
“Assalamu alaikum” ujar ibu saat masuk ke rumah. Selalu begitu. Sudah jadi kebiasaan ibu mengucapkan salam walaupun rumah dalam keadaan kosong. Ali langsung menghempaskan tasnya ke lantai dan kemudian badannya ke tempat tidurnya. Dia kelelahan. Hatinya senang sekali menikmati Family gathering perusahaan Ayah Javin.
Kakak masih mengagumi tiga piala yang baru dia dapat dari lomba-lomba di famili gathering. Sudah dari perjalanan di taksi tadi dia membayangkan ketiganya tersusun rapi di atas lemari gantungnya. “Dek, sini deh. Ini sudah pas belum posisinya.” Panggil kakak. Ali dengan polosnya masuk ke kamar kakaknya. Setelah mengamati sebentar, “sudah ‘kok, Kak. Tiga-tiganya kelihatan” katanya.
“Piala Adek ditaruh di mana, eh.. iya lupa. Adek ‘kan enggak menang apa-apa ya” kata kakak pura-pura lupa. Ali kesal, baru sadar kakaknya memanggilnya Cuma untuk sombong.
Ali memukul bahu kakaknya sambil teriak “Ibuu...! Kakaknya! Kakak juga kalo enggak dibantu Ibu enggak bakal juara. Aku Cuma sama Javin. Ya.. jelas saja lah kalah.” Kata Ali membela diri.
“Tapi ‘kan kalian dibantu mamanya Javin” balas Kakak.
“Apaan! Mamanya Javin enggak bisa apa-apa. Enggak kayak Ibu” sahut Ali.
“Enak saja! Waktu Mamanya Javin bareng sama Kakaknya Javin malah juara pertama. Kakak saja cuma jadi juara ketiga. Berarti ‘kan kalian yang payah” kata kakak lagi.
Ali tidak tahu harus berkata apa lagi. Tetapi dia juga tidak bisa terima kesimpulan pahit yang diutarakan kakaknya. “Pokoknya Kakak curang. Enggak adil. Kenapa bukan aku yang sama Ibu.” Kata Ali sambil memukul-mukul kakak. Kakak Cuma tertawa bahagia. Ini lebih menyenangkan daripada menang dan dapat piala.
“Eh.. Adek, mana boleh begitu. Namanya perlombaan pasti ada menang dan kalah, ‘lah. Harus bisa terima, kalo mau dianggap sudah gede” kata ibu menasihati.
“Kita ‘kan sudah pernah cerita soal ini. Adek kalo kalah berdebat jangan malah lantas main pukul. Kayak Namrud saja balas pakai kekerasan. Masak sudah lupa cerita ayah soal Nabi Ibrahim. Mau nanti di akhirat jadi teman Namrud? Iih... Nauudzubillah” kata Ayah menimpali. Ali cuma diam cemberut.
“Ya sudah lah! Jangan ingat enggak dapat pialanya. Ingat saja yang paling bikin Adek senang. Acara apa tadi yang bikin Adek paling senang.” Tanya Ayah lagi. Ali mencoba mengingat-ingat sebentar lalu langsung berdiri bersemangat.
__ADS_1
“Oh.. waktu bantu Ayah sulap. Bareng sama Javin. Pas botolnya ditambahi air sedikit, terus dipanasi sebentar pakai lilin sampai di dalamnya ada uap uapnya. Terus di mulut botolnya ditaruh telur puyuh rebus, terus pas botolnya Javin dinginkan dengan es, telur puyuhnya masuk dalam botol. Itu keren banget!” kata Ali. Dia bercerita seolah yang lain tidak menyaksikan apa yang terjadi.
“Masuknya mulus pula ya.. telur puyuh rebusnya enggak pecah di dalam botolnya” timpal Ayah.
“Iya itu, keren banget” kata Ali lagi. Jadi lebih berkesan buat Ali karena dia yang meletakkan telur puyuh ke mulut botol. Dia merasa seolah dia dan Javin yang melakukan sulapnya.
“Ayah enggak sangka bakal seheboh itu tanggapan penontonnya. Padahal itu ‘kan biasa saja. Semua karena tekanan dalam botol turun akibat uap dalam botol tiba-tiba mengembun. Tapi dari awal Ayahnya Javin memang memaksa untuk menampilkan percobaan itu di acara tadi. Pas makan siang baru Ayah Javin cerita alasannya.” Kata Ayah.
Lalu Ayah menyesuaikan posisi paha Ibu agar Ayah bisa meletakkan kepalanya dengan nyaman di pangkuan Ibu. Tapi Ayah kemudian menikmati kenyamanan berbaring di sana. Seolah lupa kalau kakak dan Ibu yang dari tadi menunggu kelanjutan ceritanya.
“Memangnya kenapa Yah” tanya kakak penasaran.
“Ah..iya.. itu. Jadi di pabrik Ayahnya Javin pernah ada kejadian ada gentong baja yang tiba-tiba penyok. Jadi kayak ada tangan raksasa yang meremas gentong itu kayak kaleng minuman soda. Semua karyawan yang bekerja saat itu enggak ada yang mengaku bertanggung jawab. Yaa.. memang enggak mungkin ada yang sanggup juga. Terus mulai dech, beredar cerita-cerita seram. Katanya pabriknya berhantu lah! Ada saingan bisnis Ayah Javin yang mulai panggil dukun untuk ngerjain. Yaa.. cerita-cerita begitu”
“Terus, yang sebenarnya kenapa Yah. Kok bisa gentong bajanya penyok” tanya kakak lagi.
“Iih.. apa lah kakak nie. Ya kayak sulap telur puyuh tadi lah” potong Ali.
“Eh, maksudnya gimana” tanya kakak masih belum mengerti.
“Ya alasannya seperti sulap itu. Berarti ‘kan gentongnya dipanaskan saat pabriknya bekerja. Di dalamnya mungkin masih ada sedikit uap air yang terperangkap. Mungkin karena buru-buru, semua keran yang masuk dan keluar dari gentong bajanya langsung ditutup, padahal gentongnya belum dingin. Jadi pas gentongnya dingin, uap airnya mengembun di dalam gentong, tekanannya turun. Penyok deh! Gitu ‘kan Yah” kata Ali. Kali ini dia puas sekali bisa sombong di depan kakaknya.
__ADS_1
“Hallaah.. paling kamu tadi abis diceritain Ayah” sahut Kakak sebal.
“Kakak aja yang tadi enggak menyimak” balas Ali.
“Ah.. sudah lah, kalian ini kapan akurnya sih” kata Ibu. “Kalau buat Ibu, tadi Ibu senang karena Mamanya Javin sama sekali enggak dendam anaknya dihajar di hidung sampai berdarah. Bahkan sempat bilang sama Ibu kalau dia berharap setelah hari ini Javin jadi akur sama Ali. Enggak mengejek Ali sebagai anak pembuat khamar lagi. Karena Javin sudah kenal Ayah Ali dan apa yang bisa Ayah lakukan”
“Memang iya, Bu? Mamanya Javin bilang begitu? Hebat ya mereka! Ayah juga salut sama Ayahnya Javin. Memang pantas dia jadi pemimpin perusahaan besar. Dia bijaksana sekali. Kalo Ayah jadi Ayahnya Javin, bakal Ayah panggil semua yang pernah kasih saran bikin rukiah. Yang bilang kalo gentongnya dibikin penyok sama jin. Ayah tunjukkan ke depan mata mereka, kalo sebenarnya kejadian gentong penyok itu bisa dijelaskan secara ilmiah. Begitu selesai sulap telur puyuh itu ditampilkan.”
“Tapi Ayahnya Javin enggak begitu. Dia malah bilang soal siapa yang dilayani oleh ilmu pengetahuan. Ibu ingat ‘kan, pidatonya di penutup acara sulap, sebelum kita istirahat untuk sholat dan makan.” Tanya Ayah.
“Katanya kalau Ilmu pengetahuan digunakan untuk melayani iman, maka peradaban manusia akan maju. Penjelasan ilmiah bisa jadi penangkal untuk pikiran-pikiran yang menggiring ke arah syirik. Sekaligus jadi sarana mengenal penciptaan Allaah dan segala kehebatan atas penciptaan itu. Teknologi yang lahir dari ilmu pengetahuan akan digunakan untuk mempermudah Ummat dalam beribadah. Menegakkan amar ma’ruf nahi munkar.
Kalau ilmu pengetahuan digunakan untuk semata mata melayani ilmu pengetahuan itu sendiri. Dikembangkan untuk memuaskan rasa ingin tahu semata. Tanpa ada usaha untuk mengkaji bagaimana ini bisa memberi maslahat untuk Ummat. Maka ilmu pengetahuan hanya berjalan di tempat. Tidak berdampak pada peradaban.
Dan paling celaka saat ilmu pengetahuan digunakan untuk melayani hawa nafsu. Lalu penjelasan ilmiah pun di tinggalkan bila tidak sesuai dengan hawa nafsu. Hilang akal sehat. Rasionalitas. Maka saat itu terjadi maka yang terjadi adalah kemunduran peradaban. Menjadi seperti binatang atau bahkan lebih buruk lagi.” Ujar Ayah mengulang kembali kata-kata Ayah Javin.
Sebenarnya semua sudah dengar pidato itu di acara Family gathering. Tetapi mungkin kurang khidmat karena kehebohan lainnya. Saat sekarang direnungkan lagi, baru terasa sampai ke lubuk hati. Ali akan ingat-ingat kata-kata ini.
Ayah senang sekali masih punya kesempatan belajar lebih banyak dari Ayah Javin. Masih karena Ayah Javin tidak ingin melukai hati karyawannya. Ayah Javin ingin Ayah membantunya dalam menyusun Standard Operating Procedure untuk setiap alat dan sistem kerja di pabriknya. Semuanya. Walaupun berawal dari usaha untuk menghindari gentong baja penyok terulang lagi. Namun kesalahan karena kurang paham SOP bisa terjadi pada alat dan sistem yang lain. Maka Ayah Javin memutuskan untuk melakukan pembenahan menyeluruh. Judulnya menjadi persiapan untuk penerapan ISO 9001.
Tindakan Ayah Javin buat Ayah mirip kebijaksanaan seorang Syekh yang mencium bau kentut dari dalam jamaahnya saat dia sedang memberi kajian. Alih-alih menyuruh yang batal wudhunya untuk mengambil wudhu, Syekh malah mengajak seluruh jamaahnya untuk menyempurnakan wudhu. Semuanya. Dengan begitu jamaahnya yang sudah buang angin jadi tidak ketahuan dan tidak merasa dipermalukan.
__ADS_1
Ali pikir, jika Ayah saja bisa belajar dari Ayah Javin, mungkin ada pula kebaikan pada Javin yang bisa ia pelajari. Tapi satu hal yang Ali sadari hari ini, Javin tidak sejahat anggapan Ali sebelumnya. Ali Cuma belum mengenal Javin.