bahkan hukum dan pemerintahannya. Coba anak-anak, selain kulinernya, apa lagi kemiripan antara budaya Indonesia dan India. Mungkin untuk kalian, yang lebih mudah diamati hasil karya seninya. Film, lagu, adalah contoh karya seni. Ada yang pernah nonton film India?”
“Enggak suka Ustadzah! Terlalu banyak nyanyinya” sahut Disha.
“Iih… keren kok” Syaqueela menimpali. Lalu seisi kelas kembali berdengung seperti suara mesin mobil dalam garasi. Anak-anak ada yang setuju dengan Syaqueela dan ada juga sepakat dengna Disha. Tapi tidak ingin ketahuan sebenarnya siapa yang mereka dukung.
“Nah… begitulah. Yang namanya seni itu sangat tergantung selera. Tapi tidak perlu saling menjelekkan apalagi bertengkar. Baiklah! Kalau begitu Ustadzah ganti pertanyaannya. Siapa orang terkenal dari India yang kalian tahu”
“Shahrukh Khaan….” Jawab beberapa anak serentak, termasuk Disha.
__ADS_1
Ustadzah Intan hanya tertawa mendengar jawaban murid-muridnya. Ngakunya tidak suka filmnya, tapi kenal sama bintang filmnya. Mencoba kembali ke akar permasalahan, Ustadzah Intan pun melanjutkan pelajarannya.
“Boleh jadi ada yang menganggap film, lagu, kuliner yang menjadi hasil budaya India punya banyak kemiripan dengan Indonesia, seperti kata Faiz. Dan jika dibandingkan dengan budaya negara lain yang letaknya justru bertetangga malah dirasa tidak mirip. Memang demikian fitrah manusia, seperti yang telah Allaah jelaskan dalam Al Qurán. Ada yang tahu ayat yang mana?” Tidak ada murid yang menjawab. “Kalian sering membacanya kok, banyak dicetak tidak hanya di Al Qurán” sambungnya. Masih belum ada yang menjawab.
“Surah Ar Rum ayat 41,” kata Ustadzah Intan menjawab pertanyaannya sendiri.
“Itu bukannya ayat tentang nikah ya, Ustadzah? Yang banyak dicetak di undangan walimah pernikahan ‘Kan” tanya Disha.
“Bukan Nak. Ayat Itu menjelaskan bahwa Allaah memang menciptakan manusia berbangsa bangsa, dengan budaya yang berbeda supaya bisa saling mengenal. Dan Islam menjadi Rahmatan lil Álamin salah satunya karena bisa menjadi pemersatu manusia dari berbagai budaya itu. Makanya yang paling ideal bagi umat islam, yang mempersatukan antar negara, antar bangsa adalah Islam, bukan karena kerumpunan budaya atau letak wilayah”
“Tetapi!...”sambung Ustadzah Intan cepat, sebelum ada murid yang memotong penjelasannya. “Para pendahulu kita dalam mencanangkan bangsa dan perkumpulan antar bangsa seperti ASEAN, memilih kerumpunan budaya dan letak wilayah, sebagai dasar mewujudkan persatuan. Bisa dibilang sebagai pilihan jalan pintas.”
Lalu Ustadzah Intan menyebutkan satu persatu para pemimpin negara negara Asia Tenggara yang memprakarsai ASEAN. Karena alasan yang sama, kerumpunan letak wilayah, maka India yang berada di wilayah Asia Selatan tidak bisa bergabung dengan ASEAN. Namun Mahathma Ghandi beserta pemimpin negara di wilayah Asia Selatan juga memiliki perkumpulan negara negaranya sendiri, seperti ASEAN. Nama Mahathma Ghandi yang tersebut oleh Ustadzah Intan berlalu begitu saja dalam ingatan Ali. Dia tidak menduga bahwa nama itu masih harus mempengaruhi nasibnya, setidaknya sampai beberapa minggu ke depan.
Jam istirahat datang cepat sekali. Para murid masih takjub dengan foto foto rumah adat dan kota kota di negara negara ASEAN. Kelihaian Ustadzah Intan menyampaikan pelajaran membuat para murid diajak bertamasya ke negara negara tersebut. Zia tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk menyemai kepanikan di benak Ali.
“Gimana, Li. Udah kepikiran mau cerita soal pahlawan mana,” tanya Zia.
“Bodo, Ah! Nanti aja dipikirkan. Pilih aja nanti sembarang dari internet”
“Beneran nih? Mau masa bodoh aja? Aira juga ikut lho.. emang kamu nggak malu nanti kalo Aira dapat piala, sementara kamu cuma jadi peserta penggembira” tanggap Zia lagi. Kali ini biji kepanikan yang ditebar Zia mekar sempurna. Wajah Ali menatapnya seolah baru turun dari roller coaster. Tatapan matanya kosong, mulutnya sedikit terbuka. Tanggannya mencengkeram lengan baju Zia.
“Iya juga ya” kata Ali setelah sekian detik
“Zia, terus aku harus gimana donk.” Tawa Zia langsung pecah setelah melihat ekspresi wajah Ali.
“yaa.. seperti yang aku bilang tadi. Mati lah kamu, Li”
“Astaghfirullaaah… punya teman kok gini-gini amat ya…”
Zia masih melanjutkan menikmati tawanya. Lalu kemudian memperkeruh keadaan. “Bayangin, Li. Kamu di atas panggung. Semua mata lihat ke mata kamu. Setiap gerakan kamu pasti ada yang memperhatikan. Lalu saat kamu lupa harus berkata apa. Lalu sebagian mulai tertawa melihat wajah kamu yang berubah warna karena panik. Entah jadi putih atau merah, yang pasti akan mengundang tawa. Yang lebih parah, kalau ada yang mulai teriak, Huu…”
Ali memilih untuk keluar kelas. tidak sanggup lagi meladeni Zia.
__ADS_1