Bocah Pintar Anak Pembuat Khamar

Bocah Pintar Anak Pembuat Khamar
Pisang Goreng Zia


__ADS_3

“Kamu masih belum paham juga ya, Han?” kata Zia lalu menghela nafas panjang. Tidak habis pikir dengan kecerdasan yang dianugerahkan pada Handoko. “Kamu remas-remas pisang gorengnya sampai lembut, terus masukan ke dalam botol. Sambil kamu oleskan merata di mulut botol sampai licin. Lalu pelan-pelan coba kamu lepaskan telur kamu” kata Zia mencoba menjelaskan.


Handoko melakukan yang disarankan Zia. Ali dan Zia hanya bertatapan sambil masing-masing mencoba memahami keadaan. Zia kemudian menggeleng-geleng, lalu berkata “Aku baru paham sekarang, kenapa orang tua aku memasukkan aku ke sekolah Islam terpadu. Supaya aku belajar Islam terlebih dulu. Belajar jadi beradab. Untuk memantaskan aku menerima ilmu yang lebih tinggi. Jadi setiap ilmu yang kita terima, pertanyaan yang selalu jadi saringan pertama adalah, apakah sesuai dengan Al Quran dan Hadist, dengan yang diajarkan guru-guru agama.


“Jadi aku enggak akan pernah percaya ada seorang muslim yang memamerkan auratnya demi ilmu pengetahuan. Enggak akan melakukan kesalahan seperti Handoko ini! Aku masih heran! Kok bisa si Handoko ini percaya pada Javin” ujar Zia kepada Ali. Sengaja diucapkan keras-keras supaya Handoko juga mendengar. Handoko yang disindir, diam saja.


“Hey! Ngapain kalian di situ” tanya seorang kakak kelas. Ali dan Zia kaget bukan main. mereka sampai tidak sadar kalau ada yang datang. Ali pun sadar, mereka sama sekali tidak mempersiapkan jawaban jika ada yang datang.


“Oh.. enggak, enggak apa-apa.” Jawab Ali berusaha untuk kelihatan tidak panik. Zia Cuma senyum-senyum kikuk.


“Kenapa kalian masih di sini? Yang lain sudah masuk kelas dari tadi lho” kata kakak kelas itu lagi. Dia masih terus mengamati kami. Temannya yang baru masuk ke toilet jadi ikutan memperhatikan Ali dan Zia. Lalu dengan serta-merta dia ikut mengomentari.


“Kalian sedang menunggu apa? ‘Kan ada banyak bilik yang kosong. Kok enggak langsung masuk”


Ali dan Zia makin bingung harus jawab apa. Mereka saling menatap, berharap temannya bisa membawa mereka keluar dari keadaan canggung ini.

__ADS_1


“Kalian lagi kabur dari kelas ya” tebak kakak kelas yang lain.


“Enggak kok!” jawab Ali dan Zia kompak. “Kami baru saja selesai. Ini lagi mau balik ke kelas. Lagi tunggu temen” kata Ali sambil menunjuk ke bilik Handoko. “biar bareng” sambung Ali.


Zia paham maksud Ali. Lalu dia berimprovisasi, niatnya untuk lebih meyakinkan di hadapan kakak-kakak kelas ini. “Haan!.. buruan.” Teriak Zia sambil menggedor pintu bilik Handoko. “Apa kami duluan saja ya?”


“Zia.. Jangan! Jangan tinggalin aku!” teriak Handoko dari dalam bilik.


Zia mengarahkan kedua tangannya ke bilik Handoko. Seolah menunjukkan alasan yang kuat kenapa mereka harus menunggu temannya itu. Kedua kakak kelas pun masing-masing langsung menuju ke bilik yang kosong. Salah satunya sempat terlihat menggelengkan kepalanya. Mungkin tidak percaya mereka sudah buang buang waktu mempedulikan kelakuan adik kelas yang absurd. Pintu bilik keduanya menutup hampir bersamaan.


Memang benar kalau dibilang perlu kecerdasan untuk membuat sebuah kebohongan dan menjaganya hingga orang orang percaya. Tetapi memilih untuk berbohong itu adalah sebuah kebodohan. Ali masih terus berusaha mencari jawaban yang tidak perlu berbohong jika pertanyaan yang sama datang lagi.


Ali baru sadar kalau ternyata sedikit sekali kegiatan atau acara sekolah yang bisa bikin akrab murid murid dari angkatan yang berbeda. Ali teringat waktu masih ikut kegiatan sepak bola. Walaupun latihan bersama dengan kakak kelas, tetapi keakraban dengan kakak kelas sulit terjalin karena pertemuan yang Cuma seminggu sekali.


Andai saja Handoko bisa dibungkam selama ada murid lain di toilet, mungkin membuat alasan mengapa mereka ada disini akan lebih mudah. Baru saja Zia bergerak ke arah pintu bilik Handoko, tiba-tiba Handoko berteriak, membahana ke seisi toilet.

__ADS_1


“Ooh.. aku paham sekarang. Jadi dikasih pisang goreng, biar kalo digesek-gesek telurku enggak lecet. Iya Sih.. jadi lembut dikulitnya. Tapi mulut botolnya masih terlalu kecil. Telurku masih belum bisa keluar.”


Zia dan Ali hanya senyum-senyum karena Handoko baru sadar fungsi pisang goreng.


“Kalau idenya seperti ini, kenapa enggak pakai sabun saja. ‘Kan sama-sama licin. Jadi bisa dicoba dari tadi. Kamu enggak harus lari-lari ke kantin. Tapi kenapa toilet kita enggak ada sabunnya ya” kata Handoko lanjut meracau.


Namun seketika mereka saling menatap dengan mata terbelalak. Ada kakak kelas di toilet! Jangan-jangan mereka juga dengar!


“Ehhh.. Han, kamu nanti di pertandingan antar kelas bakal ikut lomba apa?” tanya Ali dengan suara keras. Ah! Benarjuga, piker Zia. Daripada membungkam Handoko, lebih mudah mencoba mengendalikan apa yang bakal keluar dari mulut si bodoh ini.


“Heh! Kenapa kita tiba-tiba ngomong pertandingan kelas” tanya Handoko lugu.


“Sudah jawab saja” kata Zia sambil berbisik lewat celah pintu bilik toilet.


“Memangnya harus sekarang, Zia. Aku lagi punya masalah yang lebih penting daripada pertandingan kelas” sahut Handoko. Selama ini mereka bilang dirinya aneh. Tidak bisa membedakan mana yang penting. Padahal mereka sendiri juga kelakuannya sama, Handoko membatin.

__ADS_1


__ADS_2