Bodyguardku, Imamku

Bodyguardku, Imamku
Siksaan Obat Pariyem


__ADS_3

Saat akan pergi ke kampus, Ellea harus meladeni dua ibu-ibu yang ngontrak di sebelah kanan dan kirinya. Karena tidak nyambung dengan apa yang mereka bicarakan, maka Ellea hanya tersenyum sambil mengangguk iya-iya saja.


“Neng Ellea ternyata orangnya ramah banget ya? Nggak sombong, meskipun anaknya yang punya rumah. Bahkan mau tinggal di rumah kontrakan yang sempit begini,” ucap ibu yang baru saja memperkenalkan diri bernama Tika.


“Aku sih, sudah nyangka, walau lihat dari kejauhan, tapi neng Ellea ini baik orangnya. Nggak sombong,” ucap Ibu satu lagi bernama Dian.


Ellea lagi-lagi mengangguk tersenyum tidak enak. Di sisi lain ia seharusnya sudah pergi ke kampus sebab kalau tidak akan terlambat, mendapat teguran dari Dosen killer. Tetapi karena sikap tidak enakan, Ellea masih berdiri sampai dua orang ini berhenti bicara.


“Cantik kali lho neng ini, kalau semakin diperhatikan dari dekat.”


Ellea merasa risih saat ibu Tika berdiri dekat-dekat dengannya sambil mengusap tunic bagian lengannya. Ia menggoyangkan lengan supaya ibu-ibu itu lepas.


“Neng, ada yang saya omongin nih, Neng. Jadi gini, apa bisa saya minjem duitnya neng?”


Itu kan, pasti ada maunnya ibu-ibu ini.


“Nggak banyak kok neng, Cuma lima ratus ribu aja, buat ngelunasin tagihan kreditan panci di tempat Bu Eko.”


Ellea melirik ke kanan dan kiri, ke arah duo ibu-ibu ini. Ia tak tahu harus menjawab apa. Sebab ini kali pertama ia berhadapan dengan lingkukangan seperti sekarang.

__ADS_1


“Gimana ya ibu-ibu, sebenarnya El juga mau banget minjemin uang ke ibu-ibu sekalian. Tapi… kalau sekarang Ellea nggak ada pegang uang sama sekali, atm Ellea sama papa. Dan sekali lagi, maaf banget… nih ya buibu, kalau sekarang sudah waktunya aku ke kampus. Jadi mungkin kita bisa bicara lain kali. Ini bukan bermaksud ngusir buibu lho, tapi memang waktunya sudah kepepet banget.”


Dalam sekejap mimik wajah dua buibu itu berubah jadi ketus, melirik satu sama lain sambil menjauh dari Ellea. “Ya udah deh, kalau kamu lagi sibuk, biar kami datengin yang lain aja. Lagian, masih banyak kok orang baik di sekitar sini,” ucap Ibu Tika.


“Ya bagus dong Bu, kalau misal di daerah sini ada orang baik, seenggaknya mereka bisa bantu kalau tetangganya lagi kesulitan.”


Bu Tika pergi dengan wajah sinis meninggalkan Ellea dan Ibu Dian.


“Harap dimaklumi ya Neng, ibu Tika memang gitu orangnya,” ucap ibu Dian.


Ellea buru-buru pergi ke kampus mengunci pintu sambil membawa tas dan buku tebal lainnya di tangan kiri.


“Astaghfirullah… aduh.”


Karena kedua tangan Ellea penuh, ia kesulitan untuk berjongkok mengambil barang yang terjatuh.


“Aduh, maaf, maaf, aku nggak sengaja, Bang,” ucapnya sambil mengambil benda dari tangan Eiwa.


Eiwa melihatnya heran. “Saya yang seharusnya minta maaf, karena jalan enggak lihat ke depan jadi nabrak kamu.”

__ADS_1


“Enggak kok, akunya aja yang lagi buru-buru. Maaf ya, Bang? Kenapa balik pulang? Ada yang ketinggalan?”


Wajah Eiwa memerah menahan sesuatu yang berat, hingga ia tak bisa berkonsentrasi menjawab Ellea. Ini semua karena Pariyem yang iseng memberinya obat penegak akar.


“Sepertinya saya akan istirahat sebentar di rumah, badan agak nggak enak soalnya.”


Ellea yang memiliki lesung pipi itu mengangguk. Secara bersamaan, klakson mobil berbunyi beberapa kali. Hingga membuatnya tersentak.


“Ellea, bisa cepat sedikit, enggak?!” teriak Amora dari dalam mobil.


“Ellea pamit dulu ya, Bang, kak Amora sudah nungguin soalnya.”


“Perlu saya bantu enggak, bawa barang-barangnya? Berat banget itu.”


“Enggak usah Bang, makasih. Assalamualaikum.” Gadis itu mencium punggung tangan Eiwa yang langsung merasa seperti mendapat sengatan labah, ia mendongak menahan reaski tubuh saat bersentuhan kulit dengan Ellea.


Untung saja setelah itu, Ellea segera melepaskan tangannya, kemudian pergi masuk ke dalam mobil. “Assalamualaikum,” ucapnya sekali lagi sambil tersenyum.


“Waalaikumsalam….” Desis Eiwa dibalik suara yang tertahan. Oh, dia benar-benar tidak tahan dengan siksaan ini. Pariyem benar-benar mencari masalah dengannya. Eiwa mondar-mandir di dalam rumah mendongak sambil mengacak-acak rambutnya.

__ADS_1


__ADS_2