Bocah Pintar Anak Pembuat Khamar

Bocah Pintar Anak Pembuat Khamar
Jangan Sekarang, Aira


__ADS_3

“Ah.. Alhamdulillah.. Zia. Untung kamu di sini. Ayo! Ikut aku! Tolong aku ya” kata Ali. Kalimat Ali terpenggal-penggal karena dia berlari ke kelas. Nafasnya masih tersengal-sengal. Kebetulan Zia memang hendak keluar dari kelas. Zia sudah kenal Ali cukup lama untuk tahu kalau Ali mengidap penyakit asma yang lumayan parah. Ali sering tidak masuk sekolah karena penyakitnya.


“Kenapa, Li? Asma kamu kumat lagi” tanya Zia khawatir. “Aku antar ke UKS ya. Atau lapor ustadzah aja? Biar telepon Ayah kamu buat jemput” sambungnya.


“Bukaan... Aku enggak apa-apa... Handoko...” Jawab Ali. Dia sendiri kesal karena nafasnya seperti masih ketinggalan di toilet. Dia tidak bisa bicara banyak. Menjelaskan semuanya.


“Kenapa Handoko?”


“Handoko.... nyangkut”


“Apanya yang nyangkut” tanya Zia lagi.


“Kamu abis makan apa, Li? Makanannya nyangkut di leher” sambar Aira sambil masuk kelas. Sepertinya Aira sempat menguping sedikit pembicaraan Ali dan Zia.


“Bukan, Ra.... Aku baik-baik aja kok” kata Ali sambil tersenyum. Ali senang Aira memperhatikannya. Tapi nafasnya masih belum kembali. Entah masih karena tadi dia berlari naik tangga ke lantai dua atau karena Aira. Ini bukan kali pertama Ali kehilangan separuh nafasnya di depan Aira.


“Ayo, Zia. Tolongin Handoko. Dia nyangkut” kata Ali sambil menarik tangan Zia.


“Apanya yang nyangkut, Li? Kok bisa? Kamu bikin apa sama Handoko?” kata Zia sambil menepis tangan Ali.


“Bukan aku!.. Javin” jawab Ali. Tapi malah memperunyam suasana.

__ADS_1


“Masyaallaah Ali. Masih belum beres juga urusan kamu dengan Javin” sambar Aira yang dari tadi masih mengamati Ali dan Zia, memaksa ikut dalam pembicaraan. “Apa kamu memang pendendam seperti ini! Memangnya tidak cukup kamu sudah memukul hidungnya sampai berdarah? Hah!” sambung Aira marah- marah.


“Aduuh... bukan begitu” jawab Ali. Dia bingung harus menjelaskannya pada perempuan. Apalagi buat Ali, Aira bukan sembarang perempuan.


“Semua sudah kembali normal, Li. Tidak ada lagi yang bilang kamu anak pembuat khamar. Aku juga sudah bilang sama semua teman-teman kalau Ayah kamu peneliti yang kerjanya bukan Cuma bikin alkohol. Dan kalaupun bikin alkohol, itu untuk mengganti bensin. Nama baik Ayah kamu sudah pulih, Li. Tidak perlu ada dendam lagi” kata Aira panjang lebar.


Ali tidak tahu harus berkata apa. Dia tahu Aira seperti kebanyakan perempuan yang dia kenal. Cerewet! Kalau sudah bicara panjang sekali dan tidak bisa dipotong. Ada rasa senang dalam dada Ali mendengar Aira begitu peduli padanya. Pada nama baik Ayahnya. Tapi lebih banyak perasaan kalut karena tidak tahu entah ke mana kesalahpahaman Aira akan membawa citra Ali di batin Aira. Dan kalau Ali cerita tentang apanya Handoko yang tersangkut, mungkin citra Ali di batin Aira malah lebih buruk.


“Sungguh, Aira. Ini bukan seperti yang kamu pikirkan. Aku sudah berteman baik dengan Javin. Akhir pekan kemarin malah kami main bersama di acara Family gathering perusahaan Ayahnya Javin” kata Ali berusaha menjelaskan.


“Ya.. pakai acara bikin sulap bareng pula. Kalo senang-senang saja sama teman baru. Pas giliran ada masalah .. datangnya ke aku” kata Zia menimpali.


“Zia, apaan ‘sih! Norak banget.” Jawab Ali menanggapi teman baiknya yang cemburu.


“Javin yang kasih ide gila di otaknya Handoko! Kalau Handoko punya otak. Dan sekarang dia tersangkut karena ikutin ide itu.”


“Ide apa? Apanya yang nyangkut” tanya Aira lagi.


“Aduh.. kalau yang itu aku nggak bisa cerita. Ini urusan laki-laki” jawab Ali, yang seketika langsung sadar kalau dia salah. Rasanya lai ingin menelan kembali kata-katanya tapi tidak bisa. Terlambat. Aira terlanjur tidak terima dengan anggapan laki-laki lebih hebat dari perempuan.


“Memangnya apa yang bisa dibikin sama laki-laki yang tidak bisa dibikin sama perempuan. Kamu saja selalu kalah sama aku ‘kan. Lomba lari, lompat tali, nilai ujian. Apa yang hebat sekali dari laki-laki” gugat Aira. Ali benar-benar sudah kehabisan kata-kata. Dia merasa semakin banyak dia berbicara, yang ada hanya semakin memperburuk keadaan.

__ADS_1


“Laki-laki memiliki kelebihan dibandingkan perempuan ‘kan bukan kata kami, Ra. Al Qur’an yang bilang begitu. Karena memang ditugaskan untuk jadi pemimpin. Jadi wali buat perempuan” jawab Zia. Ali melotot menatap Zia. “Apa! Aku ‘kan Cuma mau menolong kamu” kata Zia lugu. “Bukan pertolongan yang seperti itu yang aku perlukan saat ini” ujar Ali setengah berbisik, sambil mencoba menekan rasa geramnya dalam-dalam.


“Ooh.. begitu.. jadi bawa-bawa Al Qur’an sekarang. Macam kamu sudah paham saja.. Dengar ya..”


“Enggak, Ra. Bukan begitu maksud aku sama Zia” potong Ali. “Kamu tetap yang terhebat. Dan aku selalu kagum sama kamu karena itu. Beneran!” sambung Ali memberanikan diri. Dan ternyata berhasil. Aira memang terdiam sejenak. Tersipu karena Ali mengakui kalau sedang mengaguminya.


“Cieee... Ali” kata Zia menggoda.


“Ayo Zia.. ikut aku” kata Ali sambil menarik tangan Zia. Kali ini lebih kuat dari sebelumnya. Zia kali ini tidak melawan. Dia merasa alasan Ali menariknya. Untuk kabur dari Aira agar keadaan tidak menjadi semakin memalukan buat Ali.


“Nanti kalau ustadzah Intan tanya, bilang aku sama Zia masih di toilet ya..” teriak Ali pada Aira sambil berlalu, bergegas ke toilet.


“Ciee.. Ali.. malu ya.. udah bilang suka sama Aira”


“Aku nggak bilang suka!” kata Ali mengingkari.


“Suka, kagum, apalah itu namanya... sama saja ‘kan”


“Ah.. terserah lah! Nanti kita bicara lagi sama Aira. Yang penting sekarang kita tolong Handoko”


“Oh.. kamu beneran mau menolong Handoko. Sejak kapan kamu peduli sama anak aneh itu” tanya Zia

__ADS_1


“Nanti kamu akan tahu. Atau kalau memang mau, kamu bisa lihat sendiri” kata Ali sambil tersenyum. Namun akhirnya dia merasa jijik sendiri membayangkan andai Zia benar-benar melakukannya.


__ADS_2